
"Dek, sarapanmu udah aku taruh disitu ya!"
Suara mas Bagas terdengar masuk kedalam telingaku. Netraku yang masih lengket perlahan ku buka paksa. Manangkap sosok pria yang tengah sibuk mengenakan sepatunya di tepi ranjang.
"Mau kemana sih mas pagi-pagi begini?" Tanyaku malas dengan mengusap lembut kedua netraku yang masih berkabut.
"Aska badannya panas dek dari semalam. Jadi mas harus segera bawa ke rumah sakit." sahutnya terburu-buru.
"Aska!" sahutku bangkit duduk diatas ranjang dengan pandangan yang semakin jelas melihat mas Bagas.
"Tapi kan mas ...."
Ucapku terhenti ketika teriakan ibu dari lantai bawah mengema memanggil nama mas Bagas.
"Nanti saja ya dek, mas buru-buru!" sahut mas Bagas berlalu secepat kilat meninggalkanku sendirian di kamar.
"Ah!"
Aku mendengus kasar melihat kepergian mas Bagas keluar dari kamar. Ku banting kasar tubuhku diatas kasur. Rasa kesal memenuhi dadaku. Tidak pernah ku bayangkan kalau aku bagaikan orang yang tidak di anggap dirumah ini.
Aku bergegas menuruni rajang menuju pada teras diluar kamar. Bisa kulihat dengan jelas kepanikan mas Bagas dan juga ibu yang berjalan menuju mobil yang telah terparkir dihalaman. Sementara wanita dengan kerudung coklat itu sesekali nampak menghapus air matanya.
Kulihat mereka begitu cepat masuk kedalam mobil. Sementara Aska masih setia dalam gendongan ibu yang masuk lewat pintu belakang kemudi. Dan Yasmin duduk tepat disamping kursi kemudi yang di Kendari mas Bagas.
Dimas, kenapa supir pribadi Yasmin itu justru sibuk membukakan pintu pagar untuk mobil mas Bagas. Harusnya kan dia yang mengantarkan Yasmin bukan mas Bagas. Aku mengernyitkan dahi menahan kesal. Ku putuskan turun kelantai bawah untuk menemui Dimas.
"Dimas!" Panggilku ketus kepada pria dengan kumis tipis yang sedang menutup pintu utama rumah mas Bagas.
"Iya Bu," sahut Dimas dengan wajah' datar.
"Itu kenapa bukan kamu yang antar Yasmin?" Tanyaku dengan nada ketus menahan rasa kesal yang telah memenuhi dadaku.
"Saya belum hafal jalanan sini Bu, lagipula kata Bu Yasmin jalan menuju ke rumah sakit harus melewati jalan besar jadi harus pakai SIM. Saya kan belum punya SIM." kilah Dimas santai.
'Dasar brondong, bisa-bisanya Yasmin menyukai anak kecil seperti ini. mungkin karena mereka seumuran, jadi sama-sama bodohnya.'
Aku kembali terdiam. Menatap kesal wajah tengil Dimas yang rasanya ingin sekali aku mencakarnya saat ini.
Pria itu berlalu meninggalkan ku yang kesal tanpa rasa bersalah. Aku hanya bisa mendengus kasar tanpa bisa melakukan apapun.
Seharian aku menunggu kepulangan mas Bagas didalam kamar. Berkali kali aku mencoba menghubungi nomornya serasa percuma. Karena pria itu meninggalkan ponselnya di dalam laci nakas samping tempat tidur. Mungkin karena tadi pagi dia buru-buru sampai melupakan benda terpenting itu.
Malam kian menjelang. Sang senja kian menengelamkan sinar matahari yang meninggalkan temaram di kemuning langit barat.
Entah sajak kapan aku terlelap menunggu mas Bagas yang tidak kunjung pulang. Suara deru mobil yang memasuki garasi membuatku mengerjap berlari menuju balkon kamar ini.
Aku berjalan meraba. Lampu yang gelap membuatku sedikit kesusahan untuk menuju teras kecil diluar kamar.
Aku masih memperhatikan lampu mobil yang masih menyala di halaman rumah. Semua lampu rumah telah menyala begitu juga dengan lampu dihalaman rumah, mungkin Dimas yang telah menyalakannya.
Aku bisa melihat jelas siapa saja yang keluar ataupun yang mereka lakukan di bawah.
Kulihat mas Bagas turun dari pintu kemudi kemudian membukakan pintu untuk ibu yang berada di belakangnya. Ibu masih setia mengedong Aska dalam pelukannya masuk kedalam rumah.
Tubuh Wanita itu seketika ambruk dalam pelukan mas Bagas. Nampak bahunya berguncang dalam dekapan mas Bagas. Pria itu terus mengusap lembut kerudung Yasmin, memenangkan.
Nyeri! Hatiku bagaikan dihujam ribuan sembilu hingga tak berbentuk. Netraku memanas, ku remas ujung kaos yang ku kenakan dengan kuat.
Aku masih terus mengawasi Yasmin dan mas Bagas. Kulihat sesekali mas Bagas melirik ke atas, tempatku berdiri yang gelap gulita. Pasti ia sedang memastikan keberadaan ku di kamar ini.
Mas Bagas menyeka air mata Yasmin kemudian menuntun wanita bertubuh mungil itu masuk kedalam rumah.
Ku seka air mataku dan bergegas masuk kedalam kamar. Ku banting tubuhku kasar meringkuk diatas kasur. Aku tergugu, airmata yang ku tahan akhirnya lolos berjatuhan. Ku remas dadaku yang teramat sakit, nafasku seolah tertahan di kerongkongan. Sesak sekali.
...'Ada hubungan apa mas Bagas dengan Yasmin. Jika Yasmin hanyalah pembantu disini kenapa mas Bagas begitu perhatian sekali dengannya.'...
Tak! Tak! Tak!
Suara derap kaki mas Bagas semakin mendekat ke kamar. Kutarik selimut hingga memutupi seluruh tubuhku hingga tersisa wajahku yang menghadap ke arah dinding.
Cekret!
Klak!
Suara pintu terbuka dan saklar lampu yang dinyalakan. Ku pejamkan netraku, berharap pria itu tidak menemukan bekas luka dari wajahku yang telah sembab.
Aku sengaja menyimpan semua kecurigaan ku terlebih dahulu. Kalaupun aku mengatakan kepada mas Bagas sekarang aku yakin pria itu akan terus mengelak dan kembali menjejali ku dengan alasan-alasannya.
Ku dengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Sepertinya mas Bagas sedang membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian kurasakan kehadiran mas Bagas telah berbaring di sampingku dengan melingkarkan tangannya pada pinggangku, memelukku dari belakang.
"Dek!" Panggilnya kepadaku.
Nyeri dihatiku kian menjalar. Rasanya ingin sekali aku menghujamnya dengan ribuan pertanyaan yang telah memenuhi benakku. Tentang hubungannya dengan Yasmin. Apakah ini alasan mas Bagas selalu melarang ku untuk datang kerumahnya.
"Udah bobo ya dek! Tumben masih sore kok udah tidur!" ucapnya setengah berbisik didekat telingaku.
"Hemm, iya mas adek capek. Ngantuk!" sahutku.
Untuk beberapa saat mas Bagas tidak menjawab. Lama kelamaan hanya dengkuran halus yang kudengar dari nafasnya yang kian terasa hangat. Sepertinya mas Bagas telah tertidur pulas. Sementara aku, masih terus membayangkan kejadian tadi sore yang membuatku kesakitan.
***___*****
Rumah terlihat sepi, mas Bagas sedang pergi memancing bersama teman-temannya sedari pagi. Sementara Yasmin sedang pergi bersama Dimas, mungkin berjualan baju keliling dengan mobilnya. Dan ibu sedang tidur siang di kamarnya bersama Aska.
Hari ini adalah hari terakhirku disini. Ini kesempatan ku untuk mencari bukti agar aku bisa membongkar rahasia yang mas Bagas sembunyikan dariku.
Aku memulai menyisir kamar yang aku tempati. Kucari sesuatu yang bisa menguatkan argumenku. Namun di kamar ini aku tidak menemukan hal apapun.
Aku menuruni anak tangga menuju kamar Yasmin, setelah ku rasa aman tidak ada yang melihatku. Aku segera menyelinap masuk kedalam kamar yang terletak disudut lantai bawah itu.
Netraku membeliak memanas, air mataku runtuh berjatuhan tanpa mampu kutahan.
BERSAMBUNG ....