
Suasana telah kembali hening. Suara sound sistem yang mengiringi pernikahanku pun telah dimatikan sejak tadi sore. Sementara tenda paling besar yang ibuku pesan, sudah diturunkan semenjak acara selesai.
Ramai para tetangga yang membantu mempersiapkan acara besar ibu juga telah kembali kerumahnya masing-masing. Kini dirumah ini tinggal aku, ibu dan Yasmin.
'Hari ini aku telah resmi menikahi seorang gadis secara siri. '
Tidak ada satupun orang yang tau perihal itu. Karena acara akad nikah dilakukan di kantor KUA. Sementara resepsinya dilaksanakan dikediaman ku. Sudah pasti tidak ada yang mengira jika pernikahan ini hanyalah pernikahan dibawah tangan.
Setelah acara selesai, aku sudah membaringkan tubuhku diatas kasur. Seharian bersalaman dengan para tamu undangan sangatlah menguras tenagaku.
Bayangan Reza samakin jelas memenuhi sudut pikiranku. Ada rasa bersalah yang bergitu dalam didasar hatiku. Namun, terbesit sebuah penolakan jika semua ini bukanlah salahku.
Andai saja Reza tidak bersikap seperti itu, Pasti semua ini tidak akan terjadi.
Aroma sampo menyeruak ke dalam Indra penciumanku. Wangi dan menyegarkan.
Deg!
Aku baru ingat jika kini aku tidaklah sendirian menepati kamar ini.
Aku mengerjap duduk diatas rajang, dadaku terasa berdebar kencang. Mendapati wanita dengan kerudung merah tengah duduk ditepi ranjangku.
"Huf," aku meniup kecil. Aku kira telah terjadi sesuatu hal antara aku dan gadis itu.
Sepertinya aku baru sadar jika semenjak acara pernikahan itu selesai aku sudah terlelap tanpa sempat membersihkan diri.
Kulirik jam yang bertengger didinding kamar. Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Rupanya aku sudah tertidur cukup lama.
Seingatku setelah acara selesai aku segera masuk kedalam kamar. Tanpa menghiraukan peritah ibu untuk mencari keberadaan Yasmin yang saat itu sedang sibuk bersama-sama teman sekolahnya dulu.
"Ngapain kamu?" tanyaku ketus kepada gadis yang sedang tertunduk dengan memilin ujung kerudungnya pada jemari.
"Aku mau tidur, tapi." Yasmin menghentikan ucapannya.
Aku beranjak bangun dari atas ranjang. Ku abaikan gadis itu. Mungkin dia juga merasa lelah sama seperti halnya aku. Tapi biarlah, aku tidak peduli.
Entah sejak kapan Yasmin telah duduk di tepi ranjang. Jika bukan karena aroma wangi sampo dari rambut yang tertutup kerudung itu, mungkin saja aku belum terbangun dari tidurku. Dan bisa-bisa Yasmin akan terus terduduk di tepi ranjangku hingga pagi menjelang.
"Ya sudah tidur sana!" ucapku acuh. Kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Harusnya malam ini adalah malam pertamaku dengan Yasmin, tapi jangan pernah berharap aku akan melakukan hal itu dengannya. Sepertinya Yasmin pun juga sadar bahwa pernikahan ini hanyalah main-main. Buktinya dia tidak menuntut apapun dariku.
Setelah selesai membersihkan diri, aku segera kembali ke kamar. Karena besok pagi-pagi sekali aku harus sudah tiba di Bojonegoro sesuai permintaan Reza, kekasihku.
Ku raih tikar Palembang yang berada didalam lemari. Tikar kotak-kotak yang menyerupai tahu. Lumayanlah bisa menghangatkan tubuhku dari dinginnya lantai keramik. Karena aku tidak Sudi jika harus tidur seranjang dengan Yasmin.
"Mas!"
Suara lembut itu menghentikan gerakan tanganku. Aku menoleh kearah Yasmin yang masih terjaga dengan posisi meringkuk menatapku.
"Mas tidur disini saja biar aku yang tidur dilantai." ucapnya seraya bangkit dari pembaringan.
Sejenak aku terdiam. Ada rasa tidak tega jika melihat seorang wanita tidur diatas kasur setipis ini, pasti dingin lantai akan mencacah tulang-tulangnya.
'Hilangkan rasa iba itu Bagas, semakin Yasmin tersiksa dalam pernikahan ini, maka pada akhirnya dia sendirilah yang akan memilih mundur dari pernikahan ini.'
"Ya sudah, turun!" titahku ketus.
Ku sodorkan gulungan kasur itu kepada Yasmine. Gadis itu segera membentangkan Kasur tipis itu diatas lantai samping ranjang tidurku.
Bug!
Ku lempar bantal dan guling kebawah mengenai dada Yasmin. Hingga membuat wajah gadis hitam manis itu seketika menoleh ke arahku.
"Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu!" Ucapku penuh penekanan, dengan mantap lekat pada wajah Yasmine.
Aku segera membenamkan tubuhku diatas kasur. Sesaat aku masih terjaga. Aku kira Yasmin akan membalas ucapku, atau marah kepadaku. Tetapi ternyata tidak.
Ku lirik Yasmine yang terbaring di kasur lantai. Gadis itu meringkuk menghadap dinding. Lama kelamaan, aku bisa mendengar deru nafasnya yang teratur. Rupanya cepat sekali dia tertidur.
***____****
'Kemana perginya gadis itu, atau Jangan-jangan dia sudah kabur pulang kerumahnya.'
Terukir ulasan senyum disudut bibirku, ada rasa bahagia jika memang itu benar terjadi.
Cekret!
Bunyi seseorang membuka pintu kamarku. Nampak Yasmin dari balik pintu yang membawa baki dengan secangkir teh, bersebalahan dengan nasi goreng yang mengepulkan asap putih ke udara.
'Ah, ternyata dia masih ada!'
Aku mendengus kesal, memperhatikan Yasmin yang sedang meletakan baki itu diatas nakas samping ranjang.
"Mas, sarapannya." Ucapnya hendak berjalan keluar.
"Hey, sini kamu!" Panggilku dengan melambaikan tangan kepada Yasmin.
Gadis itu Kembali memutar tubuhnya, berjalan ke arahku.
"Kamu tau kenapa aku menikahimu?" tanyaku dengan menatap tajam ke arah Yasmin.
Gadis itu mematung di hadapanku dengan wajah' tertunduk. Dia hanya menggeleng, tanpa berani menunjukkan wajahnya kepadaku.
"Lihat aku!" titahku kesal. Aku paling tidak suka jika berbicara dengan seseorang yang sama sekali tidak berani menunjukkan wajahnya. Seperti seorang pengecut saja.
Yasmin tak bergeming, gadis itu perlahan mengangkat wajah menatapku.
"Asalkan kamu tau, seumur hidupku, aku tidak akan pernah mencintai kamu. Karena apa? Karena aku sudah memiliki kekasih yang sangat aku sayangi. Dan nanti, tepat satu tahun pernikahan ini, aku akan segera menceriakanmu. Paham!" ucapku lantang penuh penekanan.
Kutatap lekat wajah yasmin. Tidak ada perubahan apapun dari gurat wajah hitam manisnya. Ekspresi marah, menangis, atau kesal pun tidak ada. Bahkan mengiyakan ucapanku atau tidak sama sekali tidak ia tunjukkan. Bibirnya terkunci rapat dengan membalas tatapanku.
"Sudah selesai." sahutnya membuat hatiku terasa dingin.
Seperti diserang balik, aku justru tak bisa berkutik. Kulihat gadis itu berlalu meninggalkan kamar ini.
"Aaaaaa ....."
Teriakku kesal. Ku remas kuat rambutku hingga berantakan.
***____****
Aku sudah siap dengan seragam dinasku dan tas rangsel yang berada di atas punggungku.
"Bu, Bagas berangkat dulu." Teriakku kepada ibu yang berada di dapur.
"Bagas, Bagas. Tunggu!" Ucap ibu menghetikan langkahku.
Wanita itu berjalan cepat ke arahku diikuti Yasmin yang mengekorinya di belakang punggungnya.
"Bagas, kamu mau kemana?" Tanya ibu mengeryitkan dahinya.
"Kerja!"
"Ya ampun Bagas, apa kata orang jika kamu meninggalkan rumah. Kamu kan baru kemarin menikah' Bagas." Ibu menarik tas ranselku hingga terlepas dari punggungku.
"Bu, Bagas kan harus kerja!" protesku.
"Tidak bisa Bagas, selama seminggu ini kamu harus tetap dirumah. Pamali pengantin baru keluyuran itu." Cerocos ibu membuatku kesal.
Aku mendengus kasar meninggalkan ibu dan Yasmin. Ku banting tubuhku kasar diatas kasur. Ku hujani kasur yang tidak bersalah itu dengan pukulanku.
Tidak bisa ku bayangankan pasti Reza akan marah sekali kepadaku.
Bersambung ....