
hallo sobat, semoga ceritanya menghibur!
untuk chapter ini dan selanjutnya akan beralih mengunakan POV author ya..
HAPPY READING GUYSS💕
...****************...
Elis dan Tristan berjalan terburu-buru saat balik ke asrama, tadi mereka terlalu asik mengobrol di caffe sampai lupa waktu. "duh pasti kita telat nih." ucap Elis lirih sambil terus mempercepat langkahnya.
"kalau mau Sampek, cepetan!" Tristan melihat elis di belakangnya. "lambat, kayak siput!" umpat Tritan pada Elis.
"ngomong apa tadi, elo?!" mendengar itu Elis tak terima, dia mengejar Tristan yang semakin berlari menjauh.
cepet jugakan akhirnya jalannya.. batin Tristan sambil terus berlari.
beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di depan gedung asrama, diam-diam mereka masuk dan menuju aula makan asrama.
mereka bersembunyi di balik pintu."kenapa kita kesini sih?" tanya Elis pada tristan. "mending balik daripada disini nanti kita ketahuan." ucap Elis lagi
"elo mau makin ketahuan karena gak absen, pokoknya kita harus masuk dan ikut absen." Tristan mengintip ke arah teman-temannya di dalam, matanya tertuju pada gena. "syut-syut" ujar Tristan lirih.
"manggil siapa sih?" tanya Elis bingung.
"gena, temen elo kan, dia bisa bantu kita."
elis menarik nafas pelan. "bodoh, mana denger dia elo ngomong sepelan itu." ujar Elis dengan nada merendahkan.
"ya kalau gua teriak, kita ketahuan"balas Tristan.
"alah bilang aja takut"
Tristan berbalik menatap wajah elis. "siapa bilang?" ujarnya sombong. "yuk buktiin." Tristan tiba-tiba masuk ke dalam, membuat Elis ketakutan.
"sial! cowo itu gak takut kena hukuman?" terpaksa Elis pun mengikuti Tristan dengan hati-hati.
mereka berjalan ke arah segerombolan orang yang sedang mengantri minuman. "aman." ucap Elis dan Tristan berbarengan.
di sisih lain, Risa menyadari kemunculan Tristan dan Elis secara tiba-tiba. "mereka berdua kok bisa tiba-tiba ada disana?" Risa memperhatikan Elis dan Tristan yang sedang mengantri minuman.
Risa membawa wadah minumannya mendekat ke arah mereka, disisih lain pun Geenabmemperhatikan gerak-gerik Risa yang aneh. "ngapain tuh cewek?" gumam geena.
"Elis, Tristan?!" ujar Geena kaget saat menyadari keberadaan mereka.
"minuman?" tiba-tiba terpikir untuk mengambil minum juga. segera Geena berlari menghampiri mereka sebelum terdahului oleh risa.
"gue takut." ujar elis lirih.
"gak papa, elo gak usah takut." ucap Tristan meyakinkan.
"takut apa?!" sahut Risa dari belakang.
"sial!" umpat Geena ketika Risa berhasil sampai lebih dulu.
"eeh gak, bukan apa-apa." ucap Elis gelagapan karena takut.
"kenapa, kok kayak ketakutan gitu?" tanya Risa heran sekaligus penasaran.
"euhhm tadi dia habis ketemu kecoa disana." sahut Tristan.
"ya, tadi ada kecoa gua takut banget." Elis ikut menimpali.
alaayy batin risa.
"ouh yaa." ucap Risa singkat lalu pergi.
kecoa? bukannya di sekolah ini gak ada kecoa yaa apa mereka mencoba menyembunyikan sesuatu? batin Risa bertanya-tanya.
"Elis, Tristan." ujar Geena ketika menghampiri mereka berdua.
"apa?" tanya Elis agak ketus.
"ngapain aja tuh cewek?" ucap Geena sambil melirik ke arah Risa.
"cuma tanya doang." ucap Tristan santai.
"lagian kalian berdua kemana aja sih?! gue takut nungguin kalian!"Geena menatap tajam kedua makhluk di depannya, sedikit emosi, eh sangat emosi. "gak tahu waktu banget!" lanjutnya.
"gue ebih takut ketahuan tahu," balas elis.
"kalau elo bukan pacarnya temen gue, habis deh elo." gumam Tristan lirih.
"apa?" tanya Geena, sepertinya dia melihat Tristan sedang mencibir nya.
"gak gue gak ngomong apa-apa." Tristan pergi meninggalkan mereka berdua.
"nah ini nih, alasan gue gak suka sama cowok gajelas dan aneh kayak Tristan." gena menatap kepergian Tristan. "belum makan kan, Yoo gue masih ada sisa." Geena menarik Elis pergi ke meja makannya.
"elo masih nyisain makanan buat gua?" tanya elis.
"yah." jawab Geena malas. "dah makan nih, bukan sisa gue, ini gue sendiriin." Geena menyodorkan setengah makanan di piringnya pada elis.
"makasih." ucap Elis haru.
"diberitahukan pada semua siswa siswi harap segera menyelesaikan aktivitas makan dan segera mengisi absen, terimakasih." suara keras yang menggema di seluruh ruang makan.
"apa-apaan sih, gak biasanya koar-koar gini." gerutu Geena.
"baru aja." Elis baru beberapa sendok memakan makanannya tapi sudah disuruh selesai aja.
"dah yok" Geena menarik tangan Elis menuju tempat absen.
di sisih lain, Tristan tengah berada di kamarnya karena sudah absen terlebih dahulu. "dasar cewek-cewek reshek!" gerutu Tristan, ia membaringkan tubuhnya di ranjang.
"habis ngapain elo?" tanya Arven dari sehabis dari kamar mandi.
"gak ada." ucap Tristan malas lalu memejamkan matanya.
"cowo aneh!" Arven melempar handuk yang ia pakai tepat di muka tristan.
"anak sialan!" Tristan bangkit lalu melempar balik handuk milik arven.
"hahahah" Arven tertawa melihat reaksi temannya ini. "gak biasanya elo marah-marah sama cewe." ucap Arven sembari menata dirinya di depan kaca almari.
"dah lah, gue maless." Tristan membenamkan wajahnya di tumpukan bantal.
di seberang, "akhirnya" ucap Elis lega setelah ia berbaring di ranjangnya ini.
"ngapain aja sih, kok lama banget?" tanya Geena penasaran.
"ya ngerjain tugas kelompok lah, elo belum kan?" ucap Elis agak sombong.
"bentar lagi gue selesai. yee" balas Geena. "gak mandi gitu elo?" tanya Geena sebab melihat elis langsung tidur.
"dih ngomel mulu, iyanih gue mau mandi!" elis berdiri mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
"jangan lama-lama, gue keluar bentar!" teriak Geena dari luar kamar mandi.
"Iyah!" sahut elis.
dibawah kucuran air shower elis mulai membersihkan dirinya, mencuci rambut dan memakai sabun mandi aroma mawar yang harum.
setelah selesai, elis segera melilitkan handuk pada tubuhnya. handuk itu hanya menutupi dada hingga paha elis.
tok-tok!
ketika elis sedang mengeringkan rambutnya tiba-tiba ada suara ketokan pintu, ia yakin itu pasti Geena yang mengetuk pintu.
"manja banget si elo Ge--" Elis kaget ternyata bukan Geena melainkan Tristan yang ada di hadapannya.
braak!
reflek Elis kembali menutup rapat-rapat pintunya, tak peduli di depan ada Tristan.
"gue datang cuma mau ngambil buku catatan gue tadi!" ujar Tristan dari luar kamar.
*duhh ng*apain nih bocah kesini, mana gua lagi pakai ginian, juga. bisa-bisanya malem-malem gini dia ke asrama cewek. Gak habis pikir gue batin elis.
"woyy denger gak Lo, gue mau ambil buku!!" sekali Tristan berteriak.
"nih!" Elis membuka setengah pintu menyerahkan buku ke tangan Tristan. "jangan berisik, udah sana!" Elis meminta Tristan untuk segera pergi, dia takut ada kesalah pahaman nanti.
"ya, lagian siapa yang mau lama-lama sama elo" gumam Tristan lalu pergi.
Cowok sialan batin Elis.
Cewek reshek umpat Tristan dalam batinnya.