MY PERFECT LOVE

MY PERFECT LOVE
Melamar & Berduka



" Apa kau sudah makan? "


"belum"


"aku ada bawakan mu makanan"


"Aku tidak mau makan" kata Anin


"jika kau sakit, siapa yang bakalan merawat mu? "


"Aku tidak mau, jangan paksa ku"


"sedikit saja " kata fandy sedikit memaksa


"sudahku bilang, aku tidak mau makan, aku tidak nafsu makan" bentak Anin


"Kau seperti anak kecil yang harus dipaksa makan "kata Fandy mengejek Anin


" Terserahmu saja, aku mau nungguin mamah disini dan kau sebaiknya pergi dari sini"


" kau mengusir ku? "


"menurutmu? " kata Anin menatap Fandy dengan tatapan tajam


***


Ditempat yang terhindar dari kerumunan, berdiri sebuah Rumah Mewah dengan Bebatuan pada Eksteriornya.



"Permisi bos, data data yang bos minta sudah ada dan ini dia bos "


"Simpan saja diatas meja " kata pria itu yang masih fokus dengan Laptopnya


"Baik bos " sambil menyimpan berkas diatas meja dan pergi meninggalkan pria itu sendiri.


Pria itu menyimpan laptopnya dan langsung beralih keberkas itu dan mulai melihatnya satu persatu.


Senyumannya mengembang saat melihat salah satu dari berkas itu dan melihatnya secara terperinci tanpa ada satu titik pun yang tertinggal.


"Cantik " guman nya


***


Didalam Ruang Rawat


" Kapan mamah sembuh, mengapa tidak ada perubahan sama sekali? " tanya wanita itu kepada pria yang ada disampingnya


"Tante pasti sembuh, kau tak perlu khawatir" kata Pria itu


"Jika mamah ngak ada aku sudah tidak mempunyai siapa siapa lagi,hanya mamah yang aku miliki." kata Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Anin


"Kau jangan berkata seperti itu, aku yakin tante pasti sembuh. Jikalaupun demikian masih ada aku disamping mu"kata Pria itu berusaha menenangkan Anin


"kau bukan siap siap, aku hanya numpang dirumahmu, jika mamah sudah tidak ada lagi aku akan pergi, terima kasih untuk segalanya dan maaf aku tidak bisa membalas kebaikan mu"


"apa yang kau katakan, semuanya itu tidak benar. Aku akan menjagamu,dan jangan ada sedikitpun keinginanmu untuk pergi dariku" kata Pria itu karena merasa bahwa segala yang Anin katakan itu tidak benar


" Aku hanya akan menjadi beban buat mu Fandy, jadi jangan tahan aku jika aku ingin pergi " kata Anin sedikit memaksa


"Oleh karena itu aku ingin melamarmu Anin, jadilah pasanganku untuk menua bersama, Aku sudah lama menyukaimu tapi kau selalu menolakku" kata Pria itu melamar Anin yang tak lain dan tak bukan adalah Fandy sendiri dengan memberikannya sebuah Cincin berlian



"Terima kasih Fandy, tapi maaf aku tidak bisa memaksa perasaanku dan kau sendiri sudah tau siapa yang orang yang aku suka" kata Anin menolak Fandy dengan sesopan mungkin


"Aku tau bahwa kau akan menolak ku"


"aku tidak bisa berjanji Fan, itu tergantung keinginan ku " kata Anin


"Maaf" kata Anin menyesal


"lupa kan saja" kata Fandy tersenyum kepada Anin


Tutttt.. ..tutttt


Tiba tiba bunyi monitor detak jantung berbunyi


"Mamah "


Anin langsung berlari kearah arah ibunya dan dicegat perawat untuk menyuruhnya diluar saja untuk menunggu,sedangkan Dokter dan perawat mulai memeriksa keadaan ibunya.


Anin menunggu diluar dengan rasa takut melingkupi dirinya, Fandy yang melihat itu langsung memeluknya, berusaha menenangkan Anin agar ia tidak berpikir negatif akan kondisi ibunya.


"Mamah.. .hikss.. ..hiks...hiks..."


Tangisan Anin pecah saat sudah dalam pelukan Fandy.Ia tidak bisa menahan rasa takut yang sedang ia rasakan.Ingin rasanya ia yang mengalaminya daripada harus ibunya .


Sedangkan Fandy berusaha menenangkan Anin,ia tau apa yang Anin rasakan sekarang dan ia hanya bisa menenangkan Anin saat ini tanpa bisa melakukan apa apa.


"mamah Fan,mamah hiks...hiks... "


"iya aku tau Anin, Sabar, sabar" kata Fandy kepada Anin karena hanya itu yang bisa ia ucapakan sekarang.


Dokter dan perawat keluar dari ruang ibu Anin.Anin yang melihat itu langsung cepat cepat menanyakan keadaan ibunya.


"Bagaimana dok kondisi mamah saya ,mamah saya baik baik aja kan dok? " tanya Anin memastikan bahwa ibunya baik baik saja


"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nyawa ibu anda tidak dapat tertolong ." kata Dokter itu


"Apa ! "


Seketika hati Anin hancur, tubuh Anin jatuh seketika,tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Syukur Fandy ada dibelakang sehingga dengan sigap Fandy langsung menerima tubuh Anin yang sudah tidak berdaya itu.


Fandy mengangkat tubuh Anin yang sudah tidak ada daya lagi dan membawanya keruang rawat yang ada dirumah sakit itu.


"Anin,bangun Anin " kata Fandy berusaha menyadarkan Anin dari pingsannya


Fandy mengusap kening Anin dengan lembut, hati Fandy ikut hancur juga ditambah lagi keadaan Anin sekarang tidak dalam keadaan baik baik saja.


Terpukul, itulah yang dirasakan Fandy sekarang, bagaimana ia bisa merawat Anin dan selalu bersamanya jika Anin saja tidak menyukai dirinya, apa yang harus ia lakukan untuk melihat orang yang ia cintai mendapat kebahagiaan walaupun bukan bersamanya ditambah lagi dengan kabar ibu Anin semakin membuat Anin down.


Fandy ingin disisi Anin disaat Anin membutuhkan sosok yang akan memberinya kekuatan dan menemaninya disaat saat masa tersulitnya,namun apalah daya Fandy, ia harus menerima segala tolakan yang dilontarkan Anin kepadanya dan ia tidak dapat berbuat apa apa ,apalagi untuk memaksanya.Hanya Tuhan lah yang tau, biarlah Kehendak Tuhan yang terjadi dalam hubungan mereka berdua.


***


" Apa bos tidak ingin menjenguk kekasih bos untuk melihat keadaannya sekarang, sekarang dia sangat membutuhkan bos untuk memberikannya kekuatan." katanya saat melihat berita tentang kekasih bosnya itu dalam keadaan tidak baik baik saja


"Apa kedatanganku nanti tidak memperburuk suasana? " tanya bosnya itu dengan sedikit bimbang apakah ia harus kesana melihat kondisi Anin atau tidak


"Apa kata hati bos saja " jawab bodyguardnya kepadanya karena dia tau bagaimana bosnya itu.


ia langsung berdiri dan pergi meninggalkan keduanya , benar kata bodyguardnya bahwa kata hati tidak dapat dihindari, ia harus mengikuti kata hatinya, sudah cukup lama ia menahan rasa rindunya kepada orang yang ia cintai hanya gara gara suatu kesalahan kecil.


Dan ini adalah saatnya untuk dirinya menebus kesalahannya,walaupun akan sangat susah untuknya meminta maaf nantinya, apalagi dalam situasi berduka .


"akhirnya Perkataan kita didengarnya juga"


kata orang itu kepada bodyguard yang ada disampingnya sambil merangkul pundak Bodyguard itu, sedangkan bodyguard itu langsung melepas lengan pria itu dan meninggalkannya sendiri dengan wajah sangarnya itu.