
Netraku membeliak memanas, air mataku runtuh berjatuhan tanpa mampu kutahan.
Sebuah foto pernikahan terpasang jelas pada dinding kamar Yasmine. Iya, foto mas Bagas dengan perempuan berkulit sawo matang itu dengan balutan baju pengantin adat daerah Purwodadi.
Lututku seketika lamas, jantungku telah melompat dari tempurungnya. Kepalaku teras nyut-nyutan sesaat tatapanku pun menjadi kabur.
'Mas Bagas Setega ini kamu denganku, tenyata benar firasatku selama ini. Kamu telah mengkhianati cinta kita, mas! '
Aku terhuyun jatuh dilantai, tergugu dalam tangisan tak bersuara. Hatiku sakit, bahkan sangat sakit sekali.
Sepersekian detik aku hanyut dalam lukaku. Seperti orang yang kehilangan akal, aku tidak tahu lagi apa yang harus ku perbuat. Aku tidak ingin melepaskan mas Bagas begitu mudahnya untuk Yasmine. Namun penghianat ini seolah membunuhku perlahan.
Karena dia adakah asetku selama ini, dan dia adalah cinta pertamaku yang selalu ku jaga. Tetapi semua hanyalah sia-sia.
Luka didada ini berganti dengan amarah yang semakin bergemuruh. Siapapun yang berani' menyalakan api dalam rumah tanggaku siap-siap saja ku lahap habis.
Deru mesin mobil terdengar masuk kedalam telingaku. Ku usap air mata yang membasahi pipiku. Pantang untuk Reza menangis karena kekalahan.
Pasti itu Yasmin yang baru pulang, aku segara bangkit dengan amarah yang telah berkobar didalam dadaku. Aku berjalan' keluar dari kamar Yasmin menuju pintu utama.
Nampak wanita itu baru masuk dan menutup pintu besar rumah ini. Ku langkahkan kakiku lebih cepat lagi dengan wajah meradang.
Plak!
Tamparan mendarat mulus pada pipi wanita dengam hijab nude itu. Tanganku terasa panas, mungkin sama dengan pipi yang terus diusap oleh Yasmin.
"Apa apaan ini?" pekik Yasmin dengan netra membeliak.
Aku tak menjawab. Aku terus menatap nyalang wajah Yasmine yang terlihat terkejut dengan seranganku.
Sepersekian detik kita saling menatap satu sama lain, kulihat iris coklat itu terbuka lebar seolah telah mengetahui kesalahannya.
"Jangan tanya apa maksudku? Dasar perempuan murahan!" hardikku dengan suara lantang.
Yasmin tak menjawab, wanita itu terus memelototiku dengan wajahnya yang memerah.
"Sejak kapan kamu menikah' dengan mas Bagas?" Bentakku.
"Jawab wanita ******." kini air mataku jatuh bercucuran bersamaan dengan rasa nyeri yang menjalar memenuhi dadaku.
"Kenapa tidak kamu tanyakan kepada mas Bagas saja." sahut Yasmine begitu datar.
"Sialan kamu ya!" Teriakku dengan mengayunkan tanganku hendak memukul wajah Yasmine kembali. Namun tanganku terhenti seketika, sebuah tangan menghempaskan lenganku hingga terasa sakit.
"Ibu!" pekikku menoleh kebelakang punggung ku. Wajah wanita paruh baya itu memerah. Netranya membulat melihat kepadaku.
'Apakah ibu juga telah mengetahui pernikahan ini?' gumanku dalam hati.
Tubuhku bergetar, rasa takut menjalar dalam hatiku. Namun aku masih tetap memasang wajah garangku. Aku tidak mau terlihat lemah didepan Yasmin pelakor yang telah masuk ke dalam rumah tanggaku.
"Hentikan!" ucap ibu dengan suara datar namun terasa menyakitkan.
"Apa katamu? Dasar wanita sombong!" sahut ibu sinis.
Nyeri! Ibu bilang aku sombong. Apakah ibu benar-benar sudah tau dengan semua ini.
"Cukup ibu, tolong jelaskan kepadaku siapa wanita ****** itu." Ucapku penuh penekanan menunjuk kearah Yasmin yang masih menatapku dengan tatapan berani'.
"Tutup mulut sombongmu itu Reza!" Pekik ibu dengan wajah tidak suka kepadaku. "Yasmin itu adalah istri sah Bagas, dan Aska adalah anak kandung Bagas."
Seketika pandanganku menjadi gelap, bibirku bergetar hebat dan tulangku serasa lolos dari persendian. Segara kusadarkan diriku dari kenyataan terpait ini. Ya, aku harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah di mata Yasmin dan ibu. Pasti mereka akan menertawakan kebodohanku jika semua itu kulakukan.
"Bukankah kamu sendiri dulu yang menolak lamaran Bagas, dan sekarang kamu hanya dijadikan istri keduanya. Hem ..." ucap ibu sinis memalingkan wajahnya dariku.
"Hem," ku palingkan wajahku dari tatapan ibu dengan sinis. "Sekalipun wanita itu istri pertama mas Bagas, toh hanya aku yang mempunyai buku nikah yang sah di mata agama dan negara." Ku dekatkan wajahku kearah ibu yang menatapku dengan mata merah.
Kini giliran aku menoleh kearah Yasmine, "Bersiaplah kamu menjadi janda, dan anakmu akan tumbuh tanpa seorang ayah." ancamku dengan wajah menyeringai.
Kemudian aku berjalan meninggalkan ibu mertuaku bersama Yasmine yang terlihat kesal. Umpatan demi umpatan merutuki langkahku dari bibir ibu mertuaku.
Aku masih melangkahkan kakiku menyusuri anak tangga tanpa memperdulikan ibu mas Bagas. Segera ku percepat langkahku agar telingaku tak lagi mendengar hardikan yang ibu tujukan kapadaku.
Ku banting tubuhku kasar diatas ranjang. Aku lelah. Ternyata firasatku tidak pernah salah. Aku tergugu, ku remas Sepri yang membalut kasur milik mas Bagas. Masih terekam dalam benakku indahnya percintaan kami kemarin malam di ranjang ini. Tapi ternyata dia pun telah membagi hal itu dengan wanita lain hingga memberikannya keturunan. Sakit!
'Namum, aku tidak akan mundur, akan ku balas semua sakit hatiku kepadamu mas Bagas. Karena dia telah menipuku mentah-mentah.'
____****_____
POV BAGAS.
Namaku Bagas Anggara. Terlahir dari keluarga yang miskin membuatku harus bekerja keras dalam hidupku. Sejak usiaku masih anak-anak bapak telah meninggalkanku untuk selamanya. Tinggallah aku hidup bersama ibuku yang hanya seorang buruh tani.
Bertahun-tahun aku bekerja keras untuk meraih cita-citaku. Berkat pamanku yang tinggal di Bojonegoro akhirnya aku bisa ikut bekerja di perhutani. Awalnya aku hanya membantu paman yang saat itu adalah mandor besar di sepanjang hutan Bojonegoro. Melihat kegigihanku paman menyekolahkan ku hingga aku bisa bekerja disana.
Suatu hari aku mengenal gadis yang sangat cantik sekali. Rambutnya panjang tergerai, hidungnya bangir, serta kulitnya putih bagaikan pualam. Bibirnya yang merah jambu selalu membuatku meleleh setiap kali melihat senyumannya. Apalagi tatapan mata jelinya selalu membuatku ingin menggodanya.
Reza Ramania. Itulah nama gadis cantik itu. Saat itu dia masih mengenyang pendidikan kuliah di kampus dekat rumah pamanku. Jadi hampir setiap hari aku bisa melihat gadis bertubuh semampai itu.
Namun, sikapnya yang jutek dan galak membuatku susah sekali untuk mendapatkan hatinya. Satu tahun perjuanganku untuk mendapatkan hati Reza akhirnya menuai hasil. Gadis itu mau menerima cintaku, dan katanya akulah cinta pertamanya saat itu. Bahagianya aku menjadi yang pertama.
Pantas saja para cowok malas mendekati Reza mungkin karena sifatnya yang angkuh dan sedikit sombong. Tapi bagiku itu bukan masalah, karena tampangku yang pas-pasan memiliki pacar seperti Reza adalah suatu anugrah terindah.
Gadis yang terlahir dari keluarga terpandang, serta pendidikannya yang tinggi membuatku menaruh banyak harap kepada Reza untuk menjadi pendamping hidupku kelak.
Empat tahun kami berpacaran, aku sudah memiliki jabatan yang lumayan di tempat kerjaku dan Reza pun kini telah menjadi guru bantu di sekolah menengah atas di daerah Bojonegoro.
Kupikir berpacaran empat tahun sudahlah cukup untuk kita saling menjajaki. Aku pun sudah hafal betul karakter Reza yang ambisius dan keras kepala. Tapi sebenarnya dia adalah gadis sangat manja dan manis sekali. Mungkin karena dia terlahir sebagai anak tunggal membuatnya jadi seperti itu.
BERSAMBUNG ....