
elis tengah duduk di meja belajarnya, ia tengah mengotak -atik isi laptopnya, dia menggunakan kemampuan hackernya untuk mencari siapa orang yang berani mengirim fidio dirinya ke orang tuanya.
"akhkhh" ucap elis frustasi, dia mengacak-acak rambutnya sebab sudah tiga jam lebih ia tak mendapatkan hasil.
"huuh-heeh" elis menarik nafas kasar, dia beralih mencari ponselnya. setelah ketemu, dia memesan beberapa makanan online.
tok! tok! tok!
suara ketukan pintu itu mengalihkan fokus elis yang tengah asik memilih jenis makanannya.
elis beranjak membuka pintu. "iya, ada apa?" ucap elis ketika membuka pintu.
"mama?" ternyata orang yang mengetuk pintu adalah mamanya. "ayo masuk ma," segera elis mengajak mamanya duduk di tepian ranjang.
"sayang?" ucap yuana lirih sembari memegang telapak tangan elis.
"ya ma, ada apa?" elis merasa ada yang aneh pada mamanya.
"kamu mau turutin satu keinginan papamu, enggak?" yuana mengelus tangan elis, ia menatap elis dengan sendu.
"iya ma, asalkan itu bisa membuat papa bahagia dan bisa maafin aku."
"kamu mau ya pindah ke asrama." ucapan itu seolah membuat hati elis berhenti berdetak, dia kaget mendengar permintaan mamanya itu.
elis menarik tangannya dari genggaman sang mama. "gak! aku gak mau pindah ke asrama." sedikit elis menjauhkan dirinya dari sang mama.
"sayang," yuana menarik tangan elis, namun langsung di tepis oleh elis secara kasar.
elis berdiri. "pokoknya aku enggak mau pindah ma." ucap elis sedikit keras.
yuana ikut berdiri meraih tangan elis, kini ia memegang dengan erat. "sayang, mama sama papa ingin kamu jadi lebih baik, kami ingin kamu melanjutkan bisnis yang sudah mama sama papa bangun." ujar yuana mencoba menjelaskan.
elis menatap mamanya dengan raut wajah yang sulit diartikan. "ma, aku enggak mau menjalani bisnis itu, aku ingin jadi seniman, aku ingin melukis dan membuat karya. itu pekerjaan yang ku impikan." perlahan elis menarik tangannya dari genggaman yuana.
"elischia, kamu putri tunggal keluarga davveran tjara. melukis itu cuma hobi, kamu masih bisa melukis sambil melanjutkan bisnis mama papa, dan masuk asrama adalah jalan terbaik buat kamu." yuana mencoba mendekat tapi elis mundur dan menjauh.
"enggak ma, ini hidup elis. elis tahu yang terbaik buat diri elis, dan masuk asrama itu gak baik buat elis." elis meninggikan suaranya karena marah.
tenang elis, tenang..
yuana mencoba untuk setenang mungkin agar tak terbawa suasana, ia memaklumi kelakuan putrinya yang labil. "pilihan ada di kamu, pergi ke asrama atau pindah ke Amerika sama kakak mu disana." ucap yuana kemudian pergi keluar kamar elis.
"apa?!! mama sama papa mau kirim aku ke pengasingan di Amerika kayak kakak?!!" teriak elis pada mamanya.
"ma?!!" hati elis terasa sakit, nafasnya memburu dan matanya panas menahan air mata agar tak luruh. "mama tega tau gak, mama sama papa jadi jahat sama elis sekarang." elis berjalan ke tempat tidurnya lalu menangis. dipikirannya ini semua di sebabkan fidio itu, andai tak ada mungkin elis tak akan seperti ini. elis marah dan juga kecewa.
beberapa saat setelah lebih tenang elis mencuci muka dan memilih menghubungi teman-temannya.
......................
elis; pergi keluar yuk, gue bosen dirumah. sekalian mau ngambil mobil gue yang kalian tinggal di villa.
......................
pesan singkat itu elis kirim pada temannya melalui chat grub.
......................
jihan; sorry, gue lagi sibuk latihan. mumpung minggu kan.
zeeya; gue juga gak bisa, el. masih bantu ortu urus masalah bisnis.
elis; yaah kalian mah, lisa gimana?
lisa; gue juga gak bisa, hehehee. gue mau jalan sama cowo gue.
elis; gue sendirian aja deh😔
lisa; jangan gitu dong, El. perginya besok aja ya, pulang sekolah sekalian ngambil mobil kamu ke villa.
jihan; bener tuh!
zeeya: gue setuju
elis; gue gak bisa kalau besok.
......................
elis mematikan ponselnya, ia kecewa mendapati jawaban dari teman-temannya. besok mungkin hari terakhir elis bersekolah di Indonesian high school lalu lusa mungkin elis harus berangkat ke asrama yang sama sekali elis tak tahu itu tempat seperti apa dan dimana.
......................
elis menuruni tangga, terlihat di bawah sana ada mama dan papanya yang sedang mengobrol.
"pagi ma, pa." ucap elis singkat dan berlalu begitu saja tanpa pamitan.
"kamu cuma punya waktu mengambil semua barangmu di sekolah dan berpamitan setelah itu kita berangkat ke sekolah asrama kamu." ucap Edgar.
elis menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kedua orang tuanya. "apa sekarang?" tanya elis kaget.
"iya sekarang, semua ini demi kebaikan kamu." ucap Edgar datar.
"kebaikan?" elis menautkan kedua alisnya. "kebaikan mama sama papa, kalian malu punya putri kayak elis karena udah mabuk-mabukan kemarin, itu penyebab elis dikirim ke asrama. iyakan?!" lanjut elis dengan suara datar non ekspresi. kini rasa kagum pada kedua orang tuanya telah hilang.
"kamu belum mengerti maksud papa, El. suatu hari kamu bakal paham dan mengerti bahwa tindakan kami benar."
"terserah," ucap elis acuh. "hari itu gak akan datang." lanjutnya kemudian berlalu pergi keluar rumah.
......................
dalam perjalanan menuju sekolah, elis begitu kesal, hanya umpatan dan cacian yang terlontarkan dari mulut elis.
"sudah sampai, nona." ucap pak sopir yang mengatarkan elis ke sekolah.
"ya." ucap elis singkat kemudian menuruni mobil.
dengan wajah yang datar, elis berjalan melewati beberapa temannya yang sedikit keheranan akan ekspresi elis. biasanya elis selalu tersenyum dan menyapa teman-temannya.
"elis?" sapa jihan sembari mencoba membaca wajah elis.
"ya?"
"elo gak papa, El?" tanya jihan khawatir.
"gak papa," elis tersenyum tipis. "bisa minta bantuan gak?" tanya elis pada jihan.
"apapun untuk sahabat tersayang aku." ucapan jihan mampu menyentuh hati elis, ia tak membayangkan bagaimana nanti di asrama tanpa adanya ketiga sahabatnya ini.
"tolong kumpulin teman-teman di aula, ya. gue ada keperluan bentar." ujar elis lalu melenggang pergi.
"ada apa?!"
"kumpulin aja." bales elis sedikit berteriak.
tujuan pertama elis adalah kelas, ia mengambil sejumlah barang yang ia simpan di laci mejanya lalu tujuan kedua adalah ruangan locker, dia mengambil buku, kaca, seragam dan alat-alat melukis yang tersimpan di locker 128 itu.
"sudah." elis tampak lega ataupun sedih ketika melihat barang-barangnya sudah terkemas rapi dalam tas besarnya.
sejenak elis menatap lockernya, seperti mengucapkan salam perpisahan lalu dengan lesu ia berjalan menuju aula.
di dalam aula, elis kaget melihat banyak temannya sudah berkumpul. ia terkesima pada kehebatan jihan yang mampu mengumpulkan banyak orang dalam beberapa menit.
"untuk apa kita disini?"
"kenapa berkumpul, ada apa?!"
"elis si ratu circle auziramessa datang"
"elis datang" gumam para teman-temannya.
elis berdiri di depan semua temannya, tangan kanannya memegang pengeras suara. semua orang jadi penasaran apa yang akan elis sampaikan.
elis menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara, dia menguatkan diri untuk mengucap salam perpisahan ini.
"hai semuanya, gue elischia auverra ngucapin banyak terimakasih pada kalian atas perlakuan istimewa kalian selama ini, gue juga minta maaf mungkin selama ini gue egois, gue suka ngatur² kalian, gue ngeratu dan jahat. gue tahu gue salah, gue minta maaf." elis menundukan dirinya sebagai tanda permintaan maaf. hal itupun disambut rasa heran oleh sahabatnya dan teman-teman yang lain.
"El, ada apa?" tanya lisa.
"ada masalah apa?!" tanya zeeya.
"elis?" jihan menyaut.
elis tak memedulikan pertanyaan temannya, dia lanjut bicara. "hari ini gue menyatakan mengundurkan diri dari sekolah Indonesian high school dan akan pindah ke sekolah asrama baru," ucapan elis barusan membuat semua orang kaget. termasuk para sahabat elis, mereka syok mendengarnya. "gue seneng tau bisa kenal elo semua disini, gue juga seneng bisa bareng-bareng sama kalian." ucap elis menunjukkan pada ketiga sahabatnya.
"circle auziramessa gak akan berubah, circle ini hanya akan berkurang satu personil saja, auziramessa akan tetap ada selamanya, terimakasih." ucap elis di akhir penghujung kata. semuanya terdiam. mungkin beberapa terharu, sedih dan kecewa.
"gue minta maaf guyys" ujar elis menghampiri ketiga sahabatnya.