MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
PERJODOHAN



Setelah sepanjang perjalanan ibu terus menghardik ku. Wanita itu bahkan bersumpah akan secepat mungkin mencarikan jodoh untukku. Aku harap ucapan itu hanyalah karena rasa kesal ibu kepada Reza. Karena seumur hidupku aku hanya ingin mencintai gadis bernetra jeli itu.


Ku benamkan tubuhku diatas kasur, menatap pada layar gawai, berharap Reza akan menghubungiku dan meminta maaf kepadaku atas kejadian tadi pagi. Namun, hingga malam menjelang, gadis itu sama sekali tidak menghubungi ku.


'Apakah Reza tidak mencintaiku. Lalu apa artinya dengan kalimat-kalimat cinta yang sering ia lontarkan kepadaku. Harusnya kan aku yang marah saat ini.'


Ku usap kasar rambut klimisku hingga berantakan. "Dasar keras kepala!" Ucapku lirih membanting ponselku di atas kasur.


Jika sampai besok pagi Reza tidak juga menghubungiku, maka sudah dipastikan, akan ku datangi sekolah tempatnya mengajar esok hari.


Pagi telah menyambut, sinarnya yang lembut membuat terasa hangat mengenai pori-pori kulitku. Sejak subuh buta aku sudah berpamitan dengan ibu untuk kembali menunaikan pekerjaanku di Bojonegoro.


"Bu, Bagas kembali bekerja ya. Ibu ngak usah mikirin yang aneh-aneh!" Ucapku pada wanita dengan tatapan kosong itu. Takut saja jika dia masih memikirkan ucapan kasar Reza kemarin.


"Kamu ngak usah deket-deket Reza lagi ya, ibu sudah tidak Sudi jika harus memiliki mantu seperti Reza. Biar saja itu si Reza jadi perawan tua kagak ada laki-laki yang mau dengannya. Dasar wanita sombong." sahut ibu ketus.


Aku diam tidak bergeming, andai ibu tau melepaskan itu tidak semudah mencintai.


"Ya udah, ibu jangan lupa makan ya. Nanti, akhir pekan Bagas pasti pulang lagi nengokin ibu kesini." Ku genggam erat tangan ibu. Tatapan sedih dan kecewa masih bergelayut di wajahnya.


Setelah berpamitan, aku segera memacu motor trailku menyibak jalanan yang dipenuhi hutan menuju Bojonegoro.


Pukul 07:30 pagi, aku sudah berada dihalaman sekolah menengah pertama tempat Reza mengajar. Kulihat wanita dengan motor metik dengan lampu bulat didepan itu melaju perlahan menghampiriku yang berada didepan pintu gerbang sekolah.


Reza menghentikan motornya, kemudian membuka sedikit kaca helmnya ke atas, hingga aku bisa melihat bibir merah jambu dan Kedua pipinya yang merona.


"Ada apa mas disini?" ucapnya ketus. Bibir merah jambu itu mengerucut dan terlihat semakin mungil.


"Mas mau minta maaf soal yang kemarin." ucapku lirih, kupasang wajah memelas agar Reza merasa iba kepadaku.


"Ngak perlu minta maaf mas, intinya kalau mas masih mau sama aku ya udah sesuai kesepakatan kita. Tunggu aku jadi PNS." sahut Reza tegas. Baru kali ini aku menemukan wanita yang sangat ambisius seperti Reza.


"Iya dek, mas paham kok!" sahutku menurut. Rasanya aku belum siap jika harus kehilangan wanita secantik Reza. Belum tentu dengan tampangku yang seperti ini, aku bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik lagi daripada Reza. Rasanya tidak mungkin sekali.


"Dari pada mas mikirin nikah, nikah, dan nikah terus mending mas nabung untuk beliin aku rumah." celetuk Reza ketus. Netranya melirik tajam kepadaku. Namun, justru wajah mungil itu terlihat cantik dan begitu mengoda saat sedang marah seperti ini.


"Iya adek sayang!" kucubit kecil hidung Reza, hingga wanita itu mengaduh dengan tersenyum kecil.


"Sakit tau mas!" ucapnya seraya mengusap hidung kecilnya yang bangir.


"Biarin, siapa suruh adek marah-marah terus!" cerosoku.


"Lagian mas sih, minta kawin Mulu." Ulasan senyum mengembang di bibir Reza, pertanda mood gadis itu sudah mulai membaik.


"Iya sayang, mas akan bekerja lebih giat lagi biar bisa membangunkan rumah untuk adek!" kembali ku cubit hidung Reza hingga memerah. Namun, kali ini gadis itu justru tertawa bahagia.


'Ngak papa lah dek, asal kamu bahagia, mas rela menuruti semua keinginanmu.'


*****_____******


"Dek mas pulang ke Purwodadi dulu ya!" pamitku pada gadis yang sedang bermanja dipangkuanku. Ku pilin tiap ujung rambut panjangnya yang lembut dan menyeruak aroma melati dari tiap helaiannya.


"Tapi Senin depan mas balik lagi kesini kan?" tanyanya seraya bangkit dari pengakuanku.


"Iya dek!" jawabku manja.


"Ehm, engak kok! Aku ngak rindu." sahutnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya tersipu malu.


'Aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis cantik ini, di saat para wanita ingin segera dipinang. Tapi justru dia lebih suka dengan status yang semu seperti ini. Ah, Reza, Reza.


Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian meniup kecil pada telinga Reza, membuat gadis dengan rambut tergerai itu segera membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya tertawa riang karena kegelian.


"Mas Bagas, geli!" ujarnya memindah kedua tangannya menutupi telinganya.


"Masak geli sih dek?" Ledekku.


"Geli mana sama ini!" ku hujani cubitan kecil pada pinggang Reza hingga gadis itu semakin menggeliatkan tubuhnya dengan tertawa renyah.


*****____*****


"Apa? Perjodohan?" Pekikku.


Kutarik nafas dalam-dalam agar rongga paru-paruku yang terasa sesak bisa sedikit longgar. Entah dapat ide darimana ibu telah memutuskan perjodohan ku dengan seorang gadis yatim piatu dari kampung sebelah, tanpa membicarakannya terlebih dahulu kepadaku.


"Iya, memangnya kamu masih mengharapkan wanita sombong itu?" ibu menaikan nada suaranya dengan tatapan sinis kepadaku.


"Ibu, kan Bagas sudah pernah bilang, cinta Bagas itu cuma untuk Reza!" jelasku mengiba.


"Bagas, bagaimana jika Reza tak kunjung diangkat menjadi PNS? Apakah kamu juga akan menjadi perjaka tua?" seloroh ibu bangkit dari tempat duduknya.


Aku diam tak bergeming, ku amati wanita yang meletakan piring yang masih berisi separuh nasi itu di atas tempat pencucian piring.


Mungkin nafsu makannya telah menghilang karena sikapku yang secara tidak langsung menolak perjodohannya.


Ibu kembali menjatuhkan tubuhnya duduk di kursi meja makan tepat dihadapanku. "Bagas, kamu adalah anak ibu satu-satunya. Ibu sudah tua nak, lihat rambut ibu sudah penuh uban kan?" ibu menarik lembut helaian rambut putihnya kemudian menunjukannya kepadaku. "Ibu cuma mau kamu menikah, berumah tangga. Jadi ada yang mengurus kamu. Jika nanti ibu mati, ibu bisa tenang disana." imbuh ibu dengan suara bergetar.


Wanita itu menyeka sudut netranya yang telah basah. Guratan wajahnya terlihat begitu sedih sekali.


'Ah, kenapa harus menangis sih Bu!' rutukku dalam hati.


Aku diam tidak menjawab, kalau ibu sudah menangis, sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan kecuali diam dan menerima perintah ibu.


"Memang, siapa yang mau ibu jodohkan dengan ku? Apakah ibu yakin dia adalah gadis baik?" sahutku dengan suara berat.


Wajahku senantiasa tertunduk. Andai aku bukan milik ibu satu-satunya, pasti sudah aku tinggal lari ibu yang memaksaku untuk menikah seperti saat ini.


Ibu mendekatkan wajahnya ke arahku, tatapannya kini berubah menjadi binar. Pipinya yang basah telah mengering, sepertinya ibu sudah menghapus air matanya setelah mendengar jawabanku.


"Dia anak yang baik bagas, orangnya Sholeha. Pokoknya cocok sekali untuk kamu. Dan yang membuat ibu senang, dia mau menemani ibu tinggal disini. Jadi ibu tidak kesepian lagi kalau kamu lagi di Bojonegoro." Cerita ibu antusias.


Ibu sepertinya sangat berharap aku mau menikah dengan gadis pilihannya itu.


Aku menarik nafas dalam, mengisi rongga paru-paruku yang terasa berat untuk bernafas. Otakku terus berfikir bagaimana caranya agar aku tidak kehilangan Reza, gadis impianku.


"Piye?" tanya ibu penasaran dengan jawabanku.


"Baiklah ibu, Bagas akan menuruti permintaan ibu, tetapi ada syaratnya!" Kutatap lekat wajah ibu. Guratan lembut memang sudah memenuhi wajahnya. Pantas saja dia membutuhkan seorang teman dirumah sederhana milik kami ini. Apalagi pekerjaanku yang memaksaku harus berjauhan dengan ibu. Pasti membuatnya sangat kesepian tinggal sendiri di rumah ini.


Bersambung ...