
Scarlett berjalan dengan perlahan dan wajah yang tertunduk sambil meremas tangannya erat. Telapak tangannya sudah berkeringat karena gugup, ia belum pernah berinisiatif melakukannya lebih dulu meski ia dan Zayn sudah hampir setiap hari melakukan. Sedangkan Zayn sudah berada di atas tempat tidur karena ia berjalan lebih dulu.
“Kemarilah, mengapa kau terlihat begitu pucat apakah kau sakit?” Zayn melambai pada istrinya yang masih melangkah secara perlahan, ia mengerutkan keningnya bingung mengapa Scarlett bersikap sepeti itu tiba-tiba, padahal beberapa detik lalu masih dalam keadaan baik-baik saja.
Sampai disisi ranjang, di mana kaki Zayn berada, Scarlett naik perlahan, ia membuka sleting belakang dreshnya dan perlahan ia turunkan hingga terlihat hanya memakai pakaian dalam saja. Dengan gugup Scarlett mendekati suaminya itu dan meraba pahanya membuat Zayn terkejut. Namun, sepersekian detik kemudian ia tersenyum tipis karena mengingat ucapannya tadi yang mengatakan kalau Scarlett harus berinisiatif mengajaknya bercinta.
Zayn sengaja tak bergerak karena ingin melihat sejauh mana istrinya itu berinisiatif mengajaknya bercinta. Sesekali ia memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan dari tangan mulus sang istri. Hingga pada akhirnya, Scarlett memberanikan diri untuk menyentuh benda pusakanya, Zayn langsung menarik tangan tersebut hingga istrinya itu jatuh ke dalam pelukannya.
Zayn langsung memagut bibir Scarlett lembut, pagutan mereka semakin dalam dan semakin memanas. Tangan Zayn tak ingin berdiam diri, ia mulai membuka pengait pakaian dalam Scarlett hingga terpampanglah dengan jelas buah yang begitu indah yang tadi tertutup.
“Bisakah kamu matikan lampunya, aku malu,” pinta Scarlett dengan berbisik, kini posisinya sudah duduk di pangkuan suaminya, Zayn tersenyum tipis.
Zayn meraih remot yang berada di atas nakas dan menekan salah satu tombolnya, seketika lampu utama di dalam kamar tersebut mati dan berganti dengan lampu tidur yang remang-remang. Scarlett bisa bernapas dengan lega karena setidaknya wajahnya yang memerah bagaikan kepiting rebus tak terlihat oleh Zayn.
“Mengapa ingin dimatikan, aku kan ingin melihat wajah cantikmu.” Zayn membenarkan rambut Scarlett yang menutupi sebagian wajahnya.
“Aku malu, aku bukanlah wanita ja*ang yang ahli dalam memimpin hal seperti itu,” jawabnya gugup membuat Zayn merasa bersalah, ia menangkup wajah istrinya itu dengan kedua tangannya.
“Kamu bukan wanita yang seperti itu, kamu adalah wanitaku, istriku, ratuku, belahan jiwaku, kamu bahkan nyawaku. Jika kamu tak ingin melakukannya, maka aku tak akan memaksamu. Aku akan menuruti apa yang menurutmu baik dan membuatmu nyaman. Aku hanya bercanda saja, aku bahkan tak mengingat kalau aku berkata seperti itu tadi, kupikir kau tak menganggapnya serius. Maafkan aku kalau yang kukatakan membuatmu tak nyaman. Ayu tidur jika kau tak ingin melakukannya.” Zayn meraih selimut dan menyelimuti tubuh Scarlett yang hampir polos, ia ta ingin istrinya melakukannya dengan terpaksa karena ia ingin cinta Scarlett yang utuh dan tulus padanya tanpa ada paksaan.
“Tidak.” Scarlett memegang tangan Zayn yang menyelimutinya, tentu membuat Zayn terkejut dan menatap Scarlett penuh tanya di dalam remangnya kamar mereka.
“Aku ingin melanjutkannya, aku akan melakukan seperti yang kau katakan tadi. Tapi....” Scarlett terdiam sejenak, Zayn menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan oleh istrinya.
“Tapi... Tolong jangan tertawa karena aku baru pertama melakukannya secara inisiatif, jangan menganggap aku rendah juga karena mungkin aku akan terlihat bagaikan ja*ang. Tolong ajarkan aku... Tolong ajarkan aku untuk memuaskan suamiku, karena aku tak ingin suamiku dipuaskan oleh wanita lain nantinya karena aku tak mampu membuatnya puas,” ucap Scarlett akhirnya mampu menyelesaikan ucapannya, ia teringat akan apa yang dilakukan oleh mantan kekasinya dan putri Walikota, ia tak ingin ucapan yang dikatakan oleh Jerry tentang dirinya yang tak bisa membuatnya puas dilontarkan oleh Zayn kelak.
Zayn tersenyum, ia mengusap wajah cantik dan mulus istrinya itu, ciuman lembut mendarat kembali di bibir merona Scarlett. Perlahan Scarlett mulai membalas ciuman tersebut membuat Zayn tersenyum tipis. Ia mengarahkan tangan Scarlett pada inti dari tubuhnya.
Awalnya tangan Scarlett menggenggam kaku membuat Zayn kesakitan, tapi Zayn menahannya karena tak ingin istrinya itu merasa bersalah dan tak bisa apa-apa. Namun, perlahan Scarlett mengendurkan pegangannya dan mengusapnya perlahan meski masih agak kaku.
“Maaf, aku memegangnya dengan kuat, apakah sakit?” tanya Scarlett karena ia merasakan denyutan pelan pada milik Zayn.
“Rasanya nikmat, lanjutkanlah,” bisik Zayn, ia lalu merebahkan tubuhnya membiarkan Scarlett membiasakan diri dengan memegang miliknya.
Andai lampu utama menyala, wajah Scarlett yang memerah bak kepiting rebus pasti akan terlihat sangat jelas dan lucu bagi Zayn. Ah, sayangnya lampunya tak menyala dan hanya menyisakan lampu tidur yang remang-remang, jadi Zayn tak dapat menikmati wajah cantik istrinya itu.
Saat sedang menikmati urutan-urutan lembut yang dilakukan oleh tangan lembut istrinya, tiba-tiba saja Zayn terkejut karena Scarlett memasukkannya ke dalam mulutnya. Meski rasanya hangat dan nikmat, tetap saja Zay terkejut karena ini pertama kali juga baginya. Ia bangun dan meraih wajah istrinya itu, ia takut kalau Scarlett melakukannya dengan terpaksa.
“Mengapa kau lakukan itu? Tahu dari mana kau cara seperti itu?” Tanya Zayn, ia penasaran dari mana Scarlett mempelajarinya, meski terkadang ia melakukan hal seperti itu pada milik istrinya.
“Jika kau tak ingin melakukannya, maka tak perlu. Aku tak gila servis yang seperti itu, bagiku kau bersedia kusentuh sebagai istriku saja, itu sudah membuatku puas. Apalagi jika kau bersedia mengandung benihku, maka itu akan membuatku sangat bahagia dan semakin mencintaimu,” ucap Zayn mencoba memberi pengertian pada istrinya itu, ia takut jika Scarlett melakukannya dengan terpaksa karena ingin membuatnya puas seperti apa yang ia lakukan untuknya.
Scarlett memegang tangan Zayn yang masih menangkup wajahnya dan berkata. “Aku tak terpaksa, aku melakukannya karena ingin, jadi aku ingin kau menikmatinya seperti yang aku lakukan saat kau berbuat demikian. Kau sudah setuju untuk mengajariku memuaskanmu, maka kau tak boleh protes,” sahut Scarlett dengan polosnya, terlihat seperti murid yang meminta gurunya mengajarkan sesuatu yang ingin ia pelajari.
“Baiklah, lakukan sesukamu dan aku akan menikmatinya seperti kau yang selalu menikmati permainanmu.” Zayn kembali merebahkan tubuhnya dan Scarlett kembali mengulum milik Zayn.
Zayn hanya menikmati permainan istrinya saja sambil sesekali mende*ah nikmat. Meski terkadang sesekali gigi Scarlett membuatnya linu, tapi ia tak ingin mengaduh karena takut istrinya itu merajuk dan tak ingin melakukannya lagi.
“Apakah sudah cukup?” tanya Scarlett dengan polosnya.
“Apakah kau menginginkannya juga?” Zayn balik bertanya.
“No, aku tak ingin timbal balik, tadi kan kamu yang minta aku melakukannya, jadi aku akan melakukannya hingga akhir dan selesai,” jawab Scarlett yang tak ingin Zayn melakukan apa pun, Zayn hanya bisa tersenyum, sebenarnya ia juga ingin melakukannya, ia ingin memuaskan istrinya itu, tapi sayangnya Scarlett tak menginginkannya karena wanita itu yang ingin melakukannya malam ini.
“Jika sudah lelah, maka masukkanlah,” titah Zayn.
“Masukan? Ke mana?” tanya Scarlett yang bingung apa yang harus di masukkan dan ke mana ia memasukkannya.
Ingin rasanya Zayn menepuk keningnya sendiri karena istrinya yang sudah beberapa bulan ia tiduri itu masih tak mengerti apa yang ia maksud. Zayn bangun dan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya dan mengecup bibir Scarlett sekilas, tangannya menuntun tagan Scarlett memegang miliknya.
“Yang ini, dimasukkan ke milik kamu, Sayang.” Zayn memberitahunya dengan cara menyentuh milik Scarlett, seketika wanita cantik itu salah tingkah.
“Be-berarti...”
“Iya, kamu harus membukanya,” sambung Zayn, terdengar Scarlett menelan salivanya dengan berat, Zayn benar-benar sangat ingin tertawa, tapi ia harus menahannya dengan sekuat tenaga agar Scarlett tak merajuk.
Scarlett menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, ia mencoba menetralkan jantungnya yang terus saja berdegup kencang. Ini benar-benar pengalaman pertamanya untuk berinisiatif bercinta dengan suaminya, biasanya ia hanya diam bagaikan patung dan hanya menikmati dan mende*ah saja. Namun, kini ia harus melakukan apa yang biasa dilakukan oleh suaminya itu.
‘Ayo Scarlett, kamu pasti bisa memuaskan priamu. Jangan biarkan suatu saat nanti priamu dipuaskan oleh wanita lain. Tak akan ada yang kedua kalinya, cukup pria brengsek itu saja yang melayang lepas dari genggamanku karena dia memang brengsek. Aku tak akan membiarkan wanita ja*ang merebut priaku untuk yang kedua kalinya,’ batin Scarlett bertekad untuk melakukannya.
*****
Bagaimanakah Scarlett melakukannya? Apakah akan berhasil hanya dengan sekali melakukannya? Ish, kok aku yang kepo dengan cara Scarlett melakukannya yah😂😂😂
Lagian sih Scarlett, ada-ada saja deh, polosnya terlalu polos sampai bikin othor pingin nepuk jidat🤦🏼♀️