
Sore itu Sebastian pulang ke kediamannya dengan membawa dua anak buah Zayn yang tadi diberi perintah untuk menjadi asisten rumah tangga dah tukang kebunnya.
Saat tiba di rumah, Sarah terkejut melihat dua orang yang dibawa oleh suaminya, ia langsung menghampirinya dan menatap keduanya dengan penuh selidik.
"Siapa dia, Pah?" tanya Sarah yang penasaran.
"Dia adalah orang yang menolong papah dari pencopet yang hampir mencuri berkas penting berisi tender milyaran tadi sewaktu pulang. Karena mereka tak ingin diberi uang, maka papah bawa mereka pulang untuk diberi pekerjaan sesuai permintaan mereka. Mereka ini pasangan suami istri," jelas Sebastian beralibi seperti yang dipinta oleh Zayn.
*
"Anda katakan saja pada istri Anda, jika dua orang ini adalah orang yang menolong Anda dari bahaya atau apalah dan tak ingi diberi upah melainkan menginginkan pekerjaan karena tak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan. Usahakan agar istri Anda tak curiga dan buat dia percaya sepenuhnya pada Anda. Dengan begitu, nantinya semua yang terjadi di rumah Anda, mereka berdua bisa menanganinya. Katakan saja pada istri Anda kalau mereka pasangan suami istri, beri mereka kamar bersama, mereka pasti tak akan keberatan karena mereka orang-orangku yang profesional," ucap Zayn ketika membicarakan rencana yang akan dijalankan Sebastian nantinya.
*
"Oh begitu, tapi bagaimana dengan Bi Jum? Kan di rumah sudah ada dia yang membereskan semuanya?" tanya Sarah kembali.
Sebastian berjalan merangkul Sarah mengajaknya duduk di sofa.
"Bi Jum sudah tua, jangan membebani banyak pekerjaan padanya. Biarkan Bi Jum hanya membantumu memasak saja, pekerjaan lainnya biar dikerjakan oleh Sri dan di kebun dikerjakan oleh Johan," jawab Sebastian memberikan jalan keluar.
"Baiklah, karna Papah yang memintanya, aku akan setuju. Kalau begitu, Papah mandilah, aku akan siapkan makan malam."
"Baiklah, papah akan ke kamar dulu, kamu juga tolong tunjukkan kamar untuk mereka yah dan juga ajak Sri untuk membantumu di dapur." Sebastian bangkit dari duduknya hendak menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
"Papah tenang saja, aku akan atur semuanya."
Setelah Sebastian pergi, Sarah menghampiri kedua orang suruhan Zayn dan menatapnya dari atas sampai bawah bergantian.
"Kalian benar pasangan suami istri?" tanya Sarah sekali lagi penuh selidik.
"Benar, Nyonya. Kami baru menikah beberapa bulan lalu dan memutuskan untuk merantau, tapi ternyata nasib tak berpihak pada kami. Beruntung kami bertemu Tuan Sebastian yang bersedia membawa kami pulang dan memberikan kami pekerjaan. Kami sangat berhutang budi padanya," sahut si pria yang disebut namanya Johan oleh Sebastian.
"Suamiku memang pria yang terlalu baik. Baiklah, ikut saya menuju kamar kalian." Sarah pergi menuju ruang belakang untuk menunjukkan di mana kamar untuk anak buah Zayn.
"Ini kamar kalian, saya harap kalian bekerja yang rajin. Akan ada satu asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sini lama, saya harap kamu bisa membantunya, Sri," ucap Sarah.
"Saya akan bekerja semampu saya dan semaksimal mungkin, Nyonya," sahut wanita yang dipanggil Sri.
"Boleh saya membantu, Nyonya?" tanya Sri menawarkan diri.
"Baiklah, tapi jangan banyak bertanya dan harus menurut."
Sri mengikuti Sarah menuju dapur, sedangkan Johan melihat keadaan sekitar untuk menyusun rencana pemasangan kamera tersembunyi.
Sarah mulai meracik makanan untuk dimasak, mulai dari memotong, mencuci hingga memasak, Sarah melakukannya dengan cekatan karena memang biasanya ia yang mengerjakannya dibantu oleh Bi Jum.
Namun saat ini ada Sri yang membantunya, jadi Sarah membiarkan Bi Jum untuk istirahat.
"Tolong kamu tata semua makanan di atas meja, biar saya yang siapkan piringnya," titah Sarah.
"Baik, Nyonya."
Sri menuruti apa yang diperintahkan oleh Sarah, tapi matanya tak lepas dari penagwasannya pada Sarah. Pada saat perhatiannya teralihkan tadi, Sri sempat menaruh kamera micro di tempat yang tak terlihat tapi mencakup seluruh ruangan sudut dapur.
[Wanita itu memberikan obatnya pada piring, jadi semua makanan yang dimasaknya aman. Kamu harus mencari kesempatan untuk menukar piring yang akan digunakan oleh Tuan Sebastian] ucap Johan dari balik earphone yang ternyata sudah terpasang di telinga Sri sedari tadi.
Kamera micro yang dipasang oleh Sri, ternyata langsung terhubung pada laptop yang sedang dipantau oleh Johan melalui kamarnya.
"Baik," jawab Sri dengan berbisik.
Tak lama Sarah datang menata piring di meja.
"Kamu bisa makan bersama dengan suamimu diruang belakang, saya sudah pisahkan untuk kalian di meja dapur, jangan lupa ajak Bi Jum sekalian makan. Saya mau panggil suami saya untuk makan malam," titah Sarah tanpa menaruh curiga sedikitpun pada Sri.
"Baik, Nyonya." Sri berpura-pura pergi ke dapur, setelah Sarah pergi, Sri langsung bergegas menukar piring yang akan digunakan oleh Sebastian dengan piring yang baru, dan piring itu langsung ia cuci dan lap hingga kering agar tak ada yang curiga, setelahnya Sri benar-benar pergi ke belakang untuk menghampiri Johan untuk terus memperhatikan apa yang terjadi.
Hingga saat Sarah, Sebastian dan Alia tiba di meja makan dan menikmati makanan mereka hingga selesai, Johan dan Sri masih terus memperhatikan mereka. Semuanya berjalan dengan lancar, senyum di wajah Sarah terus terkembang karena berpikir segala rencananya berjalan dengan lancar tanpa ia tahu kalau semuanya tak akan berjalan dengan alurnya. Ketika semuanya sudah selesai, keduanya baru bergegas untuk makan dan tak lupa mengajak Bi Jum juga untuk makan.
*****
Happy reading, aku update lagi nih kak, jangan lupa like, komen positif dan hadiahnya yah🙏😊🤗