MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
BENDA KENYAL DI SAAT KEDINGINAN



Ku seret kakiku masuk kedalam rumah. Sudah menjadi hal biasa bagiku melihat Reza yang sering merajuk kepadaku. Hampir saja aku bosan dengan tingkah gadis cantik itu. Tapi sayangnya rasa cintaku lebih besar dari pada kekesalanku.


"Mas!"


Sambut Yasmin yang duduk di ruang tamu dengan wajah gusar. Gadis itu segera bangkit dari duduknya setelah melihatku membuka pintu rumah.


"Mas kehujanan, sebentar aku ambilkan handuk ya!" Ucapnya menyentuh bahuku yang mengigil kedinginan. Nampaknya dia begitu cemas melihatku yang datang dalam keadaan basah kuyup.


"Ngak usah!" Ku tepis tangan kecilnya. membuat gadis itu memundurkan kakinya beberapa langkah dariku.


Aku berjalan ke kamar untuk berganti baju, rasanya tubuhku seperti hampir mati membeku manahan air hujan yang terus mengguyurku sepanjang jalan.


Setelah selesai berganti baju, aku segera melihat ibu yang berada didalam kamar. Wanita itu terlihat berbaring dengan netra terpejam. Beberapa tablet obat pun sudah ada diatas nakas samping tempat tidurnya. Sementara Yasmin terlihat sedang duduk di tepi ranjang, memijat kaki ibu dengan lembut.


Ku jatuhkan tubuhku di kursi samping ranjang. Ku raih tangan ibu yang kasar dan menempelkannya pada pipiku.


Netraku memanas, dengan tangan inilah ibu membesarkanku seorang diri hingga aku bisa berada dititik saat ini. Dengan tangan ini juga ibu selalu bermunajat memohon segala kebaikan untukku.


Perlahan ibu membuka netranya, sesegara mungkin ku seka airmataku yang belum sempat terjatuh.


"Bagas, kamu sudah pulang!" ucap ibu lirih.


Aku mengangguk, kerongkonganku terasa tercekik tak mampu berucap melihat ibu yang berbaring lemas tak berdaya. Wajahnya nampak terlihat begitu pucat.


"Setiap minggu kamu harus pulang, ibu itu kangen sama kamu!" Tuturnya.


"Iya ibu, Bagas janji setiap minggu Bagas akan pulang untuk menjenguk ibu." jawabku dengan suara bergetar.


Mendengar permintaan ibu dadaku semakin sesak. Ku tahan air mata yang memenuhi pelupuk mataku, jangan sampai butiran kristal ini jatuh dihadapan ibu. Aku tidak mau kesedihanku akan menambah beban pikiran ibu.


"Berterimakasihlah kepada Yasmin, untung ibu memiliki menantu yang baik seperti Yasmin!" Puji ibu melirik ke arah Yasmin yang berada di ujung ranjang. Wanita itu tak berucap, dia hanya melemparkan senyum manisnya kepadaku ibu.


Sedangkan aku, hanya melirik sekilas kemudian berpaling kembali ke arah ibu.


Tubuhku masih membeku, getaran didalam dada semakin meremukkan tulang-tulangku. Sepertinya aku sudah tidak mampu menahan lagi rasa dingin yang kian melemahkanku.


"Ibu, Istirahat saja dulu ya. Besok kita ngobrol lagi." ujarku dengan bibir bergetar.


Aku segera bangkit dari tempat dudukku tanpa mendengar jawaban dari ibu. Rasanya aku harus segera mencari selimut untuk menghangatkan tubuhku yang menggigil.


Hacim! Hacim!


Hidungku pun mulai tidak dapat diajak kompromi, kepalaku semakin terasa berat seperti sedang tertimpa benda yang sangat besar dengan berat' berton-ton.


Ku tutup tubuhku dengan beberapa helai selimut. Namun rasa dingin ini tidak kunjung berkurang. Kupeluk guling kesayanganku, tapi tetap saja sama.


"Mas! Kamu sakit!" Yasmin mengoyangkan tubuhku.


"Hem, engak kok Yas!" Jawabku masih dengan membungkus sekujur tubuhku dengan selimut.


Yasmin menarik pelan selimut yang menutupi bagian wajahku, gadis itu menatapku sendu, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya sekarang.


"Minum wedang jahe ini dulu ya, mas!" titahnya membantuku duduk di atas pembaringan.


Aku segera menuruti perintah Yasmin. Gadis itu dengan telaten menyuapiku wedang jahe yang masih terasa hangat. Lumayan, bisa meredakan dingin didalam tubuhku meskipun tidak seberapa.


"Cukup Yas!" Ucapku kembali meringkuk diatas ranjang dangan menutup sekujur tubuhku dengan selimut.


"Hu, hu, hu, dingin. dingin!" rintihku menggigil dibalik selimut.


Yasmin kembali menarik selimutku, wajahnya menatap lekat ke arahku. Hingga beberapa saat kami saling memandang.


Gadis itu hendak menjatuhkan tubuhnya disampingku, dangan cepat aku menghalau tubuh mungilnya dari kasurku.


"Mau apa kamu?" tanyaku dengan bibir bergetar dan mata yang membeliak.


"Mas kedinginankan?"


"Ya sudah biar aku hangatkan." Ucap Yasmin semakin membuat jantungku berdebar.


"Ngak, ngak usah!" Cebikku, ku dorong tubuh Yasmin sedikit menjauh dariku.


"Ngak usah takut mas, aku ngak bakalan melakukan hal apapun kok." Paksa Yasmin.


Kubiarkan yasmin membaringkan tubuhnya di sampingku, kemudian Yasmin memutar tubuhku membelakanginya. Wanita itu meringkuk dibelakang punggungku, dan memelukku dari belakang. Mendekatkan wajahnya di tengkuk leherku, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang terasa hangat mengenai pori-pori leherku.


"Dulu waktu aku sekolah, kata guruku, cara paling efektif untuk menghilangkan kedinginan itu adalah dengan cara berpelukan. Karena suhu tubuh manusia lebih cepat berpindah dari pada benda lainnya." Bisik Yasmin di telingaku.


Jantungku kian berdebar, baru kali aku merasakan dipeluk oleh seseorang. Terasa hangat hingga masuk kedalam organ-organ tubuhku. Aku kira Yasmin akan menuntut nafkah batin kepadaku ternyata tidak.


Tangan kecilnya melingkarkan diperutku. Beberapa saat dadaku justru menjadi sesak, jantungku seakan melompat dari tempatnya.


'Tenang Bagas, tenang. Semua akan baik-baik saja.'


Aku terus mensugesti diriku, hingga debaran itu perlahan menghilang. Berganti dengan rasa kantuk yang kian menyerang.


*****____*****


Semalaman tubuhku terasa hangat, entah sejak kapan bentuk gulingku menjadi tidak rata. Kenapa ada dua gunung diantaranya.


Netraku masih terpejam, meskipun ayam tetangga terus saja berkokok memekikan telinga. Rasanya aku sedang malas sekali untuk menyadarkan diriku dari rasa kantuk yang terus saja mengodaku agar mata ini terus terpejam.


Dan dua gunung ini, ku remas perlahan, terasa kenyal. Tidak seperti guling yang biasanya ku peluk.


'Yasmin!'


Dengan cepat kubuka netraku. Melihat gadis itu sedang tertidur pulas dalam pelukanku. Lalu, tanganku. Apa?


Kutarik tanganku dari dalam baju Yasmin, kemudian mendorong kuat tubuh Yasmin hingga terjungkal dilantai.


Bruak!


"Aduh!" rintik Yasmin mengaduh memegangi pantatnya yang kesakitan.


Ku usap telapak tanganku bekas benda kenyal itu.


"Sial," desisku.


"Heh, Yasmin siapa suruh kamu tidur di kasurku?" aku mencebik dengan wajah kesal kepada Yasmin. Ku remas selimut yang menutupi dadaku.


"Maaf mas, aku ketiduran." jawab Yasmin meringis menahan sakit pada bokongnya.


"Ketiduran, alasan aja! pasti kamu pengen tidur sama aku kan?" tuduhku kesal.


"Ih, ge-er banget sih mas!" Yasmine bangkit dari lantai. Gadis itu menautkan kedua alisnya menatap ke arahku.


"Semalaman ngak terjadi apa-apa kan Yas?" Tanyaku penuh selidik.


"Ehm, mas emang ngak kerasa?" jawab Yasmin membulatkan matanya penuh nafsu.


"Apa?"


Ku intip selimut yang menutupi tubuhku, aku bernafas lega. Ternyata bajuku masih sama dengan yang ku kenakan kemarin dan tidak berubah sedikitpun.


"Yas ...!" Mulutku mengaga, ketika gadis itu telah raib dari pandanganku.


"Awas kamu Yas!" Gumanku lirih. Tanganku meremas kuat kain sprei karena kesal, tapi justru bayangan benda kenyal itu yang muncul dalam benakku.


"Ah, Yasmin." Pekikku menyisir rambutku dengan jemari hingga berantakan.


BERSAMBUNG ...