Ordinary Girl

Ordinary Girl
kenapa?



hari-hari berlalu, percikan itu kini meluas menjadi kobaran tak tertahankan, bukan terasa panas tapi dingin sedang menyelimuti diri seolah angin tengah memeluk erat dan membutakan mata serta menulikan telinga. tak ada seutas kata yang mampu menembusnya hingga akhirnya tali persahabatan itu semakin tipis dan hampir putus termakan kobaran si api.


zeeya si cantik baik hati kalau kataku dulu, sekarang gadis ini berubah 180° karena sebuah rasa kecemburuan. zeeya menjadi pribadi yang jauh tak dikenali sahabatnya. setiap harinya seolah dia ingin menjauh dan memutuskan persahabatan agung yang didirikan sudah lama ini.


lisa dan elis tak pernah mengerti apa alasan zeeya seperti itu, mereka hanya berfikir bahwa zeeya terpengaruh risa si sok baik hati. sedangkan jihan, walau berada di kubu elis tapi dia paham alasan zeeya berubah, sering kali jihan bertemu zeeya hanya untuk sekedar menjelaskan.


pagi ini, ruangan sepetak bercat biru itu tampak ricuh akibat anak- anak kelas 12A yang sibuk berkutat dengan aktivitasnya masing-masing. mereka tengah melakukan praktik memasak mengelola ayam. anak-anak terbagi atas kelompok, setiap kelompok terdiri dari dua orang.


"masakan kita pasti terbaik" geena tersenyum lega ketika melihat masakannya hampir di platting dan nampak lezat.


"semoga, masakan temen-temen kelihatan enak gak sih?" elis melirik ke arah meja teman-temannya. "beh bikin laper" lanjutnya.


"sama" balas geena diiringi tawanya.


di meja sebelah, lisa tampak memperhatikan geena. "mereka kok ketawa-ketawa gitu sih, jangan-jangan masakan mereka enak?" lisa mengerutkan keningnya karena penasaran.


"elo ngapain peduliin mereka, nih bantu gue masak. kita tuh belum selesai, jangan sampai kita kalah yaa" peringat jihan sembari ia mengangkat ayam dari panggangan.


"kelompok kita jelas gak akan kalah, walau gak nomer satu setidaknya lima besar lah" segera lisa membantu jihan yang tengah menata ayam di piring.


menit-menit berlalu, setiap kelompok sibuk menyiapkan masakan terbaik nya. "kurang lima menit lagi, okey?" ucap bu Aliyah, guru tata boga di sekolah.


"ya!" seru semua secara kompak.


"Lo potongin sayurnya ell" pinta geena.


"ishh" elis merintih kesakitan saat tangannya tergores pisau.


Tristan dengan segera menghampiri elis. "gak papa?" Tristan memegang tangan elis dan menghisap jari elis yang terluka.


"geena?"


"gak papa, gue lanjutin aja udah hampir selesai kok" dengan cepat geena langsung mengambil alih tugas elis.


hal tersebut menjadi bahan tontonan anak-anak seisi kelas, mereka bergumam melihat kedekatan elis dengan tristan dan mulai bergosip menghubungkan nya dengan kejadian di masa lalu.


"gak papa kok gue" secara halus elis menarik tangannya dari genggaman Tristan.


"beneran gak papa?" tanya Tristan sekali lagi.


"iya" ucap elis penuh penekanan sambil tersenyum simpul. "kita jadi tontonan anak-anak" bisik elis di telinga Tristan. mendengar hal itu, spontan Tristan langsung balik ke mejanya.


"berhenti!" teriak bu Aliyah tanda waktu telah berakhir.


"done"


"siap"


"selesai"


bu Aliyah mulai melangkahkan kaki menuju meja-meja setiap kelompok, satu persatu bu Aliyah mulai menilai penampilan hingga rasa masakan.


"gimana bu?" tanya geena penasaran.


bu Aliyah hanya tersenyum tipis, membuat elis dan geena bertanya-tanya apa maksudnya?


ketika tengah mencicipi masakan kelompok zeeya dan risa. "asin sekali!" segera bu Aliyah meminum air mineral untuk menghilangkan rasa asinnya. "bagaimana kamu memasaknya?! risa bisa-bisanya tugas kamu kacau seperti ini, hah?!!" ucap bu Aliyah dengan nada tinggi, mungkin bu Aliyah kecewa akan hasil kinerja risa hari ini.


"mohon maaf bu atas kesalahan saya, saya siap remedial" ucap risa sopan dengan kepala menunduk.


"maafin gue ya, riss. gue jujur gak ngerti mana garam sama gula. ini pertama kali gue masak." zeeya benar-benar tak enak, karena kesalahannya risa jadi kena marah.


"santai aja kali" balas risa.


"terimakasih untuk kalian semua yang sudah berusaha menampilkan yang terbaik. hasil keputusan akan di beri tahu menyusul, sekarang kalian bisa istirahat" bu Aliyah melenggang pergi begitu saja.


"dimakan bareng yuk?" ajak elis pada lisa dan jihan.


"boleh nih, gue kepo rasa masakan kalian" ucap lisa berbinar-binar melihat masakan elis.


"gue juga mau ngerasain seenak apa masakan kalian" ucap geena.


"jelas enak lah" ucap lisa dengan wajah sombong nya.


elis menghampiri meja zeeya dan risa. "Hay makan bareng yuk, sisa praktik tadi?" ajak elis pada keduanya.


"emangnya elo mau makan makanan asin?" tanya risa dengan wajah juteknya.


"kenapa enggak, lagian masih ada masakan teman-teman yang lain kok" elis melihat ke arah teman-temannya. "tuh mereka nungguin, yuk?" ajak elis sekali lagi.


"sorry tapi elo gak bisa bikin malu gue kayak rencana elo" kata risa judes dengan wajah datarnya lalu ia pergi keluar diikuti oleh zeeya yang sedari tadi cuma diam.


jihan, lisa dan geena menghampiri elis. "udah ya, zeeya tuh udah bukan zeeya kita dulu, zeeya yang sekarang gak usah dipikirin" lisa mengelus-elus pundak elis berharap ia tenang.


elis tersenyum tipis. "yok kita ke aula buat makan" ajak elis pada ketiga temannya.


elis dan kawan-kawan membawa sisa-sisa masakan yang tidak di cicipi bu Aliyah ke aula santai, tempat anak-anak Eagle high school untuk bersantai dan bermain.


mereka memilih duduk pojokan sambil menggelar tikar kecil, ibarat piknik dalam ruangan. "gilaakk enak aslii makanannya" ucap lisa saat mencicipi masakan kelompok elis.


tipis-tipis keringat mengalir di dahi elis dan geena. "makasih, buatan kalian juga enak sih ini, sambelnya poll enak" puji elis walau kini ia tengah kepedasan.


"bikinan gue gituloh" ujar lisa sombong sembari mengipatkan rambutnya.


"dihh sombong amat, gue juga bantu lohh" balas jihan tak suka melihat kelakuan lisa.


siang itu mereka menghabiskan waktu untuk makan lalu setelahnya pulang karena jam sudah berakhir.


seperti biasanya, ke empat pertemanan itu tengah pulang bersama. "aduh" lisa memegangi kepalanya yang kena lemparan batu itu.


"hey?" ucap lisa geram, dia berbalik dan melihat ke siapa yang melemparinya batu.


"eh maaf sorry ya, gue salah sasaran" ucap laki-laki itu cengengesan.


"elo lagi elo lagi, capek gue. gue tuh ngerti tujuan elo gue kan? kalau mau ngomong langsung aja gak usah belibet" ujar geena dengan wajah datarnya.


"iya maafin gue, yah?"


"dih gak usah gitu, bisakan?" tanya geena karena risih, kemudian ia malah nyelonong pergi gitu aja ninggalin teman-temannya.


"tungguin gue, anjing!" teriak jihan pada ketiga temannya yang tampak semakin jauh. "tuli mereka" oceh jihan pada teman-temannya.


sesampainya kembali di gedung asrama, mereka pun berpisah tuk kembali ke kamar masing-masing. "haaahh" elis membaringkan dirinya di ranjang sembari mendengus kesal.


kejadian hari ini sungguh melelahkan, elis langsung tertidur pulas saking lelahnya.