
Keesokan harinya
"Anin ini sarapannya,aku ada buatkanmu roti kesukaanmu " kata Fandy menyodorkan makan yang dia buat khusus untuk Anin
Walau tak pernah masak tapi Fandy selalu menanyakan Makanan favorit Anin kepada ibunya dan meminta agar ibu Anin memberinya contoh cara memasak yang benar agar tidak gosok ataupun terjadi hal yang lain.
Anin tak merespon, ia masih dalam keadaan melamu tanpa menyadari kedatangan Fandy .
"Nin" panggil Fandy sekali lagi dengan lembut
Fandy tau apa yang Anin pikirkan sekarang,dia tidak bisa membayangkan betapa rapuhnya hati Anin sekarang.
"Anin, ayo sarapan.Ini aku udah buatin roti kesukaanmu." kata Fandy sambil memegang pundak Anin dengan lembut untuk menyadarkan Anin dari pikiran pikiran yang sedang merasukinya sekarang.
"eh iya, ada apa Fan? " kata Anin tersadar
"makan sarapanmu, keburu dingin nanti"kata Fandy mengingatkan Anin
" Iya, makasih. " kata Anin
Anin mengambil sarapannya dan mulai memasukkannya kedalam mulut nya ,walau sebenarnya dia tidak lapar tapi ia harus menghargai Fandy apalgi ini kali pertamanya Fandy memasak untuknya.
"Kau tidak makan? " tanya Anin kepada Fandy sedari tadi melihatnya makan
"aku tidak terlalu merasa lapar,jika lapar aku bisa memesan makanan. " jelas Fandy
"Biar aku buatkan sarapan untukmu " kata Anin beranjak dari meja makan dan mulai memasak sarapan untuk Fandy
Anin tau bahwa makanan yang biasa dipesan pesan itu tidaklah baik untuk kesehatan,apalagi kita tidak tau bahan apa saja yang disimpan pada makanan itu,walaupun sedap rasa tapi bisa berbahaya untuk kesehatan mereka.Lebih bagus memasak makan untuk diri sendiri,selain menyehatkan juga sesuai selera kita.
"Kau ingin makan apa? Biar aku buatkan. " tanya Anin
"Makanan kesukaanku "
"emang apa makanan kesukaanmu? " tanya Anin binggung
"ahhh sudahlah, terserahmu saja " kata Fandy kesal.
Sudah lama mereka tinggal bersama tapi Anin sama sekali tidak tau makan kesukaannya apa.
"Baiklah " kata Anin
Anin cukup cekatan saat memasak, cara dia memotong sayur dan bahan bahan lain sangat cepat seperti seorang master chef saja.
"Aku tinggal dulu" kata Fandy membiarkan Anin sendiri didapur
Anin masih sibuk dengan masakannya,dan sekarang ia sedang memotong Wortel bentuk dadu untuk menjadi toping masakannya.
"Awww" rintihan Anin
Tanpa disengajai tiba tiba saja tangan Anin mengenai pisau yang ia gunakan untuk memotong, sehingga meninggalkan luka dijari telunjuknya dengan darah yang terus mengalir keluar.
" apa yang terjadi" Dengan cepat Fandy langsung berlari kedapur saat mendengar rintihan Anin
Fandy langsung mengambil jari telunjuk Anin dan memasukannya didalam mulutnya, ia menghisap semua darah Anin yang keluar tanpa ada rasa jijik atau semacamnya.
Anin mematung saat melihat perlakuan Fandy kepadanya yang sangat perhatiaan dan ia baru menyadari itu dari sekian lama ia tinggal serumah bersama Fandy.
"Apa masih sakit? " tanya Fandy melirik kearah Anin
"ahh... udah udah,tanganku tidak lagi sakit, jadi kau bisa lepaskan jariku dari mulutmu" kata Anin terbantah bantah
Fandy melepaskan jari Anin dari mulutnya dan memberaihkannya dengan air mengalir.
"lain kali lakukan dengan hati hati" kata Fandy menasihat Anin
" iya aku akan berhati hati lagi " jawab Anin ketus
"Tunggu sebentar " kata Fandy
Fandy mengambil handsplast dan menempalkannya dijari Anin yang terluka.
" sudah "
" Thanks's" kata Anin sambil melihat kearah Fandy yang masih sibuk dengan jarinya itu
"Biarkan aku membantu" kata Fandy menawarkan bantuan
"Tidak perlu, aku sudah mau selesai memasak, kau bisa membantuku menyiapkan alat makan dimeja" kata Anin
"Baiklah "
Sambil menunggu makanannya siap, Fandy memotret Anin secara diam diam saat Anin sibuk dengan masakannya.
Fandy melihat satu persatu hasil potretannya. Ia senyum senyum saat melihat wajah Anin seperti kesulitan.
" Apa yang kau lihat? "
Tiba tiba Anin mengagetkan Fandy yang sedang fokus melihat fotonya, dengan cepat Fandy menyimpan Hp nya disaku celananya dan mulai duduk manis.
" tidak ada,itu hanya info info sedikit mengenai Kantor " kata Fandy berbohong
" owhh" kata Anin ber oh ria sambil meletakkan makanan yang telah ia buat untuk Fandy sarapan.
" ini sarapanmu,aku berangkat dulu" kata Anin meninggalkan Fandy yang sedang menyantap makananya
"kita pergi bersama" kata Fandy cepat sambil menarik lengan Anin
"Aku ada urusan yang harus di selesaikan, jadi kau pergi saja sendiri"
1 Jam yang lalu
Pesan masuk
"Anin, ini aku Ryan,mari kita bertemu "
"Ryan ! "
Anin dibuat kaget dengan isi pesan yang masuk.Ryan,bagaimana dia bisa menemukan Nomor Anin,padahal Anin sudah menganti nomornya saat terakhir kali mereka bertemu tapi bagaimna bisa nomornya yang baru pun diketahui oleh pria itu?.
"Maaf, aku tidak ada waktu " Balas Anin
"aku tau dimana kau tinggal sekarang, apa perlu aku kesana? "
"what ! apa dia sudah gila,dasar pria tak ja****" pekik Anin dalam hati
"Baiklah. Dimana kita ketemuan? "tanya Anin to the point tanpa basa basi
" ditempat terakhir kali kita bertemu" balas Ryan
" Baik" jawab Anin singkat dan langsung mematikan hpnya.
Ingin sekali Anin membanting HPnya itu saat tau bahwa sia sia ia menganti nomor Hpnya dan berusaha melupakan orang itu kalo ujung ujungnya harus melihatnya lagi.Ahhh ! tidak ada pilihan lain lagi selain mengikuti permainan Ryan.
***
"ada apa kamu ngajak aku bertemu? " tanya Amin tu the point
"aku dengar ibumu meninggal, aku turut berdukacita atas itu"
"ya, terima kasih "
"Sebenarnya tidak cuma itu saja yang aku mau sampaikan" kata pria itu tiba tiba berhenti sejenak
"jadi? " kata Anin
"Aku tau bahwa aku dimatamu nanti terlihat egois saat mendengar perkataanku nanti, tapi aku benar benar mengatakan ini dari lubuk hatiku yang paling dalam " kata peka itu
" to the point aja"kata Anin kesal
"aku ingin melamarmu" kata pria itu tiba tiba melamar Anin
"apa aku salah dengar, melamarnya? " kata Anin
"aku tau kau pasti tidak akan mudah menerimanya apalagi dengan cara aku meninggalmu dulu " kata Pria itu lagi
" ah...sudahlah Ryan aku muak mendengar semua janji manis mu itu yang ujung ujungnya nanti bakalan ningalin luka " kata Anin kepada para itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ryan, pria yang sudah lama ia suka.
"Tolong maafin aku, aku tidak bermaksud ingkari janji ku tapi keinginan ibukulah yang memaksaku " kata Ryan menjelaskannya
"Belum jadi istrimu saja aku sudah kau buat luka, bagaimana jika kita sudah menjadi suami istri, mungkin aku bakalan sengsara "
"tapi aku yakin kamu masih sayang sama aku kan? " tanya pria itu kepada Anin yang mampu membuat Anin tak berkutip untuk beberapa menit.
" ya aku memang masih sayang sama kamu, tapi jika caranya seperti ini siapapun tidak akan mau nerima dengan mudah, jadi jangan harap aku bakalan mau menerima lamaranmu itu. dan stop kontak kontak aku lagi ! " kata Anin kepada Rian mengingatkannya agar Ryan tidak lagi mengontaknya.
" jadi siapa yang kau pilih, aku atau Fandy ? Tanya Ryan tiba tiba kepada Anin