One Night Stand With Mr. Z

One Night Stand With Mr. Z
Episode 30



Zayn memang pria yang luar biasa menyayangi istrinya itu, buktinya ia mau mengantre demi makanan yang diinginkan sang istri. Ia bisa saja meminta Raka untuk mengantre, sedangkan ia hanya menunggu makanan datang sambil menemani istrinya, tapi hal itu tak ia lakukan karena ia ingin melakukannya sendiri.


Dari tempat duduknya, Scarlett memperhatikan suami dadakannya itu dengan senyuman puasnya. Ia tak menyangka kalau seorang Zayn yang sombong dan angkuh di depan banyak orang, nyatanya kini bertekuk lutut padanya.


“Kau memang suami limited edition, Mr. Z. Sungguh wanita bodoh jika aku melepaskanmu, di samping bayak wanita yang mengejarmu, mengapa aku yang kau inginkan harus dengan bodohnya melepasmu. Aku harus bersyukur karena tertiban durian montong sepertimu,” gumam Scarlett lirih masih memandang Zayn yang kini sudah sedang membayar pesanannya.


Tak lama setelah membayar pesanannya, makanan yang dipesannya sudah siap untuk dibawa. Zayn membawa nampan tersebut berjalan menuju di mana istrinya itu duduk.


“Pesanan Nyonya Zayn sudah tiba, silakan dimakan, Nyonya.” Zayn meletakkan nampan tersebut dan ia pun duduk di kursi depan Scarlett.


“Terima kasih, Tuan muda. Kau memang suami limited edition,” puji Scarlett, tapi mengapa tak terdengar seperti pujian?


“Suami limited edition ini hanya milikmu, milik Nyonya Scarlett Cyrus. Makanlah, setelah ini kita pulang, hari ini aku lelah sekali, ingin rasanya aku dipijat olehmu nanti,” titah Zayn seraya memijat pundaknya yang memang terasa sangat kaku.


“Baiklah, karena kau sudah rela mengantre makanan untukku, jadi aku akan berbaik hati memijatmu nanti.”


“Baiklah, aku akan menunggu performamu.”


Keduanya menikmati makanan tersebut tanpa canggung. Zayn sangat menikmatinya karena ia makan bersama dengan wanita tercintanya. Setelah selesai makan, mereka langsung pulang karena Zayn memang sangat lelah.


*


Sampainya di rumah, Scarlett langsung membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia segera menyiapkan air mandi untuk Zayn. Ia tak lupa memberikan aroma terapi agar suaminya itu sedikit relaks.


“Air mandimu sudah siap, mandilah terlebih dulu nanti baru aku pijatkan tubuhmu,” titah Scarlett yang baru selesai mandi, Zayn bukannya menuruti permintaan istrinya, ia malah memeluk istrinya itu dari belakang dan menyesap aroma yang membuatnya nyaman di area leher Scarlett.


“Kau wangi sekali, membuatku ingin memakanmu,” bisiknya seraya mengecup tengkuk leher Scarlett membuat wanita itu meremang.


“Mandilah sebelum airnya dingin, kau bilang ingin dipijat, jika tak jadi aku akan istirahat,” titahnya kembali seraya menahan godaan Zayn.


“Baiklah, aku akan mandi sekarang, kau siapkan saja minyak untuk memijatnya, aku tak akan lama.” Zayn mengalah, ia segera melepas istrinya yang menggoda itu untuk segera mandi karena ia tak ingin apa yang sudah disiapkan istrinya itu sia-sia.


Saat Zayn sedang mandi, Scarlett segera berpakaian, setelahnya ia menyiapkan minyak zaitun untuk memijat suaminya itu. Tak lupa Scarlett juga menyalakan pewangi ruangan aroma terapi yang biasa ia gunakan di salonnya agar Zayn terasa relaks.


Lima belas menit lamanya, Zayn sudah siap untuk segera dipijat oleh istri kesayangannya, ia sudah berbaring dengan tengkurap di atas tempat tidur. Scarlett mulai membaluri tubuh Zayn dengan minyak, perlahan ia mulai memijatnya dari atas hingga bawah dengan teratur.


Pagi harinya, Zayn terbangun dengan tubuh yang sudah fresh dan segar kembali karena pijatan sang istri. Ia melihat sekeliling tapi tak mendapati wanitanya itu berada disisinya. Zayn bangun dan mengenakan pakaiannya lalu keluar kamar untuk mencari keberadaan wanitanya.


“Kau sudah bangun? Mari sarapan, aku sudah membuatkan sarapan pagi untukmu,” ajak Scarlett tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Zayn pun menuruti permintaan wanitanya itu dan duduk dengan manis.


Semangkuk bubur ayam lengkap dan secangkir teh lemon hangat tersaji di depan Zayn. Terlihat menggoda hingga membuat liurnya hampir menetes.


“Apakah kau memasaknya sendiri? Atau kau beli di penjual bubur ayam yang lewat depan rumah?” tanya Zayn memastikan makanan itu dari mana, ia hanya ingin tahu apakah wanitanya itu sengaja bangun pagi untuk masak buat dirinya, atau wanitanya itu lebih memilih membeli sarapan untuk mereka berdua tanpa harus repot memasak.


“Tentu saja aku memasaknya sendiri, kau pikir aku membelinya? Apakah kau pikir aku tak bisa masak? Lebih enak membuatnya sendiri. Jika kau inginkan untuk bekal, aku bisa mewadahkannya untuk kau bawa nanti. Tapi, apakah kau akan makan siang dengan bubur ayam?” sahut Scarlett memberondong banyak pertanyaan pada suaminya itu, Zayn tersenyum puas dengan jawaban istrinya itu, ia segera menyantap makanannya itu dengan lahap.


“Wadahkan untukku bawa, aku akan makan siang dengan bubur buatanmu,” pinta Zayn.


Setelah sarapan, Scarlett mewadahkan bubur ayam untuk Zayn dengan menggunakan mangkuk sup agar buburnya selalu hangat. Ia sengaja memisahkan toping dan perlengkapan buburnya agar nanti Zayn mencampurnya sendiri. Ia juga mewadahkan teh lemon hangat ke dalam termos kecil dan mewadahi semunya ke dalam tas kecil wadah makanan.


***


“Jangan lupa makanannya dimakan, aku tak bisa menemanimu makan siang. Mungkin malam ini aku akan masak makan malam, jadi kita bisa makan malam bersama di rumah nanti. Kau ingin aku masak apa malam ini?” tanya Scarlett setelah mengingatkan suaminya itu sebelum ia turun dari mobil.


“Apa pun yang kau masak, aku akan memakannya,” sahut Zayn dengan senyum merekahnya, ia memang selalu menebar senyum jika sedang bersama dengan istrinya itu.


“Baiklah, aku akan pulang cepat nanti sore. Kau santai saja, jangan karena aku pulang cepat kau malah mengabaikan pekerjaanmu dan melampiaskannya pada Raka. Aku masuk kantor dulu, bye.” Scarlett turun dari mobil setelah memberikan kecupan yang wajib diberikannya pada suaminya itu, jika tidak maka sudah dipastikan ia tak akan diizinkannya untuk turun dari mobil.


Setelah Scarlett keluar dari mobil, Raka masuk dan mobil pun melaju meninggalkan Mutiara Group. Scarlett pun berjalan masuk ke dalam perusahaan yang kemungkinan sebentar lagi akan menjadi milinya itu jika semua usaha Sebastian berjalan dengan lancar.


Membicarakan mengenai Sebastian, pagi ini ia akan datang terlambat ke kantor karena ia akan ada pertemuan dengan pengacaranya terkait pengalihan seluruh asetnya pada Scarlett. Sebastian tak dapat melakukannya dengan terang-terangan karena ia takut istri dan putrinya mengetahui apa yang sedang ia lakukan itu.


“Tuan Sebastian, semua sudah beralih atas nama Nona Scarlett, silakan Anda cek kembali.” Indra memberikan berkas pengalihan kepemilikan aset tersebut pada Sebastian agar dicek kembali.


Sebastian memeriksanya kembali dengan teliti, ia tak ingin ada kesalahan terkait pengalihan aset tersebut.


“Terima kasih, Indra. Tolong kau simpan dengan baik, kelak aku ingin kau menjadi pengacara pribadi putriku dengan setia. Jangan pernah kau berpaling dari Scarlett apalagi berpalingnya lada Alia dan Sarah, karena aku tak ingin putriku sengsara karena mereka. Kau harus berjanji padaku, Indra. Jika terjadi sesuatu padaku kelak, maka kau harus segera mengumumkan dan menyerahkan semua kepemilikan pada Scarlett agar Sarah dan Alia tak dapat mengusik putriku lagi,” pinta Sebastian, ia sungguh berharap Indra dapat dipercaya.


“Anda tenang saja, Tuan. Saya sudah mengabdi pada Anda sejak Nyonya Linda masih hidup, jadi saya tak akan membuat Anda dan Nona Scarlett kecewa.”