MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
RENCANA LAMARAN JODOH KE DUA



"Maksud kamu?" Ibu membulatkan netranya menatapku.


"Bagas hanya mau menikah siri dengan gadis pilihan ibu!" Ucapku lantang.


Ibu terlihat diam dan terlihat berfikir. Matanya manatap tajam ke arahku yang duduk dihadapannya.


"Kenapa harus menikah siri? Apakah kamu masih mengharapkan Reza?" Selidiknya.


"Ibu, Bagas sangat mencintai Reza ibu, sampai kapanpun Bagas akan menunggu Reza sampai dia mau menjadi istri Bagas, Bu." ceritaku terdengar pilu.


Ibu mendengus halus. Wanita itu terus memilin jari jemarinya seraya berfikir. Netranya tidak berhenti mengawasi ku yang tertunduk lesu.


"Lalu bagaimana jika Reza tidak juga diangkat menjadi PNS seperti keinginannya?" nada suara ibu terdengar begitu dingin, mungkin sebenarnya dia ingin sekali marah kepadaku. Namun, karena aku adalah anak satu-satunya beliau, niatan itu sepertinya ia urungkan.


"Jika selama lima tahun Reza belum juga diangkat menjadi PNS, Bagas rela dan akan meninggalkannya. Kemudian menikahi gadis pilihan ibu itu secara negara." sahutku parau.


Rasanya berat sekali mengeluarkan kalimat-kalimat itu, terbesit bayangan buruk yang menari-nari dalam benakku. Bagaimana jika memang Reza gagal menjadi PNS. Maka aku akan benar-benar kehilangan gadis manja itu. Dan harus menikahi gadis pilihan ibu secara resmi.


"Baiklah, ibu setuju. Ibu pegang omonganmu!" sahut ibu seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Tapi Bu!"


Ucapku mengentikan langkah kaki ibu, wanita itu dengan cepat menoleh ke arahku. "Tapi jika sebelum lima tahun Reza telah resmi menjadi pegawai negeri, gadis pilihan ibu harus siap jika aku madu." kutatap wajah' ibu. Wanita itu mengeryitkan dahinya seraya memandangku.


"Kita lihat saja nanti Bagas," ucap ibu seperti sedang mengancamku, kemudian berlalu meninggalkanku.


"Huf!" Aku meniup kecil dari bibirku, rasanya seperti sedang melakukan sidang dengan seorang hakim saja. Begitu menegangkan.


Ku remas kedua tanganku yang saling beradu. Hatiku terus berdoa, semoga reza segera diangkat untuk menjadi pegawai negeri. Sementara rumah impian Reza, semoga aku bisa segera mewujudkannya.


****_____******


Dreg! Dreg! Dreg!


Sedari tadi ponsel dalam saku celanaku terus saja bergetar. Sengaja aku belum melihat siapa yang meneleponku, karena aku masih sangat sibuk sekali menyisir hutan di wilayahku yang sepertinya ada beberapa pohon yang telah hilang dicuri.


Ku berhentikan motor trail ku di bawah pohon jati besar. Lumayan, aku bisa berteduh sebentar untuk menjawab panggilan yang masuk di ponselku.


Kuraih benda pipih yang telah berhenti bergetar itu. Ku usap lembut layar benda pipih itu dengan satu sentuhan.


[5 panggilan tak terjawab, ibu] tulis pada layar ponselku.


Aku mengernyitkan dahi, tak biasanya ibu menelponku sebanyak ini.


Segara aku hubungi kembali nomor ibu, memastikan bahwa beliau dalam keadaan baik-baik saja.


Tut! Tut! Tut!


Bunyi nada sambung ibu.


"Halo, asalamualaikum, Bagas." ucap ibu dibalik telepon dengan suara nyaring.


"Wa Alaikum salam, tadi ibu telepon ya?"


"Iya Bagas, kamu lagi sibuk ngak?"


'Ah, ibu kalau Bagas telepon berarti Bagas sedang tidak sibuk lah Bu!'


"Ngak Bu!" sahutku singkat.


"Lusa kamu bisa pulang ngak?"


'Lusa, bukannya lusa baru hari Kamis,' batinku.


"Memang ada apa sih Bu? Kan lusa baru hari Kamis!" selorohku.


"Iya ibu tau Bagas, cuma hari Kamis nanti kita mau kerumah calon istri kamu. Masa iya kamu ngak datang?" Ibu mulai menaikan nada suaranya.


Deg!


Tubuhku terasa lemas, tenyata ibu benar-benar akan menjodohkanku dengan gadis pilihannya. Aku kira ibu tidak akan setuju' dengan segala persyaratanku itu. Ternyata malah sebaliknya.


"Bagas, kok diam sih?"


"Iya Bu! Bagas masih disini." Sahutku parau.


"Bi-bisa ibu. Bagas usahakan." sahutku terbata.


"Jangan diusahakan, tapi harus. Ibu sudah telanjur membuat janji dengan paman calon istrimu. Kalau sampai kamu tidak datang bisa malu ibu." Cerocos ibu memekikan pendengaranku.


Setelah ini suara ibu berganti dengan suara khas panggilan yang ditutup.


Tut! Tut! Tut!


'Ibu, ibu, lagi lagi dirimu tidak mau mendengarkan ucapanku.' rutukku kembali memasukan benda pipih itu kedalam saku celanaku.


Ku benamkan wajahku pada setir motor trailku, otakku sudah tidak bisa berfikir lagi. Aku benar-benar merasa stres dengan ide-ide konyol ibuku. Mungkin setelah ini akan ada hati yang harus tersiksa karena harus menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak mencintainya, yaitu calon istriku.


____*******________


Reza berlari menghampiriku di bangku alun-alun. Wajahnya terlihat sumringah, sepertinya ada sesuatu hal yang sedang membuatnya berbahagia.


Gadis itu berjalan dengan rambut hitamnya yang berkibar karena terpaan semilir angin. Bibir tipisnya menyungingkan senyuman manis hingga menampakkan gigi gingsulnya.


'Duh, dek Reza aku meleleh karena mu!' gumanku dalam hati, aku sengaja tidak mengungkapkannya, takut jika Reza samakin besar kepala dan merasa sok kecantikan.


Reza menjatuhkan bokongnya duduk di sebelahku. Matanya menatap sendu kepadaku dengan ulasan senyuman.


"Ada apa sih dek, senyum-senyum terus itu?" tanyaku keheranan melihat tingkahnya.


"Mas mau tau ngak, ada berita bahagia untuk kita!" Ucapnya penuh semangat.


"Ada apa sih, dek!" sahutku tak kalah antusias. Penasaran dengan apa yang sudah membuat Reza terlihat berbunga-bunga.


"Akhir tahun ini bakalan dibuka lagi tes CPNS, mas! Aku udah nggak sabar pengen segera diangkat menjadi pegawai negeri. Setelah itu kita harus segera menikah ya, mas." beo Reza membuat hatiku nyeri.


'Dek, kenapa tidak sekarang aja sih dek. Andaikan kamu tau, karena ambisimu itu mas harus menghianati cinta kita.'


"Mas, kok bengong sih!" Reza menepuk bahuku.


"Hehe, iya dek!" sahutku tersadar.


'Lama-lama semua ini bisa membuatku menjadi gila beneran." Batinku seraya memijat keningku yang tidak terasa pusing.


"Mas seneng kan?" tanya Reza penuh binar.


"Iya tentu dong dek, mas seneng banget. Mas doakan adek bisa secepatnya diangkat menjadi pegawai negeri." Ucapku menghentikan pijatanku. Berganti dengan senyuman palsu bahagia.


"Oh iya, mas juga jangan lupa ya?"


'Apalagi sih dek maksud kamu itu!'


"Lupa apa sayang!" Ku usap lembut kepala Reza yang sedang bergelayut di bahuku.


"Mas jadikan bikinin adek rumah!" ucap Reza manja.


Aku menarik nafas panjang, dadaku terasa semakin sesak. Andai kamu tidak secantik bidadari, aku tidak akan mau menuruti kemauanmu itu, dek.


"Mas! Kok diem? Nikahnya nggak jadi nih?" Ancam Reza mendongakan wajahnya menatapku penuh acaman.


"Eh, eh, iya jadi dong sayang! Pasti itu. Pasti mas segera buatkan rumah untuk adek!" sahutku cepat. Takut jika Reza akan merujuk kepadaku.


"Nak gitu dong, kan aku jadi semakin sayang sama mas Bagas!"


cup!


Reza mengecup lembut pipiku. membuat hatiku yang tadinya gundah gulana kembali melayang ke awang-awang.


'Kapan sih dek kita menikah, aku sudah sangat merindukan malam-malam penuh cinta bersamamu.'


"Mas, kok bengong! mas ngak mau pulang?" tanya Reza membuatku tergeragap dari lamunanku.


'Sial, ciuman tadi ternyata cuma haluku saja.'


ku remas rambut klimisku kesal. "Iya dek, tunggu mas!" Teriakku memangil yang Reza telah berlalu jauh meninggalkanku.


Bersambung ....