
Part sebelumnya.
Ku periksa satu persatu setiap Kantong baju itu. Takut jika ada sesuatu yang penting yang tertinggal. Tanganku terhenti ketika masuk di saku baju berwarna hijau itu. Sebuah kertas terselip didalamnya dan segara aku meraihnya.
Kubuang kertas itu sembarang, namun netraku terhenti ketika sebuah nama terlihat jelas pada tulis sebuah kertas yang seperti nota itu.
[RUMAH SAKIT HUSADA]
LAPORAN PEMBAYARAN
[YASMIN]
Next PART 4
Segara kuraih selembar nota pembayaran rumah sakit yang terjatuh sembarang. Kubuka lipatan secarik kertas yang jelas tertulis nama Yasmin yang terletak diujung nota lengkap dengan tanda tangannya.
Didalam nota itu hanya tertulis rincian biaya perawatan, tanpa nama pasien atau pun penyakit yang diderita. Hanya pada akhir nota tertulis nama Yasmin sebagai pelunas biaya tersebut.
'Kenapa bukan nama mas Bagas?' Apakah nota ini bukan milik mas Bagas? Jika bukan kenapa nota ini ada disaku baju mas Bagas?'
Benakku terus berfikir, namun aku mencoba berfikir sepositif mungkin. Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman seperti halnya hari kemarin.
Aku percaya mas Bagas tidak akan pernah membohongiku. Karena yang aku tau pria itu sangat mencintaiku.
Segara ku lanjutkan kembali aktifitas ku mencuci pagi ini, kemudian lanjut beberes rumah dan disambung dengan aktifitas memasak. Sungguh pekerjaan rumah ini membuat seluruh tenagaku terkuras.
Malam telah menjelang, Mas Bagas yang sedari sore sudah pulang' memilih menghabiskan waktunya untuk tertidur pulas di kamar. Sepertinya pria bertubuh hitam manis itu kelelahan dengan pekerjaannya seharian.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku segara menaikan tubuhku naik ke atas ranjang. Kulihat pria di samping ku itu masih dengan nafasnya yang teratur, sepertinya mas Bagas sangat pulas sekali.
Ku usap lembut rahang kekarnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, rasanya diriku sangat merindukan belaian pria yang kini sedang terlelap itu. Semenjak mas Bagas pulang dari Purwodadi belum sempat sekalipun pria itu memberikanku nafkah batin. Padahal seharus saat ini ranjang kami sedang panas-panasnya sebagai pengantin baru.
"Arhg," Mas Bagas mengerang lembut. Pria itu mungkin kegelian dengan ulahku.
Aku masih terus menggodanya, memainkan bulu halus yang tumbuh disekitar dada bidangnya. Melihatnya yang terus menggeliat membuatku semakin bernafsu untuk memainkannya.
"Apa sih dek," suara mas Bagas terdengar malas. Pria itu membuka netranya perlahan manatap ku yang sedang berbaring disampingnya.
"Mas capek, ya!" tanyaku manja.
"He'um," pria itu mencoba menyadarkan dirinya dari rasa kantuk yang terus menyerang.
"Adek mau apa?" tanya pria yang kini menarik tubuhku dalam pelukannya.
Aku diam tak bergeming, rasanya terlalu tabu jika aku harus mengungkapnya duluan.
"kamu rindu!" ucapnya dengan mengusap lembut setiap ujung rambutku.
Aku masih terdiam, membiarkan mas Bagas mencerna sendiri kode yang aku berikan. Semenit, dua menit, lima menit, suasana justru semakin hening. Hanya terdengar suara nafas Mas Bagas yang kembali teratur.
Ku dongakkan wajahku menatap mas Bagas yang sudah tertidur kembali. Membuat ku merasa kesal dengan pria itu. Apakah dia tidak merindukan ku?
Andaikan aku marah, rasanya begitu aneh. Hanya gara-gara soal rajang saja aku harus menuntut, pikirku.
Ku tarik tubuhku dari pelukan mas Bagas kasar kemudian ku baringkan tubuhku memungunginya. Namun, juga tidak ada respon sedikitpun dari pria itu. Apakah selelah itu pekerjaannya hingga membuatnya benar-benar tertidur pulas.
**___**
Aku masih berdiri di depan pantulan cermin kamar. Kulihat wajahku yang putih bersih berseri. Ku putar tubuhku yang mengenakan seragam kerja berkali-kali. Apakah aku sudah tidak menarik? Aku rasa aku masih cantik kok?
"Dek, ngapain?" Tanya mas Bagas yang baru keluar dari kamar mandi. Membuat ku tergeragap dan kembali duduk di kursi depan meja rias.
"Eh, engak kok mas! Ini lagi nyobain seragam baru," sahutku.
"Oh ...," Ucap pria bertubuh tegap yang sedang membuka lemari baju itu.
Melihat pantulan tumpukan baju baju di dalam lemari dari kaca riasku, aku kembali teringat dengan nota yang bertuliskan Yasmin kemarin. Segera ku raih nota itu dari dalam laci meja rias yang sengaja aku simpan.
Pria itu segera meraih nota itu, terlihat wajahnya yang sedang memperhatikan deretan huruf yang berjajar rapi didalamnya.
Pria itu menarik nafas dalam-dalam, kemudahan menghembuskannya dengan lembut. Seolah sedang berpikir keras.
"Oh, ini nota pembayaran rumah sakit ibu kemarin," sahut mas Bagas yang kini menjatuhkan tatapannya padaku.
"Tapi kenapa disini tertulis nama Yasmin? Bukan mas Bagas? Terus Yasmin itu siapa?" kuberondong mas Bagas dengan semua pertanyaan yang telah berjejalan dibenaku sambil terus menunjuk pada nama Yasmin yang terletak pada sudut nota.
"Sayang, Yasmin itu perempuan yang tinggal bersama ibu. Dia yang merawat ibu di Purwodadi. Kamu kan tau sendiri ibu sudah sakit-sakitan. Bagaimana jika tiba-tiba jantung ibu kumat? Sementara mas ngak bisa selalu berada di dekatnya." ucap mas Bagas terlihat sedih. Pria itu memegang kedua bahuku dan menatapku lekat.
Aku menarik nafas dalam, rasanya dadaku sedikit sasak. Mengingat hubunganku dengan metuaku yang sedang tidak begitu baik.
"Mas, bagaimana kalau besok kita main ke tempat ibu? Bukankah aku sudah lama tidak berkunjung ke Purwodadi. Bahkan di acara pernikahan kita pun ibu tidak bisa datang." ucapku pada mas Bagas yang terlihat gugup.
"Nanti kita fikirkan lagi, mas mau siap-siap dulu berangkat kerja!" ucap mas Bagas datar. Pria itu meninggalkanku setelah meraih baju kerjanya dari dalam lemari.
*_*
"Cie cie, Bu Neti! Itu lehernya kanapa di tempel hansaplas?" Ledek Bu tari pada wanita muda dengan leher jenjang dihadapannya yang terus memegang hansaplas dengan tersipu malu.
"Tuh, kalau main kaya Bu Reza dong, ngak berbekas tapi ngena!" Ledek Bu tari padaku yang baru memasuki ruang staf guru.
Namun kali ini ucapan Bu tari justru tak membuatku senang. Yang anda hanya membuat batinku terasa nyeri. Mengingat mas Bagas hanya menyentuhku sekali saat malam pertama.
"Jiah do'i malah melamun aja!" Cetus Bu tari yang mengerakkan tangannya dihadapanku.
"Hehe, iya Bu kenapa?" tanyaku geragapan.
"Haduh, Bu Reza nih masih pengantin baru udah kaya emak emak banyak anak aja deh." Ledek Bu tari dengan tersenyum meninggalkan ku di ruang staf. Sepertinya wanita dengan tubuh gemuk itu sedang ada jadwal pagi ini hingga membuatnya terlihat buru-buru.
"Ngak usah didengerin Bu, kaya ngak tau Bu tari aja. Janda kesepian," seloroh Bu Neti dengan tersenyum padaku. Wanita yang terus memegangi lehernya itu berlalu meninggalkanku.
Pagi ini aku benar-benar sangat merindukan mas Bagas. Tidak pernah sekalipun aku menghubungi pria itu duluan. Selalu dia yang terlebih dulu mengubungi ku. Menanyakan kabarku, atau hal hal yang tidak penting lainnya. Bagiku pantang untuk menjatuhkan harga diriku didepan laki-laki, sekalipun itu adalah suamiku.
Namun, hari ini aku ingin sekali menghubungi pria itu. Ku paksakan diriku untuk menurunkan sedikit egoku. Segera kuraih ponsel dari dalam tasku. Kemudian menekan tombol hijau pada kontak yang bertuliskan my husband di ponselku.
Tut ... Tut ... Tut ... Nomor yang anda tuju sedang sibuk.
Sahut suara operator pada ponsel yang telah ku tempelkan dekat telingaku. Berkali-kali aku mencoba namun nomor mas Bagas sama sekali tidak bisa aku hubungi.
Siang telah menjelang. Kuraih kembali benda pipih itu dari saku bajuku. Ku usap lembut pada layar kaca itu. Namun, tidak ada satupun jejak panggilan mas Bagas menghubungiku.
Rasa penasaranku semakin menggebu. Kembali ku hubungi mas Bagas, berharap kali ini pria itu akan menjawab teleponku.
Tut ... Tut ... Tut ... Nomor telepon yang anda tuju sedang sibuk.
Kembali suara operator wanita itu yang menjawab membuatku berdecak kesal.
"Bu Reza, Bu Reza, ada kabar penting." ucap pria yang menjatuhkan bokongnya kasar duduk disampingku.
"Pak Aris, ada apa?" tanyaku pada pria yang masih mengatur nafasnya yang naik turun.
Pria itu diam sejenak, netranya melihat ke seluruh ruangan staf guru yang masih sepi. Hanya anda pak Nardi yang sedang sibuk dengan laptopnya di sudut ruangan.
"Ada apa sih pak?" tanyaku penasaran.
Stttt,
Pak Aris meletakan jari telunjuknya kedekat bibirnya. Kemudian mendekatkan wajahnya sedikit kearah ku yang duduk disampingnya.
"Bu Reza, tapi jangan marah ya. Tadi aku melihat suami ibu masuk ke hotel bersama seorang wanita," bisik pria itu sesaat membuat pandanganku terasa kabur.
BERSAMBUNG ☺️