MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
IBU SAKIT



Ku tepis desiran aneh yang mengusik hatiku. Senyuman manis itu seolah berhasil mengoyahkan rasaku.


'Bagas, ingat dia bukan gadis impianmu.'


Aku segera menyadarkan diriku. Ku langkahkan kakiku meninggalkan Yasmin. Aku harus segera sampai di Bojonegoro sebelum jam pelajaran sekolah dimulai.


Setelah perjalanan hampir dua jam lebih lima belas menit, akhirnya aku sampai juga didepan pintu gerbang sekolah menengah pertama tempat Reza mengajar.


Pagi masih buta, udara pagi yang berkabut membuat hawa dingin semakin menusuk kedalam tulang-tulangku.


'Dek, dek kalau bukan karena kamu, mas tidak mau disuruh kesini pagi-pagi seperti ini.'


Ku gosok kedua telapak tanganku, agar tubuh ini tidak seperti es batu, dingin.


Satu jam aku telah menunggu, hingga para murid-murid dengan seragam putih biru itu telah masuk kedalam kelas. Tapi wanita pujaan hatiku pun tak kunjung menampakan dirinya.


Matahari mulai menunjukkan sinarnya yang cukup menghangatkan tubuhku yang membeku. Kabut yang menyelimuti udara perlahan memudar. Membuatku mampu menatap ke sekeliling dengan cukup jelas.


"Pak Bagas!" ucap seorang wanita yang hendak berjalan masuk menuju pintu gerbang.


"Eh, ibu tari!" sahutku ramah.


"Nungguin Bu Reza ya?"


"Iya ibu."


"Oh, tapi kayanya ibu Reza ngak masuk deh, habis kejadian kemarin." Celetuk Bu Tari memancing rasa penasaranku.


"Kejadian kemarin gimana Bu maksudnya?" netraku membulat melihat kepada Bu Tari.


"Iya, Bu Reza kan habis berantem sama Bu Nining waktu kami semua menghadiri acara pernikahan pak Suntoro, guru disini juga."


"Gimana ceritanya?"


"Biasalah pak, gara-gara omongan Bu Nining yang bawel itu bikin bu Reza kesal. Jadi deh pertengkaran di antara mereka. Nah, ngak sengaja' Bu Nining mendorong tubuh Bu Reza. Akhirnya pelipis Bu Reza nabrak ujung meja, mau ngak mau ya harus dijahit."


Deg!


Hatiku mulai panik, tanpa mendengarkan cerita Bu Tari lebih lanjut, aku segera meninggalkan janda berumur itu pergi ke rumah Reza.


_____*****______


Ku pacu motorku dengan cepat menuju rumah Reza. Setengah jam motor trailku telah sampai dihalaman rumah berlantai dua milik Reza.


"Loh, nak Bagas!" ucap pria bertubuh gemuk yang telah siap dengan pakaian kerjanya.


"Selamat pagi, om!" Aku membungkukkan tubuhku sedikit kedepan, memberikan penghormatan.


"Iya, Bagas pagi. Ada apa ini pagi-pagi sekali sudah mampir ke rumah Om!" pria itu selalu saja bersikap hangat kepadaku.


Ku ukir sedikit senyuman di sudut bibirku sebelum menjawab pertanyaan papa Reza. "Rezanya ada om?" Ucapku.


"Owlah Reza, ada masuk aja. Lagi dikamar katanya kepalanya pusing jadi ngak masuk kerja." Jelas pria itu mempersilahkan aku masuk.


Ku susuri rumah berlantai dua itu, menaiki anak tangga menuju kamar Reza yang berada dilantai atas.


Cekret!


Ku buka pintu kamar Reza, nampak gadis putih nan ayuku masih terlelap dari balik pintu yang terbuka.


Ku jatuhkan tubuhku duduk berjongkok di samping ranjang Reza. Mengamati wajah cantik Reza yang nampak bertambah kecantikan saat ia sedang tertidur.


"Yasmin!"


Deg!


Ku usap lembut kepada mataku, ketika bayangan wajah yasmin yang justru nampak dihadapan ku. Aneh sekali otaku ini.


"Dek! Bangun!" ku goyangkan tubuh Reza pelan.


"Mas!" Reza membuka matanya melihat kearah ku dengan tersenyum.


"Mas, aku kangen kamu. Kapan kamu pulang? Dalam mimpiku pun kamu selalu ada." Ucap Reza menggeliatkan tubuhnya kemudian kembali terpejam.


"Dek, kamu lagi ngak mimpi, ini mas disini." Ucapku nyengir.


Hatiku jadi melonjak-lonjak mendengar ucapan Reza, karena jarang sekali wanita itu mengungkapkan perasaan kepadaku. Kecuali, saat moodnya lagi bagus kalau tidak saat dia lagi ada maunya.


"Apa?" Pekik Reza membuka netranya lebar.


"Aduh!" Reza mengaduh menyentuh kepalanya yang sakit.


Aku tersenyum meringis, bagaikan pengeran yang sedang di puja-puja oleh seorang putri cantik jelita. Hatiku melambung tinggi ke awang-awang.


"Sejak kapan mas disini?" Tanya Reza membuatku tersadar dari ke ge-eranku.


"Mas, baru kok dek. Tadi pagi aku nungguin kamu di sekolah tapi kamu ngak datang-datang. Kata Bu Tari kamu habis ribut sama temenmu ya?" tanyaku mengusap lembut kening Reza yang masih berbaring.


Bibir gadis itu seketika mengerucut. Ia menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan wajah' ayunya yang tetap terlihat cantik meskipun tanpa polesan makeup.


Netranya terlihat mengembun dengan dada yang naik turun.


"Memang Nining bilang apa sama adek?" Tanyaku lembut selembut kue bolu.


"Nining bilang aku perawan tua didepan semua tamu undangan yang hadir. Kan aku malu mas!" Embun yang memenuhi pelupuk mata Reza akhirnya jatuh Juga.


Aku mendengus halus, ingin sekali aku memeluk tubuhnya yang terisak, tapi aku takut jika gadis itu akan marah kepadaku. Keputusan untuk mengusap air mata yang membanjiri pipinya saja.


"Sabar ya sayang!" hiburku.


'Siapa suruh ngak mau dikawinin, barang dikatain perawan tua nangis. Dek, dek kamu itu aneh sekali.'


"Lagian mas kemana aja, aku kan tadinya mau ngajakin mas ke acara nikahan pak sun. Karena aku tau kalau temen-temenku suka julid dengan statusku yang masih single di usiaku ini." cerocos Reza menatap kesal kepadaku.


"Iya dek, ibu akhir-akhir ini suka kesepian kalau."


"Kalau kesepian suruh kawin saja lagi," beo Reza memotong ucapanku.


'Entahlah, gadis manjaku memang suka sekali berbicara asal.'


"Ya sudah maafin mas ya, mas janji mas tidak akan mengulanginya lagi." Bujuk ku memasang wajah menyesal dihadapan Reza.


"Janji!" Reza menarik tangannya dari balik selimut dan memberikan jari kelingkingnya kepadaku, ku sambut jari lentik itu sebagai ikatan janji kami.


Namun, hatiku sedikit tertawa geli. Melihat jariku yang sedang bertaut dengan jari Reza, kenapa nampak macam kopi susu ya. Tak apalah yang penting Reza menerimaku apa adanya.


Aku tersenyum renyah, serenyah wafer tengo. Melihat gadis Ayuku telah kembali seperti sediakala.


"Minggu ini mas jangan pulang ya, soalnya ada temen aku yang kawinan lagi. Mas harus janji temenin aku ke acara itu." Rengeknya kepadaku dengan manja.


"Iya, mas janji minggu ini mas ngak akan pulang." sahutku disambut dengan senyuman manis Reza.


___***___


Aku sudah siap dengan setelan baju kondangan, kemeja batik dengan celana hitam. Tidak lupa kusisir rambutku dengan klimis Agar terlihat maskulin. Ku semprotkan minyak wangi keseluruh tubuhku. Hemm .... Wangi!


Dreg! Dreg!


Ponsel diatas meja kerjaku terus saja bergetar. Sebuah nomor tanpa nama berkedip di tampilan layar. Berarti nomor itu bukanlah orang-orang yang aku kenal. Karena tidak ada namanya di kontakku.


Ku abaikan panggilan itu. Hari ini aku sedang tidak ingin diganggu. Aku ingin mengganti hari kemarin yang sudah membuat Reza bersedih karena ulahku.


Ting!


Sebuah notifikasi WhatsApp masuk digawaiku. Kuraih benda pipih itu. Kemudian mengusapnya lembut pada layar tampilannya.


[Mas, cepat pulang ibu lagi sakit. Aku baru saja membawa ibu kerumah sakit. Ibu nyariin mas terus.] Tulis pesan dari nomor tanpa nama itu.


Lututku terasa lemas, wanita yang telah memperjuangkan diriku kini mendadak sakit. Perasaan cemas langsung menjalar kedalam hatiku.


Ku tekan tombol panggil pada nomor yang belum aku ketahui siapa pemiliknya itu.


Tut! Tut! Tut!


"Halo," sahut pemilik suara lembut diujung telepon. Dari suaranya wanita itu terlihat sangat panik.


"Yas, ibu kenapa?" tanyaku penuh kecemasan.


"Kaya dokter ibu terkena pembengkakan jantung mas!"


"Jantung?" pekikku.


"Mending mas pulang dulu deh, soalnya ibu nyariin mas terus." jawab Yasmin.


"Iya yas aku segera pulang."


Setalah aku mengakhiri panggilanku. Segera aku meraih jaketku dan bergegas menuju garasi.


Pikiranku kian campur aduk, Bayangan ibu mengisi sudut pikiranku. Dialah wanita satu-satunya yang kumiliki saat ini. Aku takut jika hal buruk terjadi pada ibuku.


Sialnya hujan lebat seolah tidak mau bersahabat denganku. Sepanjang perjalanan Bojonegoro Purwodadi tubuhku hampir beku diguyur hujan. Bisa dipastikan setalah ini akulah yang akan jatuh sakit.


Aku telah tiba dihalaman rumah sederhana miliku. Getaran ponsel yang dibungkus plastik didalam saku celanaku tak kunjung berhenti selama perjalanan.


'Reza.' pasti gadisku sekarang sedang mencariku.


Kuraih ponsel dari saku celanaku, kemudian menekan tombol hijau dari layarnya.


"Mas, kamu dimana sih! Katanya mau nemenin aku. Gara-gara mas aku ngak jadi ke acaranya Rini. Kalau tidak bisa itu ngak usah janji. Aku bisa kok minta ditemenin laki-laki lain." Omel Reza semakin membuat pusing kepalaku.


"Dek, ibu mas sakit. Dia sedang dirawat. Jadi mas harus buru-buru pulang. Maafin." Ucapku dengan nada memelas.


"Alah alasan terus. Ibumu itu manja sekali sih mas. Malas aku dibuatnya."


lagi-lagi Reza memotong ucapan. Aku mendengus halus, setelah bunyi sambungan telepon yang telah ditutup itu mendengung di pendengaranku.


BERSAMBUNG ....