Ordinary Girl

Ordinary Girl
balik, yuhuu



hari ini sinar sang mentari cukup terik, bumi seisinya di buat terasa panas dan menggerahkan padahal masih pagi hari. dalam perjalanan yang cukup jauh ini keringat tak henti-hentinya bercucuran dari dahi elis, badan terasa lengket dan bau badan jadi kurang sedap. elis tak henti-hentinya mengipasi dirinya dengan kipas portabel dan menyemprot parfum ke badannya.


"ell bisa gak sih elo diam gitu, gak usah pakai parfum. aromanya bikin mabok tahuu" omel zeeya pada elis.


hari ini, ke empat orang sahabat itu berangkat bersama ke asrama dengan si sopir.


"tapi badan gue bau acemm nih." gerutu elis sembari sesekali mencium kain bajunya.


"iyaah tahu, gue juga sama kali. lagian belum Sampek gak usah berlebih bisa gak sih?" sahut zeeya dengan sinis.


"AAHHH pusing!" gerutu jihan sembari memegangi kepalanya.


"mending di Anter mom and dad sih inii, aselii" celoteh lisa melihat kelakuan temannya ini.


"ekheem" zeya berdehem. "yang lagi akur nih" sambungan dengan mimik menggoda.


"paan sih" balas lisa tak suka.


tiinnnn


si sopir beberapa kali membunyikan klakson agar dibukakan gerbang sekolah, tak terasa mereka sudah sampai saja.


"wihh gilaak, gede juga sekolahnya" jihan terkesima melihat bangunan yang dua kali lebih besar dari sekolahnya dulu.


"pantes gak kangen kita, sekolahnya elit." celetuk zeeya.


"loh zeeya, udah berani nyindir-nyindir.." sahut lisa membalas ucapan zeeya.


"maaf-maaf"


"mari non turun!" pak sopir membuka pintu mobil dan mempersilahkan mereka turun.


"terimakasih" ucap mereka berbarengan sembari menuruni mobil secara bergantian.


tak jauh dari mobil ke empat sahabat itu, tampak gena sudah berdiri dan menunggu kehadiran elis. "elischia!" teriaknya sembari berlari menyusul elis ke parkiran.


"huaah kangen." gena memeluk elis erat. "buat Lo" gena menyodorkan segelas kopi untuk elis. "buatan sendiri" sambungannya.


"makasih" ujar elis ramah.


"si-siapa dia ell?" tanya ketiganya heran, tak mengerti siapa gadis yang memeluk sahabatnya ini.


"ouh ya, kenalin dia gena temen aku selama di asrama. gena kenalin mereka teman aku dari kota." terang elis pada kedua belah pihak.


gena manggut-manggut. "kenalin gue gena, kalian sapa?" ucap gena ramah pada ketiga orang itu sembari mengulurkan tangan.


"gue lisa"


"gue jihan"


"gue zeeya"


tak dapat balasan, gena menarik kembali uluran tangannya.


"yaudah yok kesana" gena mengajak elis berjalan terlebih dulu meninggalkan ketiga orang itu dibelakang.


"sapa sih, sok akrab banget" gerutu jihan tak suka melihat kelakuan gena.


"tau ah" balas zeeya dan lisa.


sebelum memasuki area sekolah, mereka terlebih dahulu ke tempat pemeriksaan guna di cek semua barang bawaan, tentunya juga penyitaan segala jenis gadget. setelah itu, mereka di beri kunci kamar dan bergegas pergi ke asrama.


"wah jauh banget area sekolah sama asrama." keluh jihan ketika mereka hampir sampai di gedung asrama.


"ahh ya, nanti setiap mau sekolah kalian harus jalan sejauh ini tapi kalau bareng-bareng pasti enak" sahut gena dan jihan hanya diam tanpa ekspresi.


"ell elo sekamar sama gue kan?" tanya zeeya, pasalnya lisa dan jihan sudah akan sekamar.


"loh? gak pindah aja sama gue? masa gue sendirian" gerutu zeeya tak senang sembari mengerucutkan bibirnya.


"gak bisa pindah kamar gitu aja, harus ada izin dari ketua asrama." terang elis pada zeeya.


sesampainya di gedung asrama, mereka mulai berpencar tuk pergi ke kamar masing-masing. gena tentu sudah memastikan kamar bersih saat elis datang jadi elis hanya perlu memasukkan kembali bajunya ke almari. sedangkan di sisih lain, jihan dan lisa tampak takjub melihat kamar mereka, cukup luas dan fasilitas yang memadai. tidak seburuk ekspektasi mereka. segera mereka bersama-sama menata dan membersihkan kamar yang kotor itu.


berbeda lagi dengan zeeya yang tampak masam sebab melihat kamarnya yang begitu kotor, berada di pojok dan terlebih dia tidur sendirian. "huuh" zeeya menghembuskan nafas kasar. dia mulai membersihkan sudut-sudut ruangan hingga benar-benar bersih, zeeya benar-benar tak suka tempat yang kotor dan kumuh.


tiba-tiba saja jihan masuk dengan sepatunya mengotori lagi lantai yang sudah bersihkan zeeya. "siang!" teriaknya nyaring, kini zeeya benar-benar sudah hilang sabar.


"elo gak lihat apa gak punya mata?! gue udah susah² nyapu malah elo kotorin gitu aja, bener-bener dehh" celoteh zeeya dengan ekspresi marah dan wajahnya merah.


"eeh santai dong, marah gegara gak sekamar sama eliskan?" jihan melepas alas kakinya lalu berjalan ke arah tempat tidur.


"ke elo juga sih" ujar zeeya datar.


"gue kesini mau bantu elo sih tapi kalau elo gini gak jadi deh" ucap jihan malas lalu merebahkan dirinya di atas kasur.


"apaan sih gak mau bantu sana pergi, gue bisa sendiri." zeeya berusaha membangunkan jihan dari kasurnya tapi tak bisa.


"lanjutin sana," ujar jihan malas. "gue kesini disuruh jemput elo, kita mau jalan-jalan. cepetan dehh" ucap jihan sembari memperhatikan kesekeliling kamar.


"ah pasti sama si gena itukan, maless. pergi deh sana." zeeya melirik ke arah jihan sebentar lalu lanjut bersih².


"yakin? kita mau beli buku juga sih buat school besok. yaudah deh!" ujar jihan pasrah lalu berjalan pergi keluar kamar.


"eh tunggu!" teriak zeeya pada jihan. "gue ikut deh, ngerapiin baju bisa nanti" zeeya mengembalikan sapu ke tempatnya lalu mengambil tas dan pergi dengan jihan.


"gitu dong" ucap jihan senang, mereka berdua pun bergegas menyusul lisa,gena dan elis yang tampaknya sudah pergi dahulu.


ketiga manusia itu sudah sampai terlebih dahulu di toko buku dan diikuti jihan serta zeeya berikutnya. mereka pun bersama-sama mencari buku-buku yang akan digunakan di sekolah besok.


"banyak nyaa" keluh lisa melihat tumpukan buku materi yang akan ia beli, ia tak membayangkan betapa susahnya mempelajari semua materi di buku² ini.


"sudah semua kan?" tanya gena memastika. "yuk ke kasir" ucapnya memimpin.


"ayoo bawa bukunya ke kasir" elis mengulangi perintah gena yang di abaikan teman-temannya.


"totalnya tiga juta ya kak" ucap kasir setelah mengecek seluruh harga buku yang dibeli.


ke empat orang ini tampaknya kesusahan membawa buku-buku yang cukup berat ini tuk balik ke asrama. "ngopi dulu ke caffe gimana?" usul elis sebab tangannya sudah terasa agak nyeri.


"yaudah yuk kesana, gue capek nih" gena menyetujui.


"serah ngikut" sahut ketiganya.


beberapa saat kemudian mereka pun akhirnya sampai di caffe, mereka memesan kopi dan berbincang-bincang cukup lama.


"ouh kalian berempat ini ternyata Deket banget yaa" ucap gena menyimak keempat orang yang sedang cerita nostalgia masa lalu mereka.


"iya kita tuh udah sahabat lama" balas lisa dengan senyuman tipis.


"aku disini juga akrab banget sama elis loh waktu kalian belum pindah, iyakan ell?" sambung gena sembari melirik ke arah elis.


"iya, gena tuh baik banget. pokoknya teman terbaik deh" puji elis pada gena, seketika mukanya bersemu merah dan malu-malu.


"eh udah mau malem, ayo kita balik sebelum makan malam dan absen. kalau telat bisa berabe nihh" sekilas gena melihat ke luar dan menyadari mereka terlalu lama di caffe.


"iya bentar yaa" ucap jihan penuh penekanan.


"gak ada bentar, sekarang!" elis turut berdiri membawa buku-buku dan hendak pergi. ketiganya dengan malas ikut berdiri dan pergi lagi membawa buku-buku yang berat ini.


beberapa saat kemudian.. akhirnya mereka bertiga telah sampai di gedung asrama, jihan dan lisa pergi terdahulu ke kamar mereka tuk meletakkan buku, sementara itu gena dan elis ikut ke kamar zeeya tuk membantu membawakan buku.