
Aku masih menatap wajah gadis yang mengenakan kerudung berwarna nude itu. Kulitnya sawo matang, tidak ada bagus-bagusnya sedikitpun. Beda jauh dengan Reza si gadis cantik dengan kulit putih bagaikan pualam.
Tubuhnya pun mungil, hidungnya pesek. Ah, sangat tidak menarik sama sekali. Yang membuat ku semakin ilfeel adalah, ternyata gadis dihadapanku ini cuma tamatan SMA. Sungguh jauh dari angan-anganku. Untung saja dia cuma istri siriku. Yang kapan saja bisa aku tinggalkan tanpa harus mengurus surat perceraian ke pengadilan.
"Iya, siapa namamu nak?" Tanya ibu pada gadis yang sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya menatapku. Mungkin karena dia tidak terlalu cantik, sehingga dia merasa malu kepadaku. Pikirku sih begitu.
"Yasmin, Bu!" sahutnya terdengar lembut.
Iya, dia adalah seorang gadis yang memiliki suara paling lembut yang pernah aku dengar.
"Nama yang indah sekali." Ujar ibu memuji.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang, basa basi yang cukup lama dan intinya, akhirnya tibalah seorang tetua di kampung adat gadis itu memutuskan hari pernikahan ku dengan Yasmin.
"Pernikahannya bisa dilaksanakan bulan depan tangal 25, hari jumad Kliwon." Ujar pria tua yang terlihat fokus menghitung tanggal pernikahan menurut kepercayaan adat daerah tempat tinggalku.
Ibu mengerutkan dahi, wanita yang telah melahirkan ku itu terlihat gusar. "Misal di majukan lagi, apa ngak ada Mbah? Biar cepat begitu." Seloroh ibu membuatku seketika menoleh kearah ibu.
'ibu, apa-apaan sih.' Kutatap wajah' ibu kesal.
"Oh, ada-ada paling cepat tiga Minggu lagi jatuh pada hari Ahad manis." Cakap pria itu girang.
"Nah, cocok itu!" sahut ibu serentak dengan paman Yasmin. Membuat semua yang berada di ruang tamu itu seketika tertawa bersamaan, begitu juga dengan Yasmin.
Gadis itu membungkam mulutnya menahan tawa. Sementara aku hanya terus meredam kekesalan dalam hatiku atas perjodohan ini.
*****____*****
Sesuai permintaan ibu, pernikahan ku dan Yasmin akan dilaksanakan di kediamanku. Kata ibu, karena aku adalah anak ibu satu-satunya dan Yasmin yang juga seorang gadis yatim piatu. Biarlah semua menjadi satu dirumah kami.
Yang membuatku tidak habis fikir adalah keputusan Yasmin yang mau menerima di jadikan istri siri olehku. Apakah wanita itu tidak takut, jika sewaktu-waktu aku bisa saja meninggalkannya. Bodoh sekali bukan gadis itu.
Panggung pelaminan telah dihias dengan begitu megah. Tenda yang besar pun sudah berdiri dihalaman rumahku, sengaja ibu memilih tenda paling besar, katanya biar mampu menampung tamu undangan yang banyak.
Aneka bunga berwarna-warni pun telah berjajar rapi di sepanjang gapura yang sengaja dibuat untuk menyambut tamu yang datang. Persiapan yang begitu indah tanpa mereka tahu jika aku hanya menikahi Yasmin secara siri. Malangnya gadis itu, harus menjadi korban dari ke'egoisanku dan ibu.
Aku terduduk lesu menatap lurus kearah pelaminan dihadapanku. Ku tumpu wajahku dengan kedua tanganku yang berada diatas meja.
'Andiakan pelaminan itu untukku dan Reza pasti aku akan menjadi pengantin yang sangat berbahagia sekali.'
"Mas Bagas! Jangan ngelamun saja. Mentang-mentang sudah mau menikah." seloroh teman yang membantu mempersiapkan acara pernikahanku.
"Ah, kamu Dim. Biasa aja deh!" sahutku nyengir.
"Pasti seneng ya bisa menikah dengan Yasmin, sudah cantik Sholeha pula, pinter cari duit pisan." cerocos Dimas berlalu.
Aku hanya melemparkan senyuman kepada pemuda yang memiliki umur jauh dibawahku itu.
'Dasar anak kecil, mana paham kamu urusan orang dewasa. Masa wanita seperti Yasmin aja udah dibilang cantik. Aku yang calon suaminya saja tidak tau apapun soal Yasmin, lagipula tidak penting juga untukku.'
Dreg! Dreg! Dreg!
Benda pipih dalam saku celanaku terus bergetar, segera ku raih benda pipih itu dari dalam kantong celana.
[Sunshine]
Nama itu terus berkedip di ikuti dengan getaran yang belum berhenti.
Ku usap tombol hijau pada ponselku. Kemudian, menempelkan telepon genggamku kedekat telinga.
"Mas, mas lagi di Purwodadi ya?" ucap suara wanita dari balik telepon.
"Iya dek, maaf mas ngak bilang habis ada acara mendadak sih!" kilahku.
"Oh, pantesan tadi aku tungguin tidak datang, kirain jemput aku disekolah, ternyata tidak." suara Reza terdengar parau. Tidak biasanya dia menanyakan keberadaanku.
"Iya dek, maafin mas ya!" sahutku tak bersemangat.
"Terus mas kapan balik ke Bojonegoro lagi? Senin?"
"Pokoknya mas hari Senin harus udah balik ke Bojonegoro, ngak tau kenapa aku lagi kangen banget sama mas."
Deg!
'Apakah Reza tau jika aku akan menikahi wanita lain besok. Aku harap sih dia tidak tahu.'
Ku garuk kepalaku yang tidak gatal. Benakku terus berkelana menerka segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Mas, kok diem!" ucap Reza membuat ku tersadar. "Mas baik-baik saja kan?" Imbuh Reza.
"Iya dek mas baik-baik saja kok, sepertinya mas sedang tidak enak badan aja dek. Mas istirahat dulu ya." Pamitku penuh kepalsuan.
Aku segera mengakhiri panggilan Reza. Mendengar suara Reza membuatku semakin merasa bersalah kepada wanita dengan lesung pipi dan gigi gingsul itu.
'Coba dia tidak terlalu berambisi, pastilah saat ini dirinyalah yang menjadi pengantin wanitaku.'
*****_______*******
"Bagaimana mas Bagas sudah siap?"
"Bagas! itu ditanya?" Ibu mencubit pinggangku dengan kesal, hingga membuatku terseret dari lamunanku.
Aku baru sadar jika sekarang aku telah duduk dihadapan penghulu yang sudah siap menikahkan ku dengan Yasmin.
"Ehm, iya pak penghulu!" sahutku datar.
Bayangan Reza samakin memenuhi otakku. Tawanya, manjanya, bahkan saat gadis itu marah karena hal-hal sepele kepadaku.
Sakit!
Nyeri!
Seperti dihujam beribu sembilu. Cinta yang ku perjuangankan, justru aku sendiri yang menghancurkannya.
Penghulu itu meraih tanganku, hingga membuatku kembali tersadar. Tatapannya tajam ke arahku penuh keyakinan.
"Siap ya mas Bagas!" Ucapnya penuh penekanan.
"I-iya pak!"
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan saudara Bagas Anggara bin Wasito dengan saudari Yasmin bin wali hakim dengan maskawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya, Yasmin bin wali hakim dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Ucapku lantang.
"Bagaimana saksi? sah!"
"Sah!" Sorak seluruh tamu undangan yang hadir menyaksikan acara akad nikahku dengan Yasmin.
Jantungku semakin bergemuruh, ada rasa sakit dan juga haru. Entahlah aku tidak bisa melukiskan perasanku saat ini.
Gadis dengan kerudung putih yang duduk di sampingku segera meraih tanganku dan mencium punggung tanganku dengan Kitmad.
Aku diam tak bergeming, hingga ibu yang duduk dibelakangku mencubit kecil pinggangku.
"Cium Bagas, cium." Seloroh ibu dengan mulut yang berkomat Kamit. Gerakan mulutnya yang lebar mempermudah untukku menembak ucapnya.
Dengan ragu kuraih wajah Yasmine. Baru kali ini aku menatap wajah Yasmine dari dekat. Ternyata Yasmin terlihat manis juga meskipun kulitnya tak seputih Reza.
Kujatuhkan ciuman pada kening Yasmin. membuat wajah' Yasmine seketika bersemu merah.
Lalu ada apa dengan hatiku, kenapa jantungku terasa semakin berdebar.
'Ngak boleh, ngak boleh, kamu tidak boleh sedikitpun berempati kepada Yasmine, karena cinta bisa saja datang karena rasa empati. Yasmin boleh memiliki ragamu tapi tidak hatimu, paham Bagas.' rutukku dalam hati.
Ku tepis perasaan aneh yang datang menyelinap ke dalam hatiku. Mungkin perasaan itu tidak lebih dari rasa canggung karena selama aku berpacaran dengan Reza belum pernah sekalipun aku menyentuh gadis itu, apalagi menciumnya. Nyaliku sungguh tidak berani melakukan hal itu. Dan inilah kali pertama aku melakukan itu kepada Yasmin. Wanita yang sama sekali tidak aku harapkan.
BERSAMBUNG ....