
***
"Apa sudah dari tadi dia tidur sus? "
"iya pak"
"Terima kasih sudah menjaganya"
"sama sama .kalau gitu saya tinggal dulu "
"baik sus"
"maafkan aku membiarkan mu tidur ditempat seperti ini "
kata pria itu menatap manik wajah wanita yang sudah dihadapkannya itu dengan rasa bersalah.
ia mengangkat tubuh wanita itu dengan ringan,dan membawanya keluar rumah sakit dan membaringkan wanita itu didalam mobil dengan posisi yang sedemikian nyaman untuk menjadikan tempat tidur sementara,sementara ia mencari tempat untuk perempuan yang ada disampingnya sekarang.
HOTEL
Ia memarkirkan mobilnya dan langsung masuk kedalam untuk memesan 1 bilik kamar VIP.
DALAMNYA
Ia membaringkan tubuh wanita itu dengan secara perlahan agar tak membangunkan perempuan itu dan langsung keluar kamar yang tak lain dan tak bukan adalah Anin.
Ia meminta bodyguard untuk menjaga kamar itu agar tidak ada satupun orang masuk kedalaman selain dirinya, sementara ia pergi keluar.
***
"Dimana aku? " kata Anin binggung sambil melihat disekitarnya
Anin pun beranjak dari tempat tidur dan langsung mencari pintu keluar, ia teringat akan ibunya yang terbaring lemah dirumah sakit dengan keadaan acak acakan khas orang bangun tidur.
"ketemu" kata Anin saat menemu pintu keluar
dengan cepat ia membuka pintu berharap bisa lolos dari tempat yang tidak ia tau sama sekali, namun harapannya Sirna begitu saja saat melihat bodyguard berjubah serba hitam menatap dirinya dengan tatapan menakutkan.
Anin cengingisan saat melihat bodyguard itu mendekatinya dan secara perlahan Anin mundur dan langsung menutup pintu dengan cepat berharap para bodyguard itu tidak bisa membuka pintu dan menangkapnya .
"Siapa orang orang itu,mengapa mereka menatapku seperti itu? apa jangan jangan aku diculik? Oh...no...." kata Anin Cemas
Anin berusaha berfikir bagaimana cara dia meloloskan diri tanpa ketahuan sama sekali,ia mulai melihat disekelilingnya mencari cela buat keluar,dan
Tiba tiba ada satu ide terlintas dibenaknya.
"awww....sakittt"Teriak Anin
tiba tiba bodyguard itu langsung masuk saat mendengar teriakkan Anin untuk memastikan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi nyonya? "tanya Bodyguard itu kepada Anin sambil membantu Anin .
"sebenarnya kamu itu siapa? mengapa aku ada disini dan siapa bos mu, mengapa aku dibawa kesini? apa kalian ingin menculikku? " tanya Anin dengan kesal kepada bodyguard itu karena kesal rencana yang ia buat gagal dan malah dia yang kena.
" maaf nyonya, bos ada urusan jadi dia tidak ada disini,dan nyonya tidak diculik jadi nyonya tidak perlu khawatir" jelas bodyguard itu
"jika aku tidak diculik biarkan aku pergi dari tempat ini" kata Anin
"tapi Nyonya bos tidak memberi saya perintah untuk membiarkan nyonya pergi " jelas bodyguard itu
"memangnya siapa bos mu itu?Berani sekali dia membawaku ketempat ini " kata Anin marah
"nanti Nyonya juga tau sendiri"kata bodyguard itu dan langsung mengundurkan diri
"Mah maaf Kan Anin ngak bisa nungguin mamah dirumah sakit " kata Anin sedih karena tidak bisa menjaga ibunya saat ibunya sedang membutuhkannya.
Cukup lama Anin menunggu sosok pria yang membawanya ditempat itu dengan rasa bosan yang nampak diraut wajahnya .
" lama sekali " keluh Anin
Dibalik Pintu
"Apa dia sudah bangun? "
"sudah bos "
"apa dia masih dikamar? " tanyanya lagi
"masih bos. Tadi ada kejadian sedikit" jelas Bodyguard
"kejadian apa? "tanya nya
Anin yang mendengar perbincangan antara bos dan pengawalnya langsung menguping.
"Biarkan saja jika dia ingin pergi " jawab Pria itu
"Baik Bos"kata bodyguard
Pria itu pun masuk kedalam ,Anin yang masih menguping langsung kagetkan dengan kedatangan pria itu.
Anin yang sudah siap ingin memaki maki pria itu langsung Sirna saat ia tau siapa pria yang ada dihadapannya sekarang.
"Senang bertemu denganmu" sapa pria itu dengan senyuman manis
Anin tak merespon, ia memilih langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan lagi sosok pria yang sudah lama ia rindukan.
"Bagaimana kabarmu sekarang? "tanya pria itu tanpa berani beralih melihat kerah Anin
Anin yang sudah diambang pintu langsung berhenti sebentar saat ditanyakan kabarnya dan langsung melirik ke arah pria itu tanpa memberi respons lagi.
Anin membalikkan badannya dan lanjut berjalan keluar untuk menemui ibunya dirumah sakit.
"Kau benar benar membenciku Anin"
***
HOSPITAL
"Dok bagaimana keadaan Mamah saya dok? " tanya Anin saat sudah sampai diruang rawat ibunya
"Ibu Anda harus diopertasi segera,jika tidak nyawa ibu anda yang jadi taruhannya " jelas dokter itu
"Demi kesembuhan ibu saya, saya setuju dok "jawab Anin Cepat
"Tapi jika operasinya berhasil, jika tidak maka nyawa ibu anda tetap jadi taruhannya" jelas dokter itu lagi
Anin dibuat binggung saat tau bahwa nyawa ibunya menjadi taruhan saat ini, jika tidak segera ditindak lanjutin maka nyawa ibu nya jadi taruhan dan walaupun dilakukan tindakan operasi ,itu tak menjamin keselamatan ibunya.
Amin dibuat bingung apakah ia harus setuju atau tidak.
"Baiklah dok saya akan menimbangnya kembali " kata Anin karena merasa tumpul otaknya sekarang, ia tak bisa berfikir
" baiklah saya tunggu sampai besok. Kalo begitu saya tinggal dulu" kata dokter itu pamit undurkan diri
" Baik dok. terima kasih banyak." kata Anin sambil memberi salam
"Mari" kata dokter itu sambil pergi keruang pasien yang lain
Anin mendekati ibunya berharap mujizat terjadi kepada ibunya.
"Semoga Tuhan Memberi kesembuhan bagi mamah" kata Anin sambil mengecupkan kening ibunya
***
Panggilan masuk
"Hallo "
" kamu dimana sekarang? mengapa kau menghilang semalam?aku mencarimu kenapa mana. " kata orang diseberang sana dengan nada khawatir
"aku baik baik saja, kamu ngak usah khawatir " jawab Anin
"jadi kamu dimana sekarang ?"
"Dirumah Sakit" jawab Anin singkat
"Kamu tunggu disana , jangan kemana mana,oke. "
"ngak us.... ah" tiba tiba Panggilan diakhiri
"Mengapa dia tampak khawatir ?" kata anin kepada dirinya karena merasa binggung dengan sifat Fandy yang tak biasanya.
***
"Anin" Panggil Fandy saat sudah sampai dirumah sakit
"Fandy" kata Anin
Fandy langsung memeluk Anin,sedangkan Anin yang tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu dibuat binggung oleh tingkah Fandy sekarang.
"Apa kau baik baik saja? " tanya Fandy sambil melihat seluruh badan Anin memastikan bahwa Anin baik baik saja
" ya, aku baik baik saja " jawab Anin
" kamu kenapa?" tanya Anin karena merasa binggung dengan tindakan Fandy memperlakukannya sekarang, biasanya ia akan mencari masalah dengannya tapi ini berbeda, ia seperti kekasih yang takut kehilangan pujaan hatinya.
"syukur kau baik baik saja" kata Fandy bernafas lega .
"Makan apa dia barusan,mengapa jadi begini. Ohhh tidak semakin jadi gilalah hidup ini "