MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
KEPUTUSAN YASMIN



Sebelum membaca subscribe dulu ya, jangan lupa tinggalkan like supaya author semangat untuk melanjutkan ceritanya.


POV YASMIN


Namaku Yasmin, hanya Yasmin tidak ada tambahan atau akhiran dari nama itu. Yasmin yang berarti adalah bunga melati. Ibuku berharap agar  aku kelak tumbuh menjadi gadis yang baik hati yang mampu mengharumkan nama kedua orang tuaku yang sudah tidak ada.


Ayahku meninggal ketika aku masih berada didalam kandungan ibuku. Ayah meninggal karena kecelakaan tunggal. Sementara ibu ku meninggal disaat melahirkan aku kedunia ini. 


Hanya paman Solehlah satu-satunya orang tua yang aku miliki, dia adalah adik kandung dari ibuku. Pria yang rela tidak menikah demi membesarkanku. Pernah suatu ketika paman hendak meminang seorang gadis dari kampung sebelah. Namun karena mengetahui paman memilikiku, gadis itu menolak mentah-mentah pinangan paman Soleh. Semenjak itu paman tidak pernah sekalipun melamar wanita manapun. Dia hanya berfokus untuk membesarkanku.


Setelah lulus sekolah aku sibuk membantu paman berjualan baju di pasar, hingga menginjak usiaku genap 23 tahun. Paman tidak pernah mengizinkan aku untuk merantau keluar kota seperti teman-temanku pada umumnya, mencari keberuntungan di ibu kota. Kata paman, akulah satu-satunya Mutiara yang harus ia jaga seumur hidupnya. Karena itu adalah janji paman kepada almarhumah ibuku.


Hingga suatu hari paman mengatakan kepadaku, jika ada seseorang yang berniat untuk melamarku menjadi istrinya.


"Yas, apakah kamu ngak kepingin menikah?" tanya peman kepadaku, di saat aku sedang sibuk merapikan dagang.


Aku menoleh kepada pria paruh baya yang menyungingkan senyumannya kepadaku itu.  Lalu ku alihkan lagi pandanganku pada dagangan yang berantakan bekas pembeli yang memilah-milah tadi.  


"Kalau Yasmin menikah', terus paman sama siapa?" celetuku sambil merapikan tumpukan baju yang berantakan.


"Heheh ..." Paman tertawa renyah, " Paman ya sendiri to Yas, kan kamu sudah menikah." Imbuhnya.


Aku bergeming, "Ya sudahlah, Yasmin ngak usah menikah'." Sahutku lemah. Bagaimana bisa aku meninggalkan paman, orang yang sudah membesarkan ku sendirian. Paman, paman!


"Wes, jangan begitu. Kalau wanita tidak menikah itu tidak boleh, kalau laki-laki tidak papa. Kan masih ada bidadari surga, ngak mungkin to ada bidadara surga." ledek pakde membuatku tertawa terkekeh.


Hari itu lamaran yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Seorang pemuda anak dari seorang janda sederhana dari kampung sebelah datang kerumah kami. Paman sudah banyak menceritakan tentang latar belakang dan pekerja pemuda yang bernama Bagas itu. Dari pertama aku melihatnya hatiku langsung jatuh cinta. Namun pemuda itu terlihat diam dan acuh kepadaku, tak apalah lambat laun dia juga akan terbiasa denganku, pikirku.


Hari pernikahan telah ditetapkan, seperti gadis pada umumnya hatiku melambung tinggi ke udara menantikan hari pernikahanku. Bagaimana aku akan melewati hidupku dengan orang baru? Bagaimana aku melewati malam pertamaku, yang kata teman-teman sebayaku yang sudah menikah, hal itu menyakitkan tapi menyenangkan. Apakah orang itu sebaik yang sering paman ceritakan kepadaku? Entahlah, pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi otaku. Jika aku memikirkannya membuatku tersenyum sendiri setiap kali membayangkannya.


Ibu Marini datang kepadaku beberapa hari menjelang hari pernikahan yang telah di tentukan. Wanita yang duduk di kursi tamu dihadapanku itu terlihat gusar. Sedari tadi semenjak kedatangannya kerumah, belum satu patah katapun yang ia lontarkan dari mulutnya. Ia terus meneguk sedikit demi sedikit teh yang berada di atas meja hingga tinggal tersisa setengah.


"Ada apa to mbak yu kok kesini lagi? Apa masih ada yang kurang jelas." celetuk paman menecah keheningan. 


Aku yang sedari tadi duduk samping paman merasa was-was dengan kedatangan ibu Marini yang begitu mandadak.


Ku seka peluh yang membasahi pelipisku, netraku terus tertuju pada bibir ibu Marini yang masih setia terkunci. Debaran jantungku kian berdegup kencang menangkap firasat buruk yang sepertinya akan datang menghampiriku.


"Pak soleh, saya minta maaf yang sebesar-besarnya." ucap ibu Marini gusar.


"Jadi begini pak Soleh sepertinya anak saya belum bisa menikahi nak Yasmin secara negara!" Ucapan ibu Marini terhenti, seperti detak jantungku yang seolah sedang terhenti   tiba-tiba. Tubuhku bergetar menanti ibu Marini melanjutkan kalimatnya.


Rahang paman Soleh mengeras, wajahnya memerah. Pria itu terlihat kesal menatap pada ibu Marini. "Maksud mbak yu Piye to?" tanya paman mencoba menekan amarahnya.


Ku gigit bibir bawahku, tubuhku seketika terasa kebas, apakah maksud dari semua ini.   Ku tarik tubuhku bersandar pada kursi rasanya tulang punggungku sudah tidak mampu lagi menopang dadaku yang terasa hancur.


Ibu Marini terlihat menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan paman Soleh. "Anak saya itu masih ngejar-ngejar pacarnya, padahal dulu saya pernah melamar gadis sombong itu. Tapi ditolak mentah-mentah. Pokoknya saya sakit hati sekali." Jelas wanita paruh baya itu meyakinkan.


"Lalu!" Paman menarik tubuhnya bersandar pada Kursi, wajahnya kesal. Pasti pria itu tidak terima jika diriku selamanya hanya akan dijadikan istri siri yang siap dibuang kapan saja tanpa berbekas.


"Jadi saya mohon untuk nak Yasmin bersabarlah selama satu tahun saja bersama anak saya, sekiranya anak saya Bagas tidak berubah, nak Yasmin bisa meninggalkannya." 


Mendengar penuturan Bu Marini, kepalaku semakin berdenyut. Bagaimana tidak, semua undangan pernikahan telah di sebar dan  persiapan hampir sembilan puluh persen sudah dilakukan. Lalu tiba-tiba kabar luka ini datang menghampiriku. Kalaupun pernikahan ini gagal, lalu apa yang akan orang katakan kepadaku.


'Iya, itu si Yasmin kasian ya ngak jadi menikah'.'


'iya, itu si Yasmin pasti ngak punya jodoh seperti pamannya.'


"Huf," aku meniup kecil dari bibirku, pikiran-pikiran buruk itu terus memenuhi otakku.


Paman manatap lekat kepadaku, begitu juga dengan ibu Marini. Kedua orang itu sepertinya sedang menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.


"Ya sudah Bu, semua sudah terjadi. Tapi jika dalam satu tahun mas Bagas belum menikahiku secara resmi, mohon maaf jika aku mengundurkan diri dari pernikahan ini." Jelasku mantap.


Kulihat binar bahagia dari wajah calon mertuaku. Namun wajah paman Soleh justru semakin mendung.


'Maafkan Yasmin, paman!'


Setalah keputusanku itu, aku harus siap dengan segala konsekwensi yang nantinya akan terjadi. selain patah hati yang pasti hatiku ku harus siap jika dibagi.


Pernikahan mewahku pun akhirnya dilaksanakan. Pria berwajah manis namun memiliki kharisma tinggi itu selalu saja membuatku ingin manatapnya, meskipun mas Bagas selalu saja bersikap dingin kepadaku. Dan tidak pernah sekalipun pria itu pernah menatapku. Tak apalah, akan ku buat dia mencintaiku nantinya. 


Tidak ada harapan lagi untuk sebuah malam pertama untukku. Karena aku tahu kalau mas Bagas tidak akan pernah melakukan hal itu denganku. Karena di hatinya masih terisi oleh gadis yang sama sekali aku tidak akan pernah Sudi untuk melihatnya.


Bersambung ....