One Night Stand With Mr. Z

One Night Stand With Mr. Z
Episode 37



“Aku... Aku...,” terlihat Scarlett begitu bingung ketika ingin mengatakan sesuatu pada Zayn, saat ini keduanya berada di dalam kamar setelah makan malam, Zayn yang sedang fokus dengan pekerjaannya menoleh menatap istrinya yang terlihat bingung.


Zayn menutup laptopnya dan menghadap istrinya.


“Ada apa, Sayang? Mengapa kau terlihat bingung? Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, hm?” tanya Zayn dengan lembut seraya mengusap punggung tangan Scarlett lembut.


Jantung Scarlett berdegup kencang, antara merasakan desiran perasaannya yang membuncah, dan juga perasaan yang membuatnya bingung akan bagaimana menyampaikannya.


“Katakanlah, aku akan mendengarkan apa pun yang akan kau katakan,” pintanya kembali, terlihat Scarlett menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Aku ingin mengataka sesuatu tentang Papah, apakah kau keberatan?” ucapnya bertanya dengan perlahan, ia takut kalau Zay akan tak senang saat membicarakan Papahnya, mengingat bagaimana sikap Sebastian padanya yang diketahui oleh Zayn.


“Katakanlah, mengapa aku harus keberatan, dia Papahmu yang berarti mertuaku,” titah Zayn, tak ada raut rasa kesal dalam wajah Zayn.


Scarlett akhirnya menceritakan semuanya yang ia dan Sebastian bicarakan pagi tadi di perusahaannya. Zayn menjadi pendengar yang baik bagi istrinya, ia tak menyela ataupun berkomentar sebelum Scarlett selesai dengan ceritanya.


“Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan? Apakah kamu ingin Papahmu pindah dari kediamannya? Aku bisa saja melakukan hal itu, bahkan sangat mudah bagiku untuk membuat Ibu dan anak itu berakhir mengenaskan jika kau ingin,” tanya Zayn, ia juga meminta pendapat istrinya ingin bagaimana.


“Bagiku, akan lebih baik mereka lenyap dari dunia ini. Tapi, aku juga harus mempertimbangkan perasaan Papah, karena biar bagaimanapun, mereka juga adalah keluarganya yang selama ini tinggal dan berada disisinya. Aku hanya ingin Papah aman meski berada di kediamannya,” dengan geram Scarlett berucap, tangannya terlihat mengepal erat.


Zayn yang mengetahui hak itu langsung meraih tangannya dan meletakkannya di pipinya, membuat Scarlett terkejut dan jantungnya kembali berdegup kencang.


“Aku akan mengurus segalanya. Aku akan meminta seseorang untuk bekerja di kediaman Tuan Sebastian sebagai asisten rumah tangga dan tukang kebunnya untuk mengawasi kelakuan Ibu dan anak itu. Aku juga memiliki rencana lainnya yang harus melibatkan Papahmu. Esok kita bicarakan lagi bersama dengan Tuan Sebastian. Aturkan aku untuk bertemu dengannya saat jam makan siang, oke,” ucap Zayn yang sudah menyusun rencana dadakannya, Scarlett tersenyum, ia merasa lega karena suaminya bersedia membantunya.


“Terima kasih, esok aku akan aturkan pertemuanmu dan Papah di jam makan siang. Sekali lagi terima kasih, karena bersedia membantu Papah,” ucap Scarlett lega.


“Jadi, apa yang kudapatkan dari istri mesumku ini setelah aku membantunya menyelesaikan masalah yang membuatnya khawatir dan gelisah.” Zayn mengusapkan jari telunjuknya pada wajah cantik Scarlett, jati itu menuruninya hingga ke pundak dan berakhir pada sebuah benda kenyal yang menjadi area favoritnya selama menikah dengan Scarlett.


“Apa... Apa yang kamu inginkan sebagai balasannya?” tanya Scarlett dengan begitu gugupnya.


Zayn menyeringai, ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu. Dengan jahilnya ia meniup telinga Scarlett membuat Scarlett meremang dan memejamkan matanya.


“Aku ingin keturunan, buka hanya satu, tapi beberapa,” bisik Zayn seketika membuat mata Scarlett yang tadinya terpejam membola dengan sempurna, sungguh ia belum siap untuk mengandung benih dari suaminya itu.


Meskipun ia dan Zayn sudah sering melakukannya, tapi Scarlett masih mencegahnya karena di samping ia masih mempelajari perusahaannya, Scarlett masih trauma akan kejadian Jerry yang mencampakkannya.


Scarlett berpikir, bagaimana jika nanti ketika ia sudah tak menarik lagi setelah melahirkan beberapa anak untuk Zayn, Zayn malah mencampakkannya dan mencari penggantinya yang lebih menarik dari dirinya.


“Apa yang kau khawatirkan?” Zayn malah balik bertanya, ia melihat ketakutan dalam mata Scarlett, bukan ke tidak siapannya.


“Aku... Aku tak mengkhawatirkan apa pun, aku hanya berpikir akan lebih baik ketika aku sudah siap untuk hamil, maka aku akan hamil,” jawab Scarlett terbata-bata.


Zayn meraih dagu Scarlett hingga istrinya itu mengangkat kepalanya yang tertunduk hingga pandangan mereka bertemu.


“Kau bukan mengkhawatirkan masalah perusahaan, tapi kau mengkhawatirkan yang lain. Mungkin kau berpikir aku akan mencampakkanmu kelak ketika aku sudah bosan, seperti mantan kekasihmu yang brengsek itu. Apakah aku benar?”


Scarlett terkejut, ia merasa penuturan Zayn selalu benar tentang apa yang ia pikirkan sehingga ia sempat berpikir apakah memang ia dan suaminya itu memang ditakdirkan berjodoh.


“Wajar jika aku yang pernah dikhianati mengkhawatirkan hal itu terjadi kembali untuk kedua kalinya. Kau tak akan mengerti karena mungkin kau tak pernah mengalaminya. Betapa sakitnya hatiku ketika dicampakkan, bukankah kau menjadi saksi betapa hancurnya aku saat itu? Aku bahkan harus kehilangan sesuatu yang berharga pada malam itu karena hancurnya aku,” dengan penuh emosional Scarlett menggambarkan perasaannya kala itu, Zayn langsung meraih tubuh istrinya dalam pelukannya.


“Aku bukan dia yang brengsek. Seorang pria yang sejati tak akan membiarkan wanitanya menangis. Seorang suami yang mencintai istrinya, tak akan mungkin tak menginginkan keturunan bersama dengan pasangannya. Karena aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu, maka dari itu aku menginginkan keturunan bersama denganmu. Dengan adanya buah hati di antara kita, maka hubungan kita akan semakin kuat dan tak terpisahkan. Aku tak mungkin meninggalkanmu karena melahirkan anak-anakku, aku bukan pria yang begitu bodoh dan brengseknya. Aku pria terhormat yang tak akan mencampakkan wanitanya jika wanitanya setia padanya, percayalah padaku sekali saja oke,” ungkap Zayn dengan perasaan yang pilu karena sakit yang dirasakan oleh wanitanya, ia memeluk erat wanitanya itu agar Scarlett tak merasa sendiri.


“Bersediakah kau menjadi Ibu dari anak-anakku dan Nyonya dari keluarga Cyrus?” tanya Zayn ketika pelukan mereka terurai. Zayn ingin memiliki Scarlett seutuhnya, ia hanya menginginkan Scarlett yang menjadi ibu bagi anak-anaknya.


*****


Bagaimana jawaban Scarlett??? Apakah ia bersedia menjadi Ibu bagi anak-anak Zayn?


**********


Happy reading, maaf yah baru sempat update setelah beberapa hari gak update


Author ingin sedikit curhat nih, kemarin itu gak update karena menunggu pengumuman dari editor apakah cerita author terpilih atau enggak, soalnya di 20bab pertama cerita ini tak terpilih cerita terbaik editor, eh bab 40 pun ternyata author harus menelan saliva dengan pahit karena tak terpilih kembali🤧🤧🤧


Rasanya nyesek sekali, sedih dan gak semangat biat update karena jujurly, dari cerita ini author gak mendapatkan cuan, soalnya gak terpilih oleh editor, rasanya sedih sekali dan berpikir untuk tak melanjutkannya.


Tapi, setelah beberapa hari gak update, eh masih ada ajah yang minta update cerita ini, jadi author putuskan untuk melanjutkannya meski tak mendapatkan apa pun, author harus konsisten dengan cerita yang author buat.


Untuk kalian, please jangan lupa likenya yah setelah membaca cerita ini agar author lebih semangat lagi. Kalau berkenan yah kasih vote dan hadiah juga author qkan sangat ikhlas kok, hehe😁. Rate bintang limanya jangan lupa yah, please jangan kasih rate di bawah bintang 4, karena akan sangat membuat author tak bersemangat🤧


Sekian dari curhatan author malam ini, semoga esok bisa lebih semangat lagi untuk updatenya, selamat malam dan selamat beristirahat yah kalian semua🙏😊🤗