
Scarlett menghela napasnya, ia ingin menolak bantuan suaminya, tapi jujur ia membutuhkannya. Scarlett dibuat galau akan hal sekecil itu, ia terdiam sejenak memikirkan apa yang akan ia putuskan.
(Ribet amat deh kamu Let, begitu ajah pakai galon. Kalau aku nih udah cus gandeng dah tuh Mr. Z lengket-lengket)
“Tak perlu banyak berpikir atau aku akan menggendongmu menuju ruanganmu.”
“Aku akan setuju.” Scarlett langsung setuju begitu mendengar ancaman manis suaminya itu.
Zayn turun terlebih dulu dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Ia mengulurkan tangannya yang langsung diraih oleh Scarlett dengan sedikit canggung. Scarlett takut jika suaminya itu akan nekat menggendongnya seperti yang dikatakan olehnya jika ia tak segera meraih tangan Zayn.
Zayn menggandeng Scarlett dengan mesra berjalan masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi meski tak setinggi gedung ZC Company. Security yang berjaga menyapa kedatangan pasangan yang serasi itu membuat Scarlett salah tingkah. Beberapa mata pegawai lainnya pun ikut melihat kemesraan mereka, ingin rasanya Scarlett menutupi wajahnya itu atau bersembunyi ke tempat yang tak terlihat.
Scarlett bukannya malu karena berjalan bersama dengan suaminya. Siapa yang akan malu jika berjalan dengan pria sukses dan tampan yang menjadi suaminya itu, tentu semua wanita ingin mendapatkan kesempatan tersebut tapi sayangnya mereka tak akan mendapatkannya karena Zayn sudah menjadi milik Scarlett. Scarlett hanya tak terbiasa saja beradegan mesra di depan banyak orang, kecuali dalam keadaan mendesak karena prianya diganggu oleh ulet bulu.
Scarlett bernapas dengan lega karena kini sudah berada di dalam lift, setidaknya hingga ke ruangannya tak akan ada mata yang memperhatikannya. Ia sungguh tak nyaman menjadi pusat perhatian bagi orang.
“Aku akan ke kantor, jika membutuhkan sesuatu minta asisten Papahmu membatumu oke. Atau kau bisa meminta Pak Sugeng mengerjakan pekerjaanmu jika masih terasa sakit. Jam makan siang nanti, hubungi aku,” ucap Zayn setelah mereka sampai di ruangan Scarlett.
“Baiklah, aku akan menghubungimu saat makan siang nanti. Kau hati-hati di jalan.”
Zayn pergi setelah mengecup kepala Scarlett dengan begitu lembut dan mesranya.
Setelah kepergian Zayn, Scarlett memeriksa dokumen yang sudah menunggunya, ia memeriksanya dengan teliti dan serius.
Ketika sedang asyik memeriksanya, ternyata ada beberapa dokumen yang harus membutuhkan tandatangan sang papah.
“Lebih baik aku sendiri saja yang ke ruangan Papah, sudah lama juga aku tak berinteraksi dengannya,” gumam Scarlett yang berencana ingin menemui sang papah.
Ia bangkit dan berjalan perlahan memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit sambil tangan satunya lagi memegang dokumen. Saat di depan pintu ruangan sang papah, Scarlett mendengar Sebastian membicarakan Sarah dengan sekretarisnya. Scarlett mengurungkan niatnya mengetuk pintu dan memilih untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
“Makanan yang diantar oleh Nyonya hari itu, mengandung obat yang bisa melumpuhkan otak secara perlahan, Tuan. Tapi, kandungan obat yang ada dalam makanan tersebut, dalam dosis yang tak terlalu banyak.”
Scarlett terkejut dengan apa yang dilaporkan oleh Lisa, ia bertanya-tanya makanan apa yang diantar oleh Sarah dan untuk siapa. Apakah Ibu tirinya berencana ingin membuat Papahnya lumpuh perlahan dan berada dalam kendalinya. Jika iya, mengapa Sarah Ibu tirinya begitu tega melakukan hal itu pada suaminya sendiri, apa maksud dari perbuatannya itu.
Scarlett tak menunggu jawaban dari Sebastian pada pembicaraan Lisa, ia langsung menerobos masuk dan membuat Sebastian terkejut, begitu juga dengan Lisa.
“Nona Scarlett,” seru Lisa dengan lirih, ia sungguh terkejut dengan kedatangan putri dari Bosnya yang secara tiba-tiba itu, ia takut jika apa yang dikatakan pada Sebastian terdengar olehnya.
“Makanan apa yang diberikan oleh Nenek sihir itu, dan siapa yang diberikan olehnya? Apakah dia memberikan makanan tersebut pada Papah? Katakan sejujurnya padaku, jangan ada lagi yang ditutupi,” tanya Scarlett dengan wajah yang menahan amarah.
*
“Lisa, kau boleh pergi, biar saya yang menjelaskan padanya,” titah Sebastian, ia berencana mengatakan semuanya pada putrinya itu tanpa ada yang harus ditutupinya lagi.
“Baik, Tuan.” Lisa pergi meninggalkan ruangan Sebastian untuk memberikan ruang bagi keduanya bicara dari hati ke hati.
“Karena sudah seperti ini, sepertinya sudah tak ada lagi yang harus papah tutupi darimu. Papah akan mengatakan yang sebenarnya semuanya.”
Sebastian menceritakan dengan detail dan tanpa ditutupi masalah Sarah yang memberinya makanan mengandung obat pelumpuh otak tersebut.
“Kemungkinan, Sarah ingin mengendalikan papah ketika papah sudah tak bisa berbuat apa-apa. Ia ingin menguasai semuanya dan menjadikannya miliknya dan Alia,” ucap Sebastian memberikan kemungkinan yang akan dilakukan oleh Sarah.
“Apakah Papah selama beberapa hari ini memakan masakannya?” tanya Scarlett dengan cemas, perasaannya mulai meluluh karena perbuatan Ibu tirinya yang berencana membuat bahaya papahnya.
“Tidak, papah selalu makan di luar sebelum pulang. Saat di rumah, ketika Sarah memberikan makan malam, papah beralasan untuk makan di dalam ruang kerja karena lembur, dan makanan itu akan papah bungkus dan buang ketika papah berangkat kerja, papah rasa Sarah tak curiga,” sahut Sebastian menjelaskan.
“Apakah ruang kerja Papah tak dipasang CCTV olehnya? Atau semacam kamera tersembunyi, atau juga perekam suara?” tanya Scarlett kembali menanyakan sesuatu yang memungkinkan dilakukan oleh Sarah jika memang wanita tua itu pandai.
“Papah pikir itu tak mungkin, karena ketika papah tak berada diruang kerja, maka ruang kerja itu akan papah kunci dan hanya papah yang pegang kuncinya,’ jawab Sebastian dengan pasti.
Scarlett terlihat menganggukkan kepalanya, ia seakan sedang memikirkan sesuatu.
“Aku akan bicarakan hal ini dengan suamiku nanti di rumah untuk mendiskusikannya. Aku harap Papah bisa melindungi diri selama beberapa hari ke depan dengan baik,” ucap Scarlett, ia berencana menyelamatkan papanya itu dari bahaya yang sedang mengancamnya.
“Kamu tak perlu melakukan hal itu, papah sudah siap jika Sarah ingin menyakiti papah. Lagi pula, mereka tak dapat menyentuh Mutiara Group meski Sarah merencanakan hal keji tersebut.” Sebastian menolak bantuan putrinya, ia tak ingin merepotkan Scarlett karena selama ini ia tak pernah memperhatikan putinya itu, Sebastian merasa tak pantas mendapat perhatian dari putrinya itu mengingat bagaimana sikapnya pada Scarlett.
Scarlett memberanikan memegang tangan Sebastian, terlihat sudah begitu keriput kala ia memperhatikannya.
“Papah tak perlu bersikap sungkan seperti itu, bukankah kita anak dan ayah? Jadi, biarkan aku mencari jalan keluarnya oke,” ucap Scarlett mencoba membujuk Papahnya, Sebastian merasa terharu dengan perlakuan putrinya itu, ia merasa menyesal karena telah menyia-nyiakan putri tersayangnya.
“Baiklah, terserah kamu saja.”
*****
Bagaimana reaksi Zayn ketika Scarlett mengatakan masalah Sebastian? Apakah Zayn bersedia menolongnya atau memberikan solusi terbaik untuk mertuanya itu?