
jam kuliah telah usai,Rian yang sedari tadi menunggu langsung saja bergegas keluar
"Claud ,ayo" teriak Rian dari luar kelas
" iya bentar" jawab Claudia sambil menyimpan bukunya dan laptopnya
"Gak usah buru buru juga kali"kata Claudia yg sudah diluar bersama Rian
" ah ,iya maaf " jawab Rian
" giliran Anin aja kamu semangat gitu,coba klo bukan tentang Anin boro boro mau negur liat aja kyk malas gitu,udh sifat dinginnya tiba tiba hilang lagi" batin Claudia dengan kesal
"claud ayo " kata Rian menarik lengan Claudia
"eh eh ngk usah narik narik gitu napa" kata Claudia
"makannya cepat" jawab Rian sambil melepas genggaman tangannya ke Claudia
" yah,keberuntunganku hilang" keluh Claudia
"Claudia Ayo " teriak Rian yg sudah jauh dari Claudia
"eh iya iya" sambil menyusul
tak menunggu lama Rian dan Claudia sudah sampai dirumah Anin
" ini rumah siapa Rian?" tanya Claudia heran ,karna ia tidak tau sama sekali bahwa itu rumah Anin
" ini Rumah Anin " jawab Rian sambil menuju bel rumah ,berniat memencetnya
" eh tunggu tunggu" kata Claudia menghentikan Rian
" ada apa?"tanya Rian heran
"kita kan mau ke Anin ,kenapa kesini" kata Claudia
"kan ini rumah Anin" jawab Rian
" memangnya Anin dirumah,dia itu dirumah sakit" kata Claudi selow
"rumah sakit ,siapa yang sakit?" tanya Rian dengan Penasaran
" ya Aninnya lah Rian " jawab Claudia sambil menyebut Abjat huruf nama Anin
" Anin" kata Rian mencolok
" yaudah ayo kita susul " kata Rian dengan sedikit khawatir
"memangnya kamu tau rumah sakit mana?" tanya Claudia yg menghentikan langkah Rian
"enggak" jawab Rian sambil berbalik badan
"hahahhaaa " ketawa Claudia
"ikut Aku " kata Claudia tiba tiba dengan nada seram
tak menunggu lama Rian sudah sampai dirumah sakit tempat Anin dirawat bersama Claudia yg sedang memarkirkan motornya.
"Dimana Anin dirawat?" tanya Rian sambil berjalan memasuki Rumah sakit
" ikutin aku aja" jawab Claudia dengan selow
Rian langsung saja mengekor dibelakangnya Claudia karna ia tak tau sama sekali Anin dirawat dimana
"tu ,kamu tinggal masuk aja" kata Claudia mengarahkan salah satu ruangan
"kamu ngak masuk ?" tanya Rian
" Tak sudi aku masuk " kata Claudia pelan tapi bisa didengar
"maksud kamu?" tanya Rian saat mendengar perkataan Claudia tapi tidak terlalu jelas
"ah maksud aku ,aku ada urusan sebentar " jawab Claudia sambil terkejut
" oke klo gitu" kata Rian sambil memasuki Ruangan itu
"Hampir saja " kata Claudia sambil berlalu pergi
"Anin " teriak Rian
" Rian " kata Anin terkejut
" kamu kok tau aku ada disini?" tanya Anin
" dari claudia" jawab Rian sambil menghampiri Anin
"Claudia,bukankah aku tidak memberitahu nya"batin Anin
" kamu sakit apa ?" tanya Rian duduk disamping ranjang Anin
"kenapa ,apakah tidak boleh?" tanya Rian
" mengapa dia pura pura amnesia" batin Anin
"maaf Rian ,aku tidak suka kalo kamu ada disini" kata Anin
" lebih baik kamu pergi ,sebelum aku yg mendorongmu untuk pergi"lanjut Anin
" mengapa?" tanya Rian yg belum tau apa apa
" Rian ,apa kamu lupa dengan perkataanku kemarin malam ,bahwa aku tidak menyukaimu, jadi jangan pernah kau tampakan dirimu di depan ku lagi" bentak Anin
seketika hancur lebur hati Rian saat mendengar perkataan Anin kepadanya,air mata yang tak ingin keluar tiba tiba keluar tanpa seizin Rian.
" baiklah klo itu yang kamu mau" kata Rian sambil berlalu pergi meninggalkan Anin dengan rasa pedih dihati.Anin yang sebenarnya berat mengatakan hal itu pun mulai menangis tapi ditahan nya dengan sejuta tenang ya ia miliki
"maaf kan Aku Rian" batin Anin
sebenarnya Anin sekarang tidak terlalu termakan dengan omongan omongan para siswi yg mengancam dirinya, tapi karna ia juga bukan orang mampu dan tak sederajat dengan Rian yg bergelimpah harta.
***
semenjak hari itu Rian kembali ke sifat nya yang dulu dan memilih keluar dari kuliah nya yg sekarang dan melanjutkan Kuliahnya diluar kota sehingga ia tak pernah lagi bertemu dengan Anin, karna rasa kecewa yang amat besar yang belum hilang sampai sekarang.
"apa kabarmu sekarang?"kata wanita yg tak lain dan tak bukan adalah Anin yg sedang melamun didepan kaca
"aku sangat merindukanmu" lanjutnya dengan tatapan sedih
"sayang ,apa kamu didalam?" panggil seseorang dari luar kamar Anin
" iya mah,Anin dikamar" sahut Anin sambil mengelap air matanya yg mulai menetes
"mamah masuk ya" teriak Ibu Anin
" masuk aja mah" jawab Anin
"Anin sayang,kenapa belum makan?" tanya ibu Anin sambil menghampiri Anin
" Anin belum lapar mah" jawab Anin
"setidaknya kamu harus makan ,jika tidak maag kamu akan kambuh sayang" kata ibu Anin sambil membelai lembut pucuk rambut Anin
" iya mah ,nanti Anin makan" jawab Anin dengan senyuman terpaksa
"kamu kenapa sayang ?" tanah Ibu Anin
" Anin gpp kok mah ,memangnya Anin terlihat kenapa mah?" tanya Anin balik
" loh kok nanya balik sih ,coba Anin tanya sama diri sendiri ,kenapa dengan Anin" jawab ibu Anin lembut
"sebenarnya Anin lagi mikirin Rian mah" jawab Anin jujur
"sayang ,jika kamu berjodoh dengan Rian maka kamu akan bertemu lagi dengan Rian ,apapun cara nya,yang kita bisa lakukan sekarang adalah berdoa"jelas ibu Anin
" makasih mah selalu ada buat Anin" kata Anin sambil memeluk ibunya
" iya sayang sama sama" jawab ibunya sambil membalas pelukan dari Anin
" yaudah ,Anin sekarang harus makan ya,mamah udah masakin makanan kesukaan Anin nnti keburu Dingin " kata ibu Anin
" iya mah" jawab Anin dan mereka pun pergi kemeja makan dengan hidangan yang mewah
"mah Fandinya mana,kok ngk ada?" tanya Anin saat sudah sampai di dapur
"nak Fandi nya udh berangkat duluan katanya ada hal penting yang harus dia urus" jelas ibu Anin
" yah, jadi Anin nanti berangkat dengan siapa dong" keluh Anin
"mau mamah anterin?"kata ibu Anin
" ah mamah ,ngak mungkin dong mamah yg anterin Anin ke kantor, kayak Anak kecil aja " jawab Anin frustasi
" jadi ,Anak mamah mau berangkatnya pake apa?" tanya ibu Anin
" biar Anin berangkat naik ojek aja mah" jawab Anin frustasi sambil duduk di kursi makan dan memakan makanan yg ibunya buat
" yaudah mah ,Anin berangkat duluan ya mah,nanti keburur telat"kata Anin sambil mencium punggung Tangan ibunya
" iya sayang ,hati hati ya" jawab ibu Anin
" iya mah ,by" kaya Anin sambil berlaku pergi dari hadapan ibunya
" padahal baru jam berapa ini udah takut telat" kata ibu Anin sambil mengeleng gelengkan kepala melihat tingkah Anaknya sendirian
Biasalah,Fandi sebagai CEO ditempat ia kerja selalu perhitungan dengan waktu, kepada semua karyawan salah satunya adalah dirinya,meskipun ia sudah lama tinggal serumah dengan Fandi,tidak membuat dirinya menjadi seenak nya masuk jam berapa,Anin juga bukan tipe orang seperti itu jadi wajar jika ia mengejar waktu, apalagi dalam pekerjaan.