
mentari bersinar lebih terang pagi ini, cahayanya terik menembus gorden ruangan. elis merasa dirinya gerah dan lengket padahal ia baru selesai mandi dan ini masih pagi.
"panas banget" gerutu Elis sembari mengipasi dirinya sendiri dengan buku.
"udah syukurin aja," balas Geena sembari ia menata buku-buku ke tas sekolah.
kebetulan sekali, hari ini sekolah di mulai agak siang jadi mereka berdua tak terlalu buru-buru ke sekolah.
"mampir caffe dulu yuk, nanti" ajak Elis pada Geena.
"Gilak, ngapain pagi-pagi gini ke caffe, hah?!" ucap Geena ketus.
"ya ngopi aja lah." ucap Elis santai.
"gak enak ngopi pagi-pagi tau "
"ya deh, gak jadi." ucap Elis pasrah.
setelah mereka berdua selesai bersiap, mereka pun pergi ke sekolah walaupun masih jauh jam masuk, ini di sengaja karena di sekolah lebih baik daripada di asrama.
berjalan dengan santai dan menikmati setiap pemandangan indah yang sangat menyenangkan bagi Elis dan Geena.
"sekolah sepi yaa" Elis memperhatikan gedung sekolah yang sepi dan sunyi, tidak seperti biasanya jika ia datang akan banyak orang di setiap sudutnya.
mereka melangkah masuk berdua dengan senyuman lebar hingga pada akhirnya mereka menemukan dua gambar yang terpajang di mading.
"aku?!" Elis syok saat melihat gambar dirinya di mading.
"gadis penggoda" Geena membaca tulisan yang ada di selembaran itu.
"nyebelin, siapa yang nulis gituu?" Elis menarik nafas dalam-dalam, menahan gejolak amarah dalam dirinya.
elis mengambil poster berisi dirinya itu lalu ia robek-robek dan buang ke tempat sampah. "gak ada yang bisa main-main sama gua, lihat aja nanti" ucap Elis penuh amarah.
"akan gua cari siapa dalangnya." ucap Elis dengan emosi yang menggebu-gebu.
"udah lah, El. lagian belum ada yang lihat dan elo juga harus bersyukur karena gue ngajak elo berangkat pagii" ucap Geena Bangga, namun tak dihiraukan Elis. justru ia langsung pergi.
"dasar" gerutu Geena.
beberapa saat kemudian, sekolah mulai ramai akan siswa-siswi yang berdatangan. namun sedikit aneh, beberapa siswi memperhatikan Elis dengan tak suka.
ini orang-orang pada kenapa sih, ngelihatin gua gitu banget.. Elis heran mengapa ekspresi teman-temannya seperti itu.
"ada apa sih Gee?" tanya Elis pada Geena.
"tadi waktu gue dari kamar mandi, banyak cewek ngomongin elo gara-gara foto itu" terang Geena dengan nafas ngos-ngosan.
"beneran, tapi udah gua buangkan tadi?" Elis bingung bagaimana teman-temannya mendapatkan poster yang ia sobek tadi pagi.
"gak tahu gua juga"
"mereka mikir kalau elo ngegoda Tristan." lanjut Geena.
elis menarik nafas dalam-dalam. "kemarin tuh gua lagi mandi dan Tristan datang buat ngambil buku habis itu pulang, kita gak ngapa-ngapain ben-" sebelum selesai bicara sudah terpotong ucapan geena.
"udah-udah gue percaya elo."
dari kejauhan tampak seorang gadis nerd berlarian menuju Elis dan Geena. "huuh" gadis itu membuang nafas kasar lalu membenarkan kaca matanya. "yang namanya kak Elis yang mana?" gadis itu menatap polos pada Geena dan Elis.
"Gua" elis menunjuk dirinya sendiri. "kenapa?" tanya Elis.
"ouh ini kak Elis, katanya ibu guru tadi di panggil ke ruang BK." ujar gadis itu.
"apa?!" ucap Elis kaget atas pernyataan gadis nerd itu. "gua ke ruang BK?" Elis mengulangi sekali lagi.
"iya kak" balas gadis itu. "permisi kak." ucapnya lalu pergi.
"Gee" Elis memegangi lengan Geena. "gua gak ngelakuin apa-apa." ucap Elis lirih.
"tenang ya." Geena menatap wajah Elis dengan keyakinan. "gak usah takut kalau gak salah, udah sana daripada kena marah. kan?" ucap Geena penuh keyakinan.
"yaa!" Elis tersenyum tipis lalu melenggang pergi ke ruangan BK.
••••••••••••••••••••••••••••••
"permisi pak." elis membuka pintu ruangan, terlihat disana ada satu guru dan di depannya ada Tristan.
"silahkan duduk." guru itu meminta elis duduk di samping Tristan.
"bisa di jelaskan?" pak guru mengeluarkan selembar kertas berisi foto Elis bersama Tristan.
"saya cuma mau ngambil buku gak lain pak." ucap Tristan membela diri.
"saya lagi mandi pak terus ada yang ngetuk pintu jadi saya buka." terang Elis
"saya kira teman sekamar saya, Geena. saya benaran gak tahu kalau itu Tristan." ucap Elis menjelaskan kejadian kemarin.
"yakin?" tanya guru itu pada Elis dan Tristan.
"iya pak, serius" ucap Elis dan Tristan berbarengan. seketika mereka saling berpandangan lalu membuang muka. "dih" batin Elis.
"foto kalian ini termasuk melanggar peraturan sekolah, menjelekkan nama sekolah dan mungkin bisa jadi contoh yang buruk."
"tapi pak saya?!--"
"hukuman kalian berdua adalah membersihkan halaman sekolah selama satu minggu penuh" terang guru itu membuat Elis kaget.
"astaga pak?"
"satu bulan, hukumannya jadi satu bulan" ujar guru itu sekali lagi.
Elis dan Tristan menunduk pasrah dan akhirnya pergi dari ruangan.
"anjir semuanya gara-gara elo yaa." Tristan kesal dan memaki Elis.
"Gue lagi mandi waktu itu, ngapain elo dateng?" sahut Elis tak kalah ketus.
"ya ngapain juga elo keluar cuma handukan hah?!" ucap Tristan yang membuat Elis semakin kesal.
"gua pikir elo tuh Geena." ucap elis lirih.
"ah udahlah gua pergi" Elis berlari meninggalkan Tristan di belakang.
Elis mengikuti kelas seperti biasanya, begitu juga Tristan. sekarang jam istirahat semuanya berkumpul di kantin untuk makan siang.
"di apain elo tadi?" tanya Geena penasaran.
"gue kena hukuman suruh bersih-bersih" ucap elis lirih dengan sedih.
"mampus sukurin deh elo, bersih-bersih sambil panas-panasan bisa gosong tuh kulit" Geena mengolok-olok Elis.
Elis memanyunkan bibir nya. "gila elo, gue dihukum malah seneng." Elis menjitak dahi Geena.
"kak! Kak!" gadis nerd tadi berlarian menghampiri Geena dan Elis.
"ada apa lagi?" tanya Elis dengan malas.
"tadi orang tua Kakak telepon, kakak disuruh balik dan di jemput nanti sore" ucap gadis itu sambil ngos-ngosan.
"ah benaran?" tanya Elis tak yakin.
"iya serius kak, katanya nyokap kakak sakit" gadis itu membuat simbol dua jari.
"apa?!" Elis syok mendengar pernyataan gadis nerd itu. "okey makasih" lanjutnya.
...----------------...
elis berlari-lari menuju asrama, segera ia merapikan barang bawaannya. dia memasukkan beberapa baju, buku, skincare ke koper, setelah semuanya beres dia pergi ke pos satpam sekolah guna menunggu jemputan.
"pak mobil hitam itu nanti orang tua saya yaa" ucap Elis ramah pada pak satpam.
"iya neng." balas si satpam ramah.
"pak, halaman sekolah tuh kotor banget gak?" tanya Elis penasaran akan Tristan.
"lumayan sih neng, daun-daun pepohonan yang jatuh itu bikin halaman susah dibersihkan." jawab si satpam.
"ouh" elis manggut-manggut dengan senyuman liciknya.
"kenapa neng?" tanya si satpam.
"gak papa, cuma pengen tahu aja"
mampus sukurin deh elo bersih-bersih sendiri.. batin Elis senang.
tinn tiinnn
terdengar suara klakson mobil dari luar gerbang sekolah, ketika gerbang terbuka tampak sebuah mobil hitam.
"yang jemput neng?" tanya si satpam.
"iya pak, itu sopir keluarga saya." ujar Elis kemudian ia berjalan ke mobil.
"selamat menikmati liburan ya neng, Jagan nakal lagi di rumah."
"iya pak, saya pamit." Elis menaiki mobil. mobil pun berjalan menuju kediaman keluarga Elis.