
gedung sekolah bercat putih itu tampak mulai ramai akan siswa-siswi yang berdatangan, setiap sudut ruangan itu pasti ramai dan berpenghuni.
elis menghentikan langkahnya sejenak ia melihat gedung besar di depannya ini. ia kembali mengingat bagaimana ia di fitnah hingga di skors dari sekolah.
"ada apa elis?" tanya jihan khawatir sebab melihat wajah elis yang tampak sedang melamun.
"gak papa, yok masuk!" elis tersenyum lebar kemudian berjalan terdahulu masuk ke gedung sekolah.
bruuk!
"aduh" rintih elis ketika terjatuh saat menabrak seorang yang bertubuh kekar.
orang itu mengulurkan tangan. "terimakasih," elis meraih tangan sosok tersebut. namun ia kaget ternyata orang itu adalah "Tristan?" ucap elis kaget.
"hi apa kabar?" tanya Tristan pada elis seolah tak terjadi apa-apa.
"baik" elis tersenyum tipis.
saat melihat elis jatuh, segera ke empat orang itu mendekat ke elis. "gak papa elo ell?" tanya geena lalu melirik sinis ke arah Tristan.
"beeh cakep" gumam lisa sambil senyum-senyum menatap Tristan.
Tristan membalas tatapan mata geena tak kalah sengitnya. "dicariin besti gue, gee" ucapnya singkat lalu pergi.
"gue udah move on dari dia!" balas geena sedikit berteriak pada Tristan yang tampak menjauh itu.
"tidak boleh berteriak-teriak di area lingkungan sekolah, peraturan sekolah nomor dua puluh" kebetulan sekali saat gena berteriak risa sedang lewat.
"iyaah sorry gak akan gue ulang lagi" ucap geena malas menanggapi risa.
risa melirik ke arah tiga orang baru yang ada di dekat geena. "serah" ucap geena datar kemudian pergi.
"wihh keren juga ya anak-anak yang ada disekolah ini." sedari tadi lisa terkagum melihat orang baru yang ia temui.
"siapa tadi?" tanya jihan penasaran pada kedua orang itu.
"cewe tadi risa si paling kebanggaan sekolah, cowo tadi tuh tri--"
"ayo cepat masuk" elis menyela ucapan geena dan menarik tangan jihan pergi.
"harusnya gue gak nyaranin buat pindah kesini" zeeya bergumam menyesali idenya.
zeeya sengaja memperlambat jalannya, ia ingin berjarak dari teman-temannya, entah kenapa semenjak pindah kesini sahabatnya itu seolah melupakan dirinya dan lebih memilih geena.
nyatanya mereka tak mencariku saat aku tak bersama mereka, lihatlah mereka tak peduli lagi padaku kata zeeya pada dirinya sendiri.
zeeya berjalan seorang diri di koridor, banyak pasang mata menatapnya.
"teman secircle nya geena kan?"
"itu anak baru itukan?"
"cantik sih"
zeeya tak mempedulikan bisik-bisik tentang dirinya, ia kini hanya fokus berjalan pergi ke kelasnya.
"Hay?" sapa risa.
zeeya menengok ke sumber suara. "elo cewek yang tadi pagi itukan?" balas zeeya dengan wajah datarnya.
"iya, gue risa. elo?" risa tersenyum sembari mengulurkan tangan.
zeeya meraih uluran tangan risa. "gue zeeya" zeeya tersenyum manis.
"kelas elo?" tanya risa.
"sama kayak elo" balas zeeya singkat.
"bareng yuk?" ajak risa
di kelas tampak elis tercengang mendapati kedatangan zeeya yang bersamaan dengan risa. elis merasa heran kenapa zeeya terlihat akrab dengan risa.
"mereka kok bisa barengan?" tanya elis tak mengerti pada geena.
"ya mana gue ngerti, ell. tadikan zeeya bareng kita terus ngilang eh tahu² barengan aja sama si risa." geena mengerutkan keningnya melihat interaksi kedua insan yang tak jauh darinya.
"zeeya!" panggil elis namun tak dihiraukan sama sekali oleh zeeya.
"selamat pagi anak-anak!" sapa seorang guru yang baru memasuki kelas dengan ramah
"pagi juga bu" balas anak-anak secara kompak.
kenapa aku merasa ada yang aneh sama zeeya akhir-akhir ini..
"pelajaran akan dimulai" guru tersebut membuka halaman-halaman di buku yang ia bawa untuk mengawali kegiatan pembelajaran. selama pembelajaran berlangsung elis tak fokus, ia terus kepikiran tentang zeeya.
elis melirik ke arah zeeya yang terlihat acuh padanya dan akrab dengan risa. "udah lah elischia, gak usah dilihatin terus" ucap geena lirih membalas gerak-gerik elis sedari tadi.
elis membuang nafas kasar, ia mengembalikan pandangnya ke arah guru yang sedang menjelaskan, berharap agar fokus dan tidak kepikiran tentang zeeya.
gue juga bisa dapat teman baik, ell. seperti elo nerima geena jadi sahabat elo, gue juga bisa Nerima risa sebagai teman terdekat gue gantiin elo.. sekilas zeeya melirik ke arah elis dengan tatapan tajamnya.
risa tersenyum miring. "gadis bodoh, akan ku manfaatkan kerenggangan hubungan kalian." gumam risa sambil sesekali melirik ke arah zeeya.
triinggg!!
bel istirahat berbunyi tanda pembelajaran harus berakhir dan kini saatnya siswa-siswi berbondong-bondong pergi ke kantin.
"Zee kantin yuk!" ajak elis pada zeeya yang tampak fokus mengerjakan tugas dadi guru tadi.
"duluan aja, gue masih mau belajar sama risa." zeeya tersenyum tipis. sebenarnya ia mau saja pergi dengan elis namun melihat ada geena di sampingnya membuat zeya jadi malas.
"ouh yaudah" ucap elis singkat kemudian pergi disusul geena di belakangnya.
sesampainya mereka berdua di kantin, mereka segera memesan makanan dan mencari tempat duduk yang kosong. "sini!" panggil lisa dan jihan sambil melambaikan tangan.
"yah" elis tersenyum lalu menghampiri mereka.
"zeeya mana?" tanya jihan saat tak melihat keberadaan zeeya.
"besti kalian lagi ngambis di kelas bareng si juara kelas." terang geena pada semuanya.
"sama risa?" tebak lisa.
"yaps benar dan terlebih anehnya mereka berdua akrab tahu" geena mengingat-ingat kejadian di kelas tadi.
jihan hanya tersenyum menanggapi geena, jihan tahu bahwa zeeya tidak suka dengan geena karena itu dia menjauh.
kalau gak karena elo, persahabatan kami masih baik-baik aja jihan membatin sambil menatap geena tajam.
"ini pesanan kalian sudah jadi, selamat menikmati ya" seorang pelayan kantin datang membawa pesanan ke empat orang itu. "saya pastikan kalian menyukainya" ucap si pelayan ramah sembari meletakkan satu persatu piring dari nampan ke meja.
pelayan itu pergi. ketika hendak makan tak sengaja elis melihat kedatangan zeeya dan risa. zeeya sama sekali tak memedulikan teman-temannya yang sedang memanggil namanya.
"elo dipanggil temen loh tuh " ujar risa pada zeeya saat mendengar suara memanggil zeeya.
"biarin aja gue gak peduli" ucap zeeya datar.
"kasihan sih gue lihatnya" risa seolah sedang menahan tawa.
"biarin aja, gue masih marah sama dia" zeeya menyadari komuk risa yang tak biasa. "kalau mau ketawa ya ketawa aja" ucap zeeya singkat diiringi gelak tawa risa.
"sorry gue gak maksud apa-apa loh" ucap risa di antara tawanya. "gue ngerasa lucu aja lihat kelakuan loh" sambungnya.
"terserah lo deh" ucap zeeya datar, segera ia pergi mencari tempat duduk setelah memesan makanan di kasir. begitu juga dengan risa.
siang ini, mereka makan siang bersama di satu ruang kantin yang sama, mereka yang aslinya dekat tampak asing satu sama lain. aneh tapi bagaimana lagi sudah terjadi..