
Hari ini mas Bagas sedang pergi bersama teman sekolahnya dulu. Seharian mengurung diri didalam kamar ini terasa begitu membosankan.
Ku putuskan untuk berjalan-jalan melihat lihat rumah yang ibu mas Bagas tempati ini. Menurutku rumah ini cukup mewah dan terawat. Sepertinya Yasmin benar-benar merangkap jadi pembantu disini. Selain menjaga ibu wanita berkulit sawo matang itu juga rajin membersihkan rumah. Mungkin sebagian tanda balas budi sebagai biaya ganti tinggal gratis dirumah ini.
Namun, rumah ini sering sekali sepi. Hanya ada ibu dan Aska. Kata mas Bagas setiap pagi hingga petang Yasmin baru akan kembali kerumah setelah berjualan baju.
Ah, ternyata dia hanya jualan baju saja toh. Mana mungkin mas Bagas akan tergoda. Aku kan tau betul selera mas Bagas. Wanita yang sepadan dengannya tentunya. Berpendidikan dan memiliki title. Dia itu tidak akan berminat dengan wanita yang ecek ecek apalagi dengan tampang Yasmin yang b aja alias biasa aja. Pikiran itu membuat mengembang senyum kemenangan dalam hatiku.
Aku sengaja hanya berjalan-jalan di lantai atas. Jika saja aku turun kebawah aku takut jika bertemu ibu dan Wanita itu akan memasang wajah masamnya lagi kepadaku. Dasar orang tua aneh tidak tau berterimakasih sudah memiliki menantu seperti aku. Sudah cantik pegawai negeri pisan. huh!
Aku masih berdiri di samping jendela kaca menatap ke arah luar jendela. Seorang pria tengah sibuk membersihkan kolam renang yang berada dibelakang rumah mas Bagas. Pria itu masih terlihat sangat muda, sepertinya baru kali ini aku melihat pria itu berada di sini. Atau gara-gara mas Bagas yang memintaku untuk terus tinggal didalam kamar sampai aku tidak mengetahui siapa saja yang tinggal di rumah ini.
Tatapanku terhenti pada sebuah tanggal yang berdiri disamping teras kamar yang terletak disudut ruangan lantai atas.
"Ngapain ada tangga disitu." gumanku penasaran.
Sepertinya tangga itu berada tepat di depan jendela kamar Yasmine.
'mas Bagas.'
Terkaan buruk kembali memenuhi otakku. Apa mas Bagas naik Melalui tangga itu semalam?
Aku bergegas menuju kamar yang berhubungan langsung dengan kamar Yasmine, yaitu kamar yang terletak pada sudut ruangan lantai atas.
Dadaku bergemuruh, jika saja benar pria yang bersama Yasmine semalam adalah mas Bagas lihat saja akan aku hajar habis-habisan wanita murahan itu. Tidak Sudi aku melepaskan mas Bagas untuknya. Bisa-bisa dia keenakan jika aku mundur. Karena sesuatu yang telah menjadi miliku selamanya adalah miliku.
Hanya ada sebuah kasur dan satu lemari yang berada didalam kamar ini. Sepertinya masih kosong. Aku terus berjalan menuju balkon. Ku amati dari pagar pembatas teras tangga itu mudah sekali untuk dinaiki dan langsung tertuju pada depan jendela kamar Yasmin. Aku pun sengaja mencobanya meskipun tidak sampai bawah.
"Ibu?"
Aku terkesiap, hampir saja aku jatuh dari tangga darurat itu. Pria yang sedari tadi membersihkan kolam itu membuat ku terkejut. Karena telah berdiri di pembatas pagar balkon manatapku kebawah.
Aku segera naik dan membenarkan posisiku. Terlihat wajah pria itu menahan tawa melihat ulahku yang memanjat pagar pembatas.
'Reza, Reza ngapain sih kamu malu-maluin aja!'
Ku pasang wajah sedatar mungkin. Kebenaran celana jeans yang kukenal serta kaos santaiku yang lusuh Karena debu.
"Siapa kamu?" tanyaku dengan nada ketus.
"Saya supir disini Bu!" Ucap pria muda itu dengan menahan tawa.
"Supir?" Sahutku membelalak.
'Sejak kapan mas Bagas punya supir.' aku terdiam mengamati pria yang terlihat menormalkan gimik diwajahnya. Sepertinya dia takut juga melihatku memasang wajah garang.
"Sebentar Bu, yang bayar saya buka pak Bagas. Tapi Bu Yasmine."
'Kaya paranormal saja tau isi hatiku.'
"Yasmin, tukang jualan baju itu mampu membayar kamu?" celetukku menggeleng.
'Banyak juga itu duit si Yasmin ini.'
Aku beranjak pergi, namun ingatanku kembali teringat dengan tangga di samping kamar ini.
"Oh iya, sejak kapan kamu tinggal disini? Dari kemarin aku disini tidak pernah melihat kamu?" tanyaku sambil menoleh kepada pria muda dengan kumis tipis itu.
Fix, berati pria inilah yang berada dikamar Yasmin malam itu. Pasti Yasmin sengaja membawa pria ini kerumah mas Bagas agar mempermudah untuknya berselingkuh. Dasar murahan. Mana ada tukang jualan baju bisa bayar supir. Ngayal aja!
Awas saja nanti akan aku laporkan sama mas Bagas. Biar si Yasmine itu diusir dari rumah ini sama selingkuhannya sekalian.
****____*****
Mas Bagas tengah sibuk menyesap rokok yang terselip diantara jemarinya. Kemudian meniupkan kepulan tembakau itu hingga mengudara.
Netranya masih berfokus pada layar laptop yang berada di depannya.
"Dek lusa kita harus balik ke Bojonegoro loh ya!" ucapnya tanpa menoleh ke arahku yang sedang sibuk dengan gawaiku.
"Loh mas, kan masih dua hari lagi liburnya." sahutku mengalihkan pandanganku kepada mas Bagas.
"Iya mas tau, cuma mas ada acara di Bojonegoro hari Sabtu Minggu. Jadi kita harus segera balik." imbuhnya melirik ke arahku.
"Padahal aku sama sekali belum ngobrol sama ibu loh mas. Aku kan!" ucapku dengan suara parau namun mas Bagas sudah lebih dulu memotong ucapanku.
"Udahlah Dek, ibu memang seperti itu. Maklum lah ibu sudah tua. Biasanya kalau orang sudah tua memang suka seperti anak kecil."
"Tapi perasaan dulu ibu tidak begitu loh mas, mas ingat ngak waktu aku dulu masih kuliah kan suka main kesini. Sampai aku masih menjadi guru honorer juga ibu mas masih baik banget sama aku. Apa gara-gara..."
"Udah deh, ngak udah kebanyakan souzhon. Kebanyakan dari prasangka itu selalu buruk!"
'Ah, malah mas Bagas jadi ceramah. Bikin nyut-nyutan kepalaku saja.'
"Eh mas, tadi kamu tau ngak pria yang tidur dikamar sebelah?" ceritaku penuh antusias.
"Oh, si Dimas."
"Oh namanya Dimas to. Sampai aku tadi lupa menanyakan namanya." Sahutku meringis.
"Memangnya kenapa dek?" tanya mas Bagas yang telah menutup laptopnya kembali.
"Aku sudah tau siapa yang malam itu bersama Yasmin!"
"Maksudmu?" Wajah mas Bagas terlihat berkeringat. Pria itu mengusap peluh yang membasahi pelipisnya.
"Iya yang aku ceritakan sama mas kemarin. Ternyata yang bersama Yasmin malam itu adalah Dimas si supir baru itu!" celetukku.
"Ah dek, dek kamu ini mengagetkan mas aja!" sahut mas Bagas mendengus halus.
"Loh, emang mas udah tau kalau Yasmin itu pacaran sama supirnya?" sahutku heran.
Kutatap lekat wajah mas Bagas yang menampakan raut biasa saja.
"Iya, mas udah tau kok!" jawab mas Bagas santai.
"Lah, kok dibiarin aja sih mas. Kan Yasmin udah punya suami, terus mereka itu sudah berzina loh mas dirumah ini." cerocosku gemas dengan tingkah si Yasmin itu.
"Ngapain sih dek kamu ngurusin si Yasmin. Mending kamu ngurusin mas aja deh!" Mas Bagas menarik tubuhku dalam gendongannya menuju pembaringan. terukir senyuman mengoda dari sudut bibirnya.
'Ah mas Bagas ini, kenapa mintanya saat aku lagi sebel kaya gini sih!'
Bersambung .....