One Night Stand With Mr. Z

One Night Stand With Mr. Z
Episode 39



Scarlett berjalan menuju ruangannya setelah ia keluar dari lift. Pak Sugeng menyambutnya dengan penuh hormat. Meski ia manta wakil presdir, tapi Pak Sugeng tak mengurangi rasa hormatnya pada putri mendiang sahabatnya itu.


Pak Sugeng menyayangi Scarlett seperti putrinya sendiri, mengingat bagaimana persahabatan antara ia dan orang tua Scarlett.


"Apakah Anda ingin kopi, Nona?" tawar Pak Sugeng dengan lembut pada Scarlett layaknya seorang Papah yang bicara lembut penuh kasih pada putrinya.


"Boleh, Pak. Oh iya, apakah Papah sudah datang?" sahut Scarlett balik bertanya.


"Tuan Sebastian belum datang, nanti saya beritahu Anda jika sudah datang. Ada beberapa berkas yang membutuhkan tandatangan dari Anda, Nona." Pak Sugeng memberikan beberapa map dokumen, Scarlett mengerutkan keningnya bingung.


"Mengapa harus saya? Bukankah Papah yang harusnya menandatangani ini semua?" tanya Scarlett mengerutkan keningnya masih tak mengerti.


Sebastian belum memberitahu pasal ia yang sudah memindahkan seluruh aset miliknya menjadi atas nama Scarlett. Sebastian juga belum memberitahu kalau perusahaan sudah berpindah atas nama putrinya itu, jadi jika Sebastian tak ada maka Scarlett yang bertanggung jawab atas semuanya. Pak Sugeng juga tak berani memberitahu pada Scarlett sebelum Sebastian mengatakannya sendiri.


"Anda adalah wakil presdir, Nona. Jadi, jika Tuan Sebastian tak ada, Anda bisa menjadi perwakilannya dalam mengambil keputusan, termasuk menandatangani dokumen penting ini. Mulai sekarang, Anda harus terbiasa dengan ini," jawab Pak Sugeng apa adanya tanpa memberitahu alasan yang sebenarnya dengan sikap normal biasa agar Scarlett tak mencurigai sesuatu.


Pak Sugeng memang diamanahi untuk memberitahukannya pada Scarlett kelak jika Sebastian sudah tak bisa mengambil alih semuanya. Namun, saat ini karena Sebastian masih dalam keadaan sehat, maka bukan tugas Pak Sugeng untuk memberitahu semuanya pada Scarlett.


"Baiklah kalau begitu, saya akan memeriksanya terlebih dulu. Jika Papah sudah datang, tolong Pak Sugeng beritahu saya yah," ucap Scarlett yang mempercayai perkataan Pak Sugeng, pria paruh baya itu dapat bernapas lega untuk saat ini.


Seperginya Pak Sugeng, Scarlett memeriksa beberapa dokumen yang tadi diberikan padanya. Ia memeriksa sengan teliti dokumen itu, ia tak ingin terdapat kesalahan pada apa yang diperiksanya.


Namun, matanya membulat kala melihat dokumen pengalihan perusahaan yang ia temukan di antara dokumen penting. Dalam dokumen tersebut menyebutkan pengalihan perusahaan menjadi atas nama Alia Sebastian. Scarlett mengepalkan tangannya geram.


"Beruntung dokumen ini diberikan padaku, jika saja diberikan pada Papah dan Papah tak memeriksanya dengan teliti malah langsung menandatanganinya, maka habislah Mutiara Group jika berada di tangannya. Apa sebenarnya yang mereka pikirkan? Apakah mereka akan sanggup mengurus Mutiara Group jika mereka mengambil alih? Apakah pikir merrka menjalankan perusahaan sama halnya seperti menghamburkan uang yang merrka lakukan selama ini?" geram rasanya Scarlett ingin langsung melampiaskanya pada pasangan Ibu dan anak itu.


Scatlett langsung memisahkan dokumen tersebut dan berencana ingin mengatakannya oada Sebastian kala pertemuannya nanti dengan suaminya.


Di luar ruangan, Pak Sugeng yang melihat hal itu tersenyum lega. Ia memang sengaja memberikan berkas tersebut agar Scarlett memerksanya, pasalnya jika langsung diberikan pada Sebastian, sudah dapat dipastikan Sebastian tak akan memeriksanya dengan teliti dan mungkin akan langsung menandatanganinya karena banyaknya dokumen yang harus ditandatangani.


"Maafkan aku, Bas. Aku terpaksa melibatkan putrimu, karena kau yang sudah lelah tak mungkin akan menemukan dokumen yang diselipkan oleh istri parasitmu itu," gumam Pak Sugeng.


Pak Sugeng mengetahi hal itu karena ia melihat Sarah membaa sebuah map saat datang membawakan makanan untuk Sebastian. Pak Sugeng tak sengaja melihat Sarah menyelipkan sebuah dokumen yang dibawanya di antara tumpukkan dokumen penting lainnya. Saat ada kesempatan, Pak Sugeng mengambil beberapa dokumen untuk dibawa pada Scarlett dengan alasan jika mulai saat ini Scarlett harus dilibatkan.


"Biar bagaimanapun, Scarlett akan memimpin perusahaan kelas, Bas. Kau harus membuatnya mempelajari dokumen ini untuk ditandatangani, ia juga harus belajar mengambil keputusannya sendiri," alasan Pak Sugeng saat Sebastian bertanya mengapa sebagian dokumen harus diberikan pada Scarlett, beruntungnya Sebastian tak menolak dan langsung menyetujuinya.


*


Pak Sugeng masuk dengan membawa nampan berisi secangkir kopi pesanan Scarlett. Kopi hitam dengan sedikit gula, adalah kesukaan Scatlett.


"Terima kasih yah, Pak. Apakah Papah sudah datang?" tanya Scarlet yang masih menunggu Papahnya itu.


"Sepertinya sudah, Nona. Apakah Anda ingin menemuinya?" sahut Pak Sugeng bertanya.


"Hm, ada yang ingin saya sampaikan padanya, Pak, pesan dari suami saya," jawab Scarlett sebelum menyeruput kopi hitamnya. "Kopi buatan Anda memang selalu pas dilidah saya," sambungnya.


"Terima kasih, Nona."


"Kalau begitu saya ke ruangan Papah dulu." Scarlett bangkit ingin menemui papahnya.


Scatlett berjalan menuju ruangan Sebastian, di depan pintu ia mengetuk beberapa ketukan dan membukanya. Terlihat Sebastian sedang menyeruput kopinya yang baru saja diantar oleh Lisa.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan." Lisa pamit undur diri kala melihat Scarlett datang, ia tahu kalau Scarlett ingin bicara pribadi dengan Bosnya itu. "Saya permisi, Nona," sambungnya pada Scarlett, Scarlett hanya tersenyum.


"Dia terlihat begitu baik dalam melayanimu, Pah. Dia bisa menjadi pengganti nenek sihir di rumahmu," celetuk Scarlett yang melihat betapa Lisa telaten dalam melayani Papahnya sebagai sekretarisnya.


"Bicara apa kamu ini, dia masih muda sedangkan papahmu ini sudah bau tanah," balas Sebastian.


"Tak ada salahnya memperistri wanita muda jika dia tak keberatan. Daun muda lebih baik jika dia baik dibanding dengan daun tua yang sudah sepa tapi tak tahu diri." Scarlett masih mencoba memprovokasi papahnya, ia berharap jika sang papah bersedia menceraikan Sarah, itulah maksud dari provokasinya.


"Sudah-sudah, jangan membahas hal itu. Lisa memiliki kehidupannya sendiri, papah tak ingin merenggutnya, lagi pula papah sudah memiliki istri. Sebaliknya kau, ada apa datang ke ruangan papah? Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya Sebastian mengalihkan pembicaraan yang tak bermutu menurutnya.


"Pah, siang ini suamiku ingin bertemu, apakah Papah ada waktu?" tanya Scarlett berharap Sebastian memberikan waktu luangnya.


"Papah selalu ada waktu jika untuk bertemu dengan suamimu. Terlebih, dia yang berniat bertemu dengan papah, tentu saja papah akan meluangkan waktu papah untuk menemuinya," sahut Sebastian, saat ini bukan karena ia mata duitan, melainkan karena Sebastian sadar kalau Zayn sudah banyak membantunya, jadi ia tak bisa menolak saat Zayn ingin bertemu dengannya.


"Baiklah, aku akan mengatakan padanya." Scarlett pergi setelah mendapatkan jawaban yang ia butuhkan dari papahnya.


*****


Happy reading, hari ini aku update pagian nih kak, adakah yang menunggunya update🤔😁


Oh iya, aku mau minta doanya nih kak untuk anak aku yang sedang berada di pondok pesantren yang sedang menimba ilmu agama, semoga dia betah dan mendapatkan teman yang baik dan saling meyayangi🙏🤗🤗


Yang berkenan mendoakan, aku ucapkan terima kasih banget, semoga kalian selalu sehat dan bahagia selalu🙏🤗


Selamat beraktivitas yah, jangan lupa makan biar gak oleng😅