Ordinary Girl

Ordinary Girl
tugas penelitian (POV elischia)



sinar mentari tampak menerobos kamar gue dan Geena, segera kami bersiap diri untuk pergi sekolah. gue dan Geena bergantian pergi ke kamar mandi, bergantian juga dalam bersiap diri.


ketika kami sudah siap, kami bersama-sama turun ke aula untuk sarapan dan absen.


menu pagi ini adalah makanan lima sehat empat sempurna, ada sayur, ikan, lauk-pauk, nasi,susu, pokoknya lengkap banget.


sesudah mengambil makanan, gue dan Geena duduk di salah satu meja dekat pintu masuk, seperti kemarin.


"gimana enak gak makanannya?" Geena berbasa basi ke gue.


"menurut elo gimana, enak apa enggak?" ucap gue ke Geena karena makanan di pesan sama.


"ya enak sih, tapi menurut orang kan beda-beda" Geena tersenyum simpul lalu lanjut makan.


"sama, makanannya enak"Ucap gue kemudian lanjut makan.


"ouh" ucap Geena sambil menyuap makanan ke mulutnya.


beberapa saat kemudian, gue dan gena sudah selesai makan dan kami pun segera mengambil absen pagi.


sebenarnya gue tuh bingung kenapa di sekolah ini terlalu banyak absen, absen masuk kelas, absen mata pelajaran, absen pagi, absen malam. apa gunanya memang? tanya gue dalam batin sembari menunggu giliran absen. gue tak perlu lama mengantri karena nomor absen gue awal, sedikit menerobos absen anak-anak lama disini. ini semua di sebabkan awalan nama gue E.


gua terlebih dulu balik ke kamar mengambil buku dan tas pelajaran lalu disusul Geena, setelah itu kami bersama-sama berjalan menuju gedung sekolah.


pukul 07.35 Gua dan gena sampai di gedung sekolah dan sepuluh menit lagi sudah masuk kelas, untung saja tak telat.


Gue bersyukur, begitu juga Geena.


seluruh murid sudah masuk ke kelas masing-masing untuk absen dan sebentar lagi pun guru masuk kelas. jadi tak ada yang berani keluar kelas.


"selamat pagi, anak-anak!" sapa ramah seorang guru pada kami di kelas.


"pagi bu!" jawab kami sekalas serentak.


"sudah absen?" tanya guru wanita itu.


"sudah bu Rita." jawab Risa, yang ternyata ketua kelas, ketos dan juga murid jempolan di sekolah ini.


ouhh nama guru itu bu Rita.. gumamku


"baiklah kalau begitu, langsung saja kita mulai pembelajaran nya." Bu Rita menyalakan layar lebar bak papan di belakangnya.


Canggih amat sekolah ini, papan tulis pakek layar lebar, sekolah gue dulu kalah.. gue terkagum-kagum melihat apa yang sedang terjadi.


"materi kita minggu ini adalah kegiatan penelitian tanaman yang di lakukan secara berkelompok. jadi, hari ini ibu akan membentuk kelompok berpasangan." terang bu Rita, kemudian tampak foto kami semua di layar dan di acak begitu cepat.


"males banget gua, mendingan sendiri gua ngerjainnya" gumam gua sendiri.


layar berhenti mengacak foto kami, tampak sudah beberapa kelompok yang terbentuk. terlihat disana gua dipasangkan dengan tristan. ah benarkah? atau aku hanya salah lihat saja.


"wah Tristan berpasangan dengan murid baru." seru murid yang duduk di depan.


"ya benar, biasanya diakan selalu sekelompok dengan Risa." murid lainnya menimpali.


"beruntung sekali" sahut siswi yang lainnya dan gua hanya tersenyum tipis menanggapi respon yang lain.


"sudah-sudah, kalian semua disini bisa lihat sendiri pasangan kelompok kalian. jadi, sekarang bisa duduk berdekatan dengan teman kelompok masing-masing." pinta bu Rita dan semua murid pun sibuk menggeser meja dan kursi.


karena Tristan duduk di belakang gua, jadi gua hanya perlu memutar kursi ke arah meja Tristan. namun, sebelum itu terjadi Tristan berdiri mengambil kursinya lalu ia ia letakkan ke samping gua.


"gue aja yang pindah." ucap Tristan datar.


tiiing! tiiinggg!


suara lonceng beberapa kali terdengar, sepertinya jam istirahat tiba dan akhir dari pelajaran bu Rita.


"sebelum kalian istirahat, tugas kalian adalah meneliti satu jenis tanaman dan mencari tahu apa nama ilmiahnya, bagaimana cara berkembang biak, habitat tempat tinggalnya dimana serta bagian-bagian penyusun tanaman tersebut beserta fungsinya, tak lupa gerak pada tanaman dan yang dihasilkan tanaman tersebut. kalian bebas meneliti tanaman apapun di sekolah ini dan waktu kalian hanya satu minggu sampai pelajaran saya minggu depan. paham?!" terang bu Rita pada kami semua dan gua mencatat yang di jelaskan bu Rita agar tak lupa. tentunya dengan bantuan Tristan.


"paham bu!" ucap kami semua bersama. lalu semua bergantian keluar dari kelas, termasuk juga bu Rita.


sesampainya di kantin, gue dan Geena memesan satu soto dan satu nasi goreng, untuk minuman kami memesan sama yaitu jus mangga.


"gimana elo sama temen kerja kelompok elo?" lagi-lagi gena berbasa-basi membahas hal tak penting.


"biasa aja, lumayan lah dia pinter" ucap gua lantaran mengingat Tristan memang cerdas.


"jelas pintar karena yang sekelompok sama elo tuh Tristan." Geena sedikit menebalkan ucapannya di akhir.


"tuh cowo biasa aja," ujar gua singkat. "ouh ya, teman sekelompok elo siapa?" tanya gua kemudian.


Geena tampak sedang berfikir sejenak. "teman sekelompok gue itu Arven, teman dekatnya Tristan. cowo ganteng dan populer nomor dua disekolah, tapi bedanya dia sama Tristan tuh dia dapat julukan ' bad boy" terang Geena pada gua.


"kenapa dia dijuluki bad boy?" tanya gua penasaran pada istilah yang melekat di diri Arven.


"penyebabnya adalah karena dia dulu sering bolos kelas, jarang ikut absen dan suka bikin keributan. padahal menurut gue dia baik sih. Dia juga gak kalah pinter sama Tristan." Geena mendeskripsikan Arven dengan lesu dan tatapan sendu.


"suka elo sama tuh cowo?" gua tersenyum jahil menggoda Geena.


"gak lah, gua gak suka sama Arven" elak Geena.


"ohh iya percaya deh." balas gua pada Geena.


"dih!" sahut gena ketus.


"silahkan makanannya." pelayan kantin datang membawa pesanan gua dan Geena.


"terimakasih." ucap gua pada pelayan itu sebelum dia pergi menjauh.


aku dan gena pun menikmati makanan tersebut lalu kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya. pelajaran-pelajaran berikutnya tidak terlalu sulit jadi gua tak terlalu pusing memikirkannya.


beberapa saat kemudian ketika sudah saatnya jam pulang, semua merapikan meja dan pulang secara bergantian sembari absen.


"lama banget sih elo" oceh gua pada Geena.


Sebenarnya malas aja nungguin dia tapi gua lebih malas jalan ke asrama sendiri, bosen..


"maklum lah gue absen akhir-akhir." balas Geena.


sebelum kembali ke asrama, kami pergi ke kedai kopi untuk sekedar ngopi menghilangkan penat sehabis sekolah.


jarak antara kedai kopi dan gedung sekolah tak terlalu jauh, jadi tak perlu butuh lama untuk sampai.


Gue dan Geena duduk di meja dekat jendela agar bisa melihat view di luar, gua memesan kopi hitam dan Geena memesan dragon coffe.


"baru pertama kali ada gadis menyukai kopi hitam." ucap Geena pada gua, entah itu pujian atau semacamnya.


"lebih baik kopi hitam original." balas gua singkat.


sore ini kami habiskan untuk menongkrong di caffe untuk menghilangkan penat dan sekedar berbincang.