
sinar mentari menelusup ke cela-cela jendela kamar elis. sayup-sayup kelopak mata elis terbuka, ia melihat kesekeliling yang tampak sepi. bahkan gena pun tak ada di ranjang.
hah dimana gena? elis terlonjak bangun melihat ke setiap sudut kamar yang tampak sepi. "gen-gena?" panggil elis berharap ada jawaban. namun tak ada yang menjawab.
jam berapa ini? elis meraih jam weker di sampingnya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul setengah delapan.
GAWAT!! aku telat, geena kenapa juga gak bangunin aku. ahhhh! batin elis kesal. segera dia pergi bersiap diri.
di sisih lain, geena tengah bersantai di kursi taman sembari menikmati sinar mentari pagi. dia beristirahat cukup lama setelah joging pagi yang melelahkan. geena melirik ke jam tangan di tangan kirinya. "masih lama, gak usah khawatir" ucap gena pada dirinya sendiri. sebab hari ini adalah sekolah siang.
"geena!" lisa dari arah jauh berteriak sembari berlari ke arah gena.
"lagi joging ya?" geena berbasa-basi. "kalian udah dari kapan?" tanya geena lagi.
"udah dari subuh tadi sih" jawab jihan dengan senyuman tipis. "loh elis kemana?" tanya nya ketika tak mendapati keberadaan elis.
"dia tadi masih tidur" ujar geena mengingat-ingat.
"balik yuk!" ajak gena pada kedua temannya.
"yok ah! mampir kamar elo deh, gue mau lihat elis masih tidur apa enggak." balas lisa kemudian berjalan terdahulu.
sesampainya di kamar, ketiga manusia itu terkejut melihat elis yang sudah rapi berseragam membawa tas dan hendak berangkat sekolah. "elo mau kemana?" tanya geena heran melihat elis.
"ka-kalian? gak sekolah?" elis syok melihat teman-temannya datang dengan berpakaian olahraga.
"ya enggak lah masih jam berapa ini? sekolah kan masih nanti siang" terang lisa sembari melirik ke jam weker yang ada di meja sebelah ranjang elis.
"nanti siang?" tanya elis tak mengerti.
geena berjalan mendekati elis lalu merangkul dirinya. "sekarang kita tuh jadwalnya sekolah siang"
"ha?" wajah elis memerah, ia menepis tangan gena dan memandang ketiga temannya pekat-pekat. "dasar kalian, kenapa gak bilang dari tadi, tau gak aku udah khawatir buru-buru takut telat" gerutu elis kesal.
"aduh kasihan" lisa berusaha meraih tangan elis namun tak bisa.
"lagian ngapain sih elo itu?" tanya jihan dengan mimik wajah menahan tawa. "hahahaha" jihan tertawa lepas melihat temannya yang tampak konyol ini.
"dasar kalian ihh" elis membanting tasnya di kasur lalu duduk di tepi ranjang sambil memanyunkan bibirnya.
"kek bocil" celoteh jihan.
"husss" balas lisa.
"bentar lagi absen pagi sama sarapan loh, gak mau ikut?" tanya gena. namun tak dapat jawaban dari elis. "ouh yaudah gak mau ikut? yuk gess pergi" ucap geena sedikit keras dan penuh penekanan.
"eh tunggu, gue ikut!" elis beranjak bangun dan menghampiri ketiganya. "aku ganti baju dulu ya" ucapnya kemudian segera berganti pakaian.
beberapa saat kemudian..
di aula makan, banyak pasang mata yang yang memperhatikan ke empat orang itu, kerupawanan wajah mereka membuat mereka jadi perbincangan banyak orang.
"si geena makin cantik aja"
"elis setelah balik makin wauw"
"wahh tuh cewek keren"
ke empat orang itu tidak memperdulikan omongan tentang mereka dan lanjut sarapan.
di meja makan semua nya berkumpul."gue gak nyangka ternyata sebanyak ini manusianya" ucap lisa geleng-geleng melihat jumlah orang yang dia temui di aula.
"gue mau ngambil minum aja banyak bett yang tanya² ke gue" jihan memijat dahinya yang tak sakit. "stress lama-lama kalau gini terus" ucapnya sedikit lirih.
"ih gak usah sedih gitu lah, ji. sering ditanya artinya elo bakal punya banyak fans," geena tersenyum tipis sembari membayangkan sesuatu. "hidup Lo pasti enak sii aselii"
"fans? buat apa, gue gak butuh orang ngagumin gue" balas jihan dengan datar.
"kalian ngomong mulu dari tadi, tuh makan makanan yang kalian pesan, keburu dingin tahu" akhirnya elis berbicara setelah hanya menyimak saja.
"ya" balas ketiganya lalu merekapun menyantap makanan yang di pesan.
"rasanya kayak ada yang kurang" gumam elis lirih saat mencoba minumnya.
"kurang manis?" sahut lisa.
elis beralih menatap satu persatu temannya. "benar ada yang kurang?" tanya nya pada diri sendiri sambil terus mengingat-ingat. "zeeya!" elis sedikit berteriak.
ketiga orang itu langsung menghentikan aktivitas makan nya dan berpandangan satu sama lain, benar saja tak ada zeeya di antara mereka. "dimana zeeya?" tanya elis.
"gak tahu atuhh" balas ketiganya sedikit bingung.
"eh masa dia masih tidur?" ucap lisa.
"gak mungkin!" wajah jihan mengerut dan berucap sedikit keras ke lisa.
"selamat pagi kepada seluruh siswa dan siswi eagle national high school. saya harap kalian semua menikmati makan pagi kalian dengan nikmat dan penuh kebersamaan, saya hanya mengingatkan bahwa sekolah siang akan di mulai dua jam lebih awal, jadi segeralah bersiap-siap dan jangan sampai terlambat!" ucap seseorang di pengeras suara.
"baru makan, iss" gerutu ketiga manusia itu. namun segera mereka mengakhiri aktivitas makan dan bersiap-siap ke sekolah.
"duh gak enak gue sama zeeya, dia tadi di A sama pengapsen" ucap lisa penuh penyesalan.
"gak papa lah, salah zeeya sendiri juga." ucap jihan agak acuh. "udah ayok kita balik dan siap-siap" jihan menarik lengan lisa dan berlari menuju kamar.
di tempat lain, zeeya sebenarnya sudah bangun sejak subuh tadi, dia juga berberes membersihkan kamarnya agar benar-benar rapi. tadi pagi juga zeeya sempat pergi ke kamar elis namun sudah lama ia menggedor pintu itu tak ada yang menjawab, akhirnya terpaksa zeeya kembali ke kamarnya. ketika perjalanan balik tak sengaja ia melihat jihan,lisa dan geena tengah balik dari joging pagi. "ouh sekarang mereka sama si geena itu, mereka dah lupa sama gue" ucap zeeya lirih dalam batinnya. zeeya memutuskan tuk kembali ke kamarnya lalu belajar. saat ini dia telah siap tuk pergi ke sekolah, ia juga akan pergi menjemput lisa dan jihan di kamarnya. "pagi?" zeeya membuka pintu kamar terlihat disana ada elis dan juga geena.
elis? batin zeeya senang saat bertemu dengan sahabat yang paling ia sayangi itu.
"zeeya?" ucap elis kaget kemudian memeluk zeeya dengan erat. "aah sayang" gumam elis sambil menepuk-nepuk punggung zeeya.
"gue kangen ell" ujar zeeya lirih, sedikit ia mengeluarkan air mata. "aah zeeya si cengeng" celotehnya untuk diri sendiri sambil mengusap air mata itu.
"berangkat?" tanya jihan pada ke empat temannya.
"ya!" seru semuanya secara bersama.
akhirnya mereka pergi ke sekolah secara bersama-sama. namun dalan perjalanan ada yang sedikit mengganggu, zeeya tetap diam dan acuh pada geena.