MYHUSBAND, YOUR HUSBAND

MYHUSBAND, YOUR HUSBAND
REZA LULUS TES CPNS



'Aku tidak akan pernah merubah apa yang telah terpatri dalam hatiku, sekeras Yasmin mencoba meruntuhkan kekuatan cintaku kepada Reza, itu hanyalah percikan kecil yang tidak akan pernah menimbulkan api cintaku kepadanya.'


Aku memilih menghindari Yasmin. Membuatnya agar semakin membenciku. Dalam setiap perbuatanku, selalu kuselipkan sikap dingin dan beku. Namun, gadis lugu itu sama sekali tidak pernah berubah. Dia melayaniku seperti layaknya seorang istri kepada suaminya. Menyiapkan segala keperluanku dan dengan sabar melayani ibuku yang mulai sakit-sakitan. Meskipun hampir satu tahun kita menikah aku sama sekali belum pernah menyentuhnya.


Tidak ada yang berubah, kami tetap tertidur di tempat yang berbeda. Mengurusi kehidupan kami masing-masing. Aku yang sibuk dengan pengangkatanku sebagai mandor perhutani dan Yasmin yang mulai menunjukan kemajuan dalam usahanya berjualan baju, hingga rencananya dalam waktu dekat ini dia akan membuka butik besar di pusat kota. Hal itu pun aku tau dari ibu yang tidak pernah berhenti mengingatkanku untuk merubah sikapku kepada Yasmin.


"Bagas, berapa tabunganmu?" Tanya ibu tiba-tiba menanyakan uang simpananku.


"Kenapa memangnya Bu," Sahutku menatap lekat ke wajah wanita yang sedang duduk di sampingku.


"Yasmin ingin membangun rumah kita dengan tabungannya. Apakah kamu tidak mau menyumbang untuk membantu Yasmin. Toh rumah ini kan rumah kita."


Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian mendengus halus. Ku pijat keningku yang tidak pusing. Ibu menjatuhkan tatapannya kepadaku, matanya sama sekali tidak berkedip mengawasiku.


"Ibu tau pasti kamu memiliki tabungankan?!" desak ibu.


'Ya tuhan, bagaimana ini. Padahal aku sudah susah payah mengumpulkan uang untuk membelikan rumah untuk Reza dan tinggal sedikit lagi impianku membahagiakan Reza akan terwujud.'


"Bagas!" Ibu menepuk pahaku hingga membuatku tergeragap.


"Eh, iya Bu!" sahutku nyengir.


"Ada kan? Besok jangan lupa berikan uang itu kepada Yasmin." Celetuk ibu berlalu meninggalkanku. Wanita itu sama sekali tidak pernah mau mendengarkan jawabanku sedikit pun.


Aku mendengus kasar menatap punggung ibu yang berlalu meninggalkanku.


'Sial!'


_____*****_____


Tubuhku menyandar pada daun pintu dengan melipat kedua tanganku didepan dada. Mataku mangawasi wanita yang sedang duduk di depan meja rias. Tidak biasanya Yasmin berdandan dengan make up yang bergitu tebal. Biasanya gadis pendiam itu lebih memilih riasan natural dengan lipstik berwarna nude. Kini bibir tebal itu merah merona dengan warna merah cabe. Seperti habis menghisap darah.


Ku tutup mulutku menahan tawa, melihat wajah Yasmin yang terlihat aneh menurutku.


"Mas Bagas!" Decak Yasmin menangkap bayanganku yang berdiri di ambang pintu dari pantulan cermin. Seketika gadis itu menoleh kearah ku.


Aku membenarkah posisiku, meskipun aku tidak bisa menyembunyikan tawaku dari pandangan Yasmin.


"Kenapa ketawa mas?" Yasmin memicingkan netranya ke arahku yang berada di ambang pintu.


"Hahaha ..." Akhirnya tawaku lepas juga. Perutku seperti sedang di kocok-kocok melihat wajah Yasmin yang hampir mirip badut keliling.


Polesan merah di pipinya, goresan hitam di alisnya serta bibirnya yang semakin terlihat menebal.


Yasmin menaikan kedua alisnya, wajahnya terlihat bingung melihatku tertawa terkekeh menunjuk kearahnya.


"Ada apa sih mas?"


"Yas, kamu dandan apa sih itu Yas coba deh kamu ngaca!" titahku memegang perutku yang terasa sakit karena terus tertawa.


Gadis itu membalikan tubuhnya menatap cermin. Wajah'nya berubah sendu, butiran bening jatuh membasahi pipinya. Hingga maskara yang dikenakan berantakan disekitar matanya.


Aku berjalan mendekati Yasmin, duduk ditepi ranjang dekat meja rias. Gadis itu menangis, perlahan mengusap lembut wajahnya dengan kapas.


"Makanya kalau tidak bisa dandan itu ngak usah dandan!" sergahku kepada Yasmin.


Aku bangkit dari tepi ranjang, meletakan amplop coklat di atas meja rias. "Ini tabunganku, tapi tidak banyak. Sisanya mau aku pakai untuk membelikan rumah untuk Reza di Bojonegoro. Harusnya kamu itu tidak perlu membangun rumah ini. Toh, pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi." ujarku penuh penekanan.


Yasmin diam tak bergeming, hanya butiran bening yang lolos membasahi pipinya. Tanganya terus mengusap sisa make up yang menempel pada wajahnya. Seolah telinganya tuli tak mendengar ucapanku, netralnya pun hanya berfokus pada pantulan wajahnya dari dalam cermin.


'Dan aku berlalu tanpa memedulikan hal itu.'


____*****______


Akhirnya impianku menjadi mandor tercapai juga. Kerja kerasku selama ini terbayar tunai. Tidak bisa kubayangkan betapa sempurnanya hidupku nanti. Bisa menikahi gadis secantik Reza yang berprofesi sebagai seorang guru, sementara diriku adalah seorang mandor perhutani. Keren dan sempurna.


Sejak tadi pagi Reza berkaki-kali menghubungiku. Karena keadaanku yang sedang sibuk, gadis bergigi gingsul itu mengirim pesan singkat kepadaku. Dia memintaku untuk menunggunya di taman alun-alun kota tempat favorit kami.


Gadis itu mempercepat langkahnya dengan ulasan wajah bahagia. Reza menjatuhkan bokongnya tepat disampingku.


"Mas, mas tau ngak!" Reza mengoyangkan pergelangan tangan. Ulasan senyum menghiasi bibir merah muda itu.


"Ada apa sih dek!" sahutku penasaran.


Ada hal yang sangat aku sukai dari Reza, ya seperti saat ini. Saat dia sedang dalam keadaan bahagia dan tidak marah-marah kepadaku.


"Mas, aku lulus tes CPNS."


Reza menjatuhkan pelukannya pada tubuhku, tapi itu hanya khayalanku, karena Reza tidak akan mungkin melakukannya. Reza adalah tipe gadis yang tingkat jual mahalnya terlalu tinggi. Gadis itu memilih mendekap tas rangselnya dengan binar bahagia.


"Wah, selamat ya sayang!" sahutku ikut bahagia.


Dreg! Dreg! Dreg!


Ku raih ponselku yang bergetar dari saku celana. Netraku membeliak melihat nomor Yasmin dari layar yang terus berkedip.


'Aduh yas, ada apa sih kamu nih.'


Ku tekan tombol merah pada sudut layar. Kemudian kembali memasukkan ponsel itu kedalam saku celana.


"Kok ngak di angkat mas?"


"Ngak lah, paling orang iseng soalnya ngak ada namanya." kilahku.


"Akhirnya mas, kita bisa segera menikah. Setelah sekian lama aku menunggu hari itu." Reza memegang erat kedua tanganku dengan tatapan bahagia.


"Terus gimana, mas jadi kan beliin aku rumah?"


Deg!


'****** aku, mana uangku tinggal lima puluh juta lagi di tabungan. Tidak mungkin cukup untuk membeli rumah beserta tanahnya.'


"Dek, misal tahun depan aja gimana, tabungan mas kemarin kepakai untuk berobat ibu." ucapku terbata. Netraku menciut mantap wajah' Reza yang seketika berubah.


"Apa? Mas ngak lagi bercandakan?" pekik Reza dengan mata membulat.


Dreg! Dreg! Dreg!


Ponselku masih aja bergetar. Biarlah, pasti Reza juga tidak akan mendengarnya karena aku hanya memasang nada senyap di ponselku.


Reza terus mengomel tanpa henti, hingga beberapa saat setelah gadis itu menumpahkan kekesalannya kepadaku, Reza beranjak meninggalkanku di bangku taman. Pasti saat ini dia sedang merajuk lagi.


Aku mendengus halus, ternyata lelah juga ya memiliki pacar seperti Reza.


Ku raih ponselku dari dalam saku celana. Batinku penasaran, apakah telah terjadi sesuatu dengan ibu sampai Yasmin berkali-kali menghubungiku.


Ku usap lembut pada layar ponsel.


[13 panggilan 085xxxxxxxxxx]


[1 pesan]


tampillan dari layar ponselku. Ternyata banyak sekali Yasmin telah menelponku.


Ku buka pesan dari Yasmin yang telah dikirim sekitar satu jam yang lalu. Mungkin saat aku sedang perjalanan menuju alun-alun.


[Mas, paman Sholeh meninggal. bisakah mas pulang!]


Bersambung ....