MY PERFECT LOVE

MY PERFECT LOVE
Kecelakaan



tuttttt.... turut.....


"Halo... "


"......."


"iya,dengan saya sendiri! "


"Apa! "


teriakan Histeris memecahkan keheningan ditempat kerja itu


"ada apa dengan wanita gila itu, teriak teriak nggak jelas?" tanya seseorang itu kepada temannya


"mana gw tau"


semua orang yang mendengar teriakan Anin sama sekali tak terlalu memperdulikannya, mereka lebih memilih mengerjakan pekerjaannya daripada mengurus Anin yang sudah tak berdaya itu.


Anin bergegas keluar tanpa memperdulikan barangnya lagi, yang ada dipikirannya sekarang adalah ibunya.


Brukkk...


"maaf saya tidak sengaja" kata Anin sambil membungkukkan badannya karena tidak sengaja menabrak seseorang tanpa melihat sosok yang sedang dihadapkannya sekarang.


" Apa ini tempat lomba lari ?" tanya sosok itu dingin


Seketika Anin tersadar bahwa yang ia tabrak sekarang adalah bosnya sendiri.Anin memberanikan diri untuk melihat bosnya itu dengan bergelimang air mata yang sudah dari tadi ia tahan.


Fandinya yang melihat itu pun ikutan terkejut, padahal ia tak membentaknya tapi mengapa Anin menangis, karena tidak mau dilihat Karyawan lain Fandi pun membawa Anin keluar diiringi dengan Asistenya yang masih setia mengikutinya dibelakang.


saat sudah diluar kantor Fandi pun langsung memeluk tubuh Anin yang mungil itu untuk memberi kekuatan kepada Anin dengan rasa bersalah, sedangkan Asistennya yang melihat itu pura pura tak melihat dan lebih memilih membalikan tubuhnya daripada harus melihat keromantisan bosnya itu.


"maafkan aku kalo aku membuatmu menangis, aku tidak bermaksud? " kata Fandi sambil mengelus elus pundak Anin


" bukan itu" kata Anin sambil melepaskan pelukannya


"tapi mamah" lanjut Anin lagi


"ada apa dengan tante? " tanya Fandi dengan tenang sambil mengambil kembali tubuh Anin itu untuk ia peluk


"mamah ke...celakaan "jawab Anin sambil menangis


"Apa! "


Fandi yang mendengar kabar tersebut pun juga tidak percaya apa yang barusan ia dengar, padahal tidak lama ia masih melihat ibu Anin dalam keadaan baik baik saja.


Fandi langsung gercap menyuruh asistennya mengambil mobil dan langsung membawa Anin masuk kedalam mobilnya itu tanpa ditemani oleh asistennya.


"Fandiiii, bagaimana ini,bagaimana jika mamah kenapa napa, aku takut" kata Anin dengan tangisan menjadi jadi.


" tidak, tante akan baik baik saja, percaya padaku" kata Fandi berusah menenangin Anin


Fandi mengambil tangan Anin memberi kekuatan kepada Anin yang sedang dilanda oleh pikiran pikiran negatifnya.


Fandi yang melihat gadis yang ada disampinganya itu tak henti hentinya menangis membuatnya terpukul,ditambah lagi Ibu Anin sangat baik kepadanya, ia sudah menganggap ibu Anin adalah ibunya.Ibu Anin merawatnya seperti anaknya sendiri.


Fandi membawa mobilnya itu dengan kelajuan diluar aturan yang berlaku, ia tak peduli lagi dengan kendaraan kendaraan yang ada didepannya itu,ia menyelip mobil satu persatu tanpa memperdulikan lagi keselamatannya dan gadis yang ada disampingnya itu.


sedangkan gadis yang ada disampingnya itu tampak lemah seperti tidak ada kehidupan didalam dirinya lagi dengan keadaan menunduk tanpa berani melihat kedepan.


beberapa menit akhirnya mereka sampai dirumah sakit dimana ibu Anin berada.


Anin langsung turun dari mobil tanpa menunggu Fandi.


*****


RUMAH SAKIT


"Atas nama siapa kak?" tanya Perawat dirumah sakit itu


" Belinda Brianna"jawab Anin cepat


" terima kasih "


Anin langsung bergegas mencari ruang tempat ibunya dirawat sekarang dengan tergesa gesa dan akhirnya ia menemukannya.


Anin membersihkan dirinya dan menggunakankan pakaian luar yang telah disediakan oleh rumah sakit itu dan tidak diizinkan lebih dari satu orang untuk menjenguk pasien.


Anin yang sudah masuk kedalaman ruangan itu terkejut saat melihat ibunya terbaring lemah dengan banyak sekalian selang tertancap ditubuh ibunya ditambah lagi saat melihat leher ibunya dikenakan dengan penyangga leher, ini menandakan bahwa keadaan ibunya sangat terpuruk.


"Mah.. Ini Anin " kata Anin sambil memegang tangan ibunya itu saat sudah disamping ranjang ibunya


"mahh.. bangun mah, anin ngak mau mamah berlama lama disini mah, Anin ngak bisa melihat mamah terbaring lemah seperti ini. "


hiks..hiks..hiksss


" mamah taukan Anin nggak punya siapa siapa lagi disini selain mamah. Mah bangun mah bangun mah.. hiks... hikss"


***


Dibalik Ruangan


Disamping itu Fandi yang sedari tadi sudah ada hanya bisa menunggu Anin diluar ruangan sambil berjalan bolak balik menunggu Anin keluar ,dan berharapan keadaan ibu Anin baik baik saja.


Rasa gelisah tampak dari raut wajah Fandi,berulang kali ia mengeluarkan Handphone dan menyimpannya kembali didalam saku celananya,entah apa yang sedang ia kerjakan.


Beberapa menit kemudian Anin Keluar dari ruangan tersebut dengan raut wajah sedih.


Fandi yang melihat Anin keluar langsung menghampiri Anin untuk bertanya bagaimana keadaan ibu Anin apakah baik baik saja atau sebaliknya.


sedangkan Anin tak merespon pertanyaan Fandi dan langsung duduk dikursi dengan keadaan menunduk.


Fandi yang tau keadaan Anin sekarang dalam keadaan down langsung berhenti bertanya dan memilih duduk disamping Anin untuk memberi kekuatan kepada Anin.


Dalam keadaan seperti ini, dukunganlah yang sangat diperlukan sekarang agar tak mudah menyerah.


"Anin, it's oke, tante akan baik baik saja, percayalah." Kata Fandi berusaha memberi semangat kepada Anin


"Apa Mamah akan sembuh? "tanya Anin dengan keadaan frustasi


"tentu saja." jawab Fandi


"kau bohong,tubuh mamah banyak sekali dipasang selang ,mustahil untuk cepat sembuh" kata Anin marah karena merasa dibohongin


" penyembuhan memerlukan tahap ,dan kau sangat dibutuhkan tante untuk memberikannya semangat, jika kau seperti ini kau sama saja menambah beban " jelas Fandi


" mengapa kau menyalahkan ku? " marah Anin


"aku tak menyalahkan mu, tapi coba kau pikirkan, jika kau seperti ini, bagaimana kau bisa memberi semangat untuk tante sedangkan kau saja letoy seperti ini" jelas Fandi sambil menyentilkan tangannya ditelinga Anin


" baiklah aku akan kuat, aku mau kasih mamah kekuatan" kata Anin berusaha tegar


" nah itu baru bagus "


Mereka cukup lama berada dirumah sakit, memantau keadaan ibu Anin dari luar agar tak terjadi apa apa walaupun sudah ada dokter dan perawat yang menjaga tetap saja Anin tidak akan tenang jika bukan dirinya yang menjaga ibunya itu.


"Apa kau belum sempat makan? " tanya Dandi kepada Anin


Anin menggeleng kepalanya menandakan dia sama sekali belum makan dari siang tadi.


Karena pekerjaannya yang banyak membuat dirinya memilik menggunakan jam istirahatnya untuk menyelesaikan tugas tugasnya tanpa memperdulikan kesehatannya.


"Baiklah, aku akan membelikan makanan, kau tunggu saja disini, jangan kemana mana" kata Fandi


" Baiklah" jawab Anin singkat


Fandi pun meninggalkan Anin sendiri dan langsung pergi mencari makanan sedangkan Anin yang sedari tadi merasa ngantuk memilih untuk menunggu Fandi kembali dengan berusaha membuka matanya agar tidak tidur walaupun akhirnya Anin tertidur juga.


Saat Anin membuka matanya, ia kaget karena ia sudah berada didalam ruangan yang sama sekali ia tidak tau