
Yang sudah membaca CEO BUCIN dan KETIKA BOS DINGIN JATUH CINTA (DEVANO HANORAGA) ada beberapa yang bertanya-tanya tentang cerita Boy
Sebenarnya cerita Boy sudah dirilis di pf sebelah yang berlogo F dengan nama pena Bintang_Biru
nama penanya pakai strip bawah yah, karena ada yang sama dengan nama pena othor disana tapi tanpa strip
Kisah Boy sudah memasuki season 2 yang tak lain adalah cerita antara anak-anak mereka semua
Yang penasaran bisa mampir yah, ini judulnya dan bab 1nya
*****
Gadis Malam sang Pria Tengil
Author: Bintang_Biru
“Hei wanita, kemarilah dan puaskan aku, menarilah di atas tubuhku maka aku akan memberikanmu sejumlah uang yang kau inginkan,” titah seorang pria tampan, dia pemilik resto mewah bintang lima yang sangat terkenal, Boy Arsenio.
Wanita itu berjalan perlahan, meliukkan tubuhnya membuat Boy yang notabenenya adalah seorang cassanova petualang cinta meneguk liurnya. Wanita cantik yang terlihat polos tapi menggoda itu adalah produk baru dari sebuah club malam yang berwajah Cafe gaul tempat nongkrongnya para anak muda yaitu Green Sky.
Green Sky, tempat di mana Boy bersama dengan para sahabatnya sering berkumpul kala mereka masih kuliah hanya sekedar menghabiskan malam untuk bersenang-senang dengan cara minum bersama dan karaoke.
“Aku siap untuk melayani Anda, Tuan,” ucapnya dengan nada sesensual mungkin membuat Boy yang sudah berada dalam puncak hasr*tnya menjadi semakin menggila.
Tak pernah merasa Boy seperti ini sebelumnya, ia sungguh sangat mendamba pada tubuh wanita yang sedang menggoda dirinya itu. Biasanya Boy tak pernah memakai hati saat bersama dengan seorang wanita, tapi kini entah mengapa ia merasa wanita yang akan menjadi lawan mainnya itu memiliki daya tariknya tersendiri membuat Boy seakan ingin memilikinya seutuhnya.
Ah, andai wanita itu bukanlah wanita malam, andai wanita itu masih suci dan bersih, mungkin ia akan membawanya pulang dan meletakkannya disisinya menjadi sugar Babynya dan akan ia penuhi segala kebutuhannya, begitulah yang Boy pikirkan kala sedang menikmati pemandangan indah saat wanita itu tengah melucuti pakaiannya satu persatu menampakkan tubuh indahnya bak gitar Spanyol.
Wanita itu naik ke atas ranjang di mana Boy sudah berbaring sambil kepalanya setengah bersandar pada kepala tempat tidur dengan menggunakan pakaian dalam atas dan bawah karena seluruh pakaian luarnya sudah ia hempaskan ke sembarang arah.
Wanita itu mulai naik ke atas tubuh Boy dan membuka ikat pinggang yang masih melingkar erat pada celana jeansnya. Seletingnya ia turunkan dan isinya ia keluarkan, nampak senjata yang begitu kokoh menyembul dari dalam celana langsung saja ia kulum dengan begitu lihainya hingga membuat Boy meleg*h nik*at.
“Fa*e Baby, rasanya cenat cenut, ah...,” racau Boy sambil meremas rambut wanita itu dan terkadang mendorong kepalanya agar senjatanya lebih masuk lagi ke dalam tenggorokan sang wanita, nampak wanita itu kesulitan dan berkali-kali ia akan mun*ah tapi dengan segera ditahannya.
Boy bangkit dan melepaskan ******* wanita itu dari senjatanya. “Hei wanita, siapa namamu? Kau sepertinya masih baru tapi kemampuanmu terbilang lumayan,” tanya Boy menatap pada wanita yang berada di hadapannya itu.
Boy memainkan rambut Jovanka sambil menatap wajah cantiknya. “Apa yang membuatmu terjun ke dunia malam seperti ini? Apakah karena kau ingin mendapatkan uang dengan cara yang nik*at, hm?” tanya Boy, pertanyaan itu sungguh menusuk ke jantung Jovanka membuat wanita manis itu terdiam menunduk bingung ingin mengatakannya bagaimana.
“Sudahlah, tak perlu kau katakan, aku tak ingin tahu alasanmu bekerja sebagai ja*ang. Kau puaskan aku, maka akan kuberi kau uang yang setimpal.” Boy merebahkan kembali tubuhnya untuk membiarkan Jovanka kembali bekerja.
Jovanka kembali melakukan apa yang menjadi pekerjaannya, ia kembali mengulum kejantanan milik Boy hingga berkali-kali Boy menger*ng nik*at. Boy kembali bangkit, ia mengambil kendali, melepaskan pakaian dalam yang masih melekat pada tubuh Jovanka dan mulai memainkan benda kenyal berjumlah dua milik Jovanka hingga wanita itu mele*uh nik*at dengan malu-malu seperti pertama kali merasakannya.
Luma*an demi luma*an pada ujung benda kenyal tersebut membuat Jovanka menggelinjang hebat bagai tersengat listrik. Boy meninggalkan tanda kepemilikannya dibenda kenyal tersebut, lalu membalik tubuh Jovanka dan mulai mengarahkan pusaka miliknya ke arah milik Jovanka yang sepertinya sudah basah lewat belakang, terasa sulit sekali bagaikan masih tersegel tapi Boy tak peduli itu, hasr*tnya sudah diujung dan harus ia keluarkan racun yang membuat kepalanya cenat cenut itu.
Blesss...
Dengan dua kali sentakan akhirnya pusaka milik Boy masuk ke dalam milik Jovanka, betapa terkejutnya Boy saat tersadar bahwa milik Jovanka ternyata benar-benar masih tersegel.
“Kamu masih pera*an?” tanya Boy yang terdiam sejenak, Jovanka hanya bisa menganggukkan kepalanya dan samar-samar terdengar isakan. “Mengapa tak kau katakan sebelumnya?” tanya Boy kembali, tapi belum mencabut miliknya dan belum juga melanjutkan permainannya, miliknya masih berada di dalam sarang milik Jovanka. Terasa cairan mengalir mengenai pahanya yang ternyata itu adalah darah saat Boy mencolek dan melihatnya.
“Kalau aku katakan, apakah akan ada bedanya? Bukankah semua pria sama saja, hanya menginginkan pelepasan yang memuaskan? Maka, lanjutkanlah, karena kamu membutuhkannya dan aku membutuhkan uang,” sahut Jovanka dengan beberapa pertanyaan.
Tanpa berucap, Boy melanjutkan apa yang diminta oleh Jovanka. Ia memaju mundurkan bokongnya dengan perlahan karena Boy tahu rasanya pasti sangat sakit saat pertama kali. Lama-kelamaan terdengar lirih suara legu*an dari bibir Jovanka, ternyata wanita itu menikmati permainan Boy, Boy tersenyum dan melanjutkannya dengan penuh gair*h sambil tangannya merem*s buah kenyal milik Jovanka membuat legu*an Jovanka tertahan karena malu.
“Mendes*hlah, aku suka mendengar des*hanmu, Baby,” bisik Boy sambil menjilat bagian kuping Jovanka, dan benar saja, saat bagian sensitif itu disentuh maka suara legu*an lirih terdengar dari bibir Jovanka membuat Boy tersenyum.
Lama kelamaan tempo yang dimainkan oleh Boy semakin cepat dan semakin liar, des*han mereka saling bersahutan. Peluh mereka membanjiri tubuh dan menjadi satu padahal AC dikamar hotel tersebut sangat dingin. Beruntung kasur yang mereka gunakan bukanlah kasur yang sering digunakan orang jaman dulu yang bergerak sedikit saja terdengar deritnya.
“Arghhh... Yes Baby...,” er*ngan Boy terdengar menggema di dalam kamar hotel tersebut karena pelepasan nik*atnya, tubuhnya ambruk sambil membawa dan memeluk Jovanka, matanya terlelap setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, Jovanka mau tak mau ikut terlelap karena ia tak bisa pergi sebab Boy tak melepaskannya dan juga kunci pintunya sengaja disimpan oleh Boy.
Tak terasa mereka tertidur hingga menjelang pagi, pagi harinya Boy membuka matanya masih memeluk tubuh polos Jovanka. Perlahan ia melepaskannya, tapi si*lnya tangan Jovanka malah menyentuh senjata miliknya tanpa sengaja membuatnya terbangun tegak meminta pertempuran pagi yang pastinya akan membuat mereka lelah.
“S*iittt...,” cebik Boy, tak ada pilihan lain, Boy memilih untuk memasukkannya ke milik Jovanka lewat belakang.
“Egh...,” leg*han Jovanka terdengar kala milik Boy memasuki miliknya, perlahan Boy menggoyangkan pinggulnya, perlahan pula de*ahan Jovanka terdengar tanpa bisa ditahannya.
Happy reading🙏😊🤗