
POV Yasmin
Pria itu selalu bersikap dingin kepadaku. Bahkan dia tidak segan berkata kasar kepadaku. Namun tak lantas aku harus membalas sikap buruknya itu dengan keburukan. Aku tetap melayaninya layaknya seorang istri kepada suami. Meskipun hampir satu tahun kami menikah, mas Bagas belum pernah sekalipun menyentuhku. Bahkan pria itu tega memintaku untuk tidur di kasur tipis di atas lantai. Beruntungnya, mas Bagas hanya pulang ke rumah di saat akhir pekan, sehingga setiap hari Senin hingga Jumat aku bisa tidur nyenyak di atas kasur empuknya.
Aku tau, selama ini ibu mertuaku selalu berusaha keras agar mas Bagas bisa mencintaiku seperti halnya mencintai gadis pujaan hatinya itu. Tapi, mas Bagas tetap sama, sepertinya cinta untuk gadis pujaan hatinya itu sudah mengakar di dalam hatinya tanpa bisa di goyangkan.
"Ibu, waktu Yasmin tinggal satu bulan lagi, maafkan Yasmin jika selama menjadi menantu ibu, Yasmin ada salah." ucapku di suatu sore kepada ibu yang sedang duduk di teras depan rumah.
Wanita yang memiliki penyakit jantung itu seketika menatap ke arahku. Matanya di penuhi embun dengan tatapan nanar, "Yas, Apakah kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan?" Suara ibu terdengar berat.
Aku mengaguk, Aku harus menyadari bahwa cinta tidak pernah bisa di paksa. Aku hanya manusia biasa yang berhak mencari kebahagiaku sendiri. Karena tidak mungkin selamanya aku akan hidup dengan pria yang sama sekali tidak akan pernah bisa mencintaiku.
"Yas, tolong pertimbangan keputusanmu itu!" Pinta ibu dengan wajah memelas. Airmata yang bergelayut dipelupuk matanya akhirnya jatuh membasahi pipi.
"Ibu, Yasmin sudah mencoba sebaik mungkin untuk menjadi istri mas Bagas. Tapi ..." ucapku terhenti, labirin otaku kian dipenuhi dengan sikap mas Bagas yang selalu dingin dan acuh kepadaku. "Sudahlah Bu, yang namanya cinta itu tidak akan bisa dipaksakan." Ku usap lembut punggung tangan ibu. Wanita itu menangis, nampak guratan wajahnya melukiskan kesedihan yang mendalam.
Seorang pria datang tergopoh-gopoh menghampiriku dan ibu yang sedang duduk di teras rumah. Ibu segera menyekap airmatanya agar tidak berbekas.
"Assalamualaikum," ucap pria yang terus mengatur nafasnya yang naik turun karena berlari.
"Wa Alaikum salam!" sahutku kepada pria yang tidak asing bagiku itu.
"Mang diman, ada apa?" Aku bangkit dari dudukku menghampiri mang Diman yang memasang wajah panik.
"Itu neng, pak Soleh neng!" ucap mang Diman terbata, "Neng Yasmin jangan nangis ya!" Pintanya iba.
Jantungku semakin berpacu lebih cepat, segala pikiran buruk memenuhi otakku.
"Jantung paman Kambuh ya mang?" ucapku, berharap hanya sakit bawaan paman Soleh saja yang kambuh.
"Engak neng!" Wajah pria berkulit legam itu terlihat dipenuhi peluh disekitar pelipisnya.
"Lalu ada apa paman?" Kakiku terasa lemas, rasa takut semakin memenuhi dadaku, tubuhku bergetar hebat menunggu jawaban dari mang Diman tetangga dekat rumah paman Soleh.
"Ada apa pak Diman? Cepat katakan!" Ibu bangkit dari tempat duduknya menghampiriku. Wajahnya terlihat panik sama Seperti halnya diriku.
"Itu Bu marini, ehm pak Soleh sudah tidak ada!"
Deg!
Tubuhku terhuyun dilantai, airmataku lolos berjatuhan membasahi pipi. Pandanganku perlahan gelap. Bayangan pria yang rela mengurusku tanpa memperdulikan kebahagiaannya itu nampak jelas dalam memoriku.
"Yas, Yas, Sadar Yas!" ibu menepuk lembut pipiku yang berada di pangkuannya.
"Istighfar Yas, istighfar!" Ujar ibu menuntun bibirku untuk memohon ampun kepada sang pemilik cinta.
Beberapa saat tubuhku serasa di awang-awang. Kini aku benar-benar sedang sendirian di dunia yang kejam ini. Satu-satunya tempatku berlari telah kembali kepada sang pemiliknya. Aku menangis meraung-raung, tidak bisa ku tahan rasa sakit kehilangan ini. Ibu marini mendekap tubuhku yang dingin dengan erat.
"Paman, paman, ibu, pamanku!" Teriakku menangis histeris hingga membuat para tetangga berdatangan kerumah ibu mertuaku.
Alunan ayat suci Alquran kian menyayat hatiku yang perih. Jenazah paman kini telah berbaring di hadapanku. Ibu masih merangkul tubuhku, ku sandarkan kepalaku dalam pelukan ibu. Kali ini aku sama sekali tidak bisa merasakan tulang-tulangku. Semua ini seperti mimpi.
Berkali-kali aku sudah menghubungi mas Bagas untuk segera pulang. Namun pria itu sama sekali tidak mengangkat panggilanku. Pesan yang ku kirimkan pun sama sekali tidak berbalas.
Ternyata, selain mas Bagas itu dingin dia juga sangat tega kepadaku. Di saat aku sangat membutuhkannya justru dia tidak perduli kepadaku. Hatiku semakin sakit dan kecewa, membuat tekatku semakin bulat untuk mengakhiri pernikahan ini.
*****_____******
"Yas, makanlah dulu!" Ucap ibu yang duduk di tepi ranjang tepat di sampingku.
Ibu mendengus halus, menepuk lembut pundakku kemudian pergi meninggalkanku.
'Mas Bagas, jika kamu memang tidak mencintaiku dan menginginkan aku pergi dari hidupmu bukan seperti ini caramu. Pamanku tidak memiliki dosa apapun kepadamu. Yang salah itu adalah aku, karena aku terlalu berharap dirimu membalas cintaku.
Cekrek!!
Terdengar seseorang kembali membuka pintu kamarku. Derap langkah kaki yang tidak asing itu berjalan perlahan mendekatiku.
"Yas!" sebuah tangan menyentuh lembut bahuku. Dari aroma parfumnya aku mengenali siapa pria itu. Namun saat ini aku sedang tidak Sudi untuk melihat wajah mas Bagas.
'Mas Bagas!' batinku. Ingin sekali aku menjatuhkan tubuhku dalam pelukan dada bidangnya seperti malam disaat pria itu pulang dalam keadaan kedinginan. Tapi, aku telah kecewa, tekatku sudah bulat untuk mengakhiri semua ini.
"Maafkan mas, kemarin ..."
Belum selesai mas Bagas mengeluarkan kata-katanya. Dadaku yang bergemuruh sudah tak mampu menahan amarahku lagi. Ku ungkapkan segala rasa sakit yang memenuhi dadaku selama hampir satu tahun hidup bersamanya.
Menahan itu sakit, bukankah lebih baik aku katakan saja semuanya agar aku tidak perlu lagi selalu berpura-pura baik-baik saja didepan mas Bagas. Toh setelah ini semua juga akan berakhir.
Pria itu terlihat takut, keningnya dipenuhi peluh. Baru kali ini mas Bagas menahan kepergianku, apakah itu hanya wujud dari ekspresi rasa bersalahnya saja. Ataukah dia juga memiliki rasa yang sama denganku.
Mulutku tidak berhenti berucap, memuntahkan seluruh isi hatiku yang terluka.
Cup!
Deg!
Mas Bagas mencium lembut bibirku, hingga aksara yang hendak keluar dari mulutku berhenti di tenggorokan.
Dag, Dig, Dug.
Jantungku berpacu dengan cepat. Mas Bagas menarik tubuhku kedalam pelukannya, aku terus memejamkan netraku. Menikmati setiap sentuhan yang mas Bagas berikan pada tubuhku.
Bug!
Pria itu menjatuhkann tubuhku diatas kasur. Jantungku serasa melompat dari tempurungnya. Jangan-jangan mas Bagas akan melakukan anu kepadaku.
Benar saja, mas Bagas dengan liar menyalurkan hasratnya kepadaku. Memecah keperawanan yang selama ini telah aku jaga.
Aku masih berada didalam selimut yang sama bersama mas Bagas, tanpa satu helai benangpun. Sekali permainan rasanya tidak cukup untuk mas Bagas. Mungkin karena pria itu baru pertama kali melakukannya denganku atau .... Dia sudah pernah melakukan anu dengan .... Ah, sudahlah aku sedang tidak ingin memikirkan pacar mas Bagas. Saat ini aku hanya ingin menikmati indahnya madu cinta bersama mas Bagas.
Kami diam tak bergeming, ada rasa malu dan entahlah perasaanku benar-benar campur aduk. Pria itu memilin rambutku di ujung-ujung jemarinya. Sementara aku, menengelamkan wajahku pada dada bidangnya. Menikmati pelukan yang telah lama aku rindukan.
"Yas, rambutmu lembut sekali ya!" ucapnya membuatku tersipu malu.
"Tapi ...!" mas Bagas menghentikan ucapannya. Kemudahan menciumi pucuk rambutku. "Kamu belum keramas ya Yas?"
Aku menarik tubuhku dari pelukan mas Bagas. "Masa iya sih?" Kuciumi rambut panjangku, untuk membuktikan ucapan mas Bagas. "Huek!" Perutku terasa mual mencium aroma tidak sedap dari rambutku.
Mas Bagas terkekeh, memetawaniku. Ternyata dia bukan menertawai rambutku yang bau melainkan menertawakkan tingkahku yang lupa menutupi dadaku dengan selimut. Segera aku raih selimut itu hingga menutupi bagian dadaku. Netraku memicing kesal melihat mas Bagas yang semakin mengeraskan tawanya.
"Ah, mas ini!" gerutuku beranjak turun dari ranjang. Lagi-lagi lengan kekar itu menarik tubuhku kedalam pelukannya.
"Tetaplah disini sebentar saja!" ucapnya lirih mengeratkan pelukannya.
'Pada dasarnya setiap wanita tercipta untuk disayangi. Karena wanita tercipta dari tulang rusuk yang letaknya dekat dengan hati.'
Bersambung ....