Ordinary Girl

Ordinary Girl
mesin kopi



cukup dramanya, gue akan balik ke diri gue yang dulu, jadi seorang elischia sesungguhnya. Sosok yang mungkin temen-temen gue kenal dulu. gue emang gini, suka merubah-ubah jati diri gue, kadang gue kayak si baik banget tapi jujur gue tuh sebenarnya gak gituu.. Elis melamun sembari menikmati kopi hitam di kedai kopi.


"maaf ya kedai mau tutup jadi kamu dipersilahkan untuk pergi" seorang pelayan menghampiri dan menyadarkan elis.


"ouh ya, ini ya gue bayar" elis meletakkan beberapa lembar uang kemudian beranjak pergi.


Bukannya cewek tadi tuh yang selama ini sopan banget itu yaa kok sekarang ada yang beda? Batin pelayan cukup heran, sebab dia selama ini tahu elis adalah pelanggan tetap dengan sikap paling sopan.


Sore yang indah, elis berjalan dengan tenang sembari menikmati perjalanan menuju gedung asrama. Hari ini mood elis cukup baik walau banyak masalah yang sedang ia pikul di pundaknya. "akhirnya" kini elis telah sampai di gedung asrama.


Ketika hendak menuju kamarnya, tak sengaja elis berpapasan dengan ketiga temannya. "Hay?" sapa elis saat berlalu tanpa menunggu jawaban temannya.


"gue lagi lihat elis kita yang dulu" ujar lisa pada kedua temannya.


"jangan kemakan, ingat dia udah berubah dan mutus persahabatan sama zeeya cuma gara-gara geena." risa memanas manasi suasana, kebetulan dia ikut bareng dengan ketiga orang itu.


Anjing! Harusnya elis sekarang sedih dan menderita ngelihat kita, harusnya dia gak enak sama teman-teman nya, eh kok malah tenang-tenang ajaa risa benar-benar tak terima jika rencananya akan gagal seperti ini.


"dah lah gess, mending kita pergi daripada ngurusin dia" ujar jihan dan disetujui teman-temannya.


Elis membuka pintu kamar dengan kunci yang ia punya. "sore Geena" elis berjalan kearah meja belajar, meletakkan tasnya lalu ke ranjang untuk berbaring.


"elis Lo dah balik aja, gue kira gak balik" canda geena, ternyata dia dari kamar mandi.


"apaan sih gajelas elo, ya jelas gue balik lah" balas elis dengan mata yang tertutup akibat kantuk.


"kopi gak?" tawar geena.


"gak usah, gue habis dari caffe"


"yakin?" tanya geena sekali lagi.


"diam deh elo itu, gue mau tidur"


"its okey" ucap geena pasrah.


Di sisih lain, ketiga sahabat lama elis, berencana untuk menjatuhkan geena dan elis dengan melapor masalah mesin kopi ke kepala sekolah.


Tok! Tok!


Beberapa kali risa mengetuk pintu ruangan bu Widya. "permisi selamat sore, bu widya" ujar risa sopan dari arah luar.


"silahkan masuk" pinta bu Widya dari dalam ruangan.


Akhirnya risa masuk mewakili ketiga temannya, dia duduk di kursi yang langsung menghadap ke arah bu Widya dengan perasaan campur aduk.


"ada apa?" tanya bu Widya datar dengan tatapan intensnya.


"saya mau melaporkan pelanggaran yang dilakukan di sekolah ini bu" ujar risa lirih sambil menundukan kepalanya takut².


Bu Widya mengerutkan keningnya dan menajamkan sorot matanya. "siapa dan pelanggaran apa?" tanya bu Widya to the point.


"anak baru itu bu, dia bawa semacam alat mesin kopi padahal jelas-jelas dilarang" risa dengan semangat menceritakannya pada bu Widya.


"maksud kamu elischia?" tanya bu Widya sekali lagi.


"iya bu" risa mengangguk.


"baiklah, terimakasih informasinya risa" bu Widya tersenyum ramah lalu mempersilahkan risa keluar.


Diluar, jihan bersama zeeya dan lisa tampak penasaran dan berusaha menguping. Mereka mengintip melalui pintu.


"ngomong apa sih?"


"tau ah gak denger"


"sama"


ketika risa hendak membuka pintu, ia terlonjak kaget melihat ketiga temannya."ngapainn?" tanya risa terheran-heran.


"ya nungguin elo lah, gimana hasilnya?" tanya jihan penasaran.


"tunggu dulu, elis? Bukannya kita mau ngerjain geena, ya?" tanya lisa, sebab ia hanya ingin membalas geena dan tidak ingin menyakiti elis.


"ngapain sih elo masih peduli sama tuh cewek, dia udah hianatin kalian" ucap risa penuh penekanan seolah ingin meracuni pikiran ketiga orang itu.


"kita artinya udah tebar fitnah " jihan juga setuju dengan pikiran lisa.


"ngapain sih dibelain Mulu, temenin aja sana, gue sama risa aja yang ngerti" ucap zeeya ketus dengan melirik tajam ke arah jihan dan lisa.


"gak gitu--"


Klek!


Pintu ruangan terbuka, terlihat bu Widya keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. "kalian ngapain disini?" bu Widya kaget melihat beberapa murid berada tepat di depan pintu ruangan nya.


"ehh kita lagi--" ujar lisa gagap.


"lagi ngobrol aja bu, kebetulan lewat sini" jihan langsung menyahut, untung saja jihan tak selemot lisa.


"saya peringatkan kalian, suka menguping pembicaraan orang itu perbuatan yang paling tidak saya suka" bu Widya berlalu setelah berkata seperti itu.


deg!


Jantung ketiga manusia itu rasanya tersengat, mereka takut apakah bu Widya mengerti saat mereka mengintip tadi.


"lagian ngapain juga tadi ngintipin gue" risa sengaja memanas-manasi suasana.


"kita tuh kepo" lisa mencari pembelaan.


"lagian akhirnya gue kasih tahu juga kan hasilnya?" risa menaikan satu alisnya.


"iya tapi kelamaan," sahut zeeya.


"kalian aja yang gak sabaran" setelah berkata, risa langsung pergi tanpa mengindahkan teman-temannya.


"si risa ****! Banget sih, kalau gue gak butuh gak akan mau gue ngikutin dia kemana²" maki zeeya sedikit keras lalu pergi, dan kedua orang di belakangnya menyusul


sedangkan disisih lain, bu Widya di temani dua orang satpam dan satu guru yang menjabat kepala asrama berjalan tergopoh-gopoh menuju kamar geena, bu widya tampak menjadi pusat perhatian murid2 Setiap melewati lorong-lorong asrama.


Tok! Tok!


terdengar pintu di ketuk beberapa kali dengan kasar, segera elis berjalan membuka pintu tersebut.


siapa sih yang gedor² kamar pas malem gini, awas aja gue caci maki tuh orang! Gumam elis kesal sembari membuka pintu kamarnya. "siapa?!!" ucap elis dengan nada tinggi.


"eh bu Widya?" elis kaget, ternyata kepala sekolah datang dengan rombongannya.


"ada apa ini?" elis membatin, sepertinya hal buruk akan terjadi.


Bu Widya menatap tajam manik mata dan wajah polos elis seolah tak terjadi apa-apa. "masuk dan geledah seluruh isi kamar ini" perintah bu Widya pada kedua satpamnya.


"baik siap bu!" segera kedua satpam itu masuk dan mencari sesuatu.


"lihat anak-anak mu, berhasil kah kau mendidiknya?" tanya bu Widya dengan ketus.


"maaf bu" kepala asrama hanya menunduk, dia takut melihat wajah mengerikan bu Widya.


"kenapa ini bu, saya kenapa?" elis khawatir karena dua satpam itu berhasil mengobrak-abrik isi kamarku hingga berantakan.


"ketemu!!" sorak salah satu satpam, dia menemukan mesin ini di bawah ranjang dengan berbalut kain sutera. "kain-kain mahal ini"gumam elis melihat satpam itu mengeluarkan mesin kopi gena.


"masih mengelak?" tanya bu Widya ketus.


"tapi saya tidak melakukan --"


"bukti sudah jelas, datang ke ruang BK setelah ini" ujar bu widya.


"tapi bu ini bukan milik saya"


"tak ada tapi-tapian, kalau begitu nanti datang dengan teman mu, saya menunggu jadi jangan lama-lama." peringat bu Widya.