MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
Tes pack



POV Yasmin


Sebelum berangkat berkerja, aku mampir ke sebuah apotik untuk membeli tes pack. Segera aku masukan alat pendeteksi kehamilan itu kedalam tas setelah seorang karyawan apotik memberikannya kepadaku.


Aku telah tiba di toko bajuku, yang masih tahap renovasi. Rencananya tokoku ini akan di sulap menjadi dua lantai. Lantai bawah akan aku gunakan untuk berjualan dan lantai atas bisa aku gunakan untuk tempat tinggal jika nanti aku sudah berpisah dengan mas Bagas.


Sesampainya di toko, aku segara meraih tes pack dari dalam tasku dan membawanya ke kamar mandi. Tidak lupa aku membaca petunjuk penggunaannya sebelum aku memakainya.


Semua aturan telah aku lakukan sesuai prosedur. Kini tinggal menunggu hasilnya. Mataku menatap tajam pada alat kecil ajaib dalam genggamanku. Jantungku berdebar kencang, berharap yang muncul pada alat itu adalah satu garis merah saja.


Aku mengigit bibir bawahku, melihat perubahan garis merah yang meremang kemudian nampak jelas pada tes pack. 


Seketika, mulutku mengaga manatap garis merah yang kedua pun juga nampak jelas. Tubuhku terasa lemas. Aku terhuyun jatuh dilantai. Aku menangis tergugu, ku remas kuat perutku yang masih rata. 


'Aku tidak mau hamil, aku tidak mau terikat dengan pria yang sama sekali tidak mencintaiku.' 


Sepersekian detik aku kalut dalam penyesalanku. Hingga suara kariawan yang sedang merenovasi di lantai atas membuatku tersadar. 


Ku seka airmata yang membasahi pipi, segera kumasukkan tes pack bergaris dua kedalam tas jinjingku. Kemudian aku segera merapikan daganganku karena sudah cukup banyak pelangan yang mengantri di depan toko.


*******________*********


Pukul sepuluh malam aku baru sampai dirumah. Rumah sederhana milik ibu mertuaku. Sepertinya aku harus segera mengembalikan kembali uang mas Bagas, jika nanti aku bertemu dengannya. Uang yang pernah ia berikan kepadaku untuk membantu merenovasi rumahnya. 


Aku memasuki rumah dengan lampu yang telah padam. Hanya ada lampu teras saja yang masih menyala. Ku parkir mobilku dihalaman rumah ibu yang cukup luas. Semenjak paman Soleh meninggal mobil Avanza ini otomatis menjadi miliku. Lumayan bisa aku gunakan untuk mengangkut baju-baju daganganku.


Cekrek!!


"Yasmin!" wanita yang sedang tertidur di sofa ruang tamu itu terbangun duduk. Sepertinya suara deritan pintu yang terbuka membuatnya tersadar.


"Ibu!" ucapku kepada ibu mertuaku yang sangat menyayangiku itu. 


"Kenapa baru pulang Yas!" Ucap ibu menyalakan lampu ruang tamu.


"Iya Bu, tadi banyak pelangan baru. Jadi Yasmin harus melayaninya sampai selesai."


"Cari pembantu Yas, orang hamil ngak boleh capek-capek." Celetuk ibu membuatku gugup.


"Em, Yasmin ngak hamil Bu. Kemarin itu cuma masuk angin. Ini buktinya Yasmin biasa aja tuh!" Kilahku memasang senyum baik-baik saja.


Ibu hanya tersenyum kecil, "Ya sudah ibu tidur dikamar ya!" 


Wanita paruh baya itu berjalan menuju kamarnya yang terletak di samping ruang televisi. 


Ku tepuk pipiku hingga terasa sakit. "Apakah orang hamil itu kelihatan!" Rutukku kesal.


Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar. Netraku membeliak ketika dibalik pintu yang terbuka aku melihat mas Bagas sedang duduk bersidekap di tepi ranjang, menjatuhkan tatapan sinis kepadaku.


Dag, Dig, Dug


Jantungku bertalu-talu. Aku harap rasa gugupku tidak nampak di wajahku. Ku letakan tas jinjingku diatas meja rias. Kuraih handuk yang berada dibalik pintu. Akhirnya aku berhasil bersikap acuh kepada mas Bagas yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku hingga aku masuk ke kamar mandi.


Setelah aku selesai membersihkan diri. Aku meraih kasur Palembang yang aku simpan didalam lemari. Aku harus sadar diri karena si pemilik ranjang sudah kembali pulang. 


Ku bentangkan kasur tipis itu disamping ranjang. Kali ini sedikit menjauh dari samping ranjang dan lebih mendekat ke sisi tembok. Beberapa batal sudah aku letakkan diatas kasur. Tinggal satu langkah lagi aku tiba di pembaringan penyiksaan. Karena setiap kali tidur dikasur itu sudah dipastikan esok harinya tubuhku akan sakit semua.


Sebuah lengan meraih pergelangan tanganku hingga aku terjatuh di samping mas Bagas. Netra pria itu memerah, Apakah dia sedang marah'?


"Apa sih mas!" kilahku menepis genggaman mas Bagas yang begitu kuat. Aku membalas tatapan melotot mas Bagas dengan tatapan yang sama.


Pria itu tidak menjawab, geriginya bergemelutuk dan rahangnya mengeras mungkin ia sedang menahan amarahnya.


"Lepasin, aku capek, aku mau tidur." Sentaku mengibaskan pergelangan tanganku yang percuma.


Cup!


Mas Bagas mendorong tubuhku tenggelam di atas ranjang dengan kecupan bibir yang menggairahkan.


Plak!


'Maaf mas Bagas, aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi.'


Mataku membeliak menatap wajah mas Bagas yang berpaling dari pandanganku. Dadaku naik turun, menahan kesal dan juga rindu. 


Mas Bagas mengusap sudut bibirnya yang sedikit terluka oleh tamparanku. "Kamu yang sudah cukup Yas!" Bentak Mas Bagas mengucang bahuku dengan kuat. Seketika netraku memanas di penuhi ketakutan melihat Mas Bagas dengan wajah merah padam.


"Darimana kamu? Perempuan malam-malam begini baru pulang. Tidak ada suami malah keluyuran terus... " Hardiknya dengan suara lantang.


"Jangan-jangan kamu setiap malam seperti ini ya, jika tidak ada aku. Apa mentang-mentang kamu sudah bisa cari duit sendiri jadi kamu bisa seenaknya, Yas!" 


Hatiku semakin terasa teremas-remas. Sakit atas semua tuduhan yang mas Bagas tunjukan kepadaku.


"Cukup mas!" balasku menaikan sedikit nada suaraku.


Air mataku sudah mengalir deras membasahi pipi. "Harusnya aku yang marah mas, bukan kamu!" Balasku tak kalah sengit.


Mas Bagas menatapku sinis. "Yas, berapa kali aku bilang, aku sedang belajar melupakan Reza dan itu tidak mudah. Membunuh cinta yang sudah tumbuh bertahun-tahun kamu pikir cukup dengan satu hari. Harusnya kamu mau bersabar sedikit saja untukku." Belanya.


Aku tertawa sinis, "Jadi yang mas lakuin dengan siapa tadi itu namanya, Reza iya Reza dengan Reza itu lebih baik!" 


"Bukan begitu Yas maksudku!" Mas Bagas menarik tanganku dengan suara yang merendah.


"Cukup mas, aku sudah bisa lagi menjadi istrimu! Aku minta cerai." Aku mendelik menatap mas Bagas. Ku tepis genggam tangannya yang melemah.


"Iya, pergi sana kamu dari rumahku. Aku pun tidak Sudi menjadi suamimu." Hardik mas Bagas semakin tersulut amarah.


Aku segera bangkit dari tempat dudukku. Meraih koperku yang berada diatas lemari kemudian memasukan seluruh baju-bajuku yang berada didalam lemari kedalam koper.


"Kamu itu lebih baik Reza yas, jadi tidak rugi jika aku melepaskan mu. Gadis kampung tidak berpendidikan saja belagu." Mas Bagas terus menghinaku. Sesekali ia menertawakan ku dengan sinis.


Bibirku terkatub, aku rasa air mata yang mengalir deras membasahi pipiku sudah cukup untuk menjawab hinaan mas Bagas.


Ku raih ponselku yang berada diatas nakas, menarik koperku kemudian berjalan meninggalkan mas Bagas yang terus merutukiku.


Cekret!


Wanita paruh baya itu menangis tergugu di balik pintu kamarku yang ku buka. Wajahnya menunduk, sepertinya ibu dari tadi sudah menguping pertengkaranku dengan mas Bagas.


"Maafkan Yasmin Bu!" ucapku sesaat menatap ibu sebelum aku kembali melanjutkan langkahku.


"Kamu akan menyesal Yasmin." Teriak mas Bagas dari dalam kamar yang tidak aku pedulikan lagi


****______******


POV Mas Bagas 


Semakin lama bersama Yasmin membuat benih cinta di antara kami tumbuh begitu subur. Bayangan Reza gadis keras kepala itu perlahan  memudar dari labirin otakku.


'Tidak, aku tidak ingin mencintai Yasmin. Gadis kampung yang biasa saja. Tapi mengapa justru saat aku bersama Yasmin semua terasa indah.'


"Wah, pak Bagas. Melemun saja nih! Ngak pulang pak!"  Tanya seorang anak buahku kepadaku.


Hampir satu bulan aku tidak kembali ke Purwodadi. Biasanya setiap akhir pekan aku selalu pulang sebagai obat rinduku kepada ibu dan juga Yasmin. Tapi, semenjak seminggu yang indah aku lalui bersama Yasmin, aku menjadi takut untuk pulang kerumah itu. Aku takut jika cintaku semakin dalam kepada Yasmin dan gadis itu akan menuntutku untuk segera meninggalkan reza. 


Lalu bagaimana dengan impianku meminang Reza, memiliki istri yang cantik, berpendidikan yang pasti akan menuai pujian banyak orang jika aku bisa bersanding dengannya.


'Tidak, tidak aku tidak mau semuanya hancur berantakan hanya gara-gara cinta sesaat.'


Iya, aku menyebutnya cinta sesaat. Karena aku merasakan cinta itu hanya saat aku sedang bersama Yasmin.


"Hem, iya nih lagi malas pulang pergi!" jawabku pada pria bertubuh tegap yang tinggal satu rumah denganku itu.


"Iya pak, kalau saya jadi bapak mah pasti juga ngak pulang-pulang!" Sahutnya nyengir.


"Maksudnya!" Aku mengerutu dahiku menatap Norman, pria asal Sumatera itu.


"Kalau pulang takut Bu guru Reza nanti di comot orang, heheh ....!" Norman terkekeh.


Aku membalas gurauan Norman dengan tersenyum kecil. 


'Mencintai dan ambisi itu berbeda, karena bahagia itu hati yang merasakan bukan akal.'


Bersambung ...