
Mobil bak terbuka yang aku tumpangi telah tiba didepan halaman rumah minimalis berlantai dua. Rumah yang asri dengan aneka tanaman yang tumbuh di halaman rumah.
"Wah, rumahnya besar sekali Bagas." Decak kagum pak lek Narto melihat rumah Reza. "Beruntungnya kamu dapat istri orang kaya!" imbuhnya menepuk lembut bahuku.
"Iya pak lek!" sahutku dengan tersenyum kecil.
"Alhamdulillah ya nak, akhirnya impianmu terkabul." Kini giliran ibu yang menepuk bahuku penuh haru.
Aku segera mengajak ibu dan pak lek Narto menuju pintu utama rumah Reza. Aku yakin pasti kedua orang tua Reza telah menunggu kedatangan kami sedari tadi. Karena mobil butut pak lek Narto tadi sempat beberapa kali mogok, hingga membuat kedatangan kami sedikit terlambat.
Tok! Tok! Tok!
"Asalamualaikum," sapaku dari luar pintu.
Tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu itu untukku. Aku beserta ibu dan pak lek segera masuk kedalam rumah. Kemudian duduk di sofa empuk, setelah pembantu Reza mempersilahkannya kepada kami.
Pak lek Narto masih terus berdecak kagum dengan seluruh interior yang berada di rumah Reza. Wajar saja pak lek Narto kan orang kampung. Masih jarang ada orang kaya di daerah rumah kami. Karena kebanyakan dari mereka bermata pencarian sebagai petani dan peternak sapi.
"Sebentar ya mas Bagas saya panggil ibu dulu." Ucap pembantu Reza beranjak meninggalkan kami.
Beberapa saat kemudian keluarlah papa Reza dan mamanya, wanita yang terlihat masih cantik meskipun wajahnya telah terlihat berumur.
"Nak bagas!" ucap mama Reza menyambut kedatangan ku dengan ramah.
Aku segera meraih tangan calon mertuaku itu dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Bergantian dengan papa Reza yang duduk di hadapanku.
"Senang sekali bertemu dengan ibu mas Bagas," celetuk wanita dengan senyum ramah itu kepada ibuku.
"Wah sudah lama loh saya menunggu momen ini." Imbuh pria bertubuh gemuk yang duduk di samping mama Reza.
"Iya pak, ibu. Jadi sebelumnya saya mau minta maaf sudah lancang datang ke rumah ibu dan bapak, nak Reza." Ucap ibu terdengar berhati-hati.
Wajar saja baru kali ini ibu bertemu dengan orang yang memiliki gelar. Sebelumnya ibu hanyalah berteman dengan para buruh tani dan juga pengembala sapi.
"Iya Bu, ngak usah sungkan seperti itu lah." sahut papa Reza tersenyum ramah.
"Jadi maksud kedatangan saya kesini, saya ingin melamar nak Reza untuk menjadi menantu dirumah saya dan sebagai istri dari Bagas anak saya." ucap ibu terlihat begitu tulus dan penuh harap.
"Alhamdulillah, kalau saya dan istri sih terserah Reza saja bu. Apapun mau anak pasti kita ridhoi. Lagipula Reza dan nak Bagas juga sudah lama saling kenal. Betul kan nak Bagas?" Sahut papa Reza menjatuhkan tatapannya kepadaku.
Aku mengangguk dengan tersenyum kecil disudut bibirku.
"Aslamualaikum, ada apa ini pah?"
Ucap Reza yang baru masuk, wajahnya terlihat terkejut dengan kedatangan keluargaku dirumahnya.
"Wa'alaikum salam," sahut kami bersamaan.
"Duduk sini nak!" Mama Reza menepuk lembut sofa yang berada disebelahnya.
Reza menurut dengan wajah yang terlihat kebingungan.
Setelah menyalami ibu dan pak lek Narto Reza segera menjatuhkan bokongnya tepat disebelah mamanya.
Wanita berambut pendek itu tersenyum kecil menatap Reza yang semakin kebingungan. "Ini loh sayang, orang tua nak Bagas mau melamar kamu!"
"Apa? Melamar?" pekik Reza. Netra Reza membeliak menatap ke arahku, kesal.
Aku tersentak, bahkan semua orang yang berada diruangan itu terlihat terkejut dengan ekspresi yang Reza tunjukan.
"Apa-apaan sih mas, bukannya kemarin aku sudah bilang, aku belum siap untuk menikah jika aku belum menjadi pegawai negeri." Reza bangkit dari tempat duduknya dan menatapku nyalang.
Aku diam tak bergeming, ku lihat wajah ibu seketika berubah, apalagi pak lek Narto yang sadari tadi paling cerewet kini menjadi diam tak bergeming.
"Reza, jangan begitu nak! Duduk dulu sini!" Wanita itu menarik tangan Reza hingga gadis itu kembali terduduk dengan dada yang naik turun menahan amarah.
"Mah, Reza belum mau menikah. Reza mau menikah jika mas Bagas sudah mampu membuatkan rumah untuk Reza, itupun kalau Reza sudah diangkat menjadi PNS. Reza ngak mau hidup miskin mah." Cerocos Reza.
Kulirik ibu menarik tubuhnya sedikit menyandar pada Kursi. Terlihat rasa kecewa menyelimuti wajahnya, meskipun wajah yang telah dipenuhi guratan itu tetap menapakkan ulasan senyum disudut bibirnya.
"Sudah Bu, sudah!" Ucap ibu memecah ketegangan. "Tidak papa kok, biarlah nak Reza meraih cita-citanya. Mumpung masih muda." sahut ibu dengan ukiran senyuman.
Aku tau ibu pasti terluka, secara tidak langsung Reza telah menolak lamaranku. Entahlah bagaimana bisa aku mencintai wanita seperti Reza. Bahkan seiring bergantinya hari cintaku kian tumbuh subur didalam hati.
"Maaf Bu, mas Bagas, seperti yang sudah pernah aku bilang tempo hari aku mau menikah jika mas Bagas sudah mampu memberikan rumah untukku, Karena aku tidak mau jika aku harus tinggal bersama mertua, dan satu lagi aku tidak akan menikah jika aku belum menjadi pegawai negeri. Kalau mas Bagas dan ibu tidak setuju silahkan cari wanita yang lain saja." ucap Reza bagaikan petir yang menyambar hatiku hingga hancur berkeping-keping.
Tidak ku duga jika mulut manis itu mampu berucap setajam sembilu kepadaku.
"Iya nak Reza ibu tau, Bagas memang bukan terlahir dari keluarga orang kaya." sahut ibu menyeka sudut netranya.
"Maaf ya ibu!" ucap papa Reza yang terlihat kesal dengan sikap anak semata wayangnya itu.
"Ngak papa pak, Bu. Terimakasih sudah menerima kedatangan kami. Kami pamit pulang dulu." Ucap ibu segera bangkit dan berpamitan, di ikuti pak lek Narto yang membisu mengekori ibu.
Aku masih terduduk, kakiku seolah berat sekali untuk bangun dan berdiri. Hari ini wanita yang selalu ku bangga-banggakan justru melukai hati wanita yang selalu ku jaga hatinya seumur hidupku.
'Ibu, maafkan Bagas!'
Reza memalingkan wajahnya tanpa menoleh kearah ku ataupun ibu. Wajah ayu nya terlihat kesal dengan nafas yang naik turun.
Sementara kedua orang tua Reza terlihat malu dengan ulah anaknya. Ternyata tidak selamanya pendidikan tinggi mampu menjamin Etika seseorang.
Sepanjang perjalanan ibu hanya terdiam. Pak lek Narto pun tak berani berbicara sedikitpun. Aku memilih menatap rimbunnya pepohonan disepanjang perjalanan. Ah, hari ini sungguh melelahkan. Sebenarnya cinta seperti apa sih yang Reza mau dariku.
"Uwes mbak yu, anggap saja belum jodohnya Bagas." Celetuk pak lek Narto memecah keheningan diantara kami.
bulir bening jatuh berderai membasahi pipi ibu. Airmatanya kian deras mengalir bersama bahu ringkihnya yang terus berguncang.
"Udah Bu, jangan nangis!" Bujukku meraih punggung tangan ibu.
"Dasar anak bodoh!" ibu menepis kuat tanganku. "Ngapain kamu bela-belain wanita sombong seperti itu sih Bagas, apakah di dunia ini sudah tidak ada lagi wanita yang baik dimata kamu?" hardik ibu mencubit kecil pahaku hingga aku menggeliat kesakitan.
'Entahlah ibu, aku juga tidak tau mengapa aku begitu menyayangi Reza.'
Bersambung ....