
Di kediaman Sebastian, Scarlett bersama dengan Zayn dan Sri yang sudah kembali terus saja berjalan mondar mandir seperti setrika yang tak kunjung memanas.
"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa wanita lampir itu bosa terkena stroke, dan yang membuatku terkejutnya itu disebabkan karena kelumpuhan otak," gumam Scatlett yang bisa didengar oleh yan lainnya.
"Itu karena saya yang memberikan obat yang Nyonya Sarag ingin berikan pada Tuan, Nona besar."
Scarlett berbalik menuju arah di mana suara itu berasal. Scarlett dan Sebastian dibuat sangat terkejut oleh seeorang pemilik suara itu.
"Bi Jum!" seru Scarlett seakan tak percaya, wanita paruh baya yang selama ini sudah mengabdikan hidupnya pada keluarga Sebastian sedari mendiang Ibunya Scarlett masih hidup, ternyata berani melakukan hal demikian pada Sarah, padahal Bi Jum selama ini selalu menuruti perkataan Sarah dan tak pernah membantahnya.
"Iya, Nona besar, saya yang melakukannya. Saya tahu kalau Johan dan Sri adalah orang suruhan Tuan muda. Saya juga tahu apa yang mereka berdua lakukan, dan saya juga tahu kalau Tuan besar hanya berpura-pura. Saya yang telah menukarkan alat makan yang akan digunakan oleh Tuan besar sebelum Sri sempat menukarnya. Jadi, sebenarnya jika Sri tak menukarnya pun tak masalah, karena alat makan yang disiapkan oleh Nyonya sudah saya tukar dengan milknya sendiri, dan saat ino Nyonya sedang meberima apa yang telah ia perbuat sendiri," jawab Bi Jum yang langsung menjelaskannya.
"Tapi, kenapa bisa Bi Jum melakukan hal itu? Bukankah selama ini Bi Jum selalu patuh padanya? Aku sempat berpikir kalau Bi Jum juga ambil bagian dari rencananya," banyak pertanyaan yang terus saja berputar dalam pikiran Scarlett.
"Itu karena Nyonya adalah manusia terjahat dan serakah yang pernah saya temui. Dia juga sering bersikap kasar dan semena-mena pada saya yang membuat saya menyimpan dendam begitu dalam padanya. Karenanya, saya tak bisa bertemu dengan putri saya untuk yang terakhir kalinya." Bi Jum seketika menitikan air matanya mengingat kejadian yang pada akhirnya membuat dirinya harus menyimpan dendam pada Sarah.
Kala itu, ia yang sedang sibuk di dapur mendapat telepon dari kapung yang mengatakan kalau putrinya mengalami kecelakaan, ia meminta izin pada Sarah untuk pulang kapung guna melihat keadaan sang putri. Namun, siapa sangka Sarah malah melarangnya, ia bahkan mengancamnya akan membunuhnya jika Bi Jum tak mematuhinya dan meminta izin pada Sebastian.
"Nyonya, saya mohon, biarkan saya pulang ke kampung untuk mengurus putri saya, saya tak tahu bagaimana keadaannya, apakah parah atau tidak. Saya berjanji setelah putri saya sembuh, saya akan langsung kembali ke sini lagi."
"Kamu gak usah macam-macam yah, Bi. Kalau kamu pulang, siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah dan semuanya. Saya gak mau tahu, kamu pokoknya gak boleh pulang. Kirim saja sejumlah uang, karna itu yang mereka butuhkan," ucap Sarah yang tetap tak mengizinkan Bi Jum untuk pulang.
"Anda bisa menyewa asisten rumah tangga sementara, Nyonya, sampai saya kembali. Saya mohon, saya harus pulang. Kalau Anda tak mengizinkan, maka saya akan meminta izin pada Tuan besar. Saya yakin, Tuan besar pasti akan mengizinkannya." Bi Jum berbalik hendak menemui Sebastian, tapi langkahnya terhanti karena Sarah sudah mencengkeram lengannya.
"Kalau kamu berani meminta izin pada suamiku, aku akan membunuhmu dan membiarkanmu tak bisa bertemu dengan putrimu untuk selamanya. Kamu tahu kan, kalau aku bukanlah orang yang hanya mengancam belaka, aku akan melakukan hal itu jika ada orang yang tak patuh padaku," ancam Sarah yang sudah mengarahkan pisau pada leher Bi Jum, bahkan pisau itu sudah sedikit menyayat kulit Bi Jum yang sudah keriput.
Bi Jum menatap tajam pada Sarah, rasa takut terpancar dari raut wajahnya yang sudah tak muda lagi.
"Ba-baik, Nyonya, saya tak akan pergi dan akan menuruti apa yang Anda katakan."
Akhirnya Bi Jum memutuskan tak pulang ke kampung halamannya, tapi dua hari kemudian ia mendapat kabar kalau putrinya telah meninggal dunia, dan lagi-lagi Sarah tak membiarkannya untuk pulang guna melihat jasad sang putri meski untuk terakhir kalinya.
"Saya berjanji pada diri saya sendiri, Nyonya, saya akan membalaskan semua yang saya derita berkali-kali lipat sehingga Anda lebih memilih untuk mati daripada hidup tapi bagakan ma ti karena tak bisa berbuat apa-apa," sumpah Bi Jum yang kini sudah ia laksanakan.
"Ini baru permulaan, Nona, Tuan besar, saya ingin Nyonya merasakan penderitaan yang lebih dari yang saya rasakan. apa yang Nynya rasakan saat ini, belum sebanding dengan apa yang telah saya rasakan ketika kehilangan putri saya satu-satunya," ucap Bi Jum setelah menceritakan semuanya mengapa ia bisa berbuat hal demikian pada Sarah.