
"siap!" seru risa setelah menulis beberapa lembar surat, "surat ini sebagai tanda pembalasan gue ke mereka" gumam risa sambil tersenyum tipis. ia menyimpan surat-surat itu di dalam sebuah kotak lalu pergi tidur karena sudah terlalu mengantuk.
beberapa saat kemudian ketika risa benar-benar lelap, seorang gadis teman sekamar risa terbangun. "ngapain sih dia sampai larut gini?" gumam gadis itu penasaran sembari berjalan menuju ke meja belajar risa.
"surat?" syok gadis itu saat menemukan surat, kemudian segera ia membuka dan membacanya.
gadis itu mengerutkan keningnya, ia tak menyangka isi surat tersebut setelah membacanya. Dengan segera ia kembali merapikan surat ke asalnya dan kembali tidur. "kejam!" umpat gadis itu.
kriinggg kriingg!
beberapa kali jam weker milik risa berdering padahal hari masih begitu pagi. segera dia bangun mematikan alarmnya dan melaksanakan rencana yang sudah ia susun kemarin.
risa berganti pakaian jubah panjang dengan mengantongi dua surat di sakunya lalu pergi ke luar. ia pergi ke kamar pertama dan menyelipkannya di bawah pintu begitu juga di kamar selanjutnya. setelah selesai ia bergegas kembali ke kamarnya.
klek!
pintu kamar terbuka, nampak teman sekamar risa ternyata masih tertidur. "syukurlah" risa bernafas lega lalu berganti pakaian lagi. "dasar kebo kalau tidur" umpat risa.
"anjing! elo kali yang kebo" batin gadis itu kesal, sebenarnya ia sudah bangun hanya saja pura-pura tidur dihadapan risa.
risa segera ke kamar mandi tuk bersiap-siap ke seminar sekolah.
••••••••••••••••••
"elischia!" teriak geena sembari membawa secarik surat.
"apa sih, pagi-pagi udah teriak-teriak" ujar elis kesal sambil datang menemui geena. "apa?" tanya nya sekali lagi.
"nih surat buat elo" geena menyodorkan surat pada elis. "ihh ciee pasti surat cinta dari tristan ituu" goda geena dengan senyuman nakalnya.
"apaan sih" elis tersenyum tipis malu-malu. apaan ya? batin elis penasaran.
ketika membaca surat itu, senyuman manis mulai pudar dari wajah elis.
"elischia, ada apa?" tanya geena khawatir melihat wajah elis yang sekarang begitu jutek.
elis menyerahkan kembali surat pada geena tanpa sepatah kata pun. ia berjalan ke ranjangnya dengan lemas lalu duduk dengan tatapan kosong seperti orang gila.
geena membaca surat itu. "beneran, gak mungkin sih, pasti bohong" geena benar-benar tak percaya apa yang ia baca, segera ia pergi menemui elis tuk menenangkan nya.
"jangan salah paham, elischia. maksud zeeya pasti bukan begitu, dia gak mungkin mutus tali persahabatan sama elo." ucap geena dan elis memeluknya agar lebih tenang.
tangis elis pecah dalam pelukan geena. "aku tuh sayang banget sama zeeya, dia itu sahabat paling baik selama ini, kenapa jadi gini sih, Gee?" ujarnya terbata-bata mengungkapkan semua unek-unek di hatinya.
di tempat lain, hati zeeya semakin dongkol membaca surat yang ada di tangannya, rasanya sekarang ia ingin menemui elis dan mencaci maki dia tak lupa ia juga ingin sekali menjambak rambut geena sampai benar-benar botak. tak di pungkiri zeeya kecewa persahabatannya hancur saat ini.
tok tok
"pagi?" jihan membuka pintu kamar zeeya. "kenapa?! kok nangis?" tanya jihan khawatir melihat mata zeeya sembab.
zeeya menyerahkan surat yang ia pegang."gilaak nih bocah" ucap jihan dengan nada marah.
"kemana?" tanya zeeya saat melihat jihan hendak pergi.
"ke kamarnya elis lah, kita harus tanyakan ini"
"ikut" pinta geena.
akhirnya dengan amarah dan kekecewaan yang menggebu mereka datang menemui elis dan geena.
terdengar pintu kamar di gedor begitu keras, segera geena membuka pintu tersebut. "jihan?" ucap geena datar saat melihat ada zeeya di belakangnya.
"ada perlu apa Lo sama kita?" tanya geena dengan tatapan intimidasi.
"gue ada perlu sama besti elo, bisa minggir gak?" jihan melirik ke arah dalam mencari elis, pasalnya dia hanya disambut di depan pintu oleh geena.
"perlu apa?"
"bukan urusan elo, gak usah kepo!" sentak jihan dengan tangan yang mengepal kuat.
"jelas urusan gue karena Lo udah ngajak orang ini" tunjuk geena pada zeeya yang ada di belakang jihan.
"kenapa emangnya?"
"ouh masih gak sadar kelakuannya? masih enggak ngerti? Setelah Lo melakukan semuanya dan ngebuat elis kayak gitu, Lo masih berlagak baik?" ucap geena dengan tangan yang menunjuk-nunjuk muka zeeya. "anjing elo! Gak ngerti sahabat" umpat geena kesal.
Plak!
Satu tamparan melayang ke wajah geena. "gue ngelakuin apa ke dia, gue gak ngapa-ngapain. Justru dia yang jahat sama gue dari semenjak kita disini. Dan Lo jangan seenaknya ngatain gue ya!" peringat zeeya dengan nada tinggi, tangannya mengepal kuat, nafasnya naik turun karena terlalu emosi.
"bisa-bisanya ya elo" hampir saja geena akan membalasnya tapi tertahan oleh jihan.
"hati-hati jangan elo sakitin besti gue" jihan mendorong tubuh geena hingga jatuh. Mendengar keributan itu, elis yang meringkuk di kasurnya terbangun. "kenapa ya?" elis berjalan ke depan dan kaget melihat geena terkapar di bawah dengan wajah merah bekas tamparan.
Rasanya semakin besar rasa amarah dan kecewa elis ketika tahu dalangnya adalah kedua sahabatnya sendiri. "aku beneran enggak menyangka ini dari kalian, kalian orang yang ku percaya ternyata berkhianat. Aku gak bisa lagi temenan sama orang jahat kayak kalian" elis menarik geena masuk ke dalam kamar lalu menutupnya rapat² membiar dua orang itu di luar.
"gue bakal ingat ya elischia! Gue juga gak mau temenan sama Lo!" ucap jihan lantang kemudian berlalu pergi bersama zeeya.
"elo gak papa?" tanya elis khawatir melihat pipi geena merah.
"gak papa sih, gue sedih aja gitu hubungan elo jadi berantakan gini sekarang, pasti gara-gara gue kan?" geena menundukkan kepalanya karena tak enak.
"enggak apa kok, geen. Lagian juga bukan salah kamu kok" elis tersenyum tipis memegangi telapak tangan geena agar geena tenang walau sebenarnya ia sendiri juga sedih dan kecewa karena kejadian barusan.
sedangkan disisih lain, lisa yang tak tahu menahu apa yang terjadi di antara teman-temannya merasa kebingungan. "ada apa sih, jelasin ke gue dong ji?"
"elo tuh bisa diam dulu gak, cerewet Mulu daritadi" bentak jihan dengan nada tinggi.
"gue cuma tanya, apa salahnya sih?"
"ya salah lah"
"udah cukup! Kalian jangan berantem Mulu" ucap zeeya sambil menatap satu persatu temannya itu. "elo lebih milih kita atau elis dan geena?" tanya zeeya
"maksudnya?"
"udah pilih aja" jihan memijat dahinya yang tak sakit. "apa?" tanya jihan sekali lagi.
"jelas aku ke kalian lah" lisa tersenyum manis.
Heran, ada apa coba sama mereka ini. Di tanya gak di jawab malah di suruh milih antara elis sama mereka, ya jujur gue mau sama elis aja sih tapi gimana lagi gue sekamar sama jihan, kalau gue musuhan sama dia kan berabee.. Tapi kenapa yaa kok gini kayak ada masalah besar ajaa? Batin lisa penasaran.
Jihan memperhatikan lisa yang tengah melamun dengan wajah bingung nya. "kenapa Lo?"
"gak, gak papa"