Ordinary Girl

Ordinary Girl
ketahuan!



elis merasa sekujur tubuhnya dingin, ini dikarenakan sekarang dia berada di kamar mandi dan tengah diguyur air shower oleh zeya.


"maafin gue ya, ini supaya elo cepet sadar" ucap zeya, ia berdiri tepat di samping elis, sama sekali tak menghiraukan elis yang tengah kedinginan.


secara tergopoh-gopoh lisa masuk dan membawakan handuk, ia mematikan shower lalu memberi elis handuk.


"Elo gak waras ze, kalau dia sakit gimana?" bentak lisa pada zeeya.


lisa mengajak elis pergi keluar kamar mandi, ia memberikan sari lemon hangat yang dibuat jihan tadi.


"kasihan banget sih elo ell" lisa menatap sendu pada elis lalu beralih melirik sinis pada zeeya.


"apa?!" ucap zeya tak suka pada lisa.


"elo itu--"


"gue tuh cuma mau elis sadar, gue gak suka lihat orang mabuk gitu" terang zeeya pada kedua temannya ini.


"udah woy, kalian berdua berantem juga gak bakal bantu elis." lerai jihan saat api bertengkaran mulai muncul di antara kedua temannya.


"yayaya" gumam lisa malas.


"terus kita gimana?" tanya zeeya khawatir, dia mengerti jika elis pulang dalam keadaan seperti ini pasti orang tua elis akan marah.


"kita bawa saja dia kerumah Jihan, gak papa kan?" tanya lisa pada Jihan yang tengah membantu elis berganti pakaian.


"ya terserah saja." balas jihan tak terlalu memedulikan pertanyaan lisa.


"okey habis ini kita antar elis kerumah elo, Jihan." zeya pun turut membantu jihan yang kesusahan mengganti pakaian elis.


"iya" sahut jihan singkat.


setelah elis berganti baju dan cukup sadar, mereka pun pergi dari villa menggunakan satu mobil yang sama, milik lisa. sementara mobil yang lainnya di titipkan di villa.


"gue nganterin zeya dulu yaa," ujar lisa yang tengah mengemudikan mobil.


"harusnya tadi gue pulang pakek mobil sendiri." ucap zeeya tak enak pada ketiga temannya


"gak papalah ze, lagian ini juga udah malem. lagian rumah elo juga deket sama villa. ya sekalian ajaa" lisa tersenyum dan melirik ke arah zeya yang duduk di sampingnya.


Beberapa saat kemudian..


"udah kalian gak usah ngebacot mulu, tuh zeya dah sampai." sahut jihan dari kursi penumpang saat mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah bernuansa putih.


"hampir subuh, semoga ortu gak marah.." gumam zeeya saat menuruni mobil.


"gue doain semoga elo dimarahin." ucap Jihan yang ternyata mendengar gumaman zeeya.


"anak setan!" umpat zeeya lalu secepatnya berlari masuk ketika gerbang terbuka otomatis.


setelah lisa memastikan zeeya benar-benar masuk, dia baru kembali melajukan mobilnya menuju rumah jihan.


"menurut elo, elis bakal kena marah gak?" tanya Jihan berbasa-basi pada lisa.


"enggak lah, kalau alasannya nginep di rumah elo, dia gak bakal kena marah." terang lisa, menurutnya jihan adalah orang paling terpercaya bagi ortunya elis.


dalam perjalanan singkat itu, tak terasa sudah sampai saja. Jihan di bantu oleh petugas satpam rumah membawa elis masuk ke dalam rumah. "makasih ya, lisa. elo gak mampir nih?" tanya jihan menawarkan.


"kapan-kapan lah yaa" ucap lisa sembari kembali menyalakan mesin mobilnya. "gue duluan" lisa berpamitan.


......................


jihan membaringkan elis yang masih setengah sadar di kasur tempat tidurnya.


"elo tidur deh, biar besok elo seger lagi." jihan menyelimuti tubuh elis lalu keluar kamar.


diluar kamar nampak bunda jihan yang tengah penasaran. "kenapa tuh temen kamu, jihan?" tanya bunda jihan, namanya adalah bunda irin.


"gak papa kok bunda, cuma lagi mabuk ajaa." Jawab jihan jujur.


bunda jihan manggut-manggut tanda mengerti. "anak jaman sekarang," gumam bunda irin. "mau dibikinin wedang jeruk nipis gak, elis itu?" tanya bunda irin menawarkan.


"enggak usah, bunda." ucap jihan karena memang tadi di villa elis sudah minum air perasan lemon.


"yaudah kamu juga istirahat ya" bunda mengelus punggung tangan kanan jihan kemudian pergi.


setelah bunda irin pergi, jihan kembali ke kamar dan tidur di samping elis.


......................


di dalam ruang keluarga yang besar, duduk dua orang baya sedang asik mengobrol dan menonton film.


"elischia kemana, belum pulang?" tanya Edgar, papa elis. dia baru saja pulang dari bekerja di luar kota.


ting!


satu suara notifikasi dari hp milik Edgar membubarkan perbincangan mereka. segera Edgar mengecek apa isi notif tersebut, takutnya hal yang menyangkut masalah pekerjaan.


nyatanya berisi vidio rekaman elis tengah bermain kartu dan mabuk, di fidio itu jelas menampakkan elis tengah minum.


seketika emosi menjalar di sekujur tubuh Edgar, bagaimana bisa putri yang selama ini ia banggakan kebaikannya ternyata berlaku seperti itu.


ada rasa marah sekaligus kecewa yang tersirat dalam hati kecil Edgar pada elis. begitu juga yuana, dia juga kaget melihat kelakuan putrinya.


kini mereka lebih fokus ke arah pintu perbatasan antara dalam dan luar rumah, menunggu putrinya pulang. namun hampir berjam-jam elis tak kunjung datang bahkan chat hingga telepon tidak di bales.


"anak ini!!" gumam Edgar saking geramnya pada elis.


"sabar dulu, pa. mungkin saja itu kesalahan pahaman." yuana menepuk-nepuk punggung edgar agar lebih tenang.


"ya." jawab edgar singkat kemudian pergi ke kamar. nyatanya percuma menunggu anaknya itu, sepertinya dia tak pulang malam ini.


yuana juga ikut kembali ke kamar dan beristirahat.


...----------------...


malam terasa begitu singkat dan kini pagi telah kembali menyapa elis. setelah ia mandi dan makan pagi bersama keluarga besar jihan, dia bergegas pulang.


dia mengerti keadaan yang akan ia hadapi, kemarin papanya kembali dan elis belum sempat bertemu, menginap di rumah jihan pun dia tak izin. dipikirannya papanya akan mengomel dan sedikit berceramah.


elis pulang menggunakan mobil keluarga jihan, itu karena mobilnya di tinggal di villa kemarin malam.


"good morning momy" ucap elis agak keras ketika memasuki rumah.


"morning sayang" balas yuana lembut penuh kasih sayang. "sudah makan?" tanya yuana.


"sudah" ucap elis singkat kemudian hendak pergi ke kamarnya.


"elis." panggil edgar.


elis berbalik melihat papanya yang tengah berdiri, aura yang terpancar negatif, wajah yang datar dan tatapan yang tajam.


"papa, udah balik?" elis berbasa-basi sambil cengengesan.


"menurut kamu?" tanya Edgar singkat.


"ya" ujar elis lirih.


"darimana saja kamu, kemarin tak pulang, hah?!" tatapan yang sengit mampu mengintimidasi elis.


"a-aku main ke rumah jihan pa, setelah pesta kemarin." ucap elis gagap saking takutnya.


"apa aja yang kamu lakuin Kemarin?"


mampus gue, sesi interogasi dimulai, gue gak boleh gagap nih kayak tadi, bisa-bisa ketahuan. elis membatin.


"elis?" tanya Edgar sekali lagi karena mendapati putrinya melamun, pikirnya elis tengah mencari alasan berbohong.


sontak elis kaget."ouh ya, aku kemarin cuma bernyanyi dan menari-nari saja, pa." ucapnya apa yang sekilas terlintas di benak.


"yakin?" ucap edgar dengan tatapan yang sulit di artikan.


"ya dong, pa. masa aku bohong." ucap elis percaya diri.


maaf ya pa, aku bohong kali ini.. batin elis.


"lalu ini apa, elis?!" bentak edgar sembari menunjuk rekaman elis tengah mabuk.


"eeh ituuu, a-aku terpaksa, pa. aku sebenarnya gak mau." ucap elis lirih dengan tergagap karena takut.


"terpaksa? itu pilihan kamu, kamu yang mengajak." terang papa elis.


"maaf pa," ucap elis lirih sambil menunduk.


Edgar menghembuskan nafas kasar. "papa kecewa sama kelakuan kamu, elischia." Edgar diam sejenak kemudian pergi keluar rumah.


"pa," cicit elis menyesal atas kejadian malam kemarin.


sedangkan yuana hanya menyimak tak berani mencampuri pertengkaran elis dan edgar.


elis pergi ke kamarnya dengan lesu dan perasaan yang bersalah. papanya adalah orang yang paling perhatian dan paling membanggakan elis, baru kali ini Edgar berteriak dan kasar seperti itu.


tiba-tiba saja terlintas di benak elis, siapa orang yang berani memberi tahu orang tuanya tentang kejadian semalam?


siapa orang yang berani cari gara-gara dengan circle auziramessa?