
Dreg! Dreg!
Ponselku terus saja bergetar. Terpampang nama sunshine dari layar yang terus berkedip.
Aku mendengus halus, sebelum aku menekan tombol hijau pada layar ponsel. Ku persiapkan diriku untuk menerima segala kemungkinan dari Omelan Reza.
"Halo!" Sahutku setelah menekan tombol hijau.
"Mas, mas ngak jadi balik Bojonegoro ya?" Suara Reza terdengar meninggi.
"Iya dek, paling Minggu depan mas baru bisa balik." Jelasku terbata.
"Apa?" pekik Reza.
"Ngapain aja sih mas disana sampai seminggu itu!" sahut Reza dengan suara kesal.
Aku diam sejenak dan berfikir, alasan apa yang cocok untukku sampaikan kepada Reza.
"Itu dek, ibu katanya kangen banget sama mas, jadi minta ditemani Sampai Minggu depan," sahutku asal.
"Manja banget sih ibu mas!" celetuk Reza.
Tut! Tut! Tut!
Bunyi suara telepon telah di tutup.
Kutatap layar ponselku.
[Panggilan berakhir]
Aku mendengus kasar, tebakanku menjadi nyata. Pasti gadis bergigi gingsul itu sangat marah sekali kepadaku. Karena aku tidak bisa menuruti kemauannya.
Ting!
Sebuah notifikasi masuk ke gawaiku. Segera ku buka pesan yang masuk di aplikasi WhatsApp di gawaiku.
[Kalau mas besok tidak balik ke Bojonegoro juga, lebih baik kita putus.] Sunshine.
Ku tepuk jidatku yang tidak sakit. Segera ku balas pesan itu dengan capat agar tidak menambah kemarahan Reza.
[Iya dek!" Balasku di ikuti emot memohon.
"Bagas, Bagas!" Teriak suara ibu yang sangat nyaring dari luar pintu.
'Apalagi sih ibu,' rutuku kesal kepada wanita yang sering memiliki ide-ide aneh itu.
Aku berjalan menghampiri suara ibu yang sepertinya berasal dari dalam gudang, yang terletak di belakang rumah.
"Apa Bu!" ucapku dari ambang pintu dapur yang menghadap langsung kearah gudang.
"Sini Bagas!" ibu melambaikan tangannya kepadaku dari ambang pintu gudang.
Aku segera menghampiri ibu, kulihat wanita itu sedang memandori Yasmin yang berada di dalam gudang. Aku sendikit melongokkan tubuhku kedalam gudang, untuk melihat apa yang sedang ibu dan Yasmin lakukan didalam sana.
"Bagas, itu bantu Yasmin mindahin meja rias itu kedalaman kamar kamu. Kan lumayan meskipun bekas masih bisa dipakai untuk istrimu berdandan." Titah ibu yang sudah macam mandor kuli bangunan.
Ku seret Kakiku yang berat masuk kedalam gudang. Melihat Yasmin, kesalku semakin bertambah. Gadis aneh yang rela menjadi istri siriku itu.
"Awas, minggir!" ucapku ketus kepada gadis bertubuh mungil yang sedang berusaha mengangkat meja rias itu sendiri.
"Kamu kuat, aku bantu ya!" sahutnya menatap lekat ke arahku.
"Ngak usah!" Jawabku singkat.
"Yas, kamu bawa itu aja ya!" Celetuk ibu menunjuk pada beberapa bantal yang berada didalam lemari gudang.
"Iya Bu," sahut Yasmine segera menjalankan perintah ibu.
Aku sudah meletakkan meja rias itu tepat disamping jendela kamarku. Agar penyinaran dari luar dapat memantulkan cahayanya untuk siapa saja yang duduk didepan cermin.
Aku kembali duduk tepi ranjang memainkan ponselku. Kulihat gadis dengan hijab navi yang baru memasuki kamar terlihat membawa tumpukan batal yang hampir memutupi wajahnya. Aku sengaja diam tidak membantu, karena dengan menyiksa Yasmin adalah caraku untuk mengusirnya perlahan dari hidupku.
Yasmine memasukan bantal-bantal yang masih terbungkus plastik itu kedalam lemari. Masih tersisa dua bantal yang sepertinya sudah tidak muat jika dimasukkan kedalam lemari.
Gadis itu keluar mengambil bangku untuk membantunya meletakan bantal itu keatas lemari.
Kulirik Yasmin yang berada dihadapanku sedang menaiki kursi dengan satu bantal ditangannya. Dengan sedikit melompat Yasmin yang bertubuh mungil akhirnya bisa melempar bantal itu keatas lemari.
Tinggal tersisa satu bantal, Yasmin sudah meraih bantal yang berada di atas lantai. Gadis itu kembali melompat untuk melemparkan bantal itu keatas lemari. Namun, sayangnya kaki satunya jatuh tidak tepat diatas kursi.
"Aaa ..." Teriak Yasmin dengan tubuh yang tidak seimbang.
Dengan cepat aku segera menangkap tubuh mungil Yasmin. Hingga tubuh gadis berhidung sedang itu jatuh tepat diatas tubuhku.
Dag, Dig, Dug.
Sepersekian detik kita saling memandang. Yasmin menatapku dengan mulut mengaga, sementara aku menatap Yasmin dengan netra membelalak.
Tidak aku sangka jika posisiku akan macam film India seperti ini. Menumpu gadis yang ia cintai, diatas tubuhnya. Kemudian menjatuhkan ciuaman bibir. Tapi itu tidak akan terjadi.
Ku dorong kuat tubuh Yasmin dari atas tubuhku, hingga tubuh mungilnya jatuh dengan kasar menabrak kaki rajang yang berada disebelahku.
"Auh!" Desis Yasmin memegang pinggangnya yang menabrak kaki ranjang.
"Makanya, lain kali itu hati-hati. Kalau begini kan nyusahin orang. Untung ada aku, coba kalau dikamar ini tidak ada orang. Bisa-bisa kepalamu bocor karena jatuh." Cerocosku menahan debaran yang tak kunjung mereda.
'Ada apa ini dengan jantungku, apakah bermasalah.'
"Iya mas, maaf!" Jawab Yasmin meringis menahan sakit.
Aku segera bangkit dari posisiku, lalu meninggalkan kamar. Aku takut jika Yasmin menangkap kegugupanku karena kejadian tadi.
*****_____******
Aku mengernyitkan dahi, membaringkan tubuhku diatas kasur. Kutatap layar ponsel yang sedang melakukan panggilan kepada Reza, namun gadis itu masih saja tidak mau menjawab teleponku. Beberapa pesan yang Ku kirimkan pun hanya dibaca tanpa dibalas.
'Sepertinya Reza mememang marah sekali kepadaku.'
Ku remas kuat rambutku hingga berantakan. Semua ini gara-gara Yasmin. Ku lirik wanita yang telah membuat hidupku menjadi kacau, Ternyata dia sudah tertidur pulas dikasur lantai.
Kudengar suara nafasnya yang sudah teratur. Benakku kembali teringat dengan kejadian yang membuat dadaku seperti terkena serangan jantung tadi pagi.
'Tidak, tidak, tidak, hanya Reza yang yang aku cintai. Dan secepat mungkin aku akan menceraikan Yasmin.'
Ku baringkan tubuhku menghadap pintu kamar. Agar netraku tidak melihat Yasmin yang berada disampingku. Ku pejamkan netra ini perlahan hingga aku mulai terbuai oleh alam mimpi.
"Yas, Yasmin!"
Ku goyangkan tubuh mungil gadis yang tidur dilantai.
"Yas, bangun!" Ucapku setengah berbisik.
'Ah, masih tidak bangun juga. Dasar Kebo.' Rutukku kesal.
Ku goyangkan bahu Yasmin lebih kuat lagi, hingga perlahan gadis manis itu membuka netranya perlahan.
"Mas Bagas!" ucapnya lembut dengan mengusap lembut kedua matanya.
"Yas, dengerin aku. Aku mau balik ke Bojonegoro. Jangan bilang-bilang sama ibu ya, bilangnya nanti saja kalau aku sudah pergi." Perintahku.
Yasmin tak langsung menjawab, Gadis itu melirik pada jam dinding yang berada di dalam kamar. "Ini kan baru jam 3 pagi mas!" ucapnya menatapku.
"Iya aku tau, pokoknya jangan bilang sama ibu ya, udah aku pergi dulu. Takut ibu nanti keburu bangun." Ujarku meninggalkan Yasmin.
Segera ku naikan tas rangselku keatas punggung, kemudian berjalan mengendap-endap macam pencuri dirumahku sendiri.
"Mas!" Panggil Yasmin dengan suara kecil
Aku mendengus kasar, ku putar tubuhku manatap Yasmin yang berjalan cepat ke arahku.
"Apalagi sih yas!" ucapku kesal.
Gadis itu meraih tanganku dan menciumnya dengan takzim.
"Hati-hati dijalan ya mas!" ucapnya dengan ulasan senyum disudut bibirnya.
Sesaat tubuhku terasa beku. Apa ini? Perasaan yang sama sekali tidak aku mengerti.
Bersambung .....