Ordinary Girl

Ordinary Girl
selagi ada kesempatan. (POV elischia)



gue merenung di depan meja belajar sambil membolak-balik halaman buku tanpa gue baca. "ahhh bosan." gumam gue lantaran seharian ini gue hanya bisa duduk di depan meja belajar.


Geena menghampiri entah dia datang dari mana. "seharian ini elo cuma duduk doang?" gena menutup buku yang gue bolak balik. "gak berguna.." sambungnya.


gue menoleh ke arah Geena. "terus gue harus ngapain?" tanya ku pada Geena sebab tak ada kegiatan yang terpikir di otak gue sekarang.


"tadi pagi kan udah gue jelasin, Elischia." Gena sepertinya jengah melihat gue yang super pemalas ini.


"gue cuma mau ketemu temen-temen gue dan keluar dari tempat ini." ucap gue lesu menyandarkan kepala ku di atas meja.


"daripada begitu, ikut gud" Geena tiba-tiba saja menarik gue pergi ke suatu tempat. terpaksa gue ikut walau sebenarnya tak mau.


beberapa saat kemudian kami sampai di suatu tempat. sepertinya ini berada di sekitar area belakang sekolah. "mau ngapain?" tanyaku terheran-heran.


"elo kangen temen-temen elo kan?" tanya gena padaku.


"ya." jawabku singkat.


gena menunjuk suatu. "lihatlah itu." arah pandangan gue mengikuti kemana telunjuk Geena mengarah


apa itu seperti telepon lama jaman dulu? batin gue bertanya-tanya.


melihat gue seperti itu, Geena mengerti bahwa gue tak paham. "kalau elo gak tahu, itu telepon jaman dulu, walau tua masih bisa dipakai. coba aja." terang gena dan aku pun setuju. segera gue menekan nomor telepon teman-teman gue.


"yakin nih?" gue menatap gena tak yakin, lantaran ini pertama kali gue mencoba ini.


"iyaa, ini telepon yang di gunakan anak-anak buat telepon dan kesempatan telepon cuma ada sekali sehari." ujar Geena panjang lebar.


telepon tersambung..


"siang Jihan, apa kabar?" orang yang gue telfon adalah Jihan karena yang gue ingat hanya nomornya.


"El-Elis?" ucap Jihan dari balik telepon, sepertinya dia terharu dan senang.


"elo ngapain gak bisa di telepon dari kemarin El?" tanya Jihan khawatir.


"hp sama laptop gue disita." ucap gue miris meratapi nasib.


"gue akan segera cari siapa yang udah nyebarin Vidio itu El." ucap Jihan geram.


"tak apa, gue gak mikirin itu lagi, gak usah dicari"


"ke-kenapa?!" tanya Jihan, seperti dia kaget.


"gue udah sadar kalau gue salah, Ji." ucap gue lirih lantaran memang sekarang gue sadar kalau salah.


"gimana bisa, elo yakin?"


"yakinn" ucap gue meyakinkan Jihan.


"elo mulai betah disana ya?" tanya Jihan seolah curiga.


"enggak, hanya berusaha menerima keadaan aja." ucap gue.


"segera gue sama temen-temen nyusulin elo kesana." ucap Jihan yakin seperti dia akan benar-benar menyusul aku kesini.


"ya akan gue tunggu."


"Elis udah belum? takut ketahuan guru tau." panggil Geena di belakang gue.


"udah dulu ya, byee." segera gue matikan telepon itu karena ancaman Geena tadi.


Gue berbalik lalu menatap Geena penuh intimidasi. "ketahuan gimana?" tanya gue pada Geena.


"yang tahu ada telepon disini tuh cuma murid-murid, guru-guru enggak ada yang tahu." terang gena yang membuat gue sedikit kaget. bagaimana mungkin, apa guru-guru tak mengecek ke tempat ini? tanya gue dalam batin.


"tapi gimana kalau ada murid yang cepu?" tanya gue.


gena tersenyum manis. "gak akan ada yang Cepu, sebab sekalipun dia si pinter atau kesayangan guru juga tetap butuh telepon ini buat hubungi keluarganya." mendengarkan penuturan Geena, gue mengangguk paham.


"bagaimana?"


"apa?" tanya gue.


"elo senang?" tanya geena.


"yah terimakasih, elo jadi teman baik gue disini." ucap gue tulus pada gena.


sepertinya dia tersipu malu atas ucapan gue barusan.


"dah yok ah, takut ketahuan nanti" segera gue menarik Geena keluar dari ruangan itu. setelah itu kami berdua menuju toko buku di koperasi sekolah sesuai janji Geena tadi pagi.


sesampainya aku dan Gena di toko buku, Gue cukup tercengang sebab tokoh buku ini sangat luas. "wihh benaran ini tokoh bukunya, gak salah?" tanya gue pada gena sambil berdecak kagum.


"ya lah ini tokoh bukunya." Geena menuju beberapa rak buku di sebelah Utara, sementara gue berjalan-jalan mengelilingi toko buku ini.


gue pikir dulu Indonesian high school adalah terbesar, ternyata ada yang lebih besar.. batin gue kagum.


bukannya mengambil buku pelajaran gue malah mendapatkan tiga jenis novel dan dua komik untuk hiburan.


gue bertemu lagi dengan Geena di kasir. "bukumu sudah lengkap." ucap Geena menunjuk buku-buku yang sedang di total kasir.


baik sekalii batin gue.


"terimakasih, elo baik" gue tersenyum manis pada gena.


"ah tentu jelas dong," Geena dengan senyuman sombongnya. "apa itu?" tanya Geena pada tumpukan buku yang ku bawa.


"ouh ini, novel dan komik." jawab gue santai.


"kak totalnya 1.500.000 ya." ujar kasir setelah selesai menghitung total harga buku² itu.


gue menyerahkan sejumlah uang dan buku-buku yang gue bawa untuk di total juga. "ini juga kak," kasir itu mulai menghitung.


"totalnya 230.000 yaa." ucap si kasir dan segera gue bayar.


setelah dari toko buku, gena mengajak gue berjalan-jalan ke beberapa tempat yang cukup indah di sekolahan ini. benar-benar tak gue sangka ternyata tak terlalu buruk berada di tempat ini.


saat hari akan malam kamipun segera kembali ke asrama.


"perjalanan yang seruu" ucap gue sembari membaringkan tubuhku yang letih di ranjang.


"lebih baik dari sekedar duduk dan bermain kertas² di mejamu itu." sahut Geena ketika ia hendak ke kamar mandi.


gue dan Geena bergantian membersihkan diri kemudian kami bersama-sama pergi ke aula untuk makan malam.


gue dan Geena duduk di salah satu meja makan dekat pintu masuk. "cowok itu lagi".


"sapa?" tanya gena lalu ia mengikuti arah pandangan ku. "ouhh ternyata Tristan, elo suka?" ucap gena agak keras.


"gena!? Gue gak suka si Tristan, yee"gue membekap mulut Geena agar diam, ini karena gue terlanjur malu sebab Tristan mendengar ucapan Geena dan menoleh tadi.


"alaah gak papa, santai aja. lagian bukan elo satu-satunya yang suka Tristan. ada banyakk." ucap gena santai lalu kembali memakan makanannya. sementara gue kurang mood karena malu.


"cepetan makan gih sebelum jam makan malam habis nanti kelaparan loo" gena menyenggol lengan gue agar aku tak melamun.


"yaa" jawab gue singkat.


beberapa saat kemudian, setelah gue dan Geena selesai makan, kami berdua mengantri absen bersama siswa-siswi yang lainnya.


"duhh lama sekali." gumam gue frustasi.


"sabar kak sabar" goda Geena sembari menepuk-nepuk lengan ku.


"iiih minggir" gue menepis tangan Geena kasar.


"nikmati aja kan ada Tristan." goda Geena dengan senyuman nakalnya.


"nikmatin gimana, gue tersiksa anjing!"


akhirnya setelah mengantri absen begitu lamanya, gue pun bisa kembali ke kamar dan tidur.


...****************...


hallo sobat, makasih sudah mampir di lapak aku okeyy?


jangan lupa dukungannya yaa, terimakasih banyak..


dadaah sayangku semuaa**


(nb; sedikit perubahan dialog dan penulisan)