
Part sebelumnya
Ku buka pesan dari Yasmin yang telah dikirim sekitar satu jam yang lalu. Mungkin saat aku sedang perjalanan menuju alun-alun.
[Mas, paman Sholeh meninggal. bisakah mas pulang!]
NEXT PART
Setelan membaca deretan huruf yang Yasmin kirimkan kepadaku, aku kembali memasukkan ponselku kedalam saku celana. Karena mengejar Reza saat ini jauh lebih penting untukku.
Gadis itu terus mempercepat langkahnya dengan tangan satu yang mengusap lembut pipinya. Bahunya berguncang naik turun dengan suara isakan yang terdengar jelas.
"Dek!" ku raih pergelangan tangan Reza, membuat langkah kakinya terhenti seketika. Gadis itu tak langsung menatapku, ia memalingkan wajah sembabnya dari tatapanku.
"Apalagi!" ucapnya terisak, sepertinya hatinya benar-benar kecewa dengan kenyataan yang telah ku ceritakan kepadanya.
"Dek, sabarlah sebentar. Paling tahun depan rumah impian kita pasti akan terwujud, toh sekarang kan mas sudah menjadi mandor di perhutani, apa perlu mas nikahi kamu sekarang juga biar kamu percaya?" Cetusku.
Dengan cepat Reza menoleh kepadaku, netranya menatap lekat kepadaku. "Ngak, aku ngak mau menikah kalau mas belum bisa membelikan aku rumah." sahutnya lirih dengan mengusap lembut sisa air mata yang membasahi pipinya.
'Nah, sudah aku tebak. Reza tidak akan mau menikah denganku jika aku belum bisa memberikannya rumah. Jiwa materialistisnya pasti meronta-ronta. Apalagi di lingkungan sosialnya, bisa jadi bahan gunjingan teman-teman sejawatnya. Tak apalah, memang sewajarnya wanita cantik itu harus jual mahal. Asal dia selalu patuh dan tidak selingkuh bagiku tidak masalah.
"Ya sudah, jangan ngambeg lagi ya sayang!" Ucapku lembut, wajahnya yang memerah karena menahan marah kini mulai merona. Ku selipkan helaian rambut panjangnya di antara kedua telinganya, hingga aku bisa melihat wajah ayunya dengan sempurna.
"Mas antar pulang sekarang ya!" ajakku menarik lembut tangan Reza.
Gadis itu mematung dengan bibir mengerucut. Kakinya terpatri berat untuk melangkah.
"Apalagi?" Bujukku lembut. Pasti kali ini dia ada maunya lagi.
"Mau nonton!" rengeknya manja.
'Tuh kan, instingku tidak pernah salah.'
"Tapi mas harus ...!" Belum selesai aku bicara Reza sudah menarik tubuhku naik keatas motor.
"Pokoknya nonton dulu!" pintanya yang telah duduk di kursi belakang.
"Iya sayang!" sahutku menurut. Karena kalau saja aku tidak menuruti kemauan Reza bisa-bisa jadi perang dunia ke tiga. Gadis itu akan terus merajuk hingga suasana hatinya benar-benar bahagia. Yaitu dengan cara membelikannya barang-barang yang ia sukai tentunya.
Sampai pukul 11 malam aku baru keluar dari gedung bioskop. Kemudian mengantarkan Reza pulang ke kediamannya dan kembali pulang ke rumah dinasku.
Jam dinding berwarna putih yang mengantung dikamarku telah menunjukan pukul satu dini hari. Aku tercekat mengingat pesan yang Yasmin kirimkan kepadaku tadi siang.
Kuraih ponselku dari kantong celana. Ku usap lembut pada layar ponsel dan mencari nama Yasmin pada deretan kontak nama di ponselku.
Ku tekan tombol hijau setelah aku menemukan nama gadis hitam manis bertubuh mungil itu.
Tut! Tut! Tut!
[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.]
Beberapa kali aku menghubungi Yasmin. Namun suara mesin robot itu yang selalu menjawab panggilanku.
'Apakah aku sedang khawatir dengan keadaan Yasmin, lalu kenapa aku gusar. Tidak, aku tidak gusar aku hanya merasa kasian dengan gadis itu. Pasti kehilangan satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini sangat sulit sekali untuknya.'
Aku menatap langit-langit kamar, hatiku terus bermonolog dengan diriku sendiri. Setiap sudut benakku dipenuhi dengan nama Yasmin, hinggap tanpa aku sadari aku telah menyelam ke dalam alam mimpi.
[Dek, mas pulang ke Purwodadi dulu ya. Soalnya, mas ada keperluan mendadak.]
Tulis pesanku kepada Reza, meskipun kami belum menikah, tapi gadis itu memintaku untuk selalu melaporkan setiap kegiatanku kepadanya. Entahlah, Reza adalah sosok gadis yang sangat membingungkan untukku.
Ting!
Bunyi notifikasi masuk di gawaiku, ku usap lembut layar ponselku hingga deretan pesan balasan dari Reza nampak pada layar yang menyala.
Ku balas pesan Reza dengan emot manangis yang diikuti dengan emot ciuman. Berharap gadis itu mengizinkan ku menciumnya sekali saja.
Reza hanya membuka pesanku, tanpa membalasnya.
Aku mendengus halus, "Dasar jual mahal." Rutukku pada layar ponsel yang menampakkan pesan Reza.
Segera aku memasukan ponselku kedalam saku celana dan bergegas memacu motorku menuju Purwodadi.
___****____
Bendara kuning masih berkibar di depan pagar rumahku, sepertinya jenazah paman Yasmin kemarin di semayamkan dirumahku.
Perlahan aku memasuki rumah yang terasa berbeda dari biasanya. Hening. Ibu tengah duduk di kursi ruang tamu dengan wajah kesal bercampur sedih'.
Netranya menatapku sinis yang baru memasuki ruang tamu, kemudian berpaling. Ibu bangkit dari tempat duduknya meninggalkan ku dengan acuh.
Aku diam, kemudian berlalu menuju kamar. Mencari keberadaan wanita yang telah mengirimkan pesan kepadaku kemarin.
Gadis itu sedang duduk di tepi ranjang. Menatap ke arah luar jendela yang di batasi oleh jeruji besi. Kerudung hitam yang di kenakan menandakan bahwa dirinya sedang berkabung.
Perlahan aku mendekati Yasmin, kemudian duduk disebelah tempat ia menjatuhkan dirinya.
Gadis itu menoleh kepadaku, wajahnya sembab, netranya sedikit membengkak, mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
"Yas!" Ku sentuh punggung tangan Yasmin yang berada di pangkuannya, ku tatap lekat wajah sembab itu, ada rasa bersalah yang teramat besar didalam hatiku. Aku tidak bisa berada di dekatnya disaat dirinya sedang terluka.
Yasmin menarik tangannya dari genggamanku, wajah' sendu itu kembali berurai air mata. "Kenapa kamu baru pulang mas?" Ucapnya lembut penuh penekanan.
"Maafkan mas, kemarin mas ..."
"Kemarin mas sibuk dengan pacar mas itu?" celetuk Yasmin dengan tatapan nanar. Tidak pernah Yasmin si pemilik suara lembut itu berucap kasar kepadaku. Gadis itu bangkit dari sampingku hendak melangkahkan kakinya meninggalkanku.
Seperti di tampar dengan bogem mentah, hatiku kian merasa bersalah. Kemana rasa tidak perduliku itu, hatiku hanya dipenuhi rasa takut melihat Yasmin kian terluka.
"Yas! Maafkan mas!" Bujukku meraih tangan Yasmin agar gadis itu menghentikan langkahnya.
"Aku selalu memaafkanmu mas, mana pernah aku tidak memaafkan mas. Dari sikap mas yang acuh. Bahkan hampir satu tahun kita menikah aku tidak pernah marah, mas memintaku untuk tidur dilantai yang dingin itu, Aku tidak marah. Mas selalu kasar kepadaku, aku tidak marah. Mas tidak memberikan hak ku, aku pun tidak pernah marah bukan?" pekik Yasmin tergugu, membuatku bangkit mensejajarinya. Matanya membeliak menatapku tajam.
"Yas, maafkan mas Yas, maaf!" Mohonku mengeratkan genggamanku pada pergelangan tangan Yasmin.
Gadis itu berpaling dengan tatapan sinis kemudian menjatuhkan tatapannya kembali kepadaku.
"Aku sudah cukup sabar mas dengan semua ini, tapi sikap mas terlalu kekanak-kanakan. Harusnya mas kemarin itu datang ..." Yasmin tercekat menghentikan ucapnya, tangan satunya mengusap lembut airmata yang mengalir deras membasahi pipinya.
"Kita akhiri saja hubungan ini mas!" Cetus Yasmin dengan tatapan serius.
Cup!
Kujatuhkan kecupan di bibir Yasmin. Dadaku yang masih bergemuruh mendengar pernyataan Yasmin, kini semakin berdebar kencang karena aku nekat mencium bibirnya. Menurut film yang sering aku tonton biasanya amarah seorang wanita akan merada jika di cium.
Ku tarik tubuh Yasmin samakin mendekat dalam pelukanku, gadis manis itu diam dalam kecupanku, matanya terlihat terpejam menikmati sensasi yang aku berikan. Tapi, mengapa geloraku tak cukup hanya dengan mencium Yasmin.
'Apa ini bagas?' rutukku dalam hati.
Namun, gelora kelaki-lakianku sungguh tidak mampu ku tahan lagi. Ku jatuhkan tubuh Yasmin di atas kasur dengan posisi aku menindih diatas tubuhnya, dengan liar ku salurkan hasrat yang telah membuncah hingga ke ubun-ubun kepada Yasmin, gadis lugu itu terlihat pasrah dan menikmati permainanku.
Yang ada dalam benakku saat ini bukanlah bayangan Reza, melainkan mereguk manisnya surga dunia bersama Yasmin.
"Witing tresno jalaran Soko kulino, sebuah pepatah Jawa mengajarkan cinta itu ada karena terbiasa bersama."
Dan sepertinya itu terjadi antara diriku dan ....!
BERSAMBUNG .....