Ordinary Girl

Ordinary Girl
bosan (POV elischia)



gue memasuki ruangan yang tak cukup besar itu, kecil! lebih sempit dari kamar gue dulu di rumah. ruangan itu tak lain adalah kamar baru gue di asrama, yang berisi dua ranjang, dua almari dan dua meja belajar, sangat berbeda dari kamar gue dulu yang serba lengkap dan hanya aku seorang yang menempati, kini gue harus berbagi kamar.


tak ambil pusing, segera gue tata baju-baju gue ke lemari kayu bercat coklat itu. lemarinya kecil jadi hanya beberapa yang bisa masuk, selainnya masih berada di koper. "gimana ada lemari sekecil ini?" gue bergumam sembari bingung mengotak Atik lemari agar semua baju bisa masuk. nihil! tetap tidak bisa walau sudah dicoba seribu cara.


"lagian ngapain elo bawa baju sampai dua koper gitu?" Geena berdiri di belakang gue dengan bingung melihat apa yang terjadi.


gue berbalik menghadapnya. "ya karena ini baju-baju gue" jawab singkat kemudian lanjut mengotak -atik almari yang entah kapan ujungnya.


"ya tahu, tapi lihatlah sekarang. terpaksa baju elo harus tetap berada di koper." Geena menunjuk ke arah koper-koper.


"ya" gue pun menyimpan pakaian yang sering gue pakai saja di almari, sisanya tetap berada di koper dan di simpan di bawah ranjang.


yaah dulu gue sempat mencaci maki para orang tua, kenapa mereka menyimpan barang di bawah ranjang. kinipun gue juga melakukannya..


lanjut deh gue menata beberapa barang yang gue bawa di rak kecil dan di meja belajar. ini tak termasuk ponsel/laptop karena sudah tersita di tempat penitipan tadi. "menyebalkann!" gue mengumpat saking keselnya.


selang beberapa waktu, kegiatan menata dan bersih-bersih telah sukses terlewati. kini saatnya istirahat. "akhirnya" gue lega, gue pun membaringkan tubuh pada ranjang.


Gena mendekati. "elo mau kopi gak?" tawarnya..


"kopi?" tanya gue, apakah dia akan berbaik hati membelikan aku? pikirku.


"ya,"dia mengangguk."mau gak?" tanya nya sekali lagi.


"ya" ucap gue singkat kemudian dia hilang dari pandangan ku.


ahh baik sekali, mau membelikan kopi. batinku memuji dirinya.


"bangun! kopimu jadi." Geena datang membawa secangkir kopi.


"cepat banget, elo beli dimana?" tanya gue keheranan.


Geena berjalan ke arah meja belajarnya. "gue gak beli tapi bikin sendiri." ucapnya lalu menunjuk alat pembuat kopi.


gue terkesima melihat itu tapi bolehkan menyimpan barang-barang seperti itu di asrama. "bukannya tak boleh memba-" ucap gue terpotong.


"gue nyelundupin alat ini. sudahlah, coba sekarang kopi itu." pinta Geena padaku agar tak menganggurkan cangkir kopiku.


nikmat! hanya itu yang terbesit di pikiran ku, rasanya seperti buatan barista terkenal. "elo pernah jadi seorang barista?" tanya gue pada Geena.


Geena tersenyum simpul kemudian duduk di samping gue. "keluarga gue adalah pengusaha kopi, mereka memiliki kedai minum kopi sendiri dan rata-rata keluarga gue adalah ahli barista membuat kopi, jadi gue sedikit belajar dari mereka." ucap Geena panjang lebar.


"kaya juga elo ternyata." candaku padanya.


"ah biasa saja! rata-rata anak yang bersekolah sini pasti kaya, termasuk elo" ucap gena menepuk-nepuk lengan kanan gue kemudian ia beralih ke ranjangnya dan berbaring.


gue pun sama, setelah minum kopi gue juga kembali berbaring tapi tak mengantuk. mungkin ini efek kopi barusan.


gue memandangi setiap inci langit-langit kamar ini dengan jengah dan bosan. biasanya aku akan menonton Drakor atau sekedar scroll tiktok jika bosan. kini tak ada yang bisa dilakukan. tiba-tiba gue teringat pada ketiga sahabat disana, gue teringat bagaimana gue bermain dan bersenang-senang bersama mereka. gue juga jadi kangen pada duo reshek itu, ares dan Keysa. aku jadi merindukan bagaimana tindakan jahilnya dan bagaimana gue membalas mereka. sekarang, hanya mengenang yang bisa kulakukan tak lain sebab hp ku sudah disita.


"Geen, bagaimana rasanya hidup disini tanpa hp dan orang tersayang?" tanya gue pada Geena namun tak kunjung mendapat jawaban.


Gue memiringkan tubuh menghadap ranjang Geena, ternyata dia sudah tertidur. "sialan, pantas saja tak menjawab" umpat gue membatin.


......................


ketika hendak pergi dari pintu muncul Geena berpakaian olahraga. "mau kemana?" tanya Geena.


"pergi sekolah lah, elo gak siap-siap? gak takut telat?" tanya gue cerocos pada Geena.


muka Geena memerah seperti menahan gelak tawa dalam dirinya, dia mendekat. "elo gak dijelasin kemarin, setiap Selasa adalah hari libur di asrama." ujarnya diiringi gelak tawa.


sontak gue kaget mendengar penuturan gena, bagaimana hari selasa jadi hari libur, namun tak gue pertanyaan pada Geena, Gue hanya menyesal kenapa baru tahu sekarang. jika tahu lebih awal mungkin Gue akan menghabiskan pagi untuk tidur.


Gue berbalik hendak kembali ke kebahagiaan, ranjang. "elo mau ngapain?" tanya Geena.


"tidur" jawab gue singkat.


gena menarik tangan gue. "huh tak bisa, setelah ini kita harus absen dan makan pagi bersama di lantai satu. selain itu murid disini tak boleh tidur pagi di hari libur, jika ketahuan akan dihukum" tutur Geena menjelaskan.


hah peraturan macam apa itu, tidur saja tak boleh. syiball umpat gue kesal dalam batin.


"lalu apa yang harus gue lakuin setelah makan?" tiba-tiba saja pertanyaan ini muncul.


"banyak dong, elo bisa baca buku, olahraga, main musik, ngelukis, bercocok tanam, golf, ekskul atau komputeran." ucapan gena yang terakhir memberiku sebuah ide, mungkin aku bisa menghubungi temanku lewat komputer itu.


aku tersenyum simpul. "dimana ruang TIK?" tanya gue.


"di gedung nomor dua di sisih Utara tapi gedung itu dalam tahap renovasi, jadi komputer juga tak bisa di pakai." terang Geena yang membuat harapan kembali padam. "ada yang lebih penting yaitu buku-buku pelajaran yang harus elo miliki besok buat sekolah, nanti setelah makan lebih baik gue nganterin elo ke toko buku." ucapnya dengan tersenyum.


"ya terserah."


"sudahlah tunggu gue sebentar, kita ke bawah bersama-sama ya?" pinta Geena ke gue, gue hanya mengangguk tanda setuju.


beberapa menit kemudian gue dan gena turun bersama ke aula ruang makan, disana kami mengambil beberapa makanan yang tersedia di meja menu lalu kami duduk dan makan bersama.


"bagaimana rasanya?" gena berbasa-basi.


"enak" balas gue kemudian pandangan ku teralih melihat sosok laki-laki yang baru datang itu, "siapa dia?" tanya gue pada gena.


gena mengikuti arah pandanganku. "ouhm, dia adalah murid populer di sekolah ini, dia itu tampan dan pintar. banyak yang menggemari dirinya, dia bahkan punya nama fans sendiri." terang Geena.


gue lumayan suka sama Geena sebab dia akan menjelaskan sejelasnya apa yang tak gue ketahui.


"penggemar itu apa termasuk elo?" tanya gue pada Geena dengan senyuman jahil.


Geena mengerutkan keningnya. "iih nauzubillah, gue gak pernah suka sama cowo modelan tristan." ucap Geena sambik komat Kamit gak jelas.


ouh namanya Tristan, keren seperti orangnya. mungkin kah justru gue yang jadi golongan penggemarnya. Gue pun baru sadar ternyata gue ketemu teman baik disini seperti Geena.


...****************...


**hallo sahabat, gimana nih lebih enak pakai POV elischia kan, menurut aku sih gitu yaa.. semoga sepemikiran deh.


terimakasih buat kamu yang sudah membaca, ouh ya jangan lupa dukungannya. okeyy...


(nb; sedikit perubahan manteman)