MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
MENUNTUT NAFKAH BATIN



Ku masuki halaman rumah berlantai dua yang cukup luas. Netraku beredar dari rumah tinggi itu hingga bagian taman kecilnya yang di dominasi dengan bunga mawar dan angrek. Cukup indah dan terawat. Apakah ibu mertuaku sendiri yang merawat semua tanaman ini. Mungkin saja! ternyata orangnya telaten juga.


"Dek!" panggil mas Bagas membuatku tersentak.


"Eh, iya mas!" sahutku geragapan. Aku terlalu terkesima dengan rumah ini.


"Ayo masuk!" Pria itu menarik pergelangan tanganku menaiki anak tangga menuju pintu utama rumah yang berada dilantai dua.


Perlahan pintu yang tingginya sekitar dua meter lebih itu terbuka kedalam. Netraku tidak hentinya berdacak kagum dengan perabotan dirumah itu. Semua begitu unik dengan dominasi hasil ukir ukiran dari kayu jati.


Namun, kenapa tidak ada ibu ataupun wanita yang bersama mas Bagas tadi. Rumah nampak begitu sepi dan hening.


"Mas!" ucapku meraih pergelangan tangan mas Bagas yang sedari tadi menuntunku.


Pria itu menoleh ke arahku, "Ibu dimana?" tanyaku perlahan. Sepanjang aku menyusuri rumah ini tidak ku temukan sosok mertuaku.


"Oh, ibu lagi istirahat dek. Kecapean katanya."


Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan perihal bayi dalam gendongan mas Bagas dan juga wanita asing yang membersamainya tadi. Tapi sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk ku mengutarakan semuanya kepada mas Bagas. Bisa-bisa dia kembali marah kepadaku seperti hari kemarin.


Lebih baik saat ini aku menuruti saja kemauan mas Bagas. Mengekorinya menuju kamar dan beristirahat.


****_____****


"Pa, pa, pa, pa,"


Suara celotehan bayi itu mendengung kedalam Indra pendengaranku. Seperti mimpi namun bukan mimpi.


"Pa, pa, pa, pa."


Suara itu kembali terulang. Namun justru mataku terasa begitu berat untuk terbuka.


'Ayo bangun Reza, kamu bukan sedang di rumahmu sendiri,'


Deg!


Aku tergagap bangun dengan nafas tersengal. Netraku membulat dengan jantung yang berdebar.


"Huf," aku meniup kecil dari bibirku.


Sepertinya aku telah bermimpi. Padahal baru saja aku mendengar celotehan bayi itu memanggil mas Bagas dengan sebutan papa.


Ku jatuhkan pandanganku pada mas Bagas yang masih terlelap di sampingku. Dengkuran halus dari nafasnya masih bisa ku dengar jelas.


"Mas, maafkan aku selalu mencurigaimu." ucapku mengecup kening mas Bagas.


Setelah selesai mandi, aku menuruni anak tangga menuju lantai Dasar. Kulihat ibu mertuaku sedang asyik bermain dengan bayi laki-laki yang mulai berjalan kearahnya. Namun, lagi-lagi bayi itu terjatuh karena kakinya belum cukup kuat untuk menopang tubuhnya.


"Bu!" Panggilku membuat wanita itu segera menoleh kepadaku. Kuraih tanganya dan mengecup punggung tangan yang di penuhi keriput itu dengan takzim.


Wajahnya datar, seperti sedang mengacuhkan ku. Dia justru kembali bermain bersama bocah kecil itu seolah sengaja mengabaikan ku. Apakah ibu mas Bagas benar-benar sakit hati kepadaku?


"Bu! Ini Reza bawakan oleh-oleh siapa tau ibu suka." ucapku menyodorkan dua setel baju kepada ibu mertuaku.


"Terimakasih banyak." Jawabannya menerima bungkusan baju dariku. kemudian berpaling kembali.


Aku mendengus kasar'. Dadaku terasa sesak bagaikan di timpa oleh benda berat yang membuat tenggorokanku seperti tercekik.


"Yas!" teriak ibu memanggil nama seseorang yang tidak asing bagiku.


'Yas? Apa itu Yasmin yang mas Bagas ceritakan tempo hari kepadaku.'


Sosok wanita dengan gamis coklat berjalan ke arah ibu. Wajahnya tidak begitu cantik dengan kulit sawo matang. Dengan hidung yang sedikit pesek serta bibirnya yang sedikit tebal. Jauh jika dibandingkan denganku yang memiliki pasar cantik dan kulit putih bagaikan pualam.


"Iya Bu!"


"Bikini ibu teh Yas, ibu mau istirahat." titah ibu kepada Yasmin.


Sepertinya benar kata mas Bagas, Yasmin hanyalah orang suruhannya untuk merawat ibu. Lalu untuk apa aku mencurigainya. Bodoh.


"Dek, ngapain?"


Suara mas Bagas membuatku mengalihkan pandanganku pada pria dengan baju santai yang sedang berdiri dianak tangga.


"Yas, buruan ibu tunggu dikamar!"


Ucap ibu memotong ucapan ku. Wanita itu segera mengendong bayi itu dan membawanya masuk kedalam kamarnya.


Sementara wanita yang bernama Yasmin itu pun bergegas menuju dapur. Sementara aku, masih terus mencoba menetralkan rasa yang semakin meremukkan hatiku.


Aku berjalan gontai menaiki anak tangga menghampiri mas Bagas. Kulihat wajah pria itu seolah mengerti bagaimana perasaanku. Mas Bagas menarik tubuhku kedalam pelukannya kemudian menuntunku menuju kamar.


"Duduklah Disini, nanti aku antar sarapanmu kesini. Ngak usah di ambil hati. Ibu hanya belum terbiasa!" ucap mas Bagas seraya meninggalkanku. Pria itu menjatuhkan kecupannya pada pucuk keningku sebelum ia benar-benar berlalu.


'Belum terbiasa katanya, belum terbiasa bagaimana maksudnya.' Rutukku kesal.


Setelah selesai sarapan, aku menghampiri mas Bagas yang sedang sibuk dengan gawainya di teras lantai atas.


"Mas!" ucapku manja menjatuhkan tubuhku pada sofa didekat mas Bagas. Tanganku kian bergelayut melingkar pada lengan kekarnya.


"Hem," sahutnya meletakan gawaynya diatas meja.


"Rumah mas bagus ya, mobil mas juga bagus. Aku," jiwa matrealitisku kian meronta melihat kenikmatan yang berada disini.


"Dek, ini bukan rumah mas. Ini rumah ibu dan mobil itu milik Yasmin dek!" Mas Bagas memotong ucapanku.


Seketika aku menelan Slavina dengan bibirku yang mengerucut.


"Nantilah dek, kalau mas udah punya uang. Kita bikin yang seperti ini!" Imbuhnya mengusap pucuk rambutku yang bersandar pada pundaknya.


Aku mendengus kasar, lagi-lagi mas Bagas cuma memberikanku janji dan janji.


"Lalu Yasmin itu siapa?" Tanyaku mengangkat wajahku dari bahu mas Bagas. Pria itu sendikit tersentak, urat wajahnya terlihat sedikit menegang.


"Yasmin, kan mas udah pernah bilang dek. Dia yang jagain ibu selama mas ngak ada disini."


"Lalu bayi itu?" cercaku dengan tatapan menyelidik.


"Oh, itu namanya Aksa. Dia itu anaknya Yasmin."


"Terus suaminya Yasmin?"


"Dek, kamu ini tanyanya banyak banget sih!" sahut mas Bagas dengan nada yang sedikit meninggi.


Aku sengaja tak bergeming, ku tatap tajam wajah mas Bagas hingga pria itu terlihat kikuk.


"Suami Yasmin berkerja diluar kota. Setiap bulan dia akan pulang untuk menjenguk Yasmin dan Aksa." Sahut mas Bagas kesal. Pria itu beranjak dari tempat duduknya meninggalkanku.


Aku mengaguk mengerti, tenyata tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Aku tersenyum kemenangan dengan hati yang berbunga-bunga.


___***___


"Mas, mas ngak kangen sama aku?" tanyaku pada mas Bagas yang tengah berbaring memelukku.


"Kangen lah dek!"


"Mas udah dua Minggu lebih ngak ngasih aku nafkah batin loh, emang mas ngak kepengen ya? Harusnya kan ini masa-masa indah kita." Protesku.


Sejenak pria yang mengusap lembut rambutku itu terhenti. Jantungnya terdengar berdebar kencang. Entah apa yang ada dalam pikirannya mas Bagas saat ini.


"Masak hal seperti itu aku harus memintanya sih!" Imbuhku dengan nada kesal.


"Iya dek, maafkan mas. Tar ngak gitu lagi deh. Sekarang adek pasti lagi capek. Bobok dulu yuk!" titah mas Bagas mematikan lampu utama kamar. Hanya tersisa lampu tidur yang temaram.


"Tapi besok pagi kasih ya," pintaku dengan nada manja.


"He,um!"


"Janji?"


"iya dek!"


Bersambung .....