MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
LELAKI MISTERIUS DI KAMAR YASMIN



Tanganku terus meraba keberadaan mas Bagas di sampingku. Tubuhku terasa dingin tanpa pelukannya disaat tidur. Namun sosok itu telah tidak ada di sampingku.


Ku usap lembut netraku yang masih berkabut. Ku lirik waktu pada jam yang dinding yang telah menunjukan pukul dua dini hari.


Aku menuruni rajang mencari mas Bagas di kamar mandi. Tapi kamar mandi itu kosong.


Ku turuni anak tangga, siapa tau mas Bagas lapar dan sedang makan di dapur. karena dilantai atas ini hanya ada kamar mas Bagas dan satu kamar yang terletak di ujung ruangan.


"Ah, terus mas!"


Suara desahan dari kamar yang terletak di sudut lantai bawah itu terdengar jelas masuk kedalam telingaku.


Rintihan demi rintihan saling bersahutan. Bahkan desahan menjijikan itu membuat kaki ku seolah begitu lemas.


'Bukankah itu kamar Yasmine?'


Ku tempelkan telingaku pada daun pintu kamar Yasmin. Apakah yang sedang bersama Yasmine itu adalah mas Bagas. Sakit aku membayangkannya.


"Ah, ayo yas terus!"


Suara itu? Ku sentuh dadaku yang terasa bagaikan ditusuk-tusuk. Sakit. Ya suara itu mas Bagas. Tidak salah lagi. Lebih baik aku dobrak saja pintu kamar Yasmin agar aku tau siapa yang sedang bercumbu dengannya malam ini.


"Reza!"


"Ibu!" Aku segera membenarkan posisi ku. Tubuhku bergetar melihat ibu yang menatapku nyalang dari pintu kamarnya.


'Ah sial, rencanaku gagal.'


"Ngapain kamu didepan kamar Yasmin?" suara ini terdengar ketus.


"Aku, aku!"


"Kalau disini jangan bikin ulah ya kamu!" sahut ibu dengan nada kesal. Setelahnya Wanita itu kembali masuk kedalam kamarnya.


Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lembut.


Suara desahan dari kamar Yasmin itu pun telah menghilang. Kamar itu kembali hening.


Aku berjalan gontai menuju kamarku dilantai atas. Seketika netraku membulat melihat mas Bagas yang telah meringkuk diatas ranjang.


"Mas Bagas!"


Ku amati pria itu tengah tertidur pulas, nafasnya pun terdengar beraturan. Namun kenapa pelipisnya dipenuhi dengan keringat.


'Atau jangan-jangan yang bersama Yasmin tadi Itu mas Bagas?'


Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau menuduh mas Bagas. Aku masih kapok dengan kejadian kemarin yang membuat mas Bagas harus di rumahkan selama satu Minggu gara-gara ulahku.


Kembali ku rebahkan tubuhku disamping mas Bagas dengan posisi memunggunginya. Netraku kian terjaga memikirkan siapa pria yang bersama dengan Yasmin. Tapi aku yakin itu adalah suara mas Bagas.


******____*****


Aku telah selesai mandi, janji nafkah batin yang mas Bagas berikan untukku lagi-lagi hanya isapan jempol. Entah sajak kapan pria itu meninggalkan kamar berdinding silver ini. Yang aku tau semenjak aku membuka mata pria itu telah tidak ada di sampingku.


Ku dengar suara riuh ramai dari lantai bawah. Sepertinya ada mas Bagas dan juga ibu mertuaku sedang bermain dengan Aska, balita satu tahun yang kata mas Bagas adalah anak Yasmin.


Aku menuruni anak tangga. Netraku memperhatikan Aska yang sedang berada di pangkuan mas Bagas. Balita itu seolah begitu dekat dengan mas Bagas.


"Ayo Aska, jalan ke nenek!" titah ibu mertuaki kepada Aska.


'Nenek!'


Apa maksud semua ini. Ku tepis rasa sakit dalam hatiku. Aku terus berfikir positif kepada ibu mertuaku. Bukankah panggilan nenek itu adalah hal yang lumrah untuk seseorang yang lebih tua.


Ku amati Aska bangkit dari pangkuan mas Bagas kemudian berjalan menuju ibu mertuaku. Kali ini Aska berjalan tanpa terjatuh. Nampak gurat bahagia dari wajah ibu melihat Aska yang sudah mampu berjalan.


"Benarkah Bu!" sahut wanita dengan kerudung purpel itu antusias. "Coba ibu lihat dek!" titah Yasmine disambut dengan senyum lebar Aska hingga menunjukkan kedua gigi depannya yang baru tumbuh.


"Pa, pa, pa," celoteh balita yang sedang berjalan ke arah mas Bagas. Dengan tersenyum lebar mas Bagas membuka kedua tangannya untuk menangkap tubuh Bagas.


'papa!'


Ini sama persis dengan mimpiku semalam. Apakah mas Bagas itu ayahnya Aska. Tubuh ku terasa beku. Runtuh segala cinta mas Bagas dihatiku jika benar Aska adalah anaknya.


"Dek!" ucap mas Bagas yang menangkap kehadiranku sedang memperhatikannya dari anak tangga.


Pria itu bangkit dari duduknya, sementara Aska kian menangisi kepergian mas Bagas.


"Sebentar ya sayang!" ucap mas Bagas mengedong tubuh Aska kemudian memberikannya kepada Yasmin.


Wajah' wanita itu terlihat datar. Tidak pernah sekalipun wanita bertubuh mungil itu bertegur sapa denganku. Seolah dia selalu menghindar dariku.


Ibu mertuaku menatap sinis ke arahku yang berdiri di anak tangga. Tatapan bencinya seperti sengaja ia tujukan kepadaku.


"Kamu lapar?" tanya mas Bagas yang menuntunku naik ke lantai atas menuju kamar.


"Tadikan udah mas letakan sarapan kamu di atas nakas!" Ucap mas Bagas mendudukanku di tepi ranjang.


"Mas suapin ya!" Ucap pria dengan bulu halus disekitar rahangnya itu meraih piring berisi makanan diatas nakas.


"Ngan usah mas!" aku menahan pergelangan tangan mas Bagas. Pria itu kemudian kembali meletakan piring berisi makanan itu pada tempat semula.


"Ada apalagi sih dek?" mas Bagas menjatuhkan bokongnya di sampingku. Terlihat wajahnya begitu gusar menatap kepadaku.


"Mas semalem darimana?" tanyaku dengan mantap tajam pada wajah mas Bagas yang terlihat datar.


"Dari mana apanya?" Kelakarnya dengan memalingkan wajahnya dariku.


"Iya, semalam mas darimana? Aku cari mas sampai lantai bawah tetapi mas ngak ada. Sampai," aku menghentikan ucapanku. Tidak mungkin aku menceritakan kepada mas Bagas jika aku sudah menguping dikamar Puspa.


"Mas diteras atas dek!"


"Di teras?" Pekik ku, sayangnya tadi malam aku tidak mengecek ke teras lantai atas.


Sejenak aku tidak bergeming. Debatku sia-sia, aku tidak memiliki bukti apapun.


"Sudah sih dek, hentikan curiga mu yang berlebihan itu." Mas Bagas menarik tubuhku kedalam pelukannya.


Aku terus berfikir, sepertinya mas Bagas memang benar. Kalau semalam memang dia sedang berada di teras lantai atas. Lagian jika mas Bagas yang berada di kamar Yasmin. Bagaimana dia bisa sampai kelantai atas dengan cepat. Ah, semua ini begitu melelahkan pikiranku.


"Mas!"


" Hem!"


"Semalam waktu adek turun dari lantai atas mencari mas, adek dengar suara desahan dari kamar Yasmin loh mas!" ceritaku.


Mas Bagas seketika melepaskan pelukannya dari tubuhku. Wajahnya terlihat terkejut. "Jangan asal kamu dek!" Ucap mas Bagas.


"Bener mas!" ucapku penuh keyakinan.


"Adek, mungkin kamu lagi terbawa suasana saja dek. Yasmin kan tidak punya suami." sahut mas Bagas tak percaya.


Aku kembali terdiam. Kali ini aku memang tidak memiliki bukti untuk menunjukannya kepada mas Bagas.


"Udah deh, adek mending makan dulu yuk! Biar mas yang nyuapin." Mas Bagas meraih piring dari atas nakas kemudian menyuapkan makanan itu kedalam mulutku yang terasa begitu pahit.


BERSAMBUNG ....