
***
Rumah
ting tong...bunyi bek rumah
" siapa? "tanya Anin sambil membuka pintu
"Fandy ! " kata Anin kaget saat melihat Fandy didepan pintu
"kamu dirumah ternyata, aku tadi carimu dikantor tapi ngak ada " kata Fandy kemudian sambil masuk kedalam rumah
"maaf aku hari ini tidak bisa kerja" kata Anin meminta maaf
"gakpapa, kan aku juga udah ingatin kamu untuk sementara waktu ambil cuti " jawab Fandy sambil tersenyum kepada Anin
"iya"jawab Anin singkat
"ngomong ngomong, kamu tadi pergi kemana? " tanya Fandy tiba tiba yang membuat Anin terdiam sejenak
"Tidak aku hanya keluar sebentar setelah itu pulang. " jawab Anin mencari alasan
"baiklah" jawab Fandy kemudian sambil menyilangkan kakinya
" jadi kau tidak pergi kekantor lagi? "tanya Anin kepada Fandy memastikan
" tidak, aku mau disini aja denganmu,kebetulan kerjaan dikantor tidak terlalu menumpuk dan para staf disana cekatan dalam bekerja jadi aku tidak terlalu ambil pusing "jawab Fandy santai
wajar saja Secara Fandy adalah CEO diperusahaan itu jadi mau kemana pun dia pergi tidak ada yang melarangnya.
Fandy adalah CEO Perusahaan yang bekerja dalam bidang Hukum dengan karyawan mencapai 87.345 orang dengan gaji perbulan Rp 3.500.000 perorang.
"Anin apa kamu abis nangis? " tanya Fandy kepada Anin
"tidak, hanya kelilipan" jawab Anin kepada Fandy sambil menghapus sisa air matanya yang masih menempel dipipinya
"jika iya kata saja,aku bisa jadi pendengar yang baik " kata Fandy kepada Anin menawarkan diri
" tidak,terima kasih " jawab Anin
" Aku pergi dulu"
Anin menaiki Anak tangga sesekali melirik kearah Fandy dengan memberikan senyuman terpaksanya itu kepada.
Fandy membalas senyuman Anin dengan senyumannya juga walaupun Fandy sudah tau penyebab Anin seperti itu tapi dia lebih memilih diam agar tak menimbulkan pertengkaran antara dia dan Anin,ia juga sudah tau motif dari pertemuan mereka berdua apa, cemburu so pasti tapi tak menjadi penghalang bagi Fandy untuk selalu menjaga Anin dalam keadaan apapun.
Fandy adalah sosok pria idaman para wanita diluar sana, meskipun seperti tidak ada yang menyatakan cinta kepadanya tapi secara tertutup sudah banyak yang mengungkapkan perasaannya kepada Fandy tapi Fandy tetap menolak karena ia mencintai Anin dan itu tidak ada penggantinya.
***
didalam kamar
Anin terlelap tidur setelah menangis beberapa jam saat ia didalam kamarnya tanpa bersuara agar tak didengar oleh Fandy sedangkan Fandy masih stay ditempatnya sesekali pergi kedapur mencari yang dingin untuk menyejukan tenggorokannya yang kering .
dretttt... drettt... bunyi panggilan
"Ada apa? "
".............."
"Apa sekretariat ku tidak bisa menanganinya? "
".............."
"baiklah aku akan kesana"
panggilan dimatikan
Fandy langsung bergegas keluar menaiki mobil pribadinya itu dan mengeluarkan mobilnya itu keluar dari halaman rumahnya.
"Maafkan aku Fan "
***
Didalam Perusahaan
"Hallo Fandy lama kita tidak berjumpa"
"Ada urusan apa Ryan kamu kesin? " tanya Fandy to the point kepada para yang bernama Ryan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ryan yang Anin kenal
" aku kira kau tidak akan mau bertemu dengan ku ternyata perdiksiku salah, kau lebih gentelmen dari yang ku bayangkan" kata Ryan kepada Fandy
" kalo tidakkan aku bisa pergi kerumah mu secara hormat sekali bertemu dengan tunanganku Anin " lanjut Ryan
" apa kau gila jelas jelas Anin sudah menolakmu " kata Fandy marah
"kenapa apa kau cemburu saat aku menyebut Anin adalah tunanganku ? "kata Ryan sengaja membuat Fandy emosi
"aku peringatkan kau untuk terakhir ini,jangan pernah menganggunya lagi kalo tidak kau akan rasakan akibatnya! " kata Fandy mengancam Ryan
" tenanglah,aku tidak mau cari keributan aku kesini hanya ingin memperingatimu untuk menjauh darinya karena dia akan menjadi milikku seutuhnya "
"Tidak akan !" bentak Fandy
"sudahlah aku tidak banyak waktu untuk berdebat denganmu,lakukan apa yang ku mau kalo tidak kau tidak akan melihatnya lagi " Ancam Ryan sebelum meninggalkan ruangan Fandy
***
DIDALAM KAMAR
Menulis surat
" aku pamit ya, jangan cari aku lagi, aku minta maaf juga tidak bisa membalas kebaikan tapi percayalah saat aku datang kembali aku akan membalas semua kebaikanmu ini ,By.Anin " isi surat yang Anin buat
***
"Anin,Anin " kata Fandy saat ingat kepada Anin dan langsung mencari Handphone dan mencoba menelpon Anin.
"nomor yang anda hubungi tidak aktif co..."
"Nomor Anin ngak aktif"Kata Fandy sudah mulai khawatir
Fandy bergegas keluar dari ruangannya dan pergi dari situ untuk menemui Anin dirumah,Fandy ingin memastikan keberadaan Anin apa Anin memang sengaja mematikan Handphonenya atau Anin memang sudah pergi seperti dugaannya.
setelah sampai dihalaman rumah Fandy bergegas keluar dan langsung masuk kedalam rumah dengan keadaan rumahnya tidak terkunci dan hal itu membuat Fandy semakin yakin bahwa Anin benar benar kabur darinya.
"Anin...Anin... " teriak Fandy memanggil Anin sambil menaiki Anak tangga menuju kamar Anin
Fandy memasuki kamar Anin yang terlihat baru dibersihkan dan semua barang disana tertara rapi tapi, kemana pakaian Anin semua ,isi lemari kosong dan foto foto semuanya sudah tidak ada menempel didinding ,tersisa hanya foto dia dan Anin sana.
Saat Fandy ingin keluar Kamar untuk mencari keberadaan Anin, matanya tidak sengaja melihat Secarik kertas yang Dilipat begitu rapi .Fandy mengambil secarik 9kertas itu dan mulai membaca semua isinya.
Air mengalir dipipi Fandy saat membaca isi surat tersebut, sungguh sangat menyakitkan saat Fandy tau bahwa Anin sendirilah yang memutuskan untuk pergi bukan Ryan,pria yang tidak tau diuntung itu.
***
Dilorong yang gelap berdiri seorang gadis dengan satu koper melekat ditanganya tanpak dari raut wajahnya terlihat sangat Lelah mungkin lelah menbawa bawaannya yang tanpa sekali berat baginya dengan tubuhnya yang kecil tidak sebanding dengan koper yang ia bawa.
Gadis itu terlihat kebinggungan karena tidak tau mau kemana, langkahnya berhenti saat disinari oleh mobil yang tidak ternilai Harganya.Ia berusaha menbuka matanya agar bisa lihat siapa yang Ada didalam mobil itu tapi pengelihatannya kalah dengan sinar lampu yang dimiliki mobil itu sehingga ia memutuskan untuk melangkah selangkah demi selangkah untuk meninggalkan Mobil itu yang tidak ia kenal.
tanpa ia sadari sedari tadi ia terus diawasi oleh sepasang mata yang terus menatap dirinya dari kejauhan, setiap langkahnya dan setiap kegiatan yang ia lakukan diperhatikan oleh sepasang mata itu.
tiba tiba saja langkah wanita itu mulai tidak karuan hingga menbuatnya...
Brukk...