
"AAHHH!"
Alia berteriak kala melihat Sarah tersungkur denga tubuh yang sedikit kejang. Tentu saja semua orang yang berada dirug keluarga itu terkejut, pasalnya yang mereka tahu Sarah tak memiliki riwayat penyakit apa pun. Mereka bertanya-tanya apakah yang terjadi pada Sarah.
"Mamah! Mamah kenapa, Mah, jawab Alia." Alia mendekati Sarah dengan begitu paniknya. "Apakah kalian tak memiliki hati? Mengapa hanya diam saja ketika melihat Mamahku seperti ini? Mengapa tak ada yang memanggil ambulance?" teriak Alia menatap penuh kebencian pada semua orang yang berada di ruangan tersebut karena hanya menyaksikan tanpa berniat menolong.
"Oke, kaena aku cantik dan baik hati, maka aku akan membantumu memanggil ambulance, tak perlu berterima kasih, aku ikhlas kok." Scarlett langsung menghubungi rumah sakit terdekat untuk segera mengirim ambulance secepatnya.
Tak lama ambulance tiba, Sarah langsung dibawa menuju rumah sakit bersama dengan Alia dan BiJum. Sedangkan Scatlett yang penasaran turut serta ikut ke rumah sakit dengan ditemani oleh Zayn dan Sri. Dan Sebastian memilih untuk tetap stay di rumah dengan ditemani oleh Johan.
Sampainya di rumah sakit, Sarah langsung dibawa menuju ruang UGD oleh dokter. Yang lainnya hanya menunggu di depan UGD, Alia terlihat cemas dan khawatir, ia tak hentinya meneteskan air matanya karna takut terjadi sesuatu pada sang Mamah. Bi Jum mencoba menenangkan putri majikannya itu dengan mengatakan kalau Sarah pasti akan baik-baik saja, tapi Scarlett menangkap ada sesuatu yang aneh dari raut wajah Bi Jum.
'Ada yang aneh dengan Bi Jum. Raut wajah itu tak sedang ikut bersedih dan khawatir dengan keadaan majikannya itu. Ada apa sebenarnya dengan Bi Jum?' batin Scarlett merasa aneh, tapi ketika ia mencoba berpikir, pintu UGD terbuka dan seorang dokter yang menangani Sarah keluar, Alia tentu langsung memberondong pertanyaan pada sang dokter.
Sang dokter menghela napasnya berat, "Maaf, Nona, saya harus mengatakan hal ini pada Anda. Ibu Sarah mengalami stroke akibat pelumpuhan sel otak," jawab sang dokter yang seketika bagaikan petir yang menyambar disiang hari, tubuh Alia langsung ambruk terduduk dilantai, tapi sayangnya bagaikan tak ada yang ingin peduli dengannya.
Bi Jum sejenak menyeringai, seringai itu tertangkap basah oleh Scarlett yang menatapnya dengan kening yang berkerut. Scarlett sungguh bingung dengan ekspresi Bi Jum yang terlihat senang dan bahagia atas apa yang menimpa Sarah.
"Nona, bangunlah. Lantainya dingin, takut Nona masuk angin." Bi Jum mencoba menjadi sandaran untuk Alia, hal itu tak lepas dari tatapan Scarlett yang menyelidik, ia benar-benar bagaikan sepeti derektif yang tengah mencari informasi?
"Mamah, Bi, Mamah. Mengapa Mamah bisa jadi seperti ini, Bi," tangis Alia, ia seakan tak mengingat apa yang telah dirinya dan sang Mamah lakuka dan rencanakan pada Sebastian, ia seakan tak berpikir apakah ini karma untuk Sarah karena telah berencana buruk pada sang papah.
"Nona yang sabar, mungkin saja ini teguran dan cobaan untuk Nona dan Nyonya atas apa yang pernah Nona dan Nyonya perbuat." Bi Jum mencoba menenangkan, tapi kalimatnya seakan ia memberikan sindiran keras pada Alia untuk mengingat apa yang telah ia dan ibunya lakukan pada Sebastian.