
"Nak, ibu ingin sekali kamu segera meminang Reza. Ibu rasa kamu sudah saatnya memiliki seorang pendamping." ucap ibu dengan wajah penuh binar.
Tidak bisa ku pungkiri menginjak usaiku yang ke 28 tahun pasti ibu merasa dilema mungkin juga malu karena diriku yang tak kunjung menikah. Karena banyak diantara teman-teman ku justru sudah ada yang memiliki anak, bahkan ada yang memiliki anak lebih dari satu.
"Iya Bu, nanti aku coba bicara sama Reza ya!" Hiburku.
Ibu menolehkan wajahnya menatapku. " Loh, memangnya selama ini hubungan kalian itu bukan pacaran toh?" tanya ibu dengan netra menyelidik.
"Ya, kami pacaran Bu. Tapi, sudahlah Bu nanti saja aku ceritanya." Ucapku lesu berajak meninggalkan ibu di meja makan.
Ku benamkan tubuhku diatas rajang, menatap langit-langit kamarku yang telah di penuhi rumah laba-laba. Pasti wanita itu tidak sempat membersihkan rumah sederhana ini sedirian.
"Ah, ibu!" Aku mendengus halus.
"Dek!" Panggilku kepada Reza yang duduk di bangku belakang motorku. Wanita dengan rambut panjang tergerai itu masih setia melingkarkan tangannya pada perutku. Bahkan sangat erat sekali.
"Apa mas!" sahut Reza sedikit berteriak. Karena angin yang cukup kencang membuatnya harus mengeraskan suaranya. Mungkin takut jika aku tidak mendengar suaranya. Karena aku mengenakan helm pada saat itu.
"Dek mas pengen kita menikah?" sahutku dengan meninggikan suaraku. Kulirik wajahnya dari kaca spion, penasaran dengan ekspresinya.
"Apa? Kurang jelas mas!" teriak Reza sedikit mendekatkan wajahnya diatas pundakku.
"Kita menikah, yuk!" teriakku membersamai hujan yang seketika jatuh membasahi tubuh kami.
"Hahahahah ....," Tawa Reza terlihat lepas. Bisa kulihat dari kaca spion motor yang ku kendarai wanita berkulit putih itu terpingkal-pingkal setelah mendengarkan ucapan.
Aku rasa tidak ada yang lucu dari pertanyaanku, tetapi mengapa dia justru tertawa.
"Dek, dengar mas ngak?"
Teriakku, melihat Reza membuka kedua tangannya menyambut rinai hujan yang membasahi kulit putih wajahnya yang menatap langit.
"Denger mas!" Sahutnya masih dengan menikmati rintik hujan yang semakin deras.
"Terus gimana?" desakku penasaran.
"Besok aja kita bahas lagi, mas!" Ucapnya kembali melingkarkan tangannya pada perutku.
Di bangku taman alun-alun Bojonegoro.
"Dek!"
"Hem!"
"Gimana soal yang kemarin mas tanyakan itu?" ucapku pada wanita yang sedang sibuk berselancar dengan gawainya.
"Yang mana mas!" Sahutnya tanpa menoleh.
"Adek mau ngak jadi istri mas?"
Reza menekan tombol kembali pada ponselnya. Kemudian memasukkan benda pipih itu kedalam tas rangselnya. Setelah itu manatap seksama pada wajahku.
"Mas yakin sudah siap menikah?"
Aku mengangguk penuh yakin.
"Memang setelah menikah kita mau tinggal dimana?"
Deg!
Pertanyaan macam apa ini, apakah orang menikah harus memiliki tempat tinggal terlebih dahulu.
Setelah terdiam beberapa saat, " Kan kita bisa ngekost dulu dek!" Jawabku dengan senyum memaksa.
"Aku ngak mau! kalau mas mau menikah dengan ku, mas harus memberikan rumah untukku. Jika tidak bisa, ya sudah ngak usah menikah denganku saja. Mas bisa cari wanita lain." ucap Reza datar. Wanita itu berpaling menatap jalanan di sekitar alun-alun Bojonegoro.
'Ah, dek kamu ini matre banget sih!'
"Bagaimana kalau kita tinggal di Purwodadi dulu sama ibu. Lagian ibu juga ke..."
Aku menelan Slavina, rasanya tenggorokan serasa tercekik oleh ucapan Reza.
"Tapi ibuku ngak begitu dek, kan Adek juga udah kenal akrab sama ibu." sanggahku.
"Mas, namanya orang kalau awal-awal emang suka begitu, tapi lama-lama juga sama saja." sahut Reza ketus.
"Dan yang mas harus tau juga, aku tidak mau menikah jika aku belum diangkat menjadi pegawai negeri."
"Apa itu nggak terlalu ambisius dek, bukankan wanita pada akhirnya juga akan melayani suami."
"Mas, aku udah hampir tiga tahun menjadi guru bantu. Dan impianku adalah membuat bangga papa dan mama. Diangkat menjadi PNS, jadi mama dan papa tidak perlu memikirkan masa depanku nantinya."
"Tapi dek, menjadi seorang PNS itu sekarang tidak mu ....!"
Reza memotong ucapan ku dengan wajah bersungut-sungut. "Udah mas, intinya aku tidak mau menikah sebelum aku menjadi pegawai negeri." wanita itu menautkan tas rangselnya kemudian beranjak meninggalkan ku.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu menyeretku dari lamunan. Aku mengerjap bangun duduk ditepi ranjang.
Kreett!
Suara pintu terbuka di ikuti oleh bayangan wanita yang masuk kedalam kamarku.
"Ibu!" panggilku melihat ibu yang berjalan ke arahku. Kemudian menjatuhkan bokongnya ditepi ranjang samping tempatku duduk.
"Ada apa Bu!" tanyaku penasaran, ada apa gerangan yang membuat ibu masuk kedalam kamarku.
"Bagas, ibu ada kabar baik. Bagaimana kalau besok kita datang melamar Reza ke Bojonegoro."
"Apa?" Pekikku dengan netra membeliak.
"Kok kaget sih gas! Kan tadi kata kamu Reza itu memang pacar kamu, gimana sih?" kini ibu terlihat kesal.
"Tapi Bu!"
"Udah, besok pagi kita berangkat ke Bojonegoro. Jangan lupa bilang sama Reza ya. Alhamdulillah sapi ibu sudah laku dijual, kan bisa buat biaya pernikahan kamu." Celetuk ibu sumringah.
"Tapi Bu!"
Wanita dengan wajah berbinar itu beranjak dari tepi ranjang melangkah meninggalkanku tanpa memperdulikan penjelasanku.
*****____******
"Bagas, buruan nak!"
Teriak ibu dari halaman rumah. Aku masih sibuk memilih kemeja terbaik yang ku miliki dari dalam lemari. Hingga pilihan kemeja itu jatuh pada baju dengan motif batik. Meskipun aku sudah sering bertemu dengan kedua orang tua Reza, tapi hari ini adalah hari yang sangat penting bagiku. Jadi aku harus tampil semaksimal mungkin.
Setelah aku selesai mengenakan baju dan menyemprotkan parfum maskulin keseluruh tubuhku. Aku segera bergegas menuju ke teras rumah. Entah berapa kali ibu sudah meneriaki memanggil namaku sedari tadi.
Netraku membulat melihat mobil bak terbuka yang telah terparkir dihalaman rumah kami.
"Bu, mobil ini yang ibu sewa untuk kerumah Reza?" Bisikku setelah mendekati ibu.
"Udah, ngak papa. Ini gratis Bagas. Kan punya pak lek mu!" balas ibu berbisik.
'Ya, tuhan apa kata keluarga Reza nanti.'
Aku menepuk keningku pelan. Tangan ibu dengan cepat menarik pergelangan tanganku naik ke dalam mobil yang telah siap di kemudi oleh pak lek ku.
Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam menatap hamparan hutan yang luas, udara yang sejuk menyeruak menyegarkan paru-paruku.
Sementara ibu tak henti-hentinya membangga-banggakan prestasi Reza kepada pak lek Narto, adik almarhumah bapakku. Sepertinya ibu sangat menyukai Reza, selain dari keluarga terpandang, Reza juga memiliki pendidikan yang tinggi. apalagi parasnya yang aduhai. Membuat ibu merasa beruntung memiliki calon menantu seperti Reza.
'Semoga saja, kali ini Reza tidak marah kepadaku. Karena aku sengaja tidak memberi tahunya terlebih dahulu. Aku hanya meminta izin kepada kedua orang tua Reza yang menyambut ramah niat baikku ini. itulah alasanku mengiyakan permintaan ibu.'
BERSAMBUNG ....