
'Biarlah aku memelukmu sebentar saja agar aku bisa menimbang cinta mana yang harus ku pilih.'___MAS BAGAS.
POV Yasmin
Mas Bagas duduk di tepi ranjang, mengikat tali sepatu kerjanya dan telah siap dengan seragam hijau khas mandor perhutani. Aku meletakan kopi susu pesanan mas Bagas diatas nakas samping ranjang. Kemudian menghampiri mas Bagas dan bergelayut manja di bahu kekarnya. Seminggu bersamanya membuatku semakin jatuh cinta kembali kepadanya. Rasa kecewa dan dendam melebur menjadi satu hilang bersama cinta yang justru semakin tumbuh subur di dalam hatiku.
Mataku menatap rahang kekar pria yang telah sibuk dengan sepatu yang sedang ia kenakan. Tampan! Tapi aku takut kehilangannya. Terbesit rasa takut jika mas Bagas ternyata masih bersama dengan gadis yang pernah menolak lamarannya dulu. Lalu, apa artinya dengan semua yang sudah aku lalui bersamanya beberapa hari ini.
Ku tarik tanganku kasar dari lengan kekar mas Bagas. Pria itu menoleh kepadaku, menyentuh dagu lancipku dengan tersenyum kecil. "Kenapa?" Ucapnya menatapku sesaat kemudian berpaling pada tali sepatu satunya yang belum terikat.
Bibirku mengerucut, kembali ku alihkan tatapanku kepada mas Bagas. "Apa, apa mas Bagas masih bersama gadis itu." ucapku ragu. Kutatap manik hitam yang langsung menoleh ke arahku, membuatku semakin meremas kuat ujung kerudung coklat yang sedang aku kenakan.
"Melepaskan cinta yang sudah mengakar bertahun-tahun itu tidak mudah Yas. Apalagi dia adalah ...." Pria itu menghentikan ucapannya. Ketika melihat airmataku menerobos pelupuk mata satu persatu berjatuhan.
"Yas!" Mas Bagas memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan. Pria itu menyentuh kedua bahuku yang tergugu.
"Lalu, apa artinya dengan satu Minggu ini mas? apakah aku hanya pemuas nafsu mas saja!" Protesku tergugu.
Jawaban jujur mas Bagas terlalu menyakitkan hatiku. Mungkin lebih baik aku mendengar bualanya saja seperti beberapa hari yang lalu daripada harus mendengarkan isi hatinya yang membuatku terluka.
"Yas, bukankah tugas seorang istri itu adalah melayani suami!" ucapnya terdengar egois, apakah kali ini mas Bagas sudah kembali seperti semula. Hatinya dingin bagaikan sebongkah es batu.
"Mas, bukankah tugas seorang suami itu adalah menjaga hati istrinya!" Pekikku menampis kasar pegangan mas Bagas pada bahuku.
"Sudahlah Yas, aku malas berdebat denganmu!" Pria itu beranjak bangun dari tepi ranjang. Berjalan meraih tas rangselnya dan pergi meninggalkanku.
Lagi-lagi sikap tidak perdulinya itu datang kembali. Pria acuh yang sama sekali tidak pernah memperdulikanku.
'Aku menginginkan mas Bagas kemarin, pria yang hangat yang selalu membuatku tertawa dengan leluconnya. Membuatku selalu merasa akulah wanita satu-satunya yang ia cintai.'
***_____****
Hampir satu bulan mas Bagas tidak pulang pernah kerumah. Tidak pernah sekalipun mengirimkan kabar juga kepadaku. Sekian malam aku lalui tanpa dirinya, membuatku semakin tersiksa oleh rindu yang ia patri didalam dadaku.
"Yas, apakah Bagas tidak pulang lagi!" Tanya ibu yang sedang duduk di sofa televisi kepadaku yang sedang sibuk memilah baju-baju yang akan aku bawa ke toko esok hari.
"Yasmin ngak tau Bu!" sahutku singkat. Ku tatap ibu sesaat kemudian aku kembali melanjutkan kegiatanku dengan baju-baju daganganku.
"Apakah kamu sudah menghubunginya!" cerocos ibu mertuaku kini menghampiriku.
Ku letakkan buku catatanku di atas tumpukan baju. Kutatap lekat wajah' wanita paruh baya itu. "Ibu kangen mas Bagas?" tanyaku lembut.
Ibu menarik nafas dalam-dalam sebelum mulutnya menjawab pertanyaanku. "Iya Yas, ibu kangen sama Bagas. Sudah satu bulan Bagas ngak pulang." ujarnya lesu.
"Ibu mau Yasmin telponin mas Bagas?" Tawarku.
Sebenarnya aku malas sekali menghubungi mas Bagas. Lama kelamaan pria itu semakin membuatku begitu muak. Ingin sekali aku mengatakan kepada ibu bahwa aku ingin secepatnya mengakhiri pernikahan ini. Tetapi melihat keadaan ibu yang sedang sakit-sakitan, rasanya aku tidak tega meninggalkan ibu mertuaku itu sendirian tinggal dirumah ini. Apalagi jika penyakit jantungnya sedang kumat, sangat berbahaya jika tidak ada siapapun yang menolongnya.
Ku raih ponselku yang berada di dalam saku gamis, kemudian mengusap lembut pada layar benda pipih itu hingga menampakkan foto pernikahanku dengan mas Bagas. Sepertinya aku lupa belum menganti foto itu dari tampilan layar ponselku. Netraku berselancar mencari nama mas Bagas pada deretan nama kontak panggilanku. Setelah itu ku tekan tombol hijau pada sudut layar.
Tut! Tut!
"Halo!"
'Sadar Yas, sadar!' otakku terus memerintah agar hatiku tidak goyah. Jangan sampai cintaku kembali di luluh lantakan oleh sikap mas Bagas yang terkesan bimbang.
"Nih Bu, sudah nyambung!" Ku serahkan ponsel yang telah terhubung kepada mas Bagas kepada ibu. Wajah' ibu terlihat berbinar menerima benda pipih itu dariku.
"Bagas!" Ucap ibu setalah menempel ponselku kedekat telinganya.
"Ini ibu Bagas bukan Yasmin." Sahut ibu tersenyum kecil.
Tiba-tiba perutku serasa diaduk-aduk. Rasa mual kian menjalar hingga memenuhi kerongkonganku. Aku segera bangkit dari tempat dudukku menuju ke kamar mandi.
Huek, Huek, Huek,
Ku tumpahkan seluruh isi perutku di atas kloset. Tubuhku kian terasa lemas mungkin efek dari kehujanan kemarin. Aku terpaksa harus basah kuyup untuk menyelamatkan daganganku yang berada di luar toko. Karena toko yang aku bangun belum selesai sepenuhnya.
Aku berjalan gontai ke ruang tengah, tempatku memilah baju-baju daganganku. Ponsel itu sudah tak lagi berada didekat telinga ibu, sepertinya ibu telah selesai mengobrol dengan mas Bagas.
"Yas, kamu kenapa?" Tanya ibu dengan raut wajah panik. Wanita itu menyodorkan ponsel yang telah mati kepadaku.
"Masuk angin paling Bu!" Sahutku meraih ponsel itu kemudian memasukannya kembali kedalam saku gamis.
"Tapi wajahmu pucat sekali loh Yas!" celetuk ibu.
"Iya Bu, Yasmin sepertinya kurang istirahat." ku raih buku catatanku dan kembali menulis daftar baju-bajuku yang mulai habis.
"Apa jangan-jangan," ibu mengehentikan ucapannya wajahnya terlihat sedang berfikir.
Sesaat aku menoleh kepada ibu, kemudian kembali melihat deretan angka pada buku catatanku.
"Jangan-jangan kamu hamil Yas!" ujar ibu dengan nada bahagia.
Deg!
"Apa!" aku tercekat, netraku membeliak menatap wajah ibu yang tersenyum lebar memperlihatkan barisan geriginya yang rapi.
"Iya hamil!" Ibu mengulangi ucapannya.
"Engak lah Bu! Ngak mungkin Yasmin hamil." Sahutku.
Ibu mengerutkan dahinya, manatap lekat pada wajahku yang berpaling darinya.
*******_____******
Malam kian larut, netraku masih terjaga. Ucapan ibu masih mendengung dalam Indra pendengaranku. Ku balikan tubuhku menganti posisiku, namun rasa kantuk itu tak juga kunjung datang.
Ku usap lembut perutku yang masih rata. Aku memang sudah tiga hari terlambat datang bulan. Tapi itu hal yang biasa untukku. Aktifitas yang padat membuat siklus datang bulanku sering kali kacau.
Aku mantap langit-langit kamar. Jika saja aku memang sedang hamil anak mas Bagas, lalu bagaimana dengan rencanaku untuk mengakhiri rumah tangga ini. Jujur aku sudah tidak bisa menjalani pernikahan ini.
Bersambung ....