
rumah lantai tiga itu tampak sunyi dan sepi, tidak ada lagi tawa dan kebahagiaan yang menghiasi.
Sudah lama sejak Elischia pindah ke asrama, Susana rumah menjadi berbeda. "selamat datang, non. Mari bibi bantu" ujar sosok pembantu yang sudah mengurus rumah ini sejak lama.
"makasih" Elischia menyerahkan satu kopernya untuk dibawa ke kamar.
Elis melihat kesana kemari tak ada lagi siapa pun kecuali bibi ernah, kemana semua orang?
"rumah kok suasananya jadi beda ya bi?" cetus Elischia.
"ah non El peka ternyata, memang sejak non pindah rumah jadi beda" tutur bi ernah lembut.
Elis berbalik menghadap sang bibi."kenapa emangnya bi?" Tampak kerutan di dahinya tanda ia cukup penasaran.
Bi ernah tak menjawab, ia tersenyum tipis. "istirahat dulu aja, non. Bibi bantu beresin barangnya" bi ernah beralih ke lemari untuk menata baju dan barang-barang Elischia.
"serius bi, saya tanya" ujar Elis sekali lagi Dengan sedikit di tekan.
"ah ya, bibi lupa lagi masak. Pergi dulu non" tanpa pedulikan Elis, bi Ernah segera keluar kamar setelah menata barang-barang.
Kenapa sih ada apa, kenapa gua tiba-tiba disuruh balik, mana disana juga belum selesain hukumann..
Elischia mengusap dahinya yang tak pening, ia memilih tuk membasuh badannya yang terasa cukup lengket.
derasnya air shower yang mengguyur tubuhnya mampu membuatnya kembali segar.
Setelah beberapa menit berkutat di kamar mandi, segera ia berganti pakaian dan tidur di ranjang king size yang sudah ia nanti-nantikan.
dipikir kembali besok saja.
...----------------...
Malam telah berlalu, kini pagi yang cerah menyapa Elischia.
"hoemm" matanya perlahan terbuka, sejenak ia menatap langit-langit kamarnya lalu beralih ke pojok, tampak bi ernah tengah menyiapkan sesuatu.
"bi ernah ngapain?" tanya Elischia heran.
"menyiapkan baju sama apa yang harus non bawa kerumah sakit" terang bi ernah di sela-sela kesibukannya.
"aah lagian saya berangkat nanti sore kok, bi." terang Elis malas.
"tapi tuan meminta non berangkat pagi ini juga"
"aahh sialan" umpat Elis lalu ia pergi ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Elis telah siap dengan apa yang disiapkan bi Ernah. Sebelum pergi ia menyempatkan sarapan dengan roti panggang.
"mari non, sopir sudah menunggu" ujar bi ernah pada Elischia.
"iya bi, bentar. Lagian tuh sopir juga dibayar dan gua adalah bos" ucap Elis sombong lalu memasuki mobil.
Bi ernah hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "hati-hati non!" bibi melambaykan tangannya pada mobil yang sudah mulai menjauh.
"bisa cepetan dikit gak?" ketus Elischia pada sang sopir.
"ngebut gituloh, pak!" bentak Elischia hingga membuat si sopir kaget.
"siap-siap neng!" sopir pun melajukan mobil di atas kecepatan rata-rata.
Hanya dalam hitungan menit, Elischia telah sampai di rumah sakit. Tempat dimana orang tuanya dirawat.
Elischia segera menuju kamar rawat ibunya setalah bertanya pada perawat.
"Elis?" ucap ibu Elis lirih dengan senang.
"apa kabar, gimana keadaan ibu?" ujar Elis ramah sambil mengelus tangan ibunya.
"ibu baik sayang, ibu pasti bakal sehat lagi kalau ada Elis disini" tutur ibu Elis lirih sedikit terbata-bata.
"selamat pagi?" sosok perawat masuk ke ruang rawat ibu Elis.
"pagi, sus" jawab elis.
"saatnya periksa rutin ya, bu. Ouh ya obatnya tolong di tebus lagi ya karena sudah habis." terang Suster sembari mengecek keadaan ibu Elis.
"ya baik, akan saya tebus obatnya" segera Elis keluar mengambil obat dan menebusnya di administrasi.
"totalnya beberapa?"
"delapan ratus ribu" ujar si administrasi.
"ouh okey" Elis memberikan kartu kredit untuk membayarnya.
"sudah, terimakasih" Si administrasi mengembalikan kartu kredit Elis setelah melakukan pembayaran.
Segera Elis kembali ke ruang rawat ibunya, disana ia membantu ibunya sarapan pagi dan meminum obat.
"makasih sayang"
"sama-sama" Elis tersenyum tipis. "Ell balik dulu, nanti malam kesini lagi" ujar Elis.
tanpa persetujuan ibunya, Elis langsung pergi begitu saja.
"Elischia!" teriak seseorang orang di belakang Elis.
Elis berbalik dan melihat orang itu. "siapa?" tanya Elis.
"hai kak, gua dari Indonesian high school" gadis itu mengulurkan tangannya.
Elis menyambutnya dengan senang."hai" balasnya.
"elo itu ratunya Indonesian high school yang paling di puji-puji itukan, ga adanya elo tuh bikin semuanya beda. Apalagi temen se'geng elo, iyakan?" ujar gadis itu panjang lebar tetapi Elis tak paham.
"apa? perubahan apa? gua gak paham." ujar Elis kebingungan dan heran.
"ouh gak tahu, gua jelasin deh" ucap gadis itu, pikir nya wajar saja tak tahu dia kan pinda ke asrama.